Wednesday, January 02, 2008

Momentum hari ini?


At first we make habbit, at last habbit make you

Pagi buta, diawal tahun baru masehi kemaren, saya merasakan hal yang berbeda, di daerah tempat tinggal saya. Sunyi, sepi, tidak seperti hari sebelumnya. Biasanya, pagi-pagi sekali, selalu ada suara-suara menyenangkan dari berbagai aktivitas. Tapi kali ini bagaikan tak berpenghuni. Ya, bagaimana tidak? Semalaman, mereka (orang-orang yang tempatnya tidak jauh dari rumah saya) ngobrol sambil ketawa-ketiwi, malah sampai berteriak-teriak. Plus meneriakkan berbagai resolusi dengan diiringi petikan gitar. Entah, mungkin ingin melepas tahun baru yang heboh.

Heboh tapi konyol, itu tepatnya, ketika seseorang mulai berkoar-koar tentang beberapa resolusi yang harus ia capai untuk tahun mendatang. Ibarat seekor kerbau yang dicocok hidungnya, melangkah kemana pun ia digeret, mengikuti trend orang-orang yang mulai membidik moment ini dengan hingar-bingarnya, hanya untuk menyambut detik-detik pergantian tahun masehi ini.
“Aku mau begini…aku mau begitu…pokoknya harus bisa. Semangat!”
Dan tarikan semangatnya kendor ketika mulai menapaki hari-hari di tahun baru, kelelahan karena terpompa oleh perasaan gembira juga terlalu bersemangat dalam menyambut perayaan tahun baru, hingga harus menggantungkan warna hitam di kelopak mata akibat semalam suntuk tidak tidur sama sekali. Mulai melupakan ambisi. Ujung-ujungnya,

“Yah sama aja ya, nggak ada bedanya dengan tahun kemaren, malah yang lebih gawat, aku stuck! Jalan ditempat!”

“Bagaimana acara tahun barumu?”

Saya pernah ditanya seperti ini, dan seringai selalu menjadi jawabannya. Saya memang tidak pernah intens melewati malam tahun baru seperti yang pernah dilakukan para ABG jaman sekarang. Kalau pun pernah, itu hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Dengan berbekal ijin dari orang tua, saya kantongi sim (surat ijin minjam) mobil mereka dan menodong supir untuk membawa saya dan beberapa teman, mengelilingi kota pada malam tahun baru. Ya, hanya ingin keliling kota, melihat suasana –yang katanya- meriah itu. Ternyata? Ah apanya yang indah? Mana yang menyenangkan? Justru saya terkantuk-kantuk didalam mobil. Alhasil hanya pindah tempat untuk tidur saja. Sekali dalam seumur hidup saya pernah melakukan itu.

Positifnya, ada efek jera untuk mengulangi hal yang demikian lagi. Setiap akan datang pergantian tahun masehi, saya berhasil menganggap hal itu biasa saja. Tidak ada rasa penasaran, apakah kali ini berbeda suasana dibanding tahun lalu? Dirayakan atau tidak pun, tahun itu akan berganti. Meniup terompet atau tidak pun, tidak akan memperlambat waktu untuk semakin mendekati usia senja. Jadilah, sosok saya yang sangat biasa. Tetap biasa, apalagi ketika usia bukanlah muda lagi. Saya semakin anteng saja dalam sikap, yang sebagian teman saya mengatakannya nggak gaul.

Kembali pada masalah resolusi yang ingin dicapai pada pergantian tahun. Sangat lumrah dan tidak ada legitimasi pelarangan untuk seseorang bermimpi akan perjalanannya pada rentang setahun ke depan. Toh, walaupun harus stuck dan malah mengalami kemunduran, itu pun tidak akan menjadi hukuman atas apa yang diniatkan. Tapi, mimpi adalah sesuatu awal dari sebuah kekuatan untuk bangkit yang harus dimiliki pada diri insan. Dari mimpi, seseorang akan berjuang untuk meraihnya tanpa diembeli kekonyolan dalam menyikapinya. Mulai mimpi, bukan berarti mengakhirinya dengan mimpi juga. Menuangkannya dalam sketsa, membuat perwujudannya, merupakan keberhasilan atas kerja otak kita dalam mengimplementasikan mimpi. Dan yang lebih berfungsi jika kita bisa muhasabah (introspeksi diri), apakah yang telah dilakukan selama setahun kebelakang? Apakah sudah layak kita ini disebuat sebagai manusia? Kalau saja niat masih terkotori dengan satu debu dengki, iri bahkan dendam. Dan kalimat yang lebih tepat mengena, “Apakah yang telah kita perbuat untuk orang lain?” atau, Pernahkah kita memikirkan beribu bahkan berjuta manusia lain, masih hidup dalam pertarungan hanya karena urusan perut? Masih harus bersembunyi di tumpukan puing-puing hasil gusuran rumah mereka?

“Hwaduh…boro-boro untuk orang lain?! Untuk diri sendiri saja masih kelimpungan nggak tau juntrungannya!?”

Begitu ya?

Begini. Suatu pagi dihadapan para sahabatnya, Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya.” “Siapakah diantara kalian yang pada pagi hari ini telah memberi makan orang miskin?” tanya Rasulullah. “Saya”, jawab Abu Bakar. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah diantara kalian yang pada pagi hari ini menjenguk orang yang sakit?” Abu Bakar kembali menjawab, “Saya.” Rasulullah bertanya, “siapakah di antara kalian yang hari ini telah mengantarkan jenazah?” (Lagi-lagi) Abu Bakar menjawab, “Saya.” Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah amal-amal ini terkumpul dalam diri seseorang kecuali ia akan masuk syurga.” (HR Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

Sepatutnya kita dapat belajar dan mengambil hikmah dari kesigapan Abu Bakar ra. dalam menyikapi setiap kesempatan yang datang padanya, seyogyanya kita bisa mencontoh beliau. Sigap itulah yang harus terpatri pada diri insan. Sigap terhadap segala momentum yang tidak akan kembali menjadi kebaikan jika sedetik kita lengah karenanya. Moment penuh berkah selalu berawal dari pagi hari. Lha, kapan kita bisa menangkap suatu moment dengan baik, jika kita masih saja tidak sigap? Juga, bagaimana menggolkan resolusi, jika pagi di awal tahun baru kita mulai dengan mendengkur dengan sukses?

Selarasnya, jangan pernah puas akan potensi kita yang itu-itu saja. Jika insan sudah merasa puas pada pencapaian keimananannya, tidak akan ada proyek perbaikan diri menuju arah yang lebih lurus dan baik. Padahal, ibarat sebuah kurva, iman selalu mengalami fluktuasi, sebentar di bawah, sebentar di atas.

Selarasnya menautkan pemikiran bahwa menyambut tahun baru, tidaklah harus mengundang penyanyi terkenal, atau band yang ngetop. Ongkang-ongkang kaki di cafĂ©, pub atau restorant bertarif selangit. Menyalakan kembang api dan menembakkan petasan. Meniup terompet sekencang-kencangnya serta memakai topi beraneka warna. Perayaan yang tentunya hanya akan membuang-buang energi dan biaya. Hanya akan mendapatkan mudharat dibalik kesenangan. Membuat lalai, terlena dan melemahkan syaraf kita untuk berpikir, “Apakah yang telah dan belum aku perbuat untuk menjadi orang yang bermanfaat?”.

Bagaimana? sudah menangkap momentum hari ini?

“Waktu kemaren, yang sudah bukan milik kita lagi. Esok h
ari, yang belum tentu kita punyai. Dan sekarang, yang ada ditangan kita” (Hasan Al Bashri)

7 a little note:

neli said...

bener Teh.. nyari warung buka susah banget pas tanggal 1 kemaren..

ungkapanhati said...

yah memang pesta kan hanya untuk kelahiran, pernikahan dan Eid. Taun baru afdolnya sholat sunah, minta perlindunganNya, karena kiamat makin dekat, kalau ibadah dan sedekah harusnya memang tidak lepas dari bagian hidup sehari2, saya membuat resolusi ingin mencapai yang extra, makanya doain ya supaya gak stuck, manusia tapa perkembangan sama dengan mati ;)
Salam untuk keluarga semua:)

an diana said...

dan aku sungguh merasa 'amazing' bisa melewati masa2 berat itu....hingga kini...setelah kehilangan 2 orang yang berperan dalam kelahiranku (hehehe), aku pun mulai siap kehilangan jatidiriku demi anak2... it's okay... ;)

andai aku bisa seperti sayyidina Abu Bakar ra....

'Nin said...

Ya ukh, aku termasuk yang agak stress kalo tahun baru mau datang. Kebayang orang-orang yang sibuk dengan acaranya masing2 yg kadang menggganggu.
Malam tahun baru kemaren, ada suara ribut petasan yang benar2 sangat mengganggu, tiba2 hujan deras turun, seketika itu juga mulutku mengucapkan hamdalah...
Dulu juga sering terjebak dalam rutinitas menyambut tahun baru, tapi aku gak pernah dapat menemukan untuk apa semua itu kulakukan.

yanti said...

setuju, mimpi itu perlu buat pemicu ;)
semoga tahun ini lebih baik ya mbak ;)

Rey said...

dari dulu, setiap malam taun baru aku selalu melakukan ritual yg sama..... tidur, hehehe... aku gak suka keramaian, biasanya malah ngantuk, bangun keesokan paginya juga biasa aja, malah bbrp hari kemudian br ngeh kl skrg dah taun 2008, hehe :D. Dan aku juga manusia tanpa resolusi, soalnya kalo bikin rencana ini itu malah jadinya kacau, dan kalo ndak ada rencana apa2 justru kok alhamdulillah banyak yg dicapai :D

Eniwei, mudah2an taun ini lebih baik utk kita semua yaa :)

ninda said...

Buat aku kok tahun baru cuma ganti kalender.. selebihnya sama aja.

Kalopun untuk memperbaiki segala sesuatunya bukankan tidak harus menunggu tahun baru?