Thursday, February 22, 2007

That's Life...

Sebuah sapa membuat saya menoleh memperhatikannya. Seorang wanita muda, simple, banyak senyum dan ceria. Saya pun tersenyum, membalas sapanya. Lalu, mengalirlah ceritanya. Cerita seorang wanita, yang menurut saya, sudah teraniaya batinnya, berusaha tegar, mencari pegangan agar tetap bertahan. Seorang imam hidupnya yang ia pilih ternyata tidak lebih dari seorang yang senang mengumbar kata-kata kasar, menyakitkan dan menoreh semakin dalam luka hatinya yang semakin memborok. Saya merasakan lukanya...dan...yah ternyata untuk jujur itu menyakitkan. *sigh*
Begitu sinetronnya kisah yang dia paparkan selama ini. Tapi, bukankah kehidupan kita selama ini juga sebuah sinetron yang para pemainnya adalah masing-masing diri kita? Jadi, alangkah naifnya, jika kita sering menonton sinetron ditelevisi, padahal kita sendiri mempunyai script kehidupan masing-masing.

Kisah wanita itu, bukanlah kisah yang baru pertama kali saya dengar. Sejak dulu saya sering menerima (dan saya pun dengan senang hati) hal-hal seperti ini. Dan terkadang yang suka membuat saya geram, justru dengan alur cerita yang mendayu-dayu, batin terkoyak, si wanita tetap ingin mempertahankannya, karena satu alasan klise. Satu alasan yang oleh saya (baca: seorang yang ekstrim) sangatlah diplomatis. Addicted to love (seperti judul pelem?)

Seperti juga cerita dari seorang sahabat lama, yang kami pernah sama-sama berjuang menaklukkan hutan belantara Kalimantan. Ketika saya memutuskan hijrah dari tempat kami waktu itu, cerita darinya tetap mengalir, dan tetap memberikan nuansa tersendiri dalam kehidupan saya. Dia adalah seorang yang istiqomah, berjuang dalam hidup tidak mau tanggung-tanggung, seperti itulah sosok yang saya kenal selam ini. Hingga satu hari datang surat elektroniknya yang berisi tumpahan pikirannya. Tentang keinginannya agar segera keluar dari kehidupan hutannya sekarang. Dia ingin berjuang, ingin merasakan jatuh bangunnya suatu kehidupan. Dimana ia, istri, dan anak-anaknya berkubang didalamnya. Dan dia merasa dia mampu menjalaninya karena potensi dalam dirinya tidak diragukan. Saya pun tidak ragu. Tapi mengapa dia tetap memutuskan tetap pada kehidupannya sekarang? Niat untuk hijrah belum dijalankannya? Ternyata dia meragukan kemampuan istrinya dalam hal perjuangan, ketakutan istrinya, kekhawatiran, kepiluan yang mungkin nantinya akan menimpa istri serta anak-anaknya. Walopun skema tentang perjuangan itu sudah dipaparkannya kepada para makmumnya ini.
“Sebagai kepala keluarga, saya tidak bisa memaksa membuat keputusan sendiri yang dampaknya akan melibatkan seluruh keluarga. Yang saya khawatirkan jika saya keluar dari tempat saya sekarang, adalah ketika saya mendapatkan sedikit kegagalan dalam perjuangan panjang, saya tidak akan menemukan kekuatan pendorong atau minimal sandaran (shoulder to cry on) untuk istirahat sejenak sambil memikirkan langkah selanjutnya. Jangan-jangan ketika saya menemukan sedikit kegagalan, semua kesalahan akan ditimpakan ke saya (jadi kambing hitam gitu loh). 'Kan sudah saya katakan..bla...bla...bla...'. Ah, saya lebih takut disalahkan oleh orang-orang yang saya sayangi daripada menghadapi tantangan dan kegagalan dalam perjuangan. Tapi ukhty, hal ini tidak terlalu menjadi beban juga. Apapun yang saya lakukan atau putuskan untuk saat ini, walaupun itu sedikit mengecewakan. Yang teringat selalu adalah kata-kata 'Lihat sisi positifnya saja'. Jika saya berada di luar sana, mungkin saja saya berhasil jadi pengusaha atau malah jadi pecundang. Yang jelas, saya akan susah menjadi tukang ceramah".

Demikian yang ia curahkan pada saya. Hingga sampai-sampai dia mengatakan saya adalah “shoulder to cry on’ku” karena mau saja menerima muntahan ceritanya. Anyway, sekarang dia memang menjadi tukang ceramah. Salut u, akhi!!!

Berbicara tentang ketakutan, saya juga pernah mengalami berbagai macam ketakutan dalam hidup. Tapi entahlah, mungkin saya adalah tipe pejuang sejati, bermodalkan nekat tapi tetap punya bayangan seperti apa kehidupan yang akan saya lewati ketika saya memutuskan untuk melewatinya. Karena, bukankah hidup itu sebuah perjuangan, tidak akan bermakna dan menemui satu titik akhir jika kita tidak mau memperjuangkannya.

Dari dua cerita di atas, tokoh yang saya sorot adalah seorang wanita yang mendapat predikat sebagai istri dan ibu. Tidak ada yang sesuatu yang menyakitkan ketika kita bertumpu pada keyakinan dan percaya, bahwa apa yang kita jalani hanya alur hidup yang mesti kita jalani dimuka bumi yang fana ini. Dan lebih yakinlah lagi, setiap kejadian pasti akan membawa hikmah dan menguatkan diri kita untuk tetap bertahan.

So guys,... hiduplah berdasarkan konsep dasar, yaitu:
1. Surah Al Anfaal ayat 53 : "Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri."
2. Surah Ath-Thalaq ayat 2 dan 3 : "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."

Ah, seperti penceramah saja!!! $%$%%^*^$$!#^$%
Bukannnn, ....saya hanya sebagai penggembira dan penyemangat. Tidak lebih! Dan saya pun menulis ini, karena masih dalam tahap belajar menjalani hidup dengan semestinya. Wallahualam.
untuk sahabat-sahabat saya, terimakasih menjadikan saya 'shoulder to cry on' kalian :)

7 a little note:

Anonymous said...

Teh, terima kasih juga yaaa :)

Hidup memang penuh perjuangan Teh :)Saya harus yakin dan terus Tawakkal kepada Allah, Dibalik ini semua ada hikmah nya .... dan tentu juga ini rahasia Allah udah mengirimkan Teteh untuk jadi Shoulder to cry on'ku :)

Insya Allah saya akan terus mempertahankan semua ini, sampai saya benar2 bisa mempertahankannya ... klo dibilang nekat, saya nekat banged ... saya akan terus berjuang pake modal yg udah dikasih Allah ke saya. Entah kenapa saya punya keyakinan, Saya akan dapat titik akhir yg menyenangkan melalui proses2 ini .... semoga! amien ya robbal alamien ....

Sekali lagi terima kasih ya teh, jangan bosen2 denger episode2 selanjut nya yaaa :D

*dari Wanita muda, simple, banyak senyum dan ceria* :D

Iko said...

Hidup itu memang indah, jika kita terus berpegang teguh,... dan selalu yakin bahwa ada yang menolong kita... Hanya Allah SWT.

Dengan selalu berusaha dan berdoa, hasilnya membatkan hasil yang manis...

ica said...

nuhun teh tulisannya smg bisa menjadikan saya bisa hidup berdasarkan konsep yg dijelaskan

Babyryu said...

Rien tulisannya oke banget deh untuk dijadikan tuntunan dan tamparan-tamparan kecil..semoga saya lebih bisa menuntun suami yg mualaf serta putra kecil saya dalam menjalankan hidup..mohon doanya ya..

Luky said...

Very inspiring me..Thanks Rien

Mama Firza said...

emang ngobrol ma te rien mengasyikan deh..
ringan, dan masuk diotak.. gag menggurui tapi kena dihati...

Rey said...

Thx sis, aku akan terus berjuang...! pantang menyerah...! Maju perut pantat mundur, eh... maju terus pantang mundur. :D