Wednesday, August 06, 2008

Silnas: Perjalanan Ilmu dan Persaudaraan


Postingan yang mengendap cukup lama :)

Jumat, 11 Juli 2008. Udara sangat bersahabat, tidak terlalu panas atau sebaliknya, walau keramaian telah menyeruak sepanjang jalan ke arah Srengseng, kawasan Lenteng Agung, dimana acara besar, Silaturahim Nasional Forum Lingkar Pena akan digelar. Sebagian pengurus FLP cabang Sengata, terdiri dari Rien Hanafiah (Ketua), Nurika Nugraheni (Kaderisasi), Yunny Touresia (PimRed) dan Arif Wibowo (Humas), stand by di lokasi sekitar pukul 7.30 waktu setempat.

Keadaan sudah ramai. Wajah-wajah berseri walau lelah, dikarenakan perjalanan yang sangat menyita waktu, tidak memudarkan rasa gembira bisa bertemu langsung dengan FLP’ers, karena selama ini kami hanya dapat menyapa lewat milis atau sms. Rombongan yang pertama kali menyambut hangat, tentunya panitia pada bagian registrasi. Memberikan name tag, serta mengatur ‘bagasi’ yang akan disalurkan pada masing-masing kamar nantinya.

Rombongan kedua, menegur kami dengan sumringah dan pelukan hangat adalah teman-teman dari FLP Jawa Tengah. Bertemu kembali dengan Afifah Afra, mengembalikan memori ketika ia berada di Sengata setahun yang lalu. Kemudian sapaan mbak Izzatul Jannah, penulis senior yang juga merupakan salah satu ‘warga’ Majelis Penulis pada struktur FLP Pusat, semakin membuat kami begitu melupakan keletihan perjalanan menuju tempat acara ini.

Setelah beres dengan masalah registrasi dan sarapan (tentunya!), langkah kami kayuh ke arah aula utama, dimana pembukaan acara akan berlangsung. Selama kurang lebih 3 jam, acara dimulai dengan sambutan dari M. Irfan Hidayatullah (biasa kami sapa Kang Irfan), ketua FLP Pusat. Beliau sangat tergugah dengan semangat teman-teman FLP seluruh Indonesia, juga dari Hongkong, Jepang, Cairo, dan Amerika Serikat, yang menyempatkan diri hadir. Sangat takjub, karena dulu, silaturahim nasional pertama hanya dihadiri kurang lebih 50 orang. Jumlah yang sangat signifikan dengan tahun 2008 ini, yaitu hampir mencapai 300 peserta. Kemudian acara dilanjutkan dengan presentasi Dr Prihardi Kahar. Seorang peneliti lingkungan hidup, yang bekerja pada ACER Biomass Research Group, Meisei Universitas Jepang. Disini kita baru melek, ternyata banyak kesalahan diperbuat manusia, dan sangat mempunyai dampak negatif bagi lingkungan. Dan untuk kesalahan ini, justru kita tidak sadar bahkan tidak peduli. Tunggu saja pengupasannya pada edisi depan ya!

Setelah selesai dengan presentasi Dr Prihardi Kahar, sesi selanjutnya diserahkan pada Boim Lebon selaku moderator, dengan dua pembicara, Putut Widjanarko (Penerbit Mizan) dan Aris Nugraha (Penulis skenario Bajaj Bajuri, Pendiri ANP Production). Talk Show dengan tema Kreatif dan Kaya tanpa Merusak Lingkungan ini sangat santai, karena dibawakan dengan kocak oleh Boim. Disini banyak dibahas proses kreatif menulis skenario serta cara-cara menembus penerbit. Agak bergeser dari tema, tapi tetap patut disyukuri, karena bertebaran ilmu dari talk show ini.

Aura kehangatan bertemu sesama FLP’ers kembali memenuhi aula itu, kala bertemu dengan Rahmadiyanti. Ia salah satu pengurus pusat yang –lagi-lagi- biasanya hanya menyapa di milis. Senyum merekah dan berbicara sejenak dengannya, sedikit dapat melonggarkan kepenatan selama 3 jam duduk pada acara pembukaan.

Sore hari, seperti jadwal yang telah disepakati, kami berbagi tugas untuk mengikuti 2 acara yang dilaksanakan pada waktu bersamaan. Ada Fiksi Gila: Pelatihan Penulisan Fiksi, dipandu Nanik Susanti, dengan menghadirkan Afifah Afra (Penulis, CEO Indiva Media Kreasi, Solo) dan Sofie Dewayani (Penulis FLP Amerika). Sofie yang sangat tulus memberikan materi, serta Afra sangat atraktif mengajak peserta mengikuti arahannya. Antusias pun terlihat, walau sedikit terhalangi dengan waktu yang sangat terbatas. Namun –lagi-lagi-, tetap ilmu mengalir memenuhi ruang otak kami.

Satu acara lagi adalah Pelatihan Optimalisasi Perpustakaan Sekolah dan Taman Baca untuk Lingkungan Sekitar. Hadir Yessy Gusman, Wien Muldian dimotori Lusiana M. Novita. Suasana begitu menyenangkan. Pembawaan luwes dari moderator serta pembicara yang ringan, dapat mengobati keingin-tahuan kami dalam mengembangkan taman baca nantinya. InsyaAllah.

Sore hari menjelang maghrib, mulailah internal meeting. Berbagai utusan dibagi pada 3 kelompok diskusi. Ada yang membahas Organisai, Kaderisasi dan Perluasan Jaringan. Sempat dipotong dengan kegiatan ishoma (Istirahat Sholat Makan), sesi inilah yang paling menguras tenaga dan pikiran. Setiap orang mengemukakan ide serta usulan demi kemajuan dari FLP secara menyeluruh. Hingga waktu bergulir sangat cepat. Dengan wajah sangat tak berdaya, kami akhirnya bisa kembali istirahat pada pukul 11.00 malam.

Bagaimana keesokkan harinya?

Awal pagi, kami telah disibukkan dengan riuh rendahnya para FLP’ers yang berlalu lalang dalam asrama. Ber’say’ hello, mengajak sarapan, atau hanya bercanda mengingat kelucuan-kelucuan sewaktu malam pertama dilewati. Hal-hal kecil seperti ada yang tidak tahan dengan AC atau sebaliknya. Wajar saja, apalagi, teman sekamar bukanlah teman yang sehari-harinya biasa dihadapi di daerah. Dalam satu kamar, ada 3 utusan FLP dari berbagai cabang di Indonesia. Inilah salah satu hal yang membuat kami begitu melewati hari tanpa terasa. Terlalu asyik dengan bulir-bulir persaudaraan yang begitu bening dan jernih. Ada saja yang kami korek dari cerita-cerita mereka di tiap daerah.

Sedang acaranya? Jangan ditanya tentang kelelahan dan kaki yang serasa hendak copot, kami tetap semangat diantara teriknya udara jakarta, khususnya depok, yang menyengat menembus kulit. Kegiatan menyita waktu kami diantara alunan bait-bait cinta padaNYA setiap malam. Seluruh pikiran kami tercurah sempurna, agar tempat bernaung kami bernama FLP, bisa tetap harum, merekah, merona sepanjang kami tetap konsisten memperjuangkannya. Cinta kami tetap berseri mengiringi hari-hari dalam suasana yang menggembirakan.

Tanpa terasa, 3 hari kami lewati dalam suasana linu di segenap otak, disekujur tubuh, juga linu pada hati yang teriris, mengingat betapa singkatnya pertemuan kami yang hanya 3 hari, namun meninggalkan banyak cerita manis dalam rangkaian. Rasanya persaudaraan ini tak mungkin ditebus dengan apapun.

Inilah kegiatan FLP kesekian, yang dapat membekali kami dengan berton-ton ilmu dan persaudaraan teramat erat dan manis.

Jadi semakin yakin, dengan oleh-oleh seperti ini, kami akan bisa menebar ilmu dan cinta, dimana pun berada. InsyaAllah.


dimuat di bulletin FLP Sengata, edisi Agustus 2008
poto-poto bisa dilihat di rumah kedua

2 a little note:

Unknown said...

Yang muda, yang bersemangat.
Kesimpulannya, satu kata:
Hebat!

Anonymous said...

@ m shodiq mustika : syukron, bukan hebat pak, cuman, menjalankan apa yang harus dan semestinya dijalankan sebagai umat :), jazakallah udaha berkunjung...