Monday, March 05, 2007

'JIHAD'

Saya baru saja memanfaatkan artikel online (terdengar pelit?). Maksudnya memanfaatkan ya membaca, sambil kutak-katik nulis. Ada salah satu berita yang gerah banget deh bacanya (sangatta udah gerah, ditambah ini pula!). Isi berita itu adalah pelarangan pemberian/pemakaian nama ‘Jihad’ kepada anak-anak di Jerman, dengan alasan arti jihad itu sendiri adalah teror dan kekerasan. Masya Allah…Lalu, apakah saya dan abi termasuk golongan ini? Berita ini hanya (mudah-mudahan) untuk Jerman. Jadi para orang tua yang berurusan nama ini akan mendapat kesulitan dalam pengesahan nama ini kecatatan penduduk. Kalau di Indonesia, daftar ke catatan sipil kali ya? (bener ga?). Bahkan ketika ada orang tua yang memenangkan perkara untuk mengesahkan nama ini dipengadilan, pihak catatan distrik kependudukan tidak terima, dan Menteri Dalam Negeri Berlin serta pihak kepolisian sendiri malah naik banding. Mereka menganggap pengadilan telah menyalahi aturan dan sangat naif. Untuk itu pemerintahan Jerman sangat ketat dalam hal pemberian nama, jadi mereka menyediakan nama-nama untuk warga negara yang ingin mendaftarkan kewarganegaraan anaknya. Dan menurut Ummi Isyad (do'i tinggal di Dortelweil pinggirannya frankfurt), kalau ada nama ‘Muhammad’ atau ‘Ahmad’ dan sejenisnya, dan sedang berurusan dengan pasport atau apalah, pasti susahhh. Walah, tidak bebas merdeka dong! Sepertinya manusia tidak boleh punya keinginan sama sekali!

Alhamdulillah, saya tinggal di Indonesia yang masih membebaskan dalam pemberian nama. Kalau ada, saya sudah disidang dalam pemberian nama JIHAD kepada anak saya. Tapi jangan kira waktu memberi nama ini ga dihalang-halangi. Ada yang iseng, nanya kenapa nama anaknya Jihad? Apa karena waktu itu sedang gencarnya muslim ambon digempur? Apa tahu arti nama itu sendiri? Wah, meragukan saya sekali yang bertanya demikian. Ya ga mungkin lah, saya asal ngasi nama sama anak saya. Karena itu akan disandangnya sampai akhir hayat. Dan nama itu kan do’a dari orang tuanya. Jadi dalam pemilihan dan pemberian nama pun, melalui proses pemikiran dan pemilahan yang panjang. Ga segampang memberi nama kepada seekor kucing!

Miris juga, melihat pergerakan muslim diluar. Tidak ada ruang yang sepatutnya disisakan untuk mereka lebih leluasa bergerak. Alih-alih bergerak, mungkin untuk bersuara pun, mereka harus dipaksa mikir seribu kali. Seperti yang pernah saya baca dari karya DR Ang Swee Chai,
Tears of Heaven from Beirut to Jerusalem, betapa nistanya muslim dipandang di wilayahnya sendiri. Bahkan untuk membangun kembali sebuah komunitas adalah hal yang harus dibayar dengan nyawa. Tapi saya yakin, jika memang demikian, tentunya bukanlah suatu penghalang dalam mencari identitas diri sebagai muslim yang kaffah.

Kumaha batur nu di Jerman teh? Masih keneh sieun ngangge nami sejenis ieu? Atawa masih keneh sieun ngangge identitas sebagai seorang muslim? Dikintun do’a ti batur nu aya di Indonesia nya. Insha Allah. (silakan mengartikan sendiri ya…)

5 a little note:

Mama Firza said...

aduh, susah juga yach teh,, mau ngasih nama ajah banyak sekali pertimbangnnya...
mudah-mudahan nama jihad nanti gag mengandung masalah deh :D

Biho said...

muhun nya teh zaman kiwari masih keneh teu merdeka.

OOT : pun bojo (Astuti) wiat salam, ieu no HP na : 085250687155.

fadillah soraya said...

OK, kalo sampe kejadian di Indonesia, mari kita larang orang-orang itu memberi nama anak mereka dg nama Michael, Christian, Jan, Müller, Wagner, Schneider, Ulrike,Fischer, and blah..blah..blah!

GGGrrrrhhh!!!

Nita Fernando said...

Maka nya Teh, gag usah hijrah ke LN yak .... hijrah ke Balikpapan ajah :) yg masih bebas merdeka boleh ngasih nama apa ajah .....

Rien said...

@ mama firza :inshaAllah:)

@ biho : muhun, hatur nuhun pisan:)

@ fadillah soraya : Sippp...siap berjihad!

@ nita fernando : :))