Wednesday, November 21, 2007

Sekilas pada Acara Bedah Buku

kemanakah dikau, hai sang pemilik blog?

Tenang... saya masih disini. Masih tertimbun segala macam kejaran dan tumpukan tulisan yang harus segera diedit

Duh segitu sibukkah dirimu?

Inilah pilihan saya, yang kata salah seorang peserta bedah buku kemaren minggu, 18 November 2007, pilihan yang aneh dan langka. Pilihan dimana saya bisa saja menenggelamkan diri pada rutinitas kantor, ruangan berAC, dengan duduk manis dibelakang meja. Mengingat study saya yang bukan main-main (emang saya kuliah gak main-main kok). Mengingat pengalaman karir saya pun bukan pekerjaan gampang yang diraih. Tapi mengapa justru dengan rela berkasak-kusuk menekuni profesi penulis yang…yah berapa sih pendapatannya? (ihhh belom tau ajah lagi…)

Begitulah, acara bedah buku yang –dengan ikhlasnya- saya ketuai, berjalan dengan lancar dan menggembirakan. Jam 8.30 pagi peserta sudah antusias memenuhi stand bazaar, tempat dimana buku Sebab Cinta tak Kenal Waktu –serta buku-buku FLP lain- bisa didapatkan. Acara dimulai sekitar pukul 9.30 pagi (biasa molor, kami kan orang Indonesia!!). Beberapa acara dilalui dengan baik, hingga sampai pada sesi inti dari acara itu, yaitu membedah 2 buku sekaligus, Bercermin pada Hatimu serta Sebab Cinta tak Kenal Waktu.

Pembedah memang khusus saya dan Vita pilih. Pertama adalah Pak Sony, General Manager ESD KPC, karena beliau adalah penulis non fiksi (ilmiah) ketika masih di Freeport, juga yang memberikan endorsement pada bukunya Vita, serta Ustadz M. Lili Nur Aulia. Beliau adalah redaktur Majalah Tarbawi, pada kolom ruhaniyat. Pas banget dengan karya non fiksi kami yang memang berkisah tentang perjalanan ruh kami hingga bisa menghasilkan tulisan penuh cinta.

Ada tukilan dari obrolan para pembedah pada waktu itu yang menarik. Buku Sebab Cinta... dikatakan adalah buku dimana isinya curhat yang bisa membiaskan sesuatu yang lain bagi si pembaca. Dimana curhat adalah obat yang paling manjur bagi orang stres. Dan jika bisa menuangkannya dalam tulisan, inilah salah satu terapi yang ampuh, dimana sang penulis bisa memberi terapi pada dirinya sendiri juga kepada orang lain. Boleh dikatakan, dengan menulis sama halnya memperbaiki emosi kita agar lebih terkendali dan ini salah satu kemampuan otak yang setiap orang memilikinya. Ketika itu tergali, itulah hasil dari cara kerja otak yang optimal.

Salah satu pembedah pun mengatakan, ibaratkan sebuah cangkir, yang terus-terusan diisi oleh air, hingga pada akhirnya meluber keluar dari tempatnya, seperti itulah orang yang mau menulis. Isi dari cangkir adalah kegemaran dan keterlibatannya langsung pada media yang disebut buku. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pula isi kepala dari si pembaca, semakin sering pula ia mengimplementasikannya pada bentuk tulisan.

Lalu tulisan seperti apa sebaiknya?

Tergantung apa yang ia harapkan pada si pembaca. Ingin fun, maka tulisan yang menggembirakan akan ada. Ingin berimajinasi, maka tulisan yang mempunyai daya khayal kuat akan tersampaikan.

Lepas dari itu semua, buku Sebab Cinta… adalah buku yang ringan. Orang tidak perlu berkerut-kerut untuk membacanya. Orang tidak perlu membuka kamus ketika menemukan kata-kata aneh. Orang tidak perlu menyimpannya ketika selesai dibaca. Orang tidak perlu membacanya dari awal hingga akhir secara runut. Tapi justru, ketika selesai membaca, buku ini akan kembali bisa dibaca sebulan, setahun atau sepuluh tahun lagi. Karena buku ini bukanlah kisah yang sedang marak sekarang ini. So simple.

@@@

Sedang memberi tanda tangan (asli saya gak nyangka akan diminta tanda tangan!!!), seorang bocah lelaki menyeruak diantara orang-orang, tingginya hampir sebahu saya, dengan senyum khasnya, dia berucap,
“Mimi, Aa boleh beli buku Sebab Cinta, terus kasi tanda tangan ya!”
Ummi pun ceuceungiran…

Teruntuk semua teman blogger, terimakasih masih mau berkunjung keblog yang sunyi senyap ini, semoga tali kasih kita tetap terjalin kuat
Poto-poto acara bisa diliat dirumah saya yang lain

7 a little note:

Um Ibrahim said...

Ah.. bangga sekali ya kalo anak bangga dengan ibunya ;)

btw, pesan penggemar jgn lama2 kalau ninggalin blog,

Salam keluarga ya:)

Nita Fernando said...

Hihihi, Aa' fans terberat ummi ya? pen liat mimik mukanya Teteh waktu Aa' yg minta tanda tangan, pasti merah bersemu yaaa :D

Selamat ya teh, sudah berjalan sukses bedah bukunya, ditunggu bedah buku nya di Balikpapan ;;)

Btw, kemaren ada profil salah satu aktifis FLP Balikpapan di koran Tribun Kaltim loh ... tp lupa sapa ya :D

Nia said...

Mba, jd pengen baca bukunya deh. Makin aktif niy di FLP, sukses ya...

Ryu`s Mom said...

Ante Rien, Ryu juga mau beli bukunya...

Makin penasaran nih mau cepat bisa baca bukunya.

Sukses terus buat sang penulis, ditunggu bedah bukunya di Jakarta, klo bisa di bulan januari ya...*smile*

Rey said...

Sukses ya mbak Rien, aku blm beli bukunya nih...

Inga inga... kalo launching di Jakarta bilang2 yaa... awas kalo nggak, bukunya tak borong (lho??) hehehe :D

'Nin said...

Tanda tangannya masih ke' dulu ya?
I'm proud of you, sis.

Rien said...

@ um ibrahim : ya ukhti, harap maklum aja, beginilah si empu blog, diusahakan untuk tidak mengecewakan yg mampir, hehehe :D

@ nita fernando : era gobel ya? iya dia FLP Bpn

@ Nia : makasih ya Ni, gimana FLP singapore?

@ ryu's mom : wah pastinya klu kejkt akan dikabarin Ay, januari ya? ga janji Ay, hehehe

@ rey : klu gitu saya memilih utk tidak mengabarimu, biar diborong, xixixix

@ nin : hihihi, masih inget aja!...big hugs 2 u, my sister