Saturday, February 17, 2007

Refreshing yuk...


Acara sabtu ini, adalah acara social komite untuk menyenangkan anak-anak. Ga tanggung-tanggung, tiga puluh (30) anak!!!. Sebenarnya, program yang saya susun ini (saya didaulat sebagai penyusun program komite kelas), adalah lebih untuk menyegarkankan otak-otak para bocah yang harus belajar full day selama lima hari. Dan kesepakatannya adalah kunjungan ketoko roti dan pastry yang memang sudah uji layak oleh saya dan ibu-ibu komite (baca = tukang makan).

Pagi-pagi, saya dan dua orang ustadzah (guru) sudah stand by, menyiapkan anak-anak untuk kumpul dan berdoa sebelum berangkat ketoko roti itu. Beres berdoa, semua langsung berebut keluar kelas, berlomba menghampiri mini bus sekolah yang sudah di ‘sogok’ supaya menjadi media pengantar anak-anak yang sekompi lebih ke tempat tujuan.

Sampai ditempat, anak-anak sudah berteriak-teriak ala tarzan “Haussss buuuuu” atau “Panasssss buuuuu”… Wakssss…Kebayang ga? Tiga puluh bacot yang bersuara, mungkin sudah layak disebut paduan suara kan?. Ramenyaaaaa…Nah kerja komite, dimulai dengan memancing anak-anak dengan hal-hal yang berbau rerotian. Anak-anak mulai bergairah (dohh…bahasanya!), diatur lagi bagaimana anak-anak agar tertib dan terkendali ketika memasuki pantry roti (you know pantry? dapur lah hae). Berbarisss! Rapi! Berjalan memasuki pantry, senyam-senyum diiringi tawa cekakak-cekikik. Okey, kelompok pertama dengan manis, hanya cengar-cengir tanpa banyak tanya, dan si mbak yang memandu cara pembuatan roti tampak santai karena ga ribut. Bahkan ketika disuruh memegang adonan yang sudah mengembang, malu-malu kucing gaya yang dipertunjukkan. Nah, tiba pada kelompok kedua, inilah mereka sebenarnya. Belum masuk sesi penjelasan, mereka malah rebutan mau ngejelasin, rebutan mau megang adonan, sangat antusias, sangat atraktif. Saya dan dua orang guru, yang waktu itu mendampingi anak-anak di pantry, jadi ketawa bareng, dan mencoba memahami “ini loh dunia kami”. Menyenangkan.


Benar, inilah dunia mereka! Bagi saya, bukan hal yang baru bersentuhan dengan dunia ini. Ketika masih mempunyai anak satu, saya juga ikut memprogram komite yang ada di salah satu Play Group. Hingga waktu itu saya putuskan mengikuti tes penerimaan guru play group tersebut. Lulus tapi mundur lagi, karena saya hamil dan ingin lebih concern pada anak kedua saya dulu.

Bersentuhan dengan dunia mereka, saya menemukan satu energi untuk lebih bisa belajar sabar, dan mengerti pola pikir mereka. Apalagi, segala sesak dan senep bisa berlalu (walo sesaat), ketika saya mendampingi mereka. Makanya, saya menjadwal program outing class ini dilaksanakan setiap bulan.

Tapi, jangan kira, program komite seperti ini mulus lus seperti jalan tol. Membuat daftar tempat yang akan dikunjungi, dan waktunya bisa dikatakan sangat kilat. Tapi masalah konfirmasi dan meminta persetujuan dari orang tua malah berjalan sangat menggemaskan. Gimana ga gemas! Ketika meeting pemantapan kunjungan ini, salah satu bapak dari salah satu murid, yang dikenal seorang pendidik juga berkata :
“saya sarankan, agar kegiatan-kegiatan yang tidak manfaat dan tidak ada kaitannya dengan hal belajar mengajar dan pendidikan, mohon dan semestinya ditiadakan saja. Karena, kita berada pada siklus pengejaran system yang memadai dalam pendidikan. Jadi, janganlah mengajarkan kegiatan hura-hura diajarkan pada anak-anak!”
Watawwwww…menggelitik banget sarannya sampai-sampai saya pengen teriak, tapi yang ada saya senyum-senyum simpul, sambil kerlang-kerling keanggota komite lain. Setelah bubar meeting, saya membicarakan hal ini dengan komite lain, dan tanggapan mereka “Ga usah diambil hati mbak, la wong ini bukan hura-hura, malah ini menjadi media belajar bagi anak, supaya mereka lebih kenal pada dunia lain, diluar lima hari jam sekolah mereka”. Piuhhh…Legaaaa. Iya ya, ini bukan hura-hura, di kota kecil seperti sangatta ini, kita harus pandai-pandai membuat anak tetap refresh dengan hal-hal yang ga jauh dari dunia mereka. Lagian kalu mau hura-hura, kurang kerjaan banget saya ngajak tiga puluh anak, termasuk anak si bapak tadi. Whatever lah Pak! Toh program komite jalan terus.

Kembali ke kisah hari ini, saya jadi bisa belajar dari keluguan anak-anak yang masih kelas 1 SD ini. Sedemikian kerasnya orang tua menekan mereka untuk bisa belajar dirumah, mengerjakan tugas-tugas sekolah, bahkan bingung kenapa anak-anak mereka, lebih senang bermain daripada belajar. Subhanallah, anak-anak itu belajarnya dari bermain. Jadi jangan redam bermain mereka dengan kata-kata “Ayo belajar!”. Tapi sebaiknya redam kalimat itu dengan dampingi mereka dengan motto “Learning by Playing” (Belajar sambil bermain). Setuju?

9 a little note:

roro said...

setujuuuu hihihi...

yaaa emang masih yang nganggap kalo belajar itu harus duduk di kelas doang. ujung2nya namanya anak2 yang bakat utamanya bermain ya jadi bosen atuh heheh..

*btw bukan anak2 tapi mau lah ke dapur roti, heheh

mozziette said...

Setuju banget!

Hmmm, sayang banget yah kalau orangtua msh menganggap ilmu itu cuma bisa didapet dr sekolah.. duduk di kelas, mengerjakan soal-soal.

Babyryu said...

Setuju ..!! Learning by playing kayaknya lebih bagus deh buat anak-anak daripada cuma duduk didalam kelas.

Nita Fernando said...

Setujuuuuu .... belajar sambil bermain, bermain sambil belajar, berani kotor itu baik *lho yg terakhir kek iklan :P*

Hehe, si Bapak itu msh pake pola pikir yg kaku banged yak, trus anak nya dibolehin ikutan gag teh?

Jadi mo pindah kemana? ke Balikpapan aja dehhhh :D

Shinta said...

Waah..saya setuju sama program seperti ini. TK-Tk di Jepang juga rutin ngadain program begini, belajar sambil kunjungan ke berbagai tempat. Bukankah belajar dengan melihat langsung lebih mudah dimengerti dan nempel di kepala kan?!

Anonymous said...

leres pisan geulis....melalui bermain mereka menyerap lebih cepat apa yang mereka pelajari. Ari berbenturan dengan orang tua2 yang berbeda pendapat mah etamah biasana sanes:P.Biasana anu teu acan ngartos etateh...

Btw, rotina raos teu?

Mama Firza said...

Setujuuuu...
biar anak gag monoton belajar didalam kelas mulu kan..

Rey said...

maap saya gak setuju pak camat...! eh pak sapa tu yg usul jgn hura2? ya pokoknya saya gak setuju. Anak2 tu harus dibanyakin main, namanya juga anak2. Biarlah mereka tumbuh dengan sendirinya, apa adanya. Jangan terlalu serius, jangan dikarbit.

Btw aku juga suka baca postingan mbak Rien, gak pernah ngebosenin, rajin posting, kreatip, pokoknya lebih bagus dari punyaku deh... :D

lita uditomo said...

emang ya, Rhien, banyak ortu yg masih punya pola pikir kayak si bapak itu..

"pinter = pinter akademis"

padahal kan banyak hal yg ngga bisa dipelajari dari duduk diem ndengerin guru di kelas

nice posting, salut sama Rhien ;)