Friday, September 07, 2007

Ramadhan adalah Pesantren


Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, selalu ada sesuatu yang mengharu biru bermain pada kisi kecil dalam jiwa saya. Sesuatu yang selalu membuat saya rindu, dan ingin terus berada dalam suasana khidmatnya bulan penuh maghfirah itu. Sesuatu yang mampu menghantarkan saya pada syahdunya ‘pertemuan’ yang selalu dinanti.

Bukan pemandangan yang baru lagi, kalau bulan ramadhan hampir menjelang, dikota-kota besar, segerombolan orang-orang dengan niat kuat mulai mengumpulkan bahan makanan pokok, berbelanja ini itu, mengeluh dengan melonjaknya kenaikan harga, berkerut-kerut memikirkan menu-menu apa yang akan dihidangkan selama satu bulan ramadhan nanti. Bahkan itu tetap saya temukan hingga saat ini. Di beberapa milis kuliner, bahkan sudah ada promosi kue kering dan katering selama ramadhan. Duh, belum juga ramadhan mulai, sudah pada promosi kue kering segala? Please deh ah…

Hal begini, tak pelak pernah saya alami juga, ketika masih tinggal dengan kedua orangtua. Mulai berbelanja kebutuhan, dan ngider ke toko-toko yang mulai disesaki manusia. Layaknya anak kecil, saya merasa senang saja pada waktu itu. Kue-kue kering sudah saya ancer-ancer yang mana saja. Makanan dan minuman yang enak sudah bermain-main dimata saya. Lalu tanpa sadar cap ‘beginilah ramadhan’ mulai nempel pada otak saya. Walaupun dalam sebulan nantinya, saya dan keluarga berusaha untuk tidak absent taraweh dan tadarus, tapi tetap ada ruang kosong. Hikmah dari ramadhan rasanya kok susah banget didapatnya?

Kemudian tidak berlebihan, kalau saya katakan, khidmat dan hikmah bulan ramadhan bisa benar-benar saya rasakan ketika saya telah berusia 21 tahun. Ketika itu saya dengan beraninya terbang dan hidup ketengah hutan Kalimantan demi sebuah idealisme. Jauh dari peradaban kota, dengan relanya dikelilingi oleh bau asap pabrik, setumpuk kertas, sederet data dan kehidupan monoton serta banyak bergaul dengan kaum adam. Lalu, dimana letak penjelasan pada kalimat ‘khidmat dan hikmah ramadhan bisa benar-benar dirasakan ketika telah berusia 21 tahun’? Coba deh bayangkan! Ditengah hutan yang minim fasilitas, nggak mungkin ada pasar ramadhan, apalagi mau belanja ini itu, lebih baik tidak pernah punya harapan seperti itu deh. Yang ada, malam menjelang ramadhan, di asrama, tempat tinggal saya dan beberapa karyawan wanita, kami mulai berkumpul, saling menangis, saling menguatkan, saling meyakinkan. Menangis karena jauh dari orangtua dan sanak saudara, menangis karena tidak pernah menyangka akan melewatkan ramadhan ditengah hutan. Saling menguatkan dan meyakinkan karena datangnya ramadhan tidak akan membuat kita merugi setitik pun, justru sebaliknya, akan bertaburan pahala dan keberkahan bagi umat manusia yang bertaqwa, gemar bersyukur dan mencintai sesama. Akhirnya kami pun sadar dan melalui malam-malam selanjutnya dengan tadarus bersama. Subhanallah indahnya! Kegiatan setelah itu nggak kalah indah. Setiap subuh, selesai sahur bersama, saya dan beberapa teman wanita akan bergegas ke masjid yang jaraknya sekitar 2km, melewati aliran sungai kecil, melewati rimbunnya pohon besar, melawan rasa kantuk, hanya ingin bisa berjamaah subuh. Lalu ketika masuk saat berbuka puasa, walau hanya dengan secangkir teh hangat, semangkuk mie rebus/goreng, rasanya tetap sama, indah banget. Berlomba ke masjid untuk taraweh pun nggak kalah seru, kami bahkan selalu dinanti oleh sebuah bis besar –yang kasian melihat kami, para wanita jalan di jalanan berdebu- dengan setianya mengantar kami kemesjid. (really miss that moment)

Kalau dipikir-pikir, dimana letak nikmat dan indahnya, jika seperti itu saja cerita yang saya panjang lebarkan?
Mari saya tuntun untuk meraba dan merasakan dimana letaknya. Ketika memasuki bulan ramadhan, kita kerap lupa untuk apa kita masih dipertemukan dengan bulan suci ini. Kita kerap lengah, akan agung dan banyaknya kemudahan yang Sang Pemilik Kehidupan berikan pada kita. Untuk sampai pada bulan ini pun, kita terkadang alpa bahwa ini sudah merupakan awal kebaikan yang DIA berikan. Siapa yang bisa menjamin kita akan dipertemukan pada bulan penuh rahmat ini untuk tahun depan? Adakah yang bisa mencium bau umur akan berhenti dimana?

Memasuki bulan suci ini, kita harus bisa lebih mempersiapkan diri, baik jasmani, mengisi ruh agar bisa lebih bersabar dan ikhlas dalam menjalankannya. Memperbanyak istigfhar dan berupaya lebih mesra berdekatan dengan-Nya. Tidak ada larangan untuk berbelanja ataupun mempersiapkan menu-menu selama satu bulan, tidak ada halangan untuk mengais rejeki dengan mulai mempromosikan usaha, karena saya pun yakin itu untuk kebaikan juga, dan bulan ini memang bulan yang terbaik dari segala bulan. Namun tidak berlebih-lebihan, itu yang lebih penting. Lebih bisa menahan nafsu yang bisa menelan kita hidup-hidup. Lebih mampu menjadikan bulan ramadhan sebagai pesantren, sebagai tempat pembelajaran kita, agar bisa lebih bisa menempa ilmu hidup akhirat.

Insya Allah, kita masih diberi kenikmatan untuk merasakan indahnya ramadhan sampai saat ini. Dengan kemurahan-Nya, menjangkau dan meraih, mengingatkan bahwa kita masih memiliki amanah untuk selalu menyebar ilmu kebaikan. Insya Allah kelak akan dibagikan menjadi wasiat.

"Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lainnya. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat." (HR. Muttafaq 'Alaih)

Marhaban ya Ramadhan…
Selamat menunaikan ibadah shaum ramadhan 1428 H
Minal aidin wal faidzin

13 a little note:

salma said...

Selamat menunaikan ibadah puasa bunda, semoga dibulan puasa ini kita bisa mendapatkan khidmat dan hikmah Ramadhan.
Maaf lahir bathin..

Luky said...

Marhaban ya Ramadhan
Alhamdulillah, insya allah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan yang punuh berkah dan ampunan ini. Terimakasih ukhti telah mengingatkan akan makna sebenarnya dari ramadhan.

Mohon maaf lahir batin ya ukh, saya pasti banyak salah dengan ukhti, mudah mudahan kita bisa menyongsong ramadhan dengan hati penuh keikhlasan dan kesucian.

Salam buat keluarga dan sun sayang buat abang jihad en ade.

Nita Fernando said...

Marhaban ya Ramadhan ...
Mohon maaf lahir dan batin ...

Makasih ya teh sudah mengingatkan kita semua untuk lebih 'memahami' apa arti Ramadhan sesungguhnya :) really great article, especially for me ....

Jangan bosen untuk terus membimbing Nita ya teh .... Sun sayang selalu dari Balikpapan :)

rey said...

H-6 menjelang Ramadhan :)
Bulan penuh "cuci gudang" pahala sebentar lagi datang, aahh jadi gak sabar nih... :D

Mohon maap mbak, kalo aku ada salah2, maklum... masih anak2 :D

JALOE said...

Dengan adanya ibadah Shaum Ramadhan, sebenarnya kita umat islam patut bersyukur... mun di ibarat keun mah siga hp upami batrena tos lemah kan kedah di cas nya teh..tah urang oge anu 11 bulan bilih ka bebenyokeun ku dunya.. ramdhan anu narik ngigeutan nateh...

wilujueng sasih shaum ya teh.. mudah2an urang di pasihan sehat lahir n jasmani

cc-line said...

met puasa juga... betapa qta musti sering2 syukur ya... karena Insya Allah bakal ketemu lagi sama Bulan Ramadhan. Beberapa temen yg Ramadhan kemaren masih tarawih bareng, shalat jama'ah bareng, bisa jadi taon ini udah gak bisa lagi...
Met Ramadhan, ma'af lahir bathin.
(mau liat cover buku yg laen ?? http://cc-line.deviantart.com/gallery/)

'Nin said...

Allahumma baariklana fi rajaba wa sya'bana... waballighna ramadhan... Amin.

Ya ukhty, ramadhan memang selalu dipenuhi peristiwa2 besar dan penuh hikmah, dimana salah satunya terjadinya perang badar yang unforgetable. Semoga tahun ini banyak hikmah pula yang kita dapatkan.

Rien Hanafiah said...

@ salma @ luky :amin ya rabbal izzati, sama-2 ya...

@ nita : Insya Allah ga akan bosen, dan semoga kmu juga ga bosen :)

@ Rey : sama-2, anak-2 darimana to Rey? ;))

@ jaloee : leureus kang, mugia seuer barokah dina sasih eta, muhun, sawangsulna :)

@ cc-line : sama-2 mas, covernya bagus-2...

@ nin : amin ya Allah...bener ukh, byk juga kebinasaan yg bisa terjadi jika kita lalai :) ditunggu diskusinya ya ;)

Ryu`s Mom said...

Minal aidin wal faidzin juga teh Rie.

Jadi sedih puasa di negeri orang, gag terdengar ada alunan adzan dari mesjid, sholat tarawaeh bersama..kangen...

neli said...

Marhaban Yaa Ramadhan.. semoga kekhusyuan kita di bulan yg suci ini tetap terjaga.. Maafin Neli & kel lahir bathin ya Teh..

Iko said...

Marhaban Yaa Ramadhan...

Tinggal hitungan hari, kita akan kedatangan bulan seribu bulan, bulan penuh dengan berkah.

Bunda, maafin Iko jika ada salah yaaa.

Selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan, semoga amalan kita diterima olehNya, dan kembali kepada fitrahNya.

Labibah said...

ramadhan mubarak ya rien. maap lahir batin

-maknyak-
http://serambirumahkita.blogspot.com

Um Ibrahim said...

Salaam,

Insya'Allah kita bisa ketemu di "Ar-rayan babbal-Jannah" yakhti:)