Thursday, April 17, 2008

Mereka pergi, saya pun rindu...


Umurnya lewat dari angka 60 tahun. Dengan wajah yang mempunyai garis keras, beliau disegani diantara saudara-saudaranya. Dan juga dengan senyumnya, saudara-saudaranya pun menyayanginya. Terlebih, pada anak-anaknya yang berjumlah 7 orang, lelaki yang dipanggil ‘Abah’ ini sangat disiplin. Segala tindak tanduk mereka tak lepas dari perhatiannya.

Hidup dengan seorang ibu, abah mulai belajar berdagang. Dari usaha kecil, hingga mampu mempunyai toko besar disalah satu pedalaman kalimantan, sebagian hasil dari tekunnya abah. Sosoknya kerap dianggap angker oleh sebagian masyarakat didaerahnya. Yah, mungkin tempaan beban hidup sejak kecil membuatnya kesulitan bersikap ramah, walaupun dari pribadinya, sifat itu memang ada. Kalimat yang keluar biasanya hanya sepotong atau dua potong kata kerap jadi alasan para pelanggan tokonya menyingkir, begitu melihat beliau di depan toko. Namun, justru, tokonya tidak pernah sepi pengunjung. Ada saja orang yang berbelanja, dari barang kecil hingga besar. Selain murah, istrinya adalah penyeimbang sosok Abah. Murah senyum dan selalu berbicara lembut serta ramah pada siapa saja.

Abah, sosok yang selalu di’tua’kan diantara saudara-saudaranya. Nasehat beliau selalu bisa menjadi rujukan bagi setiap masalah. Selain itu abah punya pengetahuan islam yang baik. Mengerti al qur’an, serta banyak ilmu fiqih menjadi tabungan ilmu yang suka abah hibahkan bagi siapa yang mau belajar.
Dibalik sosok abah, ada seorang ibu yang mengayomi beliau, sejak bapaknya abah memilih menikah lagi. Yah, abah anak tunggal, dan saudara-saudaranya adalah saudara satu bapak, saudara tiri. Menakjubkan, abah tumbuh dan besar satu kampung dengan bapak yang meninggalkan ibunya, tapi tidak ada secuil pun dendam dihati abah serta ibunya. Abah tetap menyambangi bapak dan keluarga barunya. Apalagi, bapaknya abah pun orang yang sarat ilmu agama. Saya yakin, abah menjadi pribadi berilmu, keras namun lembut hati merupakan warisan dari sifat bapak abah.

Ketika bapak abah meninggal, abah tak sedikit pun lengah dalam mengurusi jenasahnya. Dari memandikan hingga menguburkan, abahlah orang pertama yang sigap. Cinta abah tak pernah berkurang pada sosok yang telah memberinya cinta dan ilmu. Kejadian serupa pun terjadi ketika ibu abah serta ibu tiri abah meninggal, abah tetap berlaku sama. Abah pontang-panting mempersiapkan segala sesuatunya. Dari perjalanan dari samarinda ke tanah hulu, abah iringi hingga ke liang kubur. Tidak ada bedanya, apakah ibu kandung atau ibu tiri, abah tetap berbakti.

Dulu, ketika usaha abah habis dimakan kobaran api, abah sempat terpukul. Abah merasa, apa yang ia lakukan sia-sia. Abah merasa telah melakukan salah besar. Abah merasa tidak ada gunanya lagi. Memang, abah sempat down, namun semakin beliau menjauh, semakin mendekatlah istri serta anak-anaknya. Abah tidak dibiarkan terlalu lama bermuram durja. Mereka tetap merangkul abah, memberi semangat, bahwa abah masih punya mereka dan Allah lah pemilik semua kepunyaan abah.

Sejak itu abah jadi sosok yang lebih lunak. Senyumnya terus tersungging. Abah lebih tawadhu. Abah lebih pasti menatap hari. Pelan-pelan dibangunnya lagi kehidupannya. Pelan-pelan dibangunnya lagi rumahnya yang dulunya rata dengan tanah. Abah mulai menata hidupnya menjadi lebih baik. Orang-orang disekitarnya –yang dulu menganggap abah sinis- semakin percaya, abah memang berhati lembut, juga tidak pendendam.

Terakhir, 6 bulan yang lalu, saya melihat abah tersenyum demikian terkembang, menyaksikan pernikahan anaknya yang ke 5. Seperti biasa, abah pun tetap tidak mau tinggal diam. Selalu sigap dalam setiap kesempatan. Pada saat itu, beliau banyak tersenyum dan mengajak suami saya berbincang. Memang, sejak kami menikah, abah sangat gembira ketika bertemu kami. Selain tempat tinggal kami yang jauh, karena abah juga sangat menyayangi suami saya, dengan selalu mengajaknya berbincang. Walau saya tidak tahu pasti apa suami saya mengerti dengan bahasa kutai abah yang kental. Namun, pandangan abah yang saya lihat adalah pandangan sayang pada kami. Terlebih pada anak-anak saya, abah selalu mencoba merangkul dan menaruh mereka pada pangkuannya. Sambil mengajak berbicara, sesekali abah tertawa akan tingkah laku cucu-cucunya. Abah yang selalu tersenyum dan meminta anak sulung saya untuk mengaji di depannya, lalu dia akan mengucapkan, ‘Subhanallah! Cucu kai haji pinter!’.

Ketika bapak abah meninggal, saya sosok yang terpukul. Bapaknya abah, yang saya panggil dengan ‘kai bongkok’, selalu punya waktu untuk berdiskusi tentang islam dengan saya. Dan setiap kali kami berpisah, kai bongkok selalu menatap saya, dan berkata, ’Neng, jangan tinggalkan sholat!’. Hingga tak jarang cucu-cucunya yang lain mengatakan, ‘Riny itu kesayangan kai!’, karena memang beliau banyak mengajarkan banyak hal pada saya. Memberikan banyak pelajaran hidup, dan bisa memaklumi, dengan permintaan beliau untuk tidak memberi kabar pada saya ketika beliau sakit, dikabulkan oleh anak-anaknya, mengingat saya jauh di dalam hutan, juga tidak ingin saya melepasnya dengan kesedihan.

Kai bongkok meninggal setelah sholat jumat dilaksanakan. Rampung menyelesaikannya, beliau mengatakan akan pergi. Begitu pun dengan abah. Jumat pagi hari setelah datang dari bepergian, abah diminta membimbing seseorang dikampungnya yang sakratul maut (mentalqinkan), kemudian beliau menunaikan jumat siang itu, istirahat sejenak sebelum membersihkan kebun belakang. Menjelang senja abah naik ke rumah, berkata kelelahan, dan …

Sebelas tahun kai bongkok pergi, saya masih suka menangis pelan dalam diam. Sekarang, seminggu setelah abah pergi, mata saya kerap berkabut. Hati saya kehilangan. Kai bongkok adalah bapak abah, juga bapak papap saya, sedangkan abah tidak lain adalah uwa' saya.

Saya menangis dalam diam, bukan tidak menerima kenyataan. Saya hanya rindu pada sosok mereka yang banyak memberikan ilmu. Saya takjub, dengan cara Sang Pemilik memanggil mereka. Dalam keadaan telah menyelesaikan urusan umat, dalam keadaan tenang.

Saya menangis dalam diam, karena rindu dan ingin pertemuan indah seperti mereka, dapat menjelang di akhir perjalanan saya nantinya.

O My Lord, you have my soul in your hand.
Saya menangis dalam diam…

5 a little note:

:::..Passompe..::: said...

Assalamu Alaikum
"kullu nafsin saikatul maut"

*Saya menangis dalam diam, karena rindu dan ingin pertemuan indah seperti mereka, dapat menjelang di akhir perjalanan saya nantinya*

Berbuatlah yang terbaik dan Allah pun akan memanggilmu dengan Jalan dan cara yang jauh lebih indah..

***beliau senangtiasa berbahagia disisi Allah***AMIEN...

andiana said...

aku lagi suka banget artikel2 dan postingan mengenai kematian...benar2 seperti dekat...memanggil2 dalam diam..dalam kesunyian...

aku rindu mama dan bapak...dalam kesendirian dan diam, aku pun berusaha menahan air mata kesepian. Tak ada lagi yang bisa aku peluk. Tak ada lagi yang cerewet mengingatkanku untuk shalat,shaum, dan ngaji.

tapi sepertinya...tak akan ada yang merindukanku kecuali mujahid kecilku...

primaningrum said...

Al Fatihah buat uwa... Insya Allah dimudahkan dan dilapangkan kuburnya.

Shella Mawardi said...

Kerinduan yang indah banget mba....Alfatihah buat kai....

Rey said...

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Aku juga ingin mengakhiri dengan manis, mudah2an bisa ya mbak... :)