Wednesday, February 07, 2007

Being a Mother


Beberapa hari ini, saya menikmati memulai aktivitas sebagai seorang ibu yang anaknya udah selesai liburan. Jadi seorang penyemangat. Bukan hal mudah buat Jihad, dari yg biasanya santai, sekarang harus mulai belajar lagi. Full day dari jam 7 sampe dengan jam 2 siang.

Dan hari ini, ketika lagi blogwalking , saya cek email, dan menemukan message dari FS, ada seseorang yg menginvite saya untuk jadi temannya. Saya click deh, add dan coba mengintip, profile teman baru saya ini. dan….diaaaa… (histeris banget yak) MIRANDA RISANG AYU, sang penulis itu. Wah, senangnya! Allah Maha Bisa dan Maha Baik. Sebelumnya saya hanya tau dia seorang penulis, ketika saya tekuni blognya, saya jadi jatuh cinta pada tulisannya. Recommended deh buat yang suka baca dan menulis seperti saya (walopun nulisnya dikertas yang entar dibuat maenan sama anak-anak).

Menyitir, salah satu tulisan Miranda, seorang sahabat yang amat kaya, segera menarik saya kebelakang lagi. Ternyata apa yang saya pilih dan lebur kedalamnya bukanlah suatu yang mudah.

Saya adalah seorang perempuan yang dulunya sangat ingin tetap berkarir, setidaknya harus memilih suami yang ‘harus’ mengijinkan saya untuk tetap berkarir diluar rumah. Pemikiran ini, bukan dilandasi sikap feminisme atau apalah bahasa gaulnya sekarang. Tapi lebih kepada ‘sayang sekali saya harus meninggalkan ilmu yang susah payah saya dapatkan!’. Simple kan? Sangatlah simple hingga Allah mengalihkan pemikiran saya dengan semudah membalikkan telapak tangan. Saya dengan rela dan ikhlas, meninggalkan atribut itu demi ‘DIA’, karena saya sadar, hidup saya tidak akan artinya jika tanggung jawab saya tidak bisa saya laksanakan. Itu juga karena saya bukan tipe yang bisa membagi-bagi pikiran saya antara kantor dan rumah. Tapi, bukan berarti saya tinggalkan semuanya, tetaplah saya harus mempelajari dan mencari ilmu dunia, yang kelak saya bagikan untuk kedua buah hati saya, bekal mengarungi dunia yang fana , tapi tetap bisa menemukan satu titik yang abadi yaitu dunia akhirat.

Masih ingat postingan saya? Kutunggu hijrahmu, ukhty… Di dalam cerita itu, ada tiga orang yang berteman, salah satunya menjauhkan diri sekarang ini. Sedangkan dua orang lagi, adalah saya dan Nina. Sahabat saya satu ini adalah seseorang yang bergelar cum laude ketika toga terpasang dikepalanya. Hingga kerja dibagian penting salah satu perusahaan terbesar di kalimantan. Ketika itu, dia selalu berkata “aku ingin kelak, tetap bekerja dan menggeluti karirku, jika punya anak ingin mengenakan kerudung saja, dan bisa terlihat elegan dengan duduk dibalik setir”. Itu gurauannya. Tahukah apa yang terjadi sekarang? Dia adalah salah satu ukhty yang saya kagumi, hijabnya kaffah, seorang ustadzah, murrobi, aktif dalam kader, pengajar dilembaga sempoa, dan embel-embel sebagai salah satu mahasiswa pertukaran ke Australia pada waktu kuliah ditinggalkannya. Subhanallah. Dan dia merasa inilah hidupnya. Kami pun saat ini berlomba, untuk tetap bisa manfaat untuk orang lain.

Jadi, kadang ada yang mengatakan “saya merasa jauh dari teman-teman saya, masih terkungkung dirumah, masih sibuk dengan air pipis dan pup anak-anak. Sempitnya dunia saya, ketika saya melihat teman-teman saya sedang menyelesaikan thesis, sedang ke belahan dunia lain untuk sesuatu yang dipanggil ilmu. Saya jadi merasa kecil sekaliiii”. Pernah dapat kalimat seperti itu? Paling tidak dari diri sendiri? Bahkan orang-orang terdekat kita bertanya-tanya dan mengejek kenapa mesti berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Saya pernah! Jangan ditebak dari orang lain atau ternyata dari diri ini. Tapi sia-sia rasanya jika berpikir begitu, ketika kembali melihat apa yang sudah kita lakukan jika kita bersandar pada demi ‘DIA’. Semua yang didunia toh ada yang ngatur. Merutuki nasib ga akan mengubahnya. Memutar haluannya ke hal yang positif akan lebih berguna.

Saya bersyukur dengan pilihan saya sekarang ini. Bisa bermanfaat walopun masih skala kecil, yaitu untuk Abi, para jundi dan orang-orang disekitar kami. Tetap dengan keyakinan dan berprasangka baik, kelak akan disematkan sebuah mahkota diatas kepala saya oleh para jundi yang dititipkan oleh Allah sekarang ini. Insya Allah.

7 a little note:

Nia said...

Postingannya Nia banget mbak... Kadang Nia juga suka iri klo liat temen2 kuliah dulu skrg dah pada jadi wanita karir. Padahal belum tentu apa yg qta sukai baik utk qta ya mbak. Jadi FTM juga pekerjaan yg mulia :)

roro said...

Miranda, dulu jaman kuliahan ikut seminarnya dia, udah terkagum2, ga taunya sekarang dia ngeadd di FS, wiiih ... jadi bisa baca tulisan2nya :)

Iko said...

Kapan yaaa daku Being a Mother???? :D

Nita Fernando said...

Aduhh Tehhh .... saya yg berkarir malah ngiri ma Teteh *maapkan yaaa*

Tapi yg jelas, mo wanita karir mo FTM mo apapun ... seorang Ibu adalah mulia, apalagi yg bisa sangat bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitar nya .... Seperti Teteh ... saya bersyukur bisa kenal dan sharing dengan teteh ... semua nya sangat bermanfaat ....

Jangan bosen temenan ma aku ya Teh .... :)

Ria said...

inetku lg gak stabil niy say, gara2 apt dibawah lg renov 'n bikin saluran telpon ngaco.

dulu wkt msh jaman2 akhir kuliah, aku gak kepikir pengen cepet nikah krn pengen kerja dulu. alhamdulillah stelah nikah justru gak pernah menyesal ngelepasin atribut karir. malah mnurut aku, dgn jd FTM justru byk yg bisa dipelajari. ada wkt utk blajar ini itu lah, yg klo kerja diluar mungkin gak kan dpt.

Rey said...

terharu aku bacanya.
Duluu... waktu aku blm terlalu banyak ngajinya, aku jg berpikiran begitu : kalo nikah nanti, suami harus ngebebasin aku utk tetap kerja, dan gak boleh terlalu banyak ngelarang aku ini itu. Pokoknya berbau feminis deh...

Tapi stl belajar sedikit, aku mengerti semuanya, aku tau pahalanya, betapa mulianya jadi seorang ibu, dan aku menantikan itu... cieee... :D

Um Ibrahim said...

SubahanAllah yakhti,

aku gak bisa terlalu banyak berkomen, hanya mengirim doa, agar anty bisa selalu Istiqomah, dan Abi beserta jundi bisa bahagia dunia dan Akherat karena kasih sayang anty :)