Tuesday, April 19, 2011

Mahar

Salah satu bahan pembicaraan yang kerap menjadi kelakar, ketika masih melajang, adalah soal mahar. Ada-ada saja yang menarik dari satu kata itu; MAHAR. Seorang perempuan berangan-angan akan meminta mahar sebuah uang yang hitungannya sesuai dengan tanggal pernikahan atau pertama kali keduanya bertemu dan dibingkai dengan pigura paling bagus. Atau ada yang bermimpi ingin membeli sesuatu yang kelak menyenangkannya dan tak akan pernah ia lupa seumur hidup, bahkan jika hancur sekalipun. Namun ketika masing-masing kami kembali memikirkan apakah harus seperti itu, yang muncul gelak tawa dan kembali berucap; Mahar itu harus disesuaikan dengan kemampuan calon suami yang telah bersedia melamarmu. Sungguh tak tahu diuntung jika jelas-jelas calonmu itu tak bisa membawa sebuah gunung, lalu kau memintanya dipanggul kehadapanmu, bagaimana pun caranya, bukankah itu mendholiminya?

Itu jauh, bertahun-tahun lalu. Pembicaraan itu telah usai. Para perempuan yang dulu menghabiskan sore dengan menggoreng pisang, bala-bala, singkong ataupun duduk berjajar di lapangan volley di samping asrama tempat mereka menetap, jauh dari kebisingan kota serta dikelilingi hutan belantara, semuanya kini telah menikah dan mendapatkan maharnya masing-masing. Uniknya, mahar yang mereka terima tak satupun memberatkan dari para suami yang telah mendampingi mereka bertahun-tahun (bahkan sudah ada yang sampai belasan tahun). Dengan senang hati pula, ada suami yang membocorkan dengan mengatakan begitu bahagia mendapatkan istri yang dulu tak pernah rewel terkait masalah mahar, walaupun sungguh mahar merupakan hak calon gadis yang dipinang untuk bisa mendapatkannya.

Dari berbagai adat di Indonesia, mahar memang memiliki masing-masing takarannya. Di Flores misalnya, dari sebuah artikel yang pernah saya baca, dikatakan mahar mereka berupa gading gajah yang sebuahnya bisa berkisar 10-15 juta bahkan ratusan juta. Toko-toko tempatnya menjual pun semakin langka, jadi bisa berpengaruh sekali pada harga yang semakin membumbung tinggi. Mengenai ketidaksanggupan calon pengantin pria pun tetap diberi dengan mencicil, walau caranya masih beragam. Ada yang harus bekerja di keluarga pihak wanita sampai lunas, ataupun beban itu akan diberikan dan dipikul pada cucu mereka nantinya. Ah keringanan ini bisa dikategorikan dalam jenis apa? Saya tidak berani meraba.

Lain Flores lain adat Banjar. Pengalaman saya melihat bagaimana prosesi adat yang mengharuskan uang yang diberikan dihambur dalam sebuah tempat, dilihat banyak orang yang hadir, lalu dihitung ramai-ramai. Tak jarang, jika kekurangan yang diinginkan belum terpenuhi, sedangkan waktu dan hari acara hantar jujuran tak bisa diundur, keluarga mempelai pria meminjam untuk beberapa ‘jam’ saja atau setelah selesai acara menaruh ditempat terbuka dan diperlihatkan banyak orang, maka uang akan langsung dikembalikan pada pihak terpinjam. Yang penting sudah dilihat oleh para tamu undangan yang hadir di acara jujuran. Dan semakin banyak jumlahnya, semakin terlihatlah kemapanan calon pria yang akan meminang, lalu –sepertinya- semakin tampak jelas nasib yang akan mereka jalani kedepannya. Walaupun semuanya tak bisa luput dari yang namanya takdir. Bukankah kebahagiaan tak bisa selamanya ditakar dengan materi?

Lalu siang itu, ketika menyempatkan berbincang hal-hal ringan pada seorang perempuan yang telah saya anggap seperti adik, saya dibuat terpana oleh cerita unik lain mengenai mahar. Calon mempelai wanita ingin barang yang ia inginkan dari calon mempelai pria adalah sesuatu yang berwarna tertentu, model tertentu, jenisnya tertentu dan mesti didapatkan, karena jika tidak ia tak segan mengembalikannya, meminta untuk mencari yang benar-benar seperti permintaan, dengan alasan; mahar itu adalah barang yang diberikan pada calon istri, dan akan dipakainya. Maka jika tak sesuai dengan keinginannya, lalu kelak istri tak mau memakainya, bagaimana? Bukankah pemborosan? Tapi mengembalikan karena tak sesuai?

Ideal atau tidak, setiap gadis yang telah dilamar memang berhak meminta mahar. Ini sudah disyariatkan dalam islam. Banyak kisah di zaman lampau tentang mahar. Seorang Ummu Sulaim meminta mahar keislaman dari pinangan Abu Thalhah. Atau Fatimah, putri Rasulullah SAW menerima mahar dari Ali bin Thalib berupa baju besi, karena ia begitu ikhlas dan tahu kemampuan Ali bin Thalib dalam hal materi. Atau seorang pemuda lain yang memberikan mahar pada seorang perempuan berupa beberapa hafalan surah Al Qur’an yang ia miliki, maka pada saat itu Rasulullah menikahkan keduanya. Bukankah memberi mahar mesti disejajarkan dengan kemampuan si pemberi? Apalah arti sebuah mahar jika untuk mendapatkannya, pihak pria harus berhutang kesana kemari, menadahkan tangan dibawah meja-meja ketika sedang rapat, melihat wajah kepiluan teman-temannya yang menjadi tanda tanya baginya, atau melakukan puasa setiap hari, atau hatinya menjadi sedikit merinding akan kepribadian calonnya, jika saja mahar yang diminta menjadi ukuran harga dari seorang manusia, yang memang tak ada bernilai lebih daripada keimanannya. Dan mahar tidak bisa disandingkan dengan kredibilitas perempuan yang akan dilamar. Mahar pun tak mesti ‘seadanya’ kecuali keikhlasan dan ketenangan si pemberi.

Mengingat para perempuan yang kerap menghabiskan sore dengan berbincang dengan sepiring pisang goreng, atau singkong, atau bala-bala, atau duduk bersejajar di bangku panjang pada sebuah lapangan volley, kembali mengingat kesederhanaan cara berpikir mereka walaupun itu untuk masalah paling crusial sekalipun. Kembali mengingat, mereka perempuan yang datang dari keluarga cukup berada, yang banyak menghabiskan waktu di kota besar sekelas metropolitan, meskipun harus menyelesaikan sebagian umur mereka untuk bekerja di tempat terpencil jauh dari jangkauan yang bernama ‘kecanggihan’, tetaplah mereka memiliki hati yang tak mampu memandang sesuatu dari kulit luarnya saja. Terlebih itu menyangkut mahar. “Pernikahan itu mesti diawali dengan mahar. Mahar yang tidak memberatkan, yang tidak neko-neko, kami percayai sebagai awal kehidupan pernikahan yang kelak tak akan berat apalagi neko-neko. Walaupun kita tetaplah manusia biasa yang akan menjalani segala takdir. Dan bukankah Rasulullah mengatakan; Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Duh Gusti, kalian mau kan menjadi wanita-wanita penuh barokah dan mendapat anugerah Allah?”

Jujur, saya rindu dan bahagia pernah berada diantara mereka dan diantara perbincangan sore, tentang mahar, belasan tahun silam.

Sunday, January 02, 2011

Mencari Awanmu...




Kembali membuka-buka album lama. Album kenangan…

Tiba-tiba rindu bertumpuk-tumpuk, berlipat-lipat. Jika bisa dan boleh kutanyakan, apakah kau melihatku? Apakah kau tahu hatiku sedang melayang padamu? Apakah kau rasa sesakku mengingatmu? Sedang apa kamu disana? Menungguku?

Aku kerap melihat awan putih berarak, melayang perlahan. Jika mataku tak mendapatkan apa yang kucari, maka pikiranku akan mengambil posisinya. Ia terbang, menyibak awan itu, membuka setiap helainya, kembali mencari apa yang pernah kau titipkan. Sayangnya, ia kembali terkulai.

Kamu lupa? Aku yakin tidak. Hanya pesanmu tak pernah datang lagi. Siluetmu telah lama tak melintas. Bukan karenamu, tapi karena aku semakin tahu diri dan memeluk jiwa sendiri. Aku yang tak mampu meredam hati ketika harus menghadirkan bayangmu.

Aku yakin bukan karena kamu telah lupakan semua. Hanya saja, waktu dan ruang semakin berjarak. Kamu pun tak ingin membuatku selalu terpaku pada duniamu. Walau salah satu duniamu pernah kumiliki, tapi sekarang, duniamu yang lain belum lagi dapat kau bagi.
Aku sedih, mengingat jarak…mengingat waktu…mengingat awanmu…

Tidak…aku tak ingin melihatmu kecewa. Katakanlah, aku bahagia, maka kutitip awan ini kembali padamu. Dimana pun kau berada, aku bahagia. Bahagia pernah menjadi bagianmu, pernah terburai oleh tawamu, pernah mencair menangisimu, pernah tergugu dengan diammu.

Aku rindu…dan terisak mencari awanmu...

(Inong, 6 bulan lagi, maka 5 tahun lamanya kita telah berpisah)

Wednesday, September 08, 2010

Melembutkan Hati

Sebulan yang lalu, lelaki itu mungkin tidak akan pernah menyangka, hari-harinya akan begitu pilu. Ia mungkin tidak pernah mengira, ketika ramadhan tiba, kehangatan yang selalu ada, akan terenggut. Ia mungkin tak pernah membayangkan, kelak, selesai tarawih, jama’ah mulai meninggalkan tempat satu persatu, bahkan telah hampir kosong, tapi ia, lelaki itu, hanya dapat memandangi putri bungsunya, tertidur lelap di lantai masjid yang dingin.

Sebulan lalu, ia, lelaki itu, baru saja kehilangan istrinya. Istri yang selama ini begitu dicintainya. Ibu dari ketiga anaknya, yang sangat ia percaya mampu mendidik mereka, walau sang istri masih bisa berkarir diluar rumah. Istri yang sangat sabar menghadapi tingkah polah ketiga anaknya. Hanya diam dan tersenyum, ketika rengekan anak-anaknya kerap terdengar diantara warga yang menghadiri pengajian. Ibunya tetap memberi keleluasaan pada anak-anaknya, walau kadang dirasa berlebihan oleh orang lain.


Terakhir bertemu, sekitar bulan Februari. Ketika itu ada pengajian rutin yang diadakan oleh warga komplek. Seperti biasa, ia, lelaki itu datang, bersama istri dan ketiga anaknya. Agak terlambat, hingga istrinya duduk di barisan belakang. Tidak banyak bicara, dan sesekali berbisik, mencoba menegur salah satu anaknya yang aktif kesana kemari. Diantara para ibu-ibu, sang istri pun hanya tersenyum, dan menjawab teguran dengan kalimat-kalimat pendek. Pemalu atau pendiam, saya tidak tahu persis. Karena sang istri jarang terlihat, karena kesibukkannya sebagai karyawan perusahaan. Tapi hanya satu yang saya dengar dan lihat, sang istri sabar sekali menghadapi anak-anaknya. Bagi saya, luar biasa.

Hingga menjelang ramadhan, kabar itu datang, di sela-sela suka cita menyambut bulan suci itu. Kabar pedih bagi lelaki itu. Juga bagi para teman dan tetangga yang mengenalnya dengan baik, ataupun sekedarnya. Sang istri tak pernah menampakkan sakit yang parah. Ia, sang istri, hanya mengeluh pusing. Lalu beberapa saat kemudian koma, dan pergi beberapa hari kemudian. Sungguh, kala itu yang terpikir pada masing-masing kami yang mendengar, adalah tak mengira sang istri pergi begitu cepat tanpa sebab yang terlihat oleh kasat mata. Terlihat baik-baik saja, tanpa gejala yang mengkhawatirkan. Tapi siapa nyana? Bukankah ini salah satu rahasia yang tak pernah mampu kita perkirakan? Kapan pun itu, bukankah kita harus siap? Yang ditinggal maupun yang ditinggalkan harus siap? Kemudian semua menjadi terhenyak dan merasakan perih sembilu milik lelaki beserta ketiga anak-anaknya itu. Betapa dekatnya sebuah hubungan, tetap saja akan ada batas yang menjauhkannya.

Maka selalu terlintas dalam benak, ketika melewati rumahnya yang memang sepi, lalu membayangkan, kesepian itu semakin sempurna dengan tidak adanya istri bagi lelaki itu, dan ibu bagi ketiga buah hati mereka. Melihat ketiga bocah itu bermain di pekarangan, namun tak ada senyum manis yang menyambut dan menemani mereka. Tak ada kesibukkannya mempersiapkan berbuka puasa, karena kepergiannya justru merupakan saat dimana kebersamaan sangat begitu bisa dirasakan. Saat-saat yang pastinya selalu dinanti, selalu akan dikenang. Dan, ia, perempuan itu, memang telah memberi kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh lelaki dan ketiga buah hati mereka.

Menjelang dan selama ramadhan kali ini, pikiran saya sibuk melanglang, termenung, membayangkan seperti apa rasanya jika posisi lelaki itu terjadi pada salah satu diantara kami. Atau mungkin posisi perempuan itu yang akhirnya menuntaskan segalanya. Pikiran saya mencari-cari, harus seperti apakah menghadapinya? Harus seperti apakah menampilkan diri setelah ditinggal oleh seseorang yang setia mendampingi selama ini? Atau, apakah yang tengah dialami seseorang yang telah pergi itu? Harus seperti apakah makhluk yang telah menemukan jalan akhirnya? Apa yang ia alami, di dimensi yang lain? Atau, sungguh, betapa tak kuasanya manusia berpaling dari ajal, walau bulan penuh cinta ini telah tampak untuk disongsong.

Pikiran-pikiran yang mengganggu. Namun mau tak mau, menuntun jiwa ke dalam sebuah ruangan yang kosong. Hingga terus berpikir, apa saja yang akan menjadi isi dari ruangan itu, agar penghuninya dapat tinggal nyaman.

Hingga menjelang berakhirnya ramadhan, terasalah, mengapa tidak hanya lelaki itu yang merasakan kehilangan. Mungkin –bahkan pasti ada lelaki-lelaki lain, atau perempuan-perempuan lain, dengan usia dan bentuk kehilangan yang beragam. Menjelang berakhirnya ramadhan, segala kegelisahan terjawab. Menghadapkan kita pada kematian, adalah cara Tuhan untuk membuat hati kita yang telah keras dan berkarat, menjadi lembut. Hati yang dengan mudahnya bisa Ia bolak-balik. Hati yang banyak kita lalaikan untuk dijaga. Hati yang semakin hari semakin berkurang kadar sensitivitasnya. Hati yang kita abaikan walau hanya untuk merasakan, bahwa ada takdir di setiap tarikan nafas yang telah diberikan-Nya. Hati yang tidak kita sematkan pada ruangan penuh kasih, pada hal-hal yang menjadi bekal kita kelak ketika kematian itu bukan kita dengar lagi, tapi justru kita alami.

Dan, benarlah! Cara Tuhan untuk melembutkan hati hamba-Nya, jika bukan sebagai peringatan, tentunya sebagai cinta kasih-Nya yang masih mau kita datangi, walau kuantitas serta kualitasnya bukan sebagai hamba yang taat.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan… Wahai Sang Pemilik hatiku
Jika saja, Kau tak berkenan untuk selalu memberikan cara padaku
Bagaimana merawat dan memperlakukan milik-Mu ini
Maka, hancurlah diri yang fana ini sejak dulu
Dan… wahai Sang Pemilik hatiku
Jika saja, Kau tak berkenan untuk selalu kutemui
Menyebut nama-Mu di setiap keindahan pada pelupuk mataku
Maka, sungguh… siapa lagi yang akan kutemui kelak?
Dan… wahai Pemilik hatiku,
Maka, sungguh…aku tak tahu jalan pulang
Selain pada diriMu

Wednesday, July 21, 2010

Maka, Terima dan Ikhlaslah

Siang itu saya agak terlambat menjemput bungsu saya, Ziyad. Sengaja sebenarnya, ada beberapa hal yang harus saya selesaikan, hingga mengharuskan untuk terlambat. Dan saya tahu, Ziyad tidak akan kemana-mana, selama saya belum memunculkan wajah saya. Paling jauh dia akan bermain di belakang masjid, di area kantor salah satu orang tua murid. Selain alasan ada pekerjaan menyebabkan saya terlambat, ada sedikit penasaran saja, bagaimana reaksi guru barunya, jika saya belum nampak juga. Ziyad sekarang sudah TK besar, dan gurunya pun baru. Dalam hal ini, guru ke-2 yang baru, sedang wali kelasnya, telah saya kenal cukup baik.

Ketika selesai memarkir kendaraan dan menyelesaikan administrasi si sulung, saya bertemu dengan wali kelas Ziyad sewaktu TK kecil, spontan saya bertanya pada beliau, karena sedari tadi Ziyad tidak terlihat sama sekali. Dan spontan pula beliau melempar tanya dengan salah satu guru (sebut saja guru B), yang tengah duduk di teras masjid, tertawa-tawa, yang notabenenya sekarang memegang Ziyad selama TK besar.

“Bunda, Ziyad dimana?”

“Wah nggak tahu, bun! Dimana ya?” guru B sambil tetap duduk tak berdiri sedikit pun ketika melihat saya –ibunda anak muridnya- yang sedang mencari Ziyad.

Saya tersenyum. “Saya sepertinya tahu dimana Ziyad. Terima kasih.”

Ups, saya cuma nge-tes! Karena saya tahu dimana anak itu biasa berada. Lebih baik saya berlalu, mencari ke tempat biasa (guru kelas A, malah lebih dulu berinisiatif pergi, mencari Ziyad)

***

Kira-kira apa yang dipikiran saya? Atau Anda?

Selalunya saya berpikir dan kilas balik ketika pertama kali saya mengenal bentuk sosialisasi seperti Play Group (PG), Taman Kanak-Kanak (TK), sewaktu anak saya yang sulung mulai menginginkannya. Itu sekitar tujuh tahun yang lalu. Dan percayalah, PG dan TK yang saya kenal itu tak pernah hilang kesan ‘keunggulannya’ hingga sekarang. Walau saya tak mungkin memasukkan anak saya disitu, karena PG dan TK awal itu berada di kota yang berbeda dengan kota, lokasi tempat tinggal kami 5 tahun terakhir ini.

Teman saya pernah mengatakan bahwa, jangan disamakan bagaimana perlakuan antara PG dan TK satu dengan yang lain, terlebih di kota A dengan yang ada di kota B. Akan sulit! Dari sisi keuangan, guru-guru di TK A itu dibayar mahal, berpendidikan, dan diberi pelatihan dengan baik. Di kota B? semua masih standar. Berapa sih gaji guru TK kota B sekarang? Belum kurangnya pelatihan. Huff…

Inilah yang akhirnya saya bantah. Saya kenal baik dengan seluruh guru PG dan TK di kota A. mereka rata-rata lulusan SMU dan D3 saja, dibayar hanya lima ratus ribu rupiah, dan mereka hanya diberikan pelatihan secara mandiri oleh pendiri yayasan.Yang di kota B, saya tahu jelas berapa gaji mereka, bagaimana mereka dimenej, dan berapa rajinnya pelatihan yang membombardir. Lalu teman saya itu berkelit, “Nah,... pendiri yayasannya berarti hebat! Bisa memenej mereka dengan baik.” Inilah tepatnya! Pendiri yayasan yang dikota A adalah 4 orangtua murid yang sangat peduli dengan kemajuan pendidikan anak usia dini (PAUD), tidak hanya dari sisi ilmu, tapi juga akhlak dan empatinya. Maka dengan modal seadanya serta manajerial yang masih ‘culun’ mereka mendirikannya. Hasilnya? Kesan saya terhadap yayasan itu sangat membekas manis dalam ingatan saya. Anak saya tidak pernah tidak disambut dengan super ramah oleh guru-gurunya, ketika baru memasuki pintu gerbang. Ketika pulang sekolah, anak saya tidak pernah keluar pagar sekolah dengan kemudian berkeliaran entah kemana, dan ketika melihat saya datang, gurunya langsung menghampiri, menjabat erat tangan saya, lalu mengucapkan salam perpisahan dengan anak saya. Itu setiap hari!

Yah, mau bagaimana lagi, satu-satunya sekolah yang pas ya masih ‘ini’, akhirnya teman saya menyerah, mengiyakan kegelisahan saya. Tapi kembali saya mengingatkannya, bahwa ketika pertama kali kami pindah dan sulung saya diterima di TK kota B, saya justru menemukan hal yang patut dikatakan ‘manis’. Komunikasi yang terbangun antara orang tua dan guru, sangat leluasa. Belum lagi setiap pekan, saya selalu bisa disempatkan untuk bertemu dengan wali kelasnya, hanya untuk berdiskusi tentang perkembangan si sulung. Responnya pun sangat baik. Jika pada kenyataannya semakin kesini, semakin jauh api dari panggang, saya, atau bahkan banyak orang tua yang berpikir, kenapa generasi guru setelah dulu itu semakin anjlok ya? Tidak puas? Pasti ada. Khawatir? Tentu juga ada. Saya yakin dan pasti, ketika mental guru-guru kebanyakan seperti ini, akan ada banyak hal yang bisa terlewat.

Pada akhirnya, gaung sumbang terdengar juga, ‘Sudahlah! Sekolah paling bagus itu ya yang ‘ini’. Masih the best, di antara sekolah lain, yang penanaman akhlaq serta pendidikan agamanya tidak klasik seperti sekolah lain; 2 jam per pekan.’

Di antara ketidakpuasan, atau pun lebih tepatnya, hal-hal kecil yang membuat ketidaknyamanan ini semakin tersulut, yang paling besar untuk digelembungkan adalah ikhlas. Ikhlas menerima, karena tidak semua kepentingan kita menjadi ideal di mata orang lain, pun sebaliknya. Ikhlas saja. Baik dari saya (belajar untuk selalu ikhlas) selaku orang tua dan para guru yang telah mengajar sejak dulu maupun yang baru, memompa keikhlasannya sebagai pengantar kekuatan dalam melakukan banyak hal, menuju keidealan itu, untuk mencapai tingkat yang diinginkan. Tentunya, dengan cara mencapainya sesuai kekhasan masing-masing pihak.

***

“Ummi, ada liat anak murid saya? Namanya ***. Tadi disekitar sini. Kok sekarang nggak ada, ya?” salah satu guru TK kota B, siang itu bertanya pada saya dengan wajah panik.

Saya tersenyum. Ah, bagaimana bisa hilang, bun?

Thursday, April 15, 2010

Menyemai Harapan dalam Usia

Pada akhir januari yang lalu, bungsu saya mengatakan sesuatu yang membuat saya tersenyum geli, sambil memeluknya, “Mengapa tidak ada faiz, noval atau teman yang lain kerumah kita? Mereka tahu nggak sih, hari ini aku ulang tahun?”

Saya ungkapkan padanya, bahwa tidak mesti semua orang tahu hari ini, tanggal itu, kamu dilahirkan ke dunia, memasuki alam yang akan membawamu pada berbagai macam warna, dimana adakalanya kamu akan menemukan warna yang satu ini. Warna ketika semua bertepuk tangan, bersorak sorai, berdendang, sambil meniupkan lilin, memotong kue dan mendapatkan banyak benda dibungkus kertas cerah menggoda. Setelah itu, apa yang akan kamu rasakan? Kelelahan, kekenyangan, lupa mengingat telah melakukan apa selama 365 hari dalam hidupmu, terlanjur dibuai mimpi berselimut hadiah semu.

Dia baru berumur 5 tahun waktu itu. Jika dikatakan kecil untuk sebuah penjelasan moral, bertele-tele dan terlalu jauh untuk menyentuh sisi jiwanya, saya tak pernah berkecil hati. Dia bukan orang pertama, bukan anak kecil pertama yang pernah menerima penjelasan seperti ini. Ada sulung yang telah mengalaminya, dan dia mulai mengerti sebatas area pikiran seorang bocah beranjak remaja.

Ini bukan masalah egois atau pelit. Walau tak dipungkiri, ada kaitannya dengan uang yang akan terhambur tanpa arti. Ketika ia berusia 1 thn, kami merayakannya dengan seharian saya berkutat dengan adonan cake, dengan wajahnya yang terpampang di permukaan. Menyiapkan tumpeng dan tetek bengek lainnya. Kemudian kami pun berdoa bersama keluarga besar, ada kakek neneknya, sepupunya, juga anak-anak yang tidak mampu, juga cacat fisik dan mental. Khidmat, walau saya yakin, ia pun tak mengerti untuk apa segala kemeriahan pada waktu itu. Hanya sekali, ketika tiap-tiap mereka berusia 1thn. Selebihnya, saya sendiri berkutat dengan adonan kue, membuat makan malam, menyiapkan bingkisan sederhana –barang yang sangat mereka perlukan-, lalu duduk berempat, berdoa, dan mengurai kalimat-kalimat sederhana mengenai makna kelahirannya. Menyenangkan bukan berarti harus berfoya-foya, makan-makan, berlimpahan hadiah dan lain sebagainya, bukan?

Tidak mudah memang, memahamkan sesuatu yang mereka pandang adalah satu kesenangan. Tapi cukuplah lega ketika sejauh ini, mereka masih tidak terlalu ambil pusing dengan bentuk perayaan tersebut. Ketika suatu hari anak saya pulang membawa satu kotak kue dan bingkisan dari temannya yang berulang tahun, kami pun tetap menerimanya dengan mendengar ocehannya. Ketika mereka mendapat ucapan selamat dari kakek neneknya, dan kami, mereka pun tidak terlalu menghiraukan akan pentingnya ucapan itu selain tersenyum dan bertanya, “Hari ini umurku bertambah?"

Itu pula yang saya rasakan ketika seusia mereka. Bedanya, tidak pernah ada permintaan untuk bisa dimeriahkan, namun orang tua selalu ingin melakukannya. Dalam hidup selama 35 thn ini, telah dua kali orang tua berhasil melaksanakannya. Berhasil membujuk saya, berhasil mengumpulkan para kerabat, tetangga, teman sepermainan –sepermainan saya dan sepermainan orang tua-. Semua begitu menikmati, dan saya pun menikmati, meski dalam kebingungan. Bingung, mengapa harus dirayakan? Mengapa ada kado-kado yang rata-rata sama jenisnya? Ah, ternyata biasa saja.

Runyamnya, seiring sejarah perjalanan hidup, malah membuat saya semakin tak tenang menjelang tanggal kelahiran. Terlalu membayangkan kejadian aneh atau apalah yang mengisyaratkan semakin berkurangnya usia. Namun ada hal yang patut disyukuri, saya terbiasa menerima ucapan dari segelintir orang, yang saya yakin, mereka memang hapal dan mengingatnya. Itu saja dan itu lebih baik. Jujur, saya pun tak begitu menghiraukan. Semakin sedikit, semakin tenang dan bahagia rasanya. Hingga, setahun lalu, saya lupa tanggal lahir sendiri, ketika ada yang mengucapkan, saya pun terperangah, padahal waktu itu tengah menyiapkan kue ulang tahun salah satu teman baik. Bahkan beberapa hari yang lalu terkekeh, ketika mereka, ketiga lelaki itu, mendatangi saya yang dan membisikkan doa di telinga. Ups, bukankah menyenangkan ketika tidak mengingatnya?

Entah sampai dimana perjalanan hidup ini harus dilakoni. Usia hanya angka, menandakan sekian tahunlah kita telah diberi waktu untuk selalu mencoba menjadi yang terbaik diantara sekian yang terbaik. Angka dimana, tak mampu mengubah seseorang untuk bisa menjadi lebih baik, jika pada hakikatnya ia tak dapat mengerti bagaimana meraih hal-hal baik tersebut. Angka tak bisa menjamin kebahagiaan yang mungkin saja dicari, namun masih mengawang, menembus arakan mendung dalam hati, jika manusia begitu mandul memahami arti kebahagiaan itu sendiri. Angka hanya angka, tak melebihi atau mengurangi nilai kita dimata Sang Penilai Hati, jika itu semua tidak kita komulatifkan dengan muatan amal baik yang seharusnya menjadi pembesar, sebesar atau melebihi angka usia yang dimiliki. Lalu, tetap saja, apalah artinya sebuah angka, jika tak sedikit pun kita pandai memanfaatkannya.

Hari ini, mari menyemai bibit harapan paling indah, mulai menghitung mundur, memupuk dengan empati, menyiramnya dengan menilik dan merenungi segala yang telah diperbuat. Menggemburkan serta menyesuaikan takaran yang belum terselesaikan. Harapannya, prilaku tak berkenan, hati yang terkadang tak mudah ikhlas, jiwa yang kadang kala terombang-ambing, mampu dipangkas, dienyahkan, tak akan terulang lagi. Semoga dalam 365 hari kedepan, kita siap menuai tunas-tunas berisi kebaikan, serta hal positif jadi mengganda. Semoga, kelak tak ada lagi pertanyaan, sudah sejauh mana umur ini digunakan untuk bisa berarti? Semoga.



Note: terima kasih pada kedua Pangeranku, yang dengan lahap menyantap suguhan yang Raja persembahkan pada Ratu

Tuesday, March 02, 2010

Memaknai Perpisahan

Segumpal rindu melayang pada awan putih
Berarak menjauh
Membawa segaris senyum dihembus angin
Membentuk siluet asa terentang dihadapan
Menembus relung jiwa
Membisikkan kalimat...betapa kita telah berjarak,
…tapi tidak dengan hati...


Salah seorang teman, berkali-kali mengeluh, rindunya ia pada sosok yang berperan penting untuk jiwanya, begitu mendesak, bahkan tak jarang bisa ia tumpahkan dengan tangis. Sosok sahabat yang setelah sekian lama bersama, harus pergi diam-diam, dengan alasan yang mungkin tak dapat ia terima. Ini yang menyakitkan, sungguh tidak ada alasan yang masuk akal?

Berbicara tentang perpisahan, saya pun mengingat perpisahan dengan sejumlah kawan. Berbagai macam bentuk mengapa harus berpisah, dan karena kepindahan, itu paling sering dialami. Ketika rindu, kami kerap mengirim pesan singkat ataupun menelpon, menanyakan kabar, menanyakan segala kegiatan kami sejak berpisah. Saling memberi masukan ataupun ide, yang terkadang konyol, melenceng dari yang diharapkan, tapi sangat menyenangkan, untuk kemudian mengurai tawa, bersama-sama membayangkan masa lalu pada saat masih dalam satu ruang dan waktu. Setidaknya kami sadar, jarak kami tak mungkin bisa ditempuh dengan singkat, namun bisa begitu nyata dengan teknologi yang semakin sangat membantu. Apalagi jika hanya sekedar untuk mengungkap rindu, pun tak segan lagi. Karena memang saling merindukan.

Namun jika perpisahan terjadi disebabkan oleh kematian? Ah, jangan ditanya seperti apa rasanya. Saya pun beberapa kali mengalaminya. Pertama kali rasanya sakit luar biasa. Mendengar kabarnya saja, perasaan berkecamuk, berpikir bahwa dunia sepertinya tak ingin memberi kesempatan pada kami untuk bisa saling mencintai lebih jauh. Hingga melemparkan masing-masing kami pada ruang dan dimensi yang berbeda. Saya selalu terkenang akan kebersamaan tanpa bisa meluapkannya dalam bentuk nyata. Walau pada akhirnya menyadari, hal ini bisa terjadi pada siapa saja, apalagi jika baru pertama kali, wajar sakitnya begitu terasa. Lalu ketika berulang untuk kedua kalinya, saya pikir akan berkurang kadarnya, paling tidak saya telah tahu bagaimana rasanya. Ternyata tidak. Sakitnya pun masih diluar batas biasa. Hingga ketiga kali dan entah telah berapa kali, tetap berulang, walau pada kenyataannya saya selalu ‘sok gagah’ bisa menguasainya. Begitulah, berbilang tahun kepergian orang-orang yang dekat dan pernah mewarnai hidup saya, seperti tetap saja ada yang mengganjal.

Perasaan betapa, dalam hidup, ada peran seseorang yang bisa sangat berarti setelah kebersamaan tak dapat dengan mudah bisa terwujud. Semakin membilur, membekas, setelah seseorang itu, sama sekali tak dapat kita temui, bahkan untuk dijangkau.

Perpisahan, bagaimana pun bentuknya tetaplah akan menggoreskan rasa nyeri, yang kadarnya tidak bisa disamakan. Kadang seseorang menjadi sangat tidak terkontrol bahkan terus mengenang jika perpisahan itu tidak bisa dimengerti dengan nalar maupun jiwa. Terkadang mampu menembus alam bawah sadar, merasa bahwa sebenarnya pemeran utama dalam perpisahan itu adalah, diri sendiri. Alangkah menderitanya, alangkah tidak adilnya. Begitu?

Jangan berpikir bahwa ini tidak adil untukmu, justru untuk manusia lain, inilah keadilan itu. Kalimat ini terlontar ketika saya dan salah seorang sahabat saling mengingat bentuk-bentuk perpisahan yang pernah dialami. Belajar memaknai sebuah perpisahan itu lebih menyenangkan, ketimbang menggerutu, mempertanyakan mengapa tidak adil dengan jarak yang terbentang. Bukankah adil atau tidak, bukan merupakan hak sepenuhnya dari sisi pribadi kita untuk menilainya? Bukankah masih banyak ketidak-adilan orang lain yang justru kita syukuri sebagai bentuk keadilan untuk kita. Sebaliknya bahkan, mungkin saja itu membuat manusia lain merasakan bahagia. Mungkin saja.

Tengoklah ke belakang. Apa yang telah kita perbuat pastilah menghasilkan sesuatu sesuai keinginan kita atau sebaliknya. Itu lumrah. Lihatlah apa yang telah kita upayakan, semua berpulang pada kehendak dari segala pemilik kehendak. Lihatlah ke depan. Jalani saja. Jika menemukan betapa luas bentuk kebahagiaan itu, sisiri perlahan-lahan. Ketika semakin lapang menelusurinya, semakin banyak perasaan bersyukur yang akan dilontarkan. Bahkan untuk sebuah perpisahan.

Saturday, September 19, 2009

Menemukan Tuhan dalam Ramadhan


“Pernah saya menangis tersedu, mendapati diri harus terpisah bentangan jarak, yang tidak hanya sekedar berbeda waktu, tapi juga suasana dan ramainya, ketika harus berada di tempat sunyi pada saat Ramadhan. Keinginan saya selalu mengakhiri hari demi hari, dengan menyibukkan diri, mengelus mushab dengan sapuan mata, menempelkan dahi serta mencium harum wangi pada lusuhnya sejadah di tiap waktu berharga, tetap saja memagar saya untuk selalu merindukan suasana lain. Betapa sunyinya ditempat saya kini.”

Perempuan itu tetap mengingat bagaimana perjalanan spritualnya. Berada di tengah hutan, menjalani suasana membosankan dari hari ke hari, berujung pada kepasrahannya ketika pilihan di tempat sunyi itu harus ia ambil kala pikuknya ramadhan membahana. Memang ia tak mampu dan tak berkuasa untuk memilih, seperti yang pernah ia akui.

Lalu, benarkah di dunia ini, manusia tidak diberi keleluasaan dalam memilih? Disebut apa namanya, jika ada mudah, setengah sulit dan sulit? Oleh Emha Ainun Nadjib, dari buku “Dari Pojok Sejarah”, dikatakannya, Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya, kebahagiannya, & Tuhannya. Berbagai makhluk menghalanginya, terkadang, atau sering kali, dirinya sendirilah yang merintanginya.* Maka tak ayal, hatilah berperan banyak dalam menggerakkan manusia untuk bisa memilih. Menggunakan sinyal dari hati itu sendiri, menuju alam pikiran, lalu berkuasa untuk menentukannya. Lalu cukupkah hati? Kalau memang urusan hati memang susah untuk dielakkan.

Namun, kali ini hati memang tak pernah ingkar pada apa yang disiratkan olehnya. Selalu saja semburat kerinduan justru menjadi salah satu ujung penantian, ketika Ramadhan mulai beranjak, untuk pergi, dan tak pernah berani berjanji untuk bisa datang menemui kita lagi. Hati menjadi pilu, tatkala mendapati diri ternyata tak pernah merasa menjalankan apa yang hati itu sendiri inginkan. Menjadi tak puas dan lalu tak menemukan jalan pulang, ketika begitu banyak pengingkaran dan memudahkan apa yang menjadikan beban, padahal tidak sama sekali.

Tidak rela saya ditinggalkan oleh Ramadhan, tutur perempuan itu lagi. Ia mengakui, keadaan yang memaksanya untuk berada di tempat jauh dari keramaian justru membuatnya begitu mudah membuat lubang pada hatinya, membiarkan Ramadhan menembusnya, beriak-riak masuk dalam aliran darahnya, hingga Ramadhan itu hidup dalam hatinya. Ia bersikukuh, pada Ramadhan ia temukan Tuhan, dan buru-buru ia leburkan diri pada-Nya, walaupun harus terseok-seok. Ia begitu suka cita menunggu kedatangan Ramadhan, sebaliknya, hari-hari menjelang berlalunya Ramadhan ia tangisi, karena merasa masih saja ada yang kurang. Dengan segala ketakberdayaannya, seperti seorang kekasih yang akan ditinggalkan, ia umbar janjinya, akan menunggu hingga kapan pun jua, walau rintangan menghadang, ia bersikeras untuk tetap setia di ujung bumi Tuhan yang terpencil itu. Ia begitu yakin, kecuali ajal yang tak bisa ia singkirkan.

Pada Ramadhan, Tuhan begitu dekat. Indahnya.

Taqaballalahu Minna Wa Minkum
Mina Wa Minkum Taqabbal Ya Karim


Tuesday, September 01, 2009

Malaikat tak Bersayap


Apa kabar Ramadhanmu kali ini?

Lagi-lagi, pagi itu udara sangat nyaman, semilir, bahkan matahari masih malu-malu menyembulkan pesona emasnya. Pagi itu, bersama seorang teman, seorang istri yang masih belum dikarunia anak, saya menyempatkan waktu diantara hiruknya pekerjaan rumah, untuk pergi ke Sengata Seberang. Tugas kami belum selesai untuk memegang ratusan siswi smp, untuk jadwal pesantren kilat yang terakhir kalinya. Siswi yang jumlahnya ratusan, dan itu berarti ratusan pula tingkah laku mereka, dan runyamnya hanya kami berdua yang bisa datang pagi itu.

“Tidak ada lagi yang bisa dikirim ke seberang?” pagi itu saya menegur salah satu penanggung jawab pesantren kilat ini lewat telepon. Dia hanya meminta maaf, karena beberapa mentor sengaja di taruh di sekolah terdekat, mengingat, hanya kami berdua yang biasanya mau untuk pergi ke pelosok seperti Sengata Seberang.

“Begitu ya? Kami harus memegang ratusan anak itu hanya berdua? Padahal kamu tahu bagaimana mereka, kelakuan mereka yang belum kondusif kan?” saya tidak puas. Suara saya mulai lemas.

Tidak apa-apa, kita akan menanganinya, Mbak, hibur teman seperjalanan. Ya, apapun itu kita hadapi saja. Apapun itu, ini sudah janji. Dan bukan janji asal janji. Ini menyangkut kecintaan, tanpa harus memilih harus ditempat seperti apa kami ditempatkan.

Tapi, semua mesti ada resiko. Semestinya ada satu hal yang harus terjadi, hingga apa yang kita yakini, menjadi kuat dan kokoh. Ban mobil saya tiba-tiba melindas sesuatu ditengah jalan. Sebuah paku besar menancap ajeg dan saya melongo melihatnya. Tempat kami masih jauh dari peradaban bengkel. Telpon genggam kami, langsung mati karena memang baterenya sekarat sejak berangkat. Kami pun berusaha menguatkan hati.

“Mbak, jalan aja pelan-pelan. InsyaAllah akan sampai pada bengkel pertama dijalan besar.” Lagi-lagi teman saya itu menghibur. Tapi wajahnya tidak bisa berbohong. Ia cemas, seperti juga halnya saya. Tapi harus ada keputusan, dan saya mengendarai mobil dengan pelan. Sambil bercerita dan berdiskusi bagaimana hidup kami maknai.

“Aku ingat sekali dengan ucapan suami, jika aku mengeluh dengan segala sesuatu yang saya nggak bisa lakukan. Suami saya selalu bilang, kamu nggak percaya Dia ada? Kamu nggak yakin jika Dia mau, maka apapun kebaikan yang kita inginkan, insyaAllah akan terwujud jika kita berusaha mencapainya. Mbak tahu 'kan, kita memang menyayangi anak-anak disini yang rata-rata jauh dari kesan ramah dan lamban menyerap apa yang kita beri. Kerinduan untuk berada ditengah mereka, terus ada ketika semakin kuatnya kita berusaha memalingkan hati. Kita jaruh cinta, mbak!” terpekur saya mendengarnya. Hingga sebuah bengkel terlihat dari kejauhan, dan kondisi ban mobil sudah tak bisa diselamatkan untuk perjalanan jauh.

Saya menajamkan hati. Otak saya berputar balik pada kejadian beberapa jam lalu sebelum kami berangkat ke tempat jauh ini. Mungkin ada yang tersakiti akan keluhan kami, ada yang hatinya teriris akibat komunikasi yang sedikit melenceng. Mungkin…ya mungkin, teman yang tengah menemani saya, menempuh perjalanan mencari bengkel terdekat, yang sedari tadi menemani duduk bersimpuh dalam mesjid besar yang letaknya di pemukiman penduduk yang padat, adalah seorang malaikat. Dia tidak bersayap, tapi mampu merangkul hati yang mulai basah ketakutan. Dia tidak mempunyai retorika yang teratur namun sanggup membius, menuntun langkah kepercayaan akan satu hal pasti, dimana urutan setelah itu adalah balasan yang setimpal.

Mencapai ikhlas sungguh bukan hal yang mudah untuk bisa dilaksanakan. Terkadang, perlu waktu untuk memahami, mengapa kita harus ikhlas, mengapa kita harus terus memupuknya, memeliharanya, bahkan menjaganya agar tidak tumbang, tetap kokoh, walau apapun yang terjadi. Namun, dari sepagi hingga siang diatas kepala, seorang dapat menjelma menjadi malaikat, meniupkan sepoi makna ikhlas pada relung hati yang mungkin hampir berkarat.

Lalu, apa kabar Ramadhanmu kali ini?

Saya menemukan malaikat tak bersayap, yang dari bibirnya mengeluarkan mutiara yang sungguh berharga. Dan, ternyata Dia memang ada untuk mencintai.

Tuesday, August 25, 2009

Pijar Cahaya Ramadhan


Apa kabar Ramadhanmu kali ini?

Jelang Ramadhan, hujan turun seperti ratusan jarum pagi itu. Sedari subuh, tanah sudah basah dan mengeluarkan bau khas. Walau rasanya memang tak menyangka, mendekati Ramadhan, hujan justru tumpah ruah. Padahal sebelumnya, panas hingga mencekik kering tenggorokan kadang menjadi keluhan di siang hari.

Ini anugerah. Ini keajaiban. Sementara harus menyingsing beberapa rapat sebelum pergi, sempat terpikir mengapa kali ini sedikit resah ketika bulan mulia ini mulai dijelang. Sebenarnya bukan karena resah akan kehadirannya, yang sejak berakhir setahun lalu justru selalu dirindukan. Namun resah karena kali ini mengenai persiapan untuk mengisinya, memcoba memberinya arti tak ternilai, tidak begitu maksimal seperti tahun-tahun lalu.

“Entah ini faktor semakin kurangnya kita menghayatinya, ataukah memang ini ujian bagi kita yang merasa selalu gagah ketika bertemu Ramadhan, hingga Tuhan sedikit memberikan sentilan pada kita?”

Teman saya benar. Maka berangkatlah saya meninggalkan Sengata yang biasanya hiruk pikuk menjelang Ramadhan telah dirasa sebulan sebelumnya, namun tidak kali ini. Segelintir agenda penting, malah harus tumpang tindih, berubah jadwal ataupun batal sama sekali, karena tidak terjalinnya koordinasi yang mumpuni. Mungkin inilah keputusan dari sebagian diri saya yang ingin memerdekakan diri dari ketidakpuasan dalam menyikapi, pergi ke satu tempat penting lainnya, dan meninggalkan sedikit semburat bilur yang entah apa namanya.

Hingga sampailah pada perjalanan yang melelahkan, menguras tenaga karena harus menghadapi sidang bermalam-malam, beradu argumentasi, yang justru mampu memberikan nuansa lain. Kegiatan rapat yang baik esensi, juga peserta sangat berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, memberikan satu warna tersendiri, yang dominan sama-sama dirasakan oleh peserta yang lain.

Tuhan sedang mengajak bercanda, Panas berbulan-bulan, dapat Ia teduhkan dengan derai hujan yang jatuh dari pori-pori langit. Gersangnya perasaan karena merasa tidak mendapatkan keteduhan seperti biasanya, bisa Ia payungi dengan kesempatan mengalami hal-hal diluar batas perkiraan manusia. Jika jauh di ujung timur peta Kalimantan, rutukan serta gerutuan tak jelas ada, namun tidak ditempat lain, yang nun jauh pula. Cahaya itu jelas pada nafas lelah serta gantungan hitam yang menggelayut di mata, akibat tidur yang selalu berakhir malam, hingga tawa kami serta tangisan ketika harus berpisah, semakin terasa. Awal hari-hari menjelang Ramadhan, kami dipertemukan dalam perburuan buku, perburuan di pasar tradisional, perburuan waktu disesela tea break, perburuan dengan peserta lain untuk mendapatkan dukungan, perburuan menggali ilmu dari para senior ditingkahi keragaman tingkah polah, karena asal kedatangan peserta satu dengan yang lainnya berbeda. Uniknya walau kami tak pernah bertemu sebelumnya dengan beberapa peserta dalam satu tim, tapi kebersamaan itu sangat mengikat kuat. Dan.. sekali lagi, benarlah, Tuhan sedang bercanda.

Ini realita. Dimana kita merasa akan kemunduran satu hal, yang pernah sangat begitu dinamis, lalu kemudian jika secuil kecewa ada, sangatlah wajar. Apalagi banyak harapan yang digantungkan pada langit-langit menjelang Ramadhan. Dan disinilah, skenario lain pun dirancang Tuhan. Lalu menjadi pentinglah kepergian ini. Menjadi satu kenyataan, bahwa ada rasa lain di tempat yang berbeda. Menjadi sadar bahwa, tak seharusnya kita selalu berada di area nyaman, dimana selalu mendapatkan kemudahan. Menjadi ingat bahwa dimana pun itu, selama masih di bumi-Nya, pijar-pijar cahaya-Nya dapat dengan mudah diraih, digenggam dan kembali di pendarkan memenuhi relung hati dengan khidmat.

Apa kabar Ramadhanmu kali ini?

Syahdu, penuh dengan luapan rasa dan hanya Dia yang tahu.

Saturday, April 04, 2009

Memeluk Bahagia


Saya menegur salah seorang teman yang tengah online beberapa hari yang lalu. Seorang perempuan yang saya kenal dua tahun yang lalu. Bertemu dengannya pun baru sekali. Sosoknya ramah dan mudah bergaul.

Sore itu saya menanyakan kabarnya, kesehatannya, juga tentang pekerjaannya. Obrolan mengalir begitu saja. Hingga menyangkut masalah jodoh. Ada salah seorang teman kami, desas desusnya memutuskan berpisah dari suaminya. Ia telah mempunyai dua orang anak, dan tanpa pekerjaan pula. Ini memang mengejutkan saya. Karena baru dua bulan yang lalu teman saya yang ingin berpisah ini melahirkan. Pukulan ini pastilah berat baginya. Terlebih, keputusan ini ia ambil ketika anak-anaknya sangat memerlukan perhatian kedua orangtuanya, dan ditengah-tengah usahanya mempertahankan biduk pernikahan mereka. Sempat setahun lalu ia mengeluh ingin segera bercerai, tapi urung, entah apa sebabnya, saya pun tak mempunyai hak untuk bertanya.

“Setidaknya aku bisa bercermin pada kehidupan dia, Mbak! Aku jadi banyak memikirkan pernikahan seperti apa, agar ini hanya cukup sekali,”

Ucapan itu terlontar, ketika panjang lebar ia–tanpa saya minta- mengatakan, telah berpisah dengan tunangannya. Padahal rencana pernikahan mereka tinggal tiga minggu lagi.

Saya terhenyak.

Teman yang saya ajak chatting ini memang telah lama menjalin hubungan dengan seorang pria yang tengah bermukim di luar negeri. Dari kisah-kisahnya selama ini, hubungan mereka sangat baik, walau jarak membentang sangat jauh. Komunikasi mereka bangun, karena pada dasarnya dari masing-masing pihak, menginginkan tidak hanya sekedar hubungan tanpa arah. Hingga saya yang mendengar kala itu pun berpikir, mereka pasti bisa mengarunginya.

Pernikahan bukan satu hal yang gampang. Perlu pemikiran dan tapak kokoh dalam menjalaninya. Konon menyatukan perbedaan itulah yang selalu dijadikan alasan hingga mengakhiri masa lajang selalu terhambat. Kerap seorang perempuan terjegal masalah ketidaknyamanannya membuat segala pola pikirnya selama ini harus dibagi dan terbagi. Belum memikirkan betapa susahnya harus menjajagi pribadi masing-masing, jika prosesnya memang tak seperti kebanyakan. Hanya perkenalan lewat seseorang, mengetahui masing-masing misi dan visi, istikharah, dan memutuskan, lanjut atau tidak. Jadi jangan terlalu berharap dengan gaya harus pacaran atau tunangan. Ini malah akan membuat beban, terlebih bagi saya dan teman-teman di sekeliling saya.

Soal misi dan visi, ketika memutuskan melangkah lebih jauh, saya hanya punya pandangan dasar, lelaki, yang akan mendampingi saya haruslah seiman dan mengerti bagaimana menyolehkan keluarganya nanti. Ia haruslah patuh pada segala aturan Pemiliknya, seperti halnya saya belajar untuk mengalirkannya dalam setiap helaan nafas. Mudah? Tentu tidak! Soal patuh pada aturan ternyata juga banyak benturannya. Kerap ini malah menambah ritme langkah selanjutnya. Hingga kerap harus bertanya-tanya bentuk bahagia seperti apa yang ingin diraih.

Bahagia dalam pernikahan itu terpulang pada masing-masing yang menjalaninya. Karena bahagia itu memang dapat dibentuk sedemikian rupa. Masalah tidak seiring sejalan pun tinggal bagaimana kita selalu mau memberikan separuh hati untuk bisa selebar mungkin memuat kata maaf. Rasanya mustahil, jika dua kepala dan dua pribadi harus selalu sama dalam memandang satu masalah. Untuk itulah ikatan suci ini ada, menyatukannya tanpa harus menggeser menjadi pribadi yang diinginkan masing-masing pihak, namun mampu menerima, melengkapi kekurangan dan mengimbangi segala kelebihan. Bagai rembulan dan mentari, mustahil akan menjadi satu dalam penyempurnaan. Namun lihatlah betapa ia dapat menggantikan fungsi satu dengan yang lain. Mengerti pada masing-masing posisi, dimana setiap kita pun akan demikian. Seiring dengan hal ini, kedewasaan akan berkembang, dan bahagia hakiki bisa tercapai. Hingga tak perlu ada perpisahan jika ikatan ini disandarkan dengan kalimat ‘tak cinta lagi’ atau ’telah berbeda dalam penyelarasan pandangan hidup’.

Memeluk bahagia pun terus diupayakan oleh seorang perempuan. Tak ingin dia menyerah, ribuan langkah pun tak akan ia undurkan untuk menjadi satu bait kekalahan. Karena ia pun sadar, ada Tuhan yang terlibat antara ia dan suaminya. Ia mencintai apa yang Dia pilihkan. Ia berpaling pada apa yang Dia elakkan. Jika sampai detik ini denyut pernikahan berdentang semakin membahana, ia yakin itu hanya sebagian nikmat dari sekian ujian yang akan datang.

Indah bukan?


untuk kekasih hati, Akang Indro, terima kasih mau memeluk bahagia selama 1 dasawarsa ini.

Wednesday, April 01, 2009

Peluncuran Buku Bersama; Behind the Scene

Akhirnya, launching novel Vita, Desau Angin Maastricht juga relaunching buku antologi FLP Sengata, Sangatta, Sangat Banyak Cerita, sukses digelar hari minggu 29 Maret 2009, di hotel mesfa mulia, Sengata.

Jujur, kami sempat terkena phobia akan beberapa masalah yang terjadi pada peluncuran pertama di gedung SD 3 YPPSB. Makanya event organizer Arif (Kadiv Humas) diberdayakan, mengingat beberapa orang pengurus cukup sibuk karena dibetot oleh kegiatan yang menggunung selain acara ini. Tapi, phobia tetaplah phobia. Kalau di lain pribadi, phobia biasanya disikapi dengan menarik diri, enggan melakukan sesuatu, atau malah membuat respon yang kurang baik, alhamdulillah itu tidak terjadi pada pengurus FLP Sengata. Bukankah semua ada masanya? Jadi lebih baik bersikap agresif untuk mensukseskan acara ini, ketimbang diam dalam kephobiaan.

Bicara soal phobia, ada yang menggelitik ketika acara ini dilaksanakan. Peserta yang hampir memenuhi ruangan yang berkapasitas 100 orang itu, masih ada yang meningkahinya dengan pertanyaan yang cukup membuat kami, pembicara merasa memang inilah keunikan Sengata ketika menggelar moment seperti ini. Saya, DH Devita, Narima (anggota juga salah penulis antologi FLP Sengata), juga bu Ani Jayadi (KepSek SD 3 YPPSB), patutnya bersyukur, karena hal-hal seperti ini memang jarang terjadi atau kami temui jika menjadi pembicara di tempat lain, selain Sengata. Diantara peserta, ada saja yang bertanya mengapa desau dijadikan judul, atau mengapa tidak menuliskan kehidupan pribadi dalam novel, atau…mengapa ada tulisan berbau takhyul dalam buku antologi FLP Sengata.

Untuk pertanyaan mengapa ada bau takhyul dalam buku antologi FLP Sengata, sebenarnya telah kami pantau dari terbitnya buku antologi secara independent. Waktu itu saya berpikir, lebih baik membiarkan pemikiran tersebut terlibat langsung dalam FLP sendiri. Karena saya yakin, ketika telah terlibat, pikiran tersebut pelan-pelan akan tersaput bersama kedekatannya bersama kami, baik dalam pelatihan maupun interaksi dalam kepengurusan. Bahkan seorang teman yang disentil telah menuliskan artikel takhyul itu, mengatakan ia tak merasa ini cercaan. Ia menanggapi dengan santai, bahwa seorang yang pandai, perlu belajar mencerna dan membutuhkan jiwa yang bersih, serta pikiran yang distel sedemikian rupa agar bisa cepat tanggap dalam menerima hal apapun.

Jika bicara proses, buku antologi ini sempat membuat saya terengah-engah, berlari terus mengejar deadline waktu pelantikan juga peluncuran, yang sempat mundur hingga beberapa bulan. Saat memutuskan indie pun, para pengurus pun tahu inilah konsekuensinya. Ada beberapa artikel yang harus dirombak, walau tidak secara keseluruhan. Otomatis ini memerlukan dasar pemikiran si penulis, mau kemana artikelnya akan dibawa, atau ending seperti apa yang diharapakan. Satu penulis pun bisa memberikan hingga 6 artikel, yang dalam perjalanannya harus disingkirkan hanya menjadi 3 artikel, karena lagi-lagi butuh waktu untuk sekedar mengeditnya.

Buku antologi ini berisi cinta, itu saja. Pertama kali memandangnya, saya yakin semua penulisnya merasakan betapa perasaan diaduk-aduk, karena bahagia. Hasil kerja keras kami selama 3 bulan, bisa terwujud walau sederhana. Bahkan kami pun tetap tersenyum, jika masih saja ada orang merasa tidak memilikinya, hingga menghamburkan kalimat, yang mungkin saja membuat diantara kami merasa terlukai.

Tapi, biarlah saja. Setiap aksi pastilah ada reaksi. Dan biarkan saja reaksi kami bisa tetap santun. Bisa tetap menghormati siapa saja yang ingin mengeluarkan pendapatnya. Toh, kami memang merasa, masih banyak kekurangan dalam penggarapan buku antologi tersebut. Sebagai pecinta dunia tulis dan baca, kami merasa harus tetap berdiri, mencoba memperbaiki, agar kedepannya, kami tetap tersenyum penuh maaf.



Selamat untuk terbitnya Novel, Vita. Dan untuk penulis-penulis buku antologi FLP Sengata. Jalan kita masih panjang dan penuh hal yang menakjubkan.

Tuesday, February 17, 2009

Unik itu Seni



"Banyak hal-hal yang tidak terduga dari orang-orang yang saya kenal belakangan ini"

Itu kata salah seorang sahabat saya, ketika siang itu saya dan dia ngobrol membahas beberapa hal. Entah, mungkin karena saya dan dia punya hobi dan kesenangan yang sama, lalu itu semua bisa berlanjut pada pemikiran yang juga hampir mirip. Saya pun belakangan ini berpikir hal demikian. Hm...

Kalau hal yang tidak terduga, mungkin terlampau banyak yang telah kami alami, hanya saja, tekanan kalimat itu baru tercetus akhir-akhir ini. Jika kegelisahan ini baru keluar, lebih mengacu kepada situasi yang ternyata tidak terjadi pada satu atau dua orang saja. Justru sepertinya semua orang-orang di sekeliling menjadi kelihatan belang aslinya. Ataukah saya saja yang baru merasa bahwa ini merupakan buah dari segala lingkup pergaulan yang telah dilakoni selama di kota kecil ini.

Salah seorang teman saya malah mentasbihkan dirinya, sebagai orang yang sangat harus dikasihani, memprihatinkan, karena angan-angannya untuk bisa segera keluar kota, demi sebuah ilmu, terhambat, atau malah harus dikubur oleh jabatannya dalam satu keorganisasian. Memang posisinya cukup penting. Namun dampaknya malah saya tak pernah berpikir bahwa kemudian ia berlaku dengan hal-hal yang tak terduga, dengan gayanya yang selama ini santai saja, terlihat jaim dan sedikit jutek. Stres kali ya?

Ini merupakan rangkaian. Rentetan dari jaim dan juteknya berimbas pada teman-teman yang lain, yang menimpali dengan kejutekan dan kejaiman pula. Ada yang sengaja mendiamkan, ada sengaja ikut-ikut saja, ada yang malah tidak merasa sama sekali, saking cueknya. Runyamnya, masing-masing posisi menyalahkan, saling mencoba bikin tameng lalu membesarkannya dengan cara sendiri-sendiri.

Keunikan, itulah yang mungkin bisa dibaca dari gejala seperti ini. bagaimana pun manusia diciptakan dengan pola berpikir yang berbeda. Walau sama-sama mempunyai rambut hitam. Setiap orang pasti punya masing-masing tingkat pemahaman, kalau tidak boleh dibilang perbedaan itu terletak pada tingkat cepat atau tidaknya menangkap satu pesan. Seharusnya memang tidak perlu dirutuki, tapi apa bisa? Kita manusia. Mau menyangkal apa?

Keunikan lain, bagi saya –yang pernah merasa dipaksa untuk menyetir sebuah kendaraan organisasi di jalan yang banyak lubang-, ini merupakan angin segar. Betapa tidak? Posisi ini tentunya sebagai ganti ilmu yang ingin ia kejar di luar sana. Sebuah ilmu yang memerlukan waktu dua atau tiga tahun untuk dipelajari, biaya yang tidak sedikit, dan mungkin akan ada ketidakmampuan menggandakan waktu sambil mengurus hal lain. Tapi untuk posisi yang ia terpaksa ambil? Hm, dalam waktu sebulan saja, ia dituntut untuk tanggap, cepat berkoordinasi, teman-teman mendukung penokohannya dengan menaruhnya didepan barisan, serta tak perlu keluar biaya tinggi. Dan,...bayaran untuk dia tidak dapat dihitung. Kasih sayang Tuhannya yang memberikan kesempatan ini, tentunya.

Hal yang tak terduga itu ternyata unik. Keunikan itu perlu dalam berbagai kesempatan, terlebih dalam sebuah organisasi. Walau reaksi untuk keunikan itu, saya harus tergelak hingga megap-megap, karena harus terlebih dahulu memaksakan hati untuk lebih rasional, tapi itulah seninya.

Ya, unik itu seni, bukan?


Monday, December 08, 2008

Berkurban


Tidak gampang, mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita sukai, untuk dipersembahkan, dimiliki oleh orang lain. Perlu ketegaran serta hati besar untuk bisa ditunaikan dengan baik. Tidak mudah! Bahkan untuk arti ini, seorang anak kecil pun perlu dididik awal atasnya. Karena jika ia telah dewasa, kerap tak mudah meluruskan pemikiran tanpa ternoda.

Itu pun jelas terlihat, hari-hari begitu menyita waktu, menjelang hari-hari perayaan kurban. Beberapa perempuan dan lelaki, meluangkan waktunya seharian, duduk dalam sebuah forum, dari cerah hingga lesu menjelang malam. Ini pengorbanan. Karena diantara mereka ada yang datang setelah selingan penganan kue-kue kecil tersaji, atau diantara mereka telah beredar sebelum palu diketuk.

Di tempat lain pun demikian. Berderet mobil, berkilo-kilo berakhir pada satu titik pun terlihat akhir-akhir ini. Titik kecil yang kerap diributkan menjelang Desember, karena isunya akan mengalami penuruan harga. Tempat penyimpanan dan pendistribusian BBM. Mereka berkorban keukeuh antri, dengan pergerakan yang tidak signifikan, karena memang tempat itu belum ada pasokan bensin yang telah dijanjikan akan datang sebentar lagi. Dari pagi hingga jelang senja, masih sama. Pasokan itu belum nampak. Ini pun pengorbanan bagi oknum lain. Demi melihat harga yang sedikit turun, pikiran nakal serta kesempatan yang terbuka lebar, membuat perlakuan bernama manipulasi. Membuatnya aman melimpah ditempat mereka.

Kita memang seringkali tidak dapat mengambil hikmah dari segala macam kisah yang pernah terjadi. Seringnya dijadikan dongeng pengantar tidur, sampai tertimbun selimut dan bantal di pagi harinya. Kisah-kisah itu hanya menjadi hiasan di bibir tanpa merasuk ke hati. Terlebih kisah dan hikmah itu seharusnya menyergap kita setiap waktu.

Kisah seorang kekasih Allah, nabi Ibrahim as., rela serta ikhlas menjalankan segala perintah Sang Nyata. Ia dambakan seorang buah hati bertahun-tahun dalam masa penantian. Ketika tiba dan selesai masa penantiannya, sang buah hati pun diminta dengan cara disembelih. Andai kita hidup pada waktu itu, apa yang akan kita lakukan?

Atau kisah ibu teladan, Siti Hajar. Air zam-zam yang mengalir dari telapak kaki sang buah hati, menandakan kekonsistenan serta ketajaman berpikir jernih seorang hamba. Ia begitu sadar serta yakin, apapun itu, pastilah berasal dari Sang Nyata.

Jaman kita memang telah berubah. Segala ucapan pengorbanan pun tak ayal selalu menyertai segala permasalahan di diri kita. Namun benarkah demikian? Pada kenyataannya, manusia seringnya tak mau kalah pada keadaan, dengan alasan, Allah tak akan merubah nasib seseorang jika manusia itu sendiri tak mau mengubahnya. Manusia pun gemar menghitung-hitung, sudah banyak yang dilakukan, dan tetap merasa aneh, jika masih saja disalahkan. Kita terlampau menganggap remeh arti pengorbanan itu sendiri.

Ketika masa duka menyelimuti, adakah pengorbanan menekan segala perih hati dalam bentuk kesabaran? Ketika masa suka menggelayuti, adakah pengorbanan membuang rasa angkuh, menepuk dada serta lantang bersuara; ’inilah aku’, bisa dilakukan? Lupa, khilaf dan wajar jika ada reaksi, itu selalu kita jadikan tameng.

Disayatnya leher hewan kurban, semoga, beriringan dengan tersayatnya rasa angkuh, sombong, takabur serta menaburkan derita menjadi sebuah cerita untuk minta dikasihani. Dikulitinya pun, dengan menggunakan mata pisau yang paling tajam, setajam kepercayaan kita pada yang menciptakan hewan itu. Percaya, begitu tanpa noda kasih yang diulurkan selama ini. Dan sungguh bukanlah hewan itu yang akan sampai padaNya, ia hanya sebagai alat keikhlasan kita dalam menjalani apa yang dinamakan berkurban. Dan sungguh, ketaqwaan serta nilai spiritual berlebih di dalam berkurban itu yang akan menghampiri tahtaNya paling mulia. Karena apapun itu, berkurban perlu dihayati demikian indah, hingga sampai masa pertemuan dengan-Nya nanti.

Tuesday, November 25, 2008

Pribadimu Malam Itu


Malam itu saya batalkan beberapa janji, karena dia hanya ingin bertemu saya. Cukup lama dia menunggu saat untuk bisa bertemu langsung dengan saya. Bukan GR. Namun demikianlah yang dikatakan oleh salah seorang teman baik saya. Saya tak ambil pusing. Karena memang tidak mudah GR, lagipula ini kesempatan saya membuktikan apa yang banyak orang gunjingkan tentang dia. Setidaknya tak perlu saya menelan semua omongan orang, selain hanya melihatnya sendiri.

Perempuan itu biasa berkeluh dengan saya, baik chatting maupun telpon. Keluhan seorang perempuan yang memang sedang ingin memandang hidup ini lebih indah, tanpa banyak awan mendung yang menggelayut. Setiap waktu sepertinya gerimis datang. Bahkan sesekali diselingi halilintar. Dia merasa tak tahan.

Saya selaku pendengar mencoba mencernanya. Merasakan kepedihannya. Mencoba mencarikan sedikit obat penghilang rasa sakitnya. Ampuh sebentar. Dan dalam beberapa waktu dia akan kembali bersama rinai atau petir-petir kecil. Saya kembali mencernanya. Begitu setiap kali. Hingga saya tak lagi memberinya obat penghilang rasa sakit yang hanya bekerja sebentar. Kali ini saya beri ia pecut, cambuk kecil. Dengan perlahan saya sarankan ia untuk menggunakannya, setiap kali ia merasa hidup tak adil, tak pernah ada bahagia. Pecut yang sekedar mengingatkannya, sebenarnya apa yang ingin ia raih. Pecut yang akan meninggalkan bekas sedikit, namun terasa sampai kesekian kali derita itu datang.

Semakin lama, dia pelan-pelan membentangkan jarak keluhannya pada saya. Waktu saya pun semakin padat, jadi setiap kali ia ingin topangan, saya hanya bisa dihubungi lewat SMS, itu pun dibalas beberapa jam kemudian. Karena saya tak mungkin membalasnya, kala pikiran dan hati saya sedang di pekerjaan lain. Memang tak enak, hati saya sedikit gundah. Bisakah dia menggunakan pecut yang saya pernah sarankan? Bukan obat pereda sakit, yang hanya membuatnya hilang rasa.

Malam itu pun saya dan dia bertemu. Berpapasan di lobi, dia hanya melirik sekilas. Saya pun menegurnya. Mengenggam tangannya erat. Memeluknya hangat. Badannya ringkih, jika saja tidak ada gundukan kecil amanah dari Allah, yang sedikit membuat tubuhnya melebar. Wajahnya sedikit pucat.

Dalam satu meja, kami duduk berhadapan. Dia lebih banyak diam dan tersenyum kecut. Saya selalu menggodanya. Mencoba membuat suasana cair seperti halnya chatting. Dia mulai memberikan reaksi. Namun tetap pelan. Hanya ketika saya korek, dia mau mengeluarkan apa yang ingin ia utarakan. Selebihnya, dia hanya terdiam tak jelas. Saya pun enggan mengorek lebih dalam.

Saya baru merasakan. Betapa memang tidak gampang menumpahkan segala keluh kesah langsung pada orang yang ingin kita bagi. Tidak mudah untuk mengenyampingkan perasaan takut, sungkan, walaupun orang yang biasa kita ajak bicara tidak merasa keberatan sama sekali. Ya, karena memang kita manusia biasa. Cela dan cacat tak akan pernah dapat kita hindari. Meskipun untuk urusan sombong, kita tetap saja tak mau kalah.

@@@

Malam itu kami hanya bertemu sebentar. Saya dan dia berpisah di lobi lagi. Saya melambaikan tangan pada sebuah taksi. Membuka pintunya dan mengucapkan salam padanya. Dia hanya tersenyum. Selebihnya tidak saya perhatikan reaksi apa lagi yang ada padanya.

Saya tak menemukan dirimu yang suka mengeluh malam itu.
Saya tak menemukan celotehanmu yang kerap saya tegur, karena biasanya terlalu tak enak untuk didengar.
Saya berharap pecut yang pernah saya berikan, lebih bisa membuatmu semakin tahu dan mengerti bagaimana menyikapi gelombang kehidupan.

Thursday, October 23, 2008

Hidup itu Menakjubkan


Hidup itu menakjubkan, bukan?

Seorang perempuan, selama beberapa minggu kembali mengambil jatah cuti, pada libur Raya kemaren. Pulang dan sungkem pada kedua orangtua, serta berkumpul lagi dengan kedua adik perempuannya. Menyenangkan, menyedihkan, menggemaskan serta banyak rasa yang ia rasakan. Menyenangkan bisa berkumpul setelah sekian tahun tak pernah selengkap ini. Menyedihkan karena ketika bisa berkumpul, ada musibah lain yang justru menggemaskan. Ketika takbir bergema, rumah dinas orang tuanya dibobol pencuri, ketika rumah itu mereka tinggalkan untuk berlebaran ke rumah ’asli’ milik orang tuanya. Beberapa barang berharga disikat. Tanpa ampun! Orang tuanya syok. Karena memang tak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. Setiap tahun beliau berdua memang mengkhususkan untuk ’hijrah’ ke rumah mereka (bukan dinas), merasakan sebentar lalu kembali ke rumah dinas, karena tempat kerja tinggal melangkah dari rumah dinas itu. Dan peristiwa kebobolan itu sedikit menyedihkan bagi salah satu adik perempuan itu. Dia yang baru tahun ini bisa berkumpul, merasa terabaikan. Kehadirannya tak membuat syok orang tua mereka terobati. Setidaknya itulah perasaannya. Dan bagi perempuan itu sangat menggemaskan. Gemas karena tak jelas harus berbuat apa.

Inilah hidup bukan? Apalagi, memang sang penggoda tak akan senang jika kita telah berhasil keluar dari pesantren bernama ramadhan, suci serta bersih dari syak wasangka. Mereka terus bergiat membuat kita lengah, bahkan berpaling dengan memberikan sedikit centilan, hingga kita lupa pada makna serta hikmah yang bisa kita dapatkan. Contoh? Bayangkan ketika kita mengalami serta menghayati hari-hari khusyuk dalam bulan ramadhan. Begitu indah serta segala kegiatan kita benilai ibadah. Rasa lapar serta haus tak pernah dapat menyiksa. Marah, ghibah, mencaci juga membuat orang lain terluka, sedapat mungkin kita hindari. Karena itulah pencapaian yang menjadi mimpi diakhir ramadhan. Hingga di hari suci bernama idul fitri, kita bisa tetap meluruskan apa yang telah kita pupuk selama ramadhan. Namun kenyataan memang tak seindah harapan. Terkadang kita malah mengumbar hawa nafsu. Menyediakan banyak makanan. Berlimpah segala tetek bengek menjelang idul fitri sepertinya pamali jika dilewatkan. Serasa tak akan ada lebaran atau idul fitri jika segala rupa tak tersaji. Atau hal lain, seperti hal ini. Dalam sekejap, segala jerih payah yang orang tua mereka kumpulkan ludes tak bersisa, kesyukuran itu tak lengkap ibu mereka rasakan. Ditambah bertubi-tubi ujian datang. Ibunya seperti tak mempan menerima ucapan pelipur lara dari anak-anaknya. Semua sirna, kebahagiaan lain tak dapat dipandang, pun oleh sebelah mata. Termasuk kebahagiaan dapat berkumpul dengan orang-orang terkasih; diberikan kesehatan; disampaikan pada terakhir ramadhan; serta banyak hal yang kadang tak pernah kita pikirkan.

Inilah hidup bukan?

Hidup, impian yang ternyata tak permah terlintas, bahkan untuk menjadi angan-angan lain dalam benak perempuan itu, juga kedua adiknya. Pastinya, juga tak pernah terpatri dalam pikiran kedua orang tua mereka. Kehilangan benda juga kehangatan dalam suasana suka cita.


Menggemaskan. Karena perempuan itu pun tak bisa berbuat apa-apa, selain membuat ibunya tertawa dengan segala cerita ataupun tingkah konyol, akibat bias rasa itu.

Bahkan dengan kekonyolan ini, saya bertanya, ”Masih bisa kamu tertawa, bahkan seperti tak ingin merasakan ketidak-nyamanan ini?”

”Bukan,” jawabnya lirih, ”Bukan karena saya tak punya rasa empati. Cukuplah saya nelangsa sebentar. Merasakan kesedihan mereka sekejap, lalu segera beranjak untuk tak terlalu terlena pada kesedihan mendalam. Mereka butuh seorang penghibur, dan...hidup terlalu indah untuk diwarnai dengan lara, bukan? ”

Ya, hidup itu menakjubkan!

Teruntuk saudara perempuan tercintaku

Wednesday, September 17, 2008

Malu, Tak Pandai Bersyukur


Kemaren, di beranda seorang tetangga -yang sudah seperti saudara bagi saya-, kami berbincang pada keadaan cuaca di Sengata yang akhir-akhir ini semakin garang saja. Iya, garang. Karena cuaca panas ini telah kami rasakan sejak minggu kedua ramadhan. Dikatakan garang, karena sebelumnya, sejak awal ramadhan, hari-hari diliputi dengan cuaca yang begitu bersahabat, mendung, serta rintik hujan yang semakin deras. Alhasil pada minggu pertama, suasana berpuasa terasa melegakan, bahkan jalanan licin serta berlumpur ke arah luar kota Sengata, yang pagi-pagi telah saya tempuh untuk kegiatan pesantren kilat, tidak mengganggu sama sekali. Semua terasa menyenangkan. Setidaknya bagi sebagian orang.

Tapi ternyata, tidak semuanya merasakan hal yang sama. Ketika saya berbicara dengan salah satu kerabat saya di kota lain. Dia mengeluh hujan selalu turun setiap harinya ketika masuk bulan ramadhan. Segala aktivitasnya terganggu, jemuran tidak kering, serta enggan meninggalkan rumah, jika selalu khawatir akan keadaan yang selalu basah seperti itu.

”Susah deh kita! Mau keluar aja, selalu mikir akan hujan atau tidak, ya?”
”Kamu terlalu berlebih-lebihan...”
”Bukan. Jemuran pada belum kering, menumpuk! Belum rasa malas lain?”
”Apa tuh?”
”Jadi malas buat ngapa-ngapain.”

Saya pun tertegun. Satu sisi, selalu saja ada keluhan akan cuaca panas, membuat gerah untuk beraktivitas, apalagi jika sedang dalam keadaan berpuasa seperti ini. Segala kegiatan sepertinya akan memeras keringat serta memerlukan energi lebih. Namun di sisi lain, cuaca mendung serta hujan justru juga mampu membuat hal yang sama. Keengganan tetap menjadi bagian dari aktivitas dan masih saja menghasilkan rentetan keluhan lain. Pertanyaannya, kalau begitu pada bagian mana yang baik bagi kita? Ketika harusnya hujan turun atau panas menyengat? Apakah kita tahu? Apakah kita berhak?

@@@

Pagi ini, saya terpana. Langit begitu mendung. Angin bertiup sedikit kencang dari biasanya. Suara desau kibasan ranting mulai terdengar sejak adzan subuh bergema. Dan, hujan pun mulai turun semakin deras, disertai guntur yang menggelegar.

Lalu telpon saya berdering;
”Assalamu’alaikum, Mbak Rien,” suara disebrang menyapa saya.
”alaikumussalam, apa kabar?”
”Alhamdulillah, tapi kok hujan gini, ya?”
”Hujan salah, panas salah, yang bener mana ya, mbak?”
Kami pun tertawa malu. Sebagai manusia biasa, kami malu. Malu pada keadaan kami yang selalu menggerutu. Keadaan kami yang tak pandai belajar mensyukuri.

Lalu nikmat-Ku yang mana ingin kau ingkari

Saturday, August 30, 2008

Doa Selalu Sama Menjelang Ramadhan


Banyak hal yang ingin saya ceritakan menjelang ramadhan ini. Banyaknya sama dengan jumlah pemandangan akhir-akhir ini yang saya lihat dan terpampang, pada saat-saat mendekati bulan suci ini.

Sebenarnya hanya dua hal yang membuat saya tertarik untuk saya bagi pada anda. Satu adalah ketika saya menonton siaran berita di televisi. Begitu banyak orang lesehan pada sebuah tempat, dengan atap yang menjulang, tas dan penat yang menggelantung pada wajah mereka, disertai tatapan lelah. Mereka bahkan telah melakukan aktivitas lesehan itu sejak jam 5 subuh. Pada saat adzan bergema, mereka tafakur dalam diam, merunduk mencium kedua lutut mereka. Bukan dengan khidmat mendengarkan adzan lalu melakukan sholat fajar setelah itu. Karena memang tempat mereka lesehan itu bukan di rumah Allah, melainkan pada sebuah stasiun alat transportasi. Stasiun kereta api Gambir. Mereka sambut ramadhan dengan antri pada loket tiket keberangkatan. Alasannya tentu tak ingin kehabisan jika harus antri seminggu menjelang idul fitri. Bahkan pihak terkait tidak bisa menjamin, apakah tiket masih tersedia menjelang lebaran. Maka, mereka harus melakukannya, jika tidak ingin berlebaran jauh dari kampung halaman.

Hal kedua adalah gemuruh di satu mesjid, kawasan Sengata Baru, sekitar jam 8 pagi. Cuaca waktu itu tak bersahabat. Sedari subuh, rinai tak hentinya turun. Namun, aktivitas gemuruh itu tak terganggu sedikit pun. Ratusan anak dan orang tua berkumpul. Sebuah panggung kecil ditengah mesjid telah dipersiapkan. Kemudian anak-anak itu dengan tertib masuk, duduk sesuai dengan tanda yang harus mereka sepakati, agar anak yang lain dapat menempati posisi mereka secara teratur pula. Sedang para ibu-ibu mengatur beberapa barang, diteras mesjid. Menatanya sedemikian rapi, hingga sangat nyaman dipandang. Lalu tiba-tiba, MC mulai bersuara, “Anak-anak, takbir!” maka gemuruh jelas menggema dari mulut-mulut kecil itu, “Allahu Akbar!”. Tempat itu serempak riuh, dengan kegiatan mendongeng kisah ramadhan dari seorang ustad pendongeng yang sengaja didatangkan dari Yogyakarta. Kegiatan ini disebut Tarhib Ramadhan atau menyambut ramadhan yang diselenggarakan Yayasan Pembina Mesjid Daarussalaam Sengata, yang isinya adalah sekolah islam terpadu, dari TK hingga SMP.

Menarik. Itu yang ingin saya ungkap. Betapa ragam aktivitas bisa manusia tampilkan dalam satu kesempatan. Entah itu aktivitas menyenangkan, menggelikan, menyusahkan bahkan menyesatkan. Lebih geli lagi, manusia rela untuk melakukannya, demi rutinitas yang memang telah terbentuk sejak mereka kenal dengan hal ini. Mau tidak mau, mereka pun menjadi terbiasa, bahkan sebagian beranggap, akan aneh jika tidak melakukannya.

Saya teringat, seorang teman mengatakan; ia tidak akan pulang selama ramadhan hingga masa i’tikaf selesai. Selain ia terbiasa akan mengisi ruhiyah tiap ramadhan, karena begitu banyak ustad yang akan ke Sengata, juga ia selalu beranggap ramadhan ini adalah ramadhan terakhirnya. Jelas, itu berarti ia sekali lagi akan menghabiskannya jauh dari keluarga besarnya di rantau. Alasannya masuk akal. Ia tak ingin ramadhannya kali ini akan sia-sia jika harus ia habiskan di perjalanan, sampai di kampung, bertemu dengan sanak saudara, lalu lupa akan indahnya bulan suci ini, jika hanya dilewatkan dengan ngobrol tentang segala hal selama ia tak berada di kampung.

Seorang teman lain, berpikiran hampir sama; apa yang akan ia lakukan di kampung selama ramadhan? Ia terbiasa sibuk mengurus rumah, anak-anak, dan tarawih pada malam harinya. Jika pulang, tinggal di tempat orang tua, tentunya kesibukkan akan menurun. Bingung, karena apa-apa yang ia perlukan serba tersedia di rumah orang tuanya. Ada assisten, yang siap membantu, dari memasak, mencuci, hingga membenahi halaman rumah. Tidak ada aktivitas yang berarti, kilahnya.

Menjelang ramadhan, betapa banyak ragam peristiwa dari sebuah aktivitas yang disuguhkan pada kita. Ada yang berdesir pilu, miris juga pedih. Namun tak sedikit ada warna cerah, berbunga-bunga serta harum. Inilah kebesaran milik-Nya. Banyaknya hal yang disajikan, menjadi pertanda, DIA begitu mencintai kita. DIA masih memberikan kesempatan serta kemampuan pada kita dalam memilah segala hal dengan baik.

Apapun itu, saya yakin, doa saya maupun anda, selalu memiliki kesamaan; berusaha menjadikan ramadhan kali ini sebagai pembelajaran dalam hidup, mengokohkan kesantunan seorang muslim dalam berprilaku, serta meraih setinggi-tingginya ridho milik Allah SWT. Banyak doa yang terlantun, semoga diiringi dengan banyaknya pula usaha dalam menggapai cinta-Nya. Wallahu a’lam bishowab.

Marhaban ya Ramadhan

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1429H

Friday, August 22, 2008

Merdeka Pada Seorang Anak SMP

Anak-anak itu begitu rapi, duduk di tempat yang telah dipersiapkan oleh panitia, pada sebuah ruangan sederhana yang mereka beri nama kelas. Pakaian mereka biasa saja, bahkan ada diantaranya masih mengenakan seragam, karena memang baru saja melaksanakan upacara peringatan 17 agustus di sekolah mereka. Namun rona kegembiraan tak bisa mereka sembunyikan. Menyambut kami dengan senyum, mengingat sekolah mereka yang harus ditempuh sejauh 13 kilometer dari kabupaten, jalanan yang berkerikil, laju kendaraan harus merayap pelan, hingga jarang yang mau berkunjung ke sekolah itu. Jadi, layak saja antusias ingin tahu jelas terpancar, walau hanya diwakili oleh 17 raut wajah milik mereka.

Pagi itu, setelah sesi pengenalan FLP serta permainan kreatif selesai, acara inti dilanjutkan dengan membedah karya mereka yang telah dipersiapkan. Saya pun mengambil jatah ini, dengan memilih 3 karya dari mereka untuk dikoreksi. Sungguh, membuat saya kagum, diantara mereka telah ada yang mempunyai keunikan, kepolosan dalam menuangkan pikiran pada tulisan, walau terbalut pemikiran klasik pada temanya; apa arti kemerdekaan bagimu.

Secara keseluruhan, tulisan mereka masih khas tulisan anak-anak dimana kemerdekaan mereka pandang sebagai bentuk hasil pengorbanan dari para pejuang selama 350 tahun, gegap gempita berjuang hingga titik darah penghabisan agar negara bernama Indonesia ini merdeka. Tidak dapat dipungkiri, mereka masih begitu terkotak pada menghargai kemerdekaan itu dengan menghadiri upacara, mendengarkan teks proklamasi dikumandangkan, serta kibaran bendera dengan hikmat diberi penghormatan, ketika dinaikkan perlahan-lahan diiringi alunan lagu Indonesia Raya. Pemikiran yang kemudian begitu diperjelas pada salah satu mata pelajaran di tiap jenjang sekolah.

Hingga ketika saya dengan tegas bertanya, ”Apa sih arti kemerdekaan yang sebenarnya bagi kalian?”, mereka hanya diam sambil mesem-mesem. Lalu saya kembali mempermudah bahasa saya, dengan melontarkan kalimat, ”Kalian sudah merdeka sekarang ini?”, ada yang berbisik-bisik tak jelas, hingga saya hampiri salah satu dari mereka. Saya sorongkan pengeras suara pada salah seorang anak laki-laki, berusia sekitar 14 tahun, dan dengan lirih dia menjawab, ’Belum, mbak”. Ketika kembali saya memberondongnya dengan, ’Belum merdeka pada hal apa?’. Dengan suara tertahan, dia kembali menjawab, ”Biaya hidup semakin tinggi. Buku pelajaran semakin mahal. Orang tua saya gak mampu, mbak”. Suasana hening. Saya mencoba tersenyum, dengan embun yang pelan merembeti hati.

Benar, bangsa Indonesia telah merdeka 63 tahun yang lalu. Para pejuang telah mewariskannya pada kita. Benar, kita telah terbebas dari penjajahan, kerja rodi ataupun romusha. Kita bisa mengembangkan segala kemampuan kita dalam berkarya untuk mewarnai kemerdekaan ini. Benar, kita telah terbiasa serta leluasa dengan mengeluarkan pendapat, baik itu pujian ataupun umpatan keji. Tapi, benarkah kita telah mewarisi sifat para pejuang? Benarkah kita mampu mengembangkan kemampuan kita untuk membantu memupuk kemampuan orang lain?

Kenyataanya, prilaku kita tak jauh dari sifat penjajah. Tanpa sadar kita telah membelenggu saudara kita sendiri. Terjebak pada rutinitas mengais rejeki tanpa sesekali berpikir apakah kita tanpa sadar mengambil ladang rejeki orang lain. Cara kita mengais pun, tak pelak harus sikut sana sikut sini. Berani melakukan tindakan tak bermoral, mengambil penghidupan orang lain. Tanpa terbersit pun rasa takut, jika sifat ceroboh ini, mengental di darah dan akan mengalir deras pada keturunan kita nanti. Atau... benarkah ini merupakan warisan dari penjajahan dulu, yang telah diberikan pada kita? Mengusir, namun tak mampu mengelak didikan serta tempaan mental seorang penjajah pada pribadi kita sendiri. Naudzubillah....

Seorang anak SMP kelas 8, telah membuat perenungan pada batin dan diri saya yang telah merasa merdeka. Kembali bertanya, merdekakah diri ini, ketika kita masih bisa tersenyum pada tangisan serta perut mereka yang berbunyi minta diisi?

Seorang anak SMP kelas 8, mengingatkan kembali pada rasa peduli kita yang terlampau transparan. Terlampau gemar pada bilik kesenangan pribadi. Setidaknya, ia mencoba mengingatkan untuk peduli dan berani mengungkapkan sesuatu yang sebelumnya bukan menjadi kesadaran kita, karena belum menjadi ’trend’.

Bagi kita, merdeka sudah menjadi bagian dari kehidupan. Merdeka dengan segala bentuk kebebasan tanpa syarat. Bagi anak SMP kelas 8 itu, merdeka belum sepenuhnya ia dan keluarganya dapat raih, jika diukur pada kemerdekaan orang-orang mampu disekelilingnya. Merdeka masih harus ia perjuangkan. Dibalik sekolah sederhana jauh dari kawasan keramaian kota. Merdeka harus ia terus dengungkan, beriringan dengan kebutuhan sekolahnya yang juga semakin memberi dengung nyaring, tanda semakin meningkatnya biaya demi meraih itu semua. Merdeka masih harus ia deritkan di antara kibaran merah putih, diantara gegap gempitanya perayaan, diantara teriakan kemenangan. Semoga, darah serta mental para pejuang ada pada dirinya.

Wednesday, August 06, 2008

Silnas: Perjalanan Ilmu dan Persaudaraan


Postingan yang mengendap cukup lama :)

Jumat, 11 Juli 2008. Udara sangat bersahabat, tidak terlalu panas atau sebaliknya, walau keramaian telah menyeruak sepanjang jalan ke arah Srengseng, kawasan Lenteng Agung, dimana acara besar, Silaturahim Nasional Forum Lingkar Pena akan digelar. Sebagian pengurus FLP cabang Sengata, terdiri dari Rien Hanafiah (Ketua), Nurika Nugraheni (Kaderisasi), Yunny Touresia (PimRed) dan Arif Wibowo (Humas), stand by di lokasi sekitar pukul 7.30 waktu setempat.

Keadaan sudah ramai. Wajah-wajah berseri walau lelah, dikarenakan perjalanan yang sangat menyita waktu, tidak memudarkan rasa gembira bisa bertemu langsung dengan FLP’ers, karena selama ini kami hanya dapat menyapa lewat milis atau sms. Rombongan yang pertama kali menyambut hangat, tentunya panitia pada bagian registrasi. Memberikan name tag, serta mengatur ‘bagasi’ yang akan disalurkan pada masing-masing kamar nantinya.

Rombongan kedua, menegur kami dengan sumringah dan pelukan hangat adalah teman-teman dari FLP Jawa Tengah. Bertemu kembali dengan Afifah Afra, mengembalikan memori ketika ia berada di Sengata setahun yang lalu. Kemudian sapaan mbak Izzatul Jannah, penulis senior yang juga merupakan salah satu ‘warga’ Majelis Penulis pada struktur FLP Pusat, semakin membuat kami begitu melupakan keletihan perjalanan menuju tempat acara ini.

Setelah beres dengan masalah registrasi dan sarapan (tentunya!), langkah kami kayuh ke arah aula utama, dimana pembukaan acara akan berlangsung. Selama kurang lebih 3 jam, acara dimulai dengan sambutan dari M. Irfan Hidayatullah (biasa kami sapa Kang Irfan), ketua FLP Pusat. Beliau sangat tergugah dengan semangat teman-teman FLP seluruh Indonesia, juga dari Hongkong, Jepang, Cairo, dan Amerika Serikat, yang menyempatkan diri hadir. Sangat takjub, karena dulu, silaturahim nasional pertama hanya dihadiri kurang lebih 50 orang. Jumlah yang sangat signifikan dengan tahun 2008 ini, yaitu hampir mencapai 300 peserta. Kemudian acara dilanjutkan dengan presentasi Dr Prihardi Kahar. Seorang peneliti lingkungan hidup, yang bekerja pada ACER Biomass Research Group, Meisei Universitas Jepang. Disini kita baru melek, ternyata banyak kesalahan diperbuat manusia, dan sangat mempunyai dampak negatif bagi lingkungan. Dan untuk kesalahan ini, justru kita tidak sadar bahkan tidak peduli. Tunggu saja pengupasannya pada edisi depan ya!

Setelah selesai dengan presentasi Dr Prihardi Kahar, sesi selanjutnya diserahkan pada Boim Lebon selaku moderator, dengan dua pembicara, Putut Widjanarko (Penerbit Mizan) dan Aris Nugraha (Penulis skenario Bajaj Bajuri, Pendiri ANP Production). Talk Show dengan tema Kreatif dan Kaya tanpa Merusak Lingkungan ini sangat santai, karena dibawakan dengan kocak oleh Boim. Disini banyak dibahas proses kreatif menulis skenario serta cara-cara menembus penerbit. Agak bergeser dari tema, tapi tetap patut disyukuri, karena bertebaran ilmu dari talk show ini.

Aura kehangatan bertemu sesama FLP’ers kembali memenuhi aula itu, kala bertemu dengan Rahmadiyanti. Ia salah satu pengurus pusat yang –lagi-lagi- biasanya hanya menyapa di milis. Senyum merekah dan berbicara sejenak dengannya, sedikit dapat melonggarkan kepenatan selama 3 jam duduk pada acara pembukaan.

Sore hari, seperti jadwal yang telah disepakati, kami berbagi tugas untuk mengikuti 2 acara yang dilaksanakan pada waktu bersamaan. Ada Fiksi Gila: Pelatihan Penulisan Fiksi, dipandu Nanik Susanti, dengan menghadirkan Afifah Afra (Penulis, CEO Indiva Media Kreasi, Solo) dan Sofie Dewayani (Penulis FLP Amerika). Sofie yang sangat tulus memberikan materi, serta Afra sangat atraktif mengajak peserta mengikuti arahannya. Antusias pun terlihat, walau sedikit terhalangi dengan waktu yang sangat terbatas. Namun –lagi-lagi-, tetap ilmu mengalir memenuhi ruang otak kami.

Satu acara lagi adalah Pelatihan Optimalisasi Perpustakaan Sekolah dan Taman Baca untuk Lingkungan Sekitar. Hadir Yessy Gusman, Wien Muldian dimotori Lusiana M. Novita. Suasana begitu menyenangkan. Pembawaan luwes dari moderator serta pembicara yang ringan, dapat mengobati keingin-tahuan kami dalam mengembangkan taman baca nantinya. InsyaAllah.

Sore hari menjelang maghrib, mulailah internal meeting. Berbagai utusan dibagi pada 3 kelompok diskusi. Ada yang membahas Organisai, Kaderisasi dan Perluasan Jaringan. Sempat dipotong dengan kegiatan ishoma (Istirahat Sholat Makan), sesi inilah yang paling menguras tenaga dan pikiran. Setiap orang mengemukakan ide serta usulan demi kemajuan dari FLP secara menyeluruh. Hingga waktu bergulir sangat cepat. Dengan wajah sangat tak berdaya, kami akhirnya bisa kembali istirahat pada pukul 11.00 malam.

Bagaimana keesokkan harinya?

Awal pagi, kami telah disibukkan dengan riuh rendahnya para FLP’ers yang berlalu lalang dalam asrama. Ber’say’ hello, mengajak sarapan, atau hanya bercanda mengingat kelucuan-kelucuan sewaktu malam pertama dilewati. Hal-hal kecil seperti ada yang tidak tahan dengan AC atau sebaliknya. Wajar saja, apalagi, teman sekamar bukanlah teman yang sehari-harinya biasa dihadapi di daerah. Dalam satu kamar, ada 3 utusan FLP dari berbagai cabang di Indonesia. Inilah salah satu hal yang membuat kami begitu melewati hari tanpa terasa. Terlalu asyik dengan bulir-bulir persaudaraan yang begitu bening dan jernih. Ada saja yang kami korek dari cerita-cerita mereka di tiap daerah.

Sedang acaranya? Jangan ditanya tentang kelelahan dan kaki yang serasa hendak copot, kami tetap semangat diantara teriknya udara jakarta, khususnya depok, yang menyengat menembus kulit. Kegiatan menyita waktu kami diantara alunan bait-bait cinta padaNYA setiap malam. Seluruh pikiran kami tercurah sempurna, agar tempat bernaung kami bernama FLP, bisa tetap harum, merekah, merona sepanjang kami tetap konsisten memperjuangkannya. Cinta kami tetap berseri mengiringi hari-hari dalam suasana yang menggembirakan.

Tanpa terasa, 3 hari kami lewati dalam suasana linu di segenap otak, disekujur tubuh, juga linu pada hati yang teriris, mengingat betapa singkatnya pertemuan kami yang hanya 3 hari, namun meninggalkan banyak cerita manis dalam rangkaian. Rasanya persaudaraan ini tak mungkin ditebus dengan apapun.

Inilah kegiatan FLP kesekian, yang dapat membekali kami dengan berton-ton ilmu dan persaudaraan teramat erat dan manis.

Jadi semakin yakin, dengan oleh-oleh seperti ini, kami akan bisa menebar ilmu dan cinta, dimana pun berada. InsyaAllah.


dimuat di bulletin FLP Sengata, edisi Agustus 2008
poto-poto bisa dilihat di rumah kedua

Saturday, June 14, 2008

Curhat si Penulis


Hey Now, Hey Now
Don’t dream its over
Hey now, Hey now
With the world comes in
They come, they come
To build a wall between us
We know, they won’t win
(Don’t’ dream its over by crowded house)

Perputaran waktu sungguh tak terduga. Kembali mengingat setahun lalu saya harus istirahat sejenak dari rutinitas di tempat terpencil, sekarang, saya pun bersiap, sedikit ingin menyandarkan punggung sejenak, menghalau penat yang tiba-tiba saja mendera. Kelelahan yang terkadang diluar batas kendali emosi saya sebagai manusia biasa, membuat orang-orang di sekeliling saya merasa sedikit ‘teraniaya’.

Yup, saya memang akan mengambil jatah ‘cuti’, untuk sekedar istirahat di kota kelahiran. Berkumpul dengan ibu yang –sering- saya layangkan hati penuh rindu padanya. Berkumpul sejenak sebelum saya bergegas lagi untuk menyiapkan segala sesuatu di kota lain (Kutai Kertanegara) dalam rangka RakorWil FLP. Berkelanjutan dengan keberangkatan ke acara SilNas FLP di Jakarta. Piuh, tetap saja saya ditumpuk tugas.Tapi, no problemo, cinta memang mengalahkan segalanya, inilah tanggung jawab saya sebagai seorang dari pucuk pohon yang sedang mencoba berkembang, menebar daun dan membuat wangi kelopak-kelopak bunganya. Ah, bahasa aneh!

Kemaren, saya sempat menerima SMS dari seorang teman, yang saya kenal setahun lalu dari acara kopdar di Jakarta, “Asslkm, Mbak Rien, lagi dijakarta ya? Ketemuan yuk! Wass.” Jadi senyum-senyum sendiri, jadi pengen senyum selebar mungkin. Ternyata saya masih punya teman yang –juga- rindu akan hadirnya saya. atau terbiasa kopdar jadi siapa aja diajak kopdar? Hehehe,…jangan marah ya neng! Lalu my dear Uwie, udah nelpon (walau sekali tidak bisa saya angkat karena saya sedang syuro –rapat), menanyakan,"Kamu dimana Rien?" saya yang kebingungan dengan tanpa dosa menjawab, “Di Sangatta!” dan kami pun tertawa lirih, karena kesalahan informasi, yang ia kira saya sudah dijakarta sejak tanggal 10 juni lalu. Hm…

Saya memang akan berangkat, itupun dalam rangka ‘kerja dinas singkat’ yang harus saya tunaikan. Tanpa pasangan romantis, seperti setahun yang lalu. Karena, kami punya masing-masing tugas pada masa liburan kali ini.

Hh...postingan kali ini, sekedar mencoba melepas beban di segala penjuru tulang belulang yang saya miliki. Biarlah ia menguap, membekas menjadi tanda, bahwa banyak cinta dalam mengukir peradaban.

Teman,
Maaf jika banyak hal dan tugas yang ku pacu untuk gerak kita
Maaf jika kuabaikan segala resah serta gelisahmu dalam ruang lain
Teman
Seperti halnya nafas yang ku persembahkan demi Maha Pemilik Cinta
Langkah kita pun sengaja ku arahkan pada tujuan yang sama
Yakinlah,
Banyak cinta dalam setiap tegur sapaku
Banyak cinta dalam setiap tatapanku
Banyak cinta di setiap lekuk ukiran yang kita pahat
Percayalah,
Aku pun masih berjalan di garis ‘belajar’
‘Belajar’ untuk membangkitkan cinta dalam pergerakan kita
Dan…
Maafkan diri yang fana ini
Jika kalimat cinta belum tersampaikan seluruhnya


teruntuk sahabat seperjuangan di FLP Sangatta, tersenyumlah walau onak duri masih ada di jalan yang kita lalui