<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793</id><updated>2011-12-21T14:25:38.257+08:00</updated><title type='text'>...of my soul</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>108</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3043259547469772726</id><published>2011-04-19T09:40:00.003+08:00</published><updated>2011-04-19T09:52:58.182+08:00</updated><title type='text'>Mahar</title><content type='html'>Salah satu bahan pembicaraan yang kerap menjadi kelakar, ketika masih melajang, adalah soal mahar. Ada-ada saja yang menarik dari satu kata itu; MAHAR. Seorang perempuan berangan-angan akan meminta mahar sebuah uang yang hitungannya sesuai dengan tanggal pernikahan atau pertama kali keduanya bertemu dan dibingkai dengan pigura paling bagus. Atau ada yang bermimpi ingin membeli sesuatu yang kelak menyenangkannya dan tak akan pernah ia lupa seumur hidup, bahkan jika hancur sekalipun. Namun ketika masing-masing kami kembali memikirkan apakah harus seperti itu, yang muncul gelak tawa dan kembali berucap; Mahar itu harus disesuaikan dengan kemampuan calon suami yang telah bersedia melamarmu. Sungguh tak tahu diuntung jika jelas-jelas calonmu itu tak bisa membawa sebuah gunung, lalu kau memintanya dipanggul kehadapanmu, bagaimana pun caranya, bukankah itu mendholiminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu jauh, bertahun-tahun lalu. Pembicaraan itu telah usai. Para perempuan yang dulu menghabiskan sore dengan menggoreng pisang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bala-bala&lt;/span&gt;, singkong ataupun duduk berjajar di lapangan volley di samping asrama tempat mereka menetap, jauh dari kebisingan kota serta dikelilingi hutan belantara, semuanya kini telah menikah dan mendapatkan maharnya masing-masing. Uniknya, mahar yang mereka terima tak satupun memberatkan dari para suami yang telah mendampingi mereka bertahun-tahun (bahkan sudah ada yang sampai belasan tahun). Dengan senang hati pula, ada suami yang membocorkan dengan mengatakan begitu bahagia mendapatkan istri yang dulu tak pernah rewel terkait masalah mahar, walaupun sungguh mahar merupakan hak calon gadis yang dipinang untuk bisa mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai adat di Indonesia, mahar memang memiliki masing-masing takarannya. Di Flores misalnya, dari sebuah artikel yang pernah saya baca, dikatakan mahar mereka berupa gading gajah yang sebuahnya bisa berkisar 10-15 juta bahkan ratusan juta. Toko-toko tempatnya menjual pun semakin langka, jadi bisa berpengaruh sekali pada harga yang semakin membumbung tinggi. Mengenai ketidaksanggupan calon pengantin pria pun tetap diberi dengan mencicil, walau caranya masih beragam. Ada yang harus bekerja di keluarga pihak wanita sampai lunas, ataupun beban itu akan diberikan dan dipikul pada cucu mereka nantinya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah &lt;/span&gt;keringanan ini bisa dikategorikan dalam jenis apa? Saya tidak berani meraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Flores lain adat Banjar. Pengalaman saya melihat bagaimana prosesi adat yang mengharuskan uang yang diberikan di&lt;span style="font-style:italic;"&gt;hambur&lt;/span&gt; dalam sebuah tempat, dilihat banyak orang yang hadir, lalu dihitung ramai-ramai. Tak jarang, jika kekurangan yang diinginkan belum terpenuhi, sedangkan waktu dan hari acara hantar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jujuran&lt;/span&gt; tak bisa diundur, keluarga mempelai pria meminjam untuk beberapa ‘jam’ saja atau setelah selesai acara menaruh ditempat terbuka dan diperlihatkan banyak orang, maka uang akan langsung dikembalikan pada pihak terpinjam. Yang penting sudah dilihat oleh para tamu undangan yang hadir di acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jujuran&lt;/span&gt;. Dan semakin banyak jumlahnya, semakin terlihatlah kemapanan calon pria yang akan meminang, lalu –sepertinya- semakin tampak jelas nasib yang akan mereka jalani kedepannya. Walaupun semuanya tak bisa luput dari yang namanya takdir. Bukankah kebahagiaan tak bisa selamanya ditakar dengan materi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siang itu, ketika menyempatkan berbincang hal-hal ringan pada seorang perempuan yang telah saya anggap seperti adik, saya dibuat terpana oleh cerita unik lain mengenai mahar. Calon mempelai wanita ingin barang yang ia inginkan dari calon mempelai pria adalah sesuatu yang berwarna tertentu, model tertentu, jenisnya tertentu dan mesti didapatkan, karena jika tidak ia tak segan mengembalikannya, meminta untuk mencari yang benar-benar seperti permintaan, dengan alasan; mahar itu adalah barang yang diberikan pada calon istri, dan akan dipakainya. Maka jika tak sesuai dengan keinginannya, lalu kelak istri tak mau memakainya, bagaimana? Bukankah pemborosan? Tapi mengembalikan karena tak sesuai? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideal atau tidak, setiap gadis yang telah dilamar memang berhak meminta mahar. Ini sudah disyariatkan dalam islam. Banyak kisah di zaman lampau tentang mahar. Seorang Ummu Sulaim meminta mahar keislaman dari pinangan Abu Thalhah. Atau Fatimah, putri Rasulullah SAW menerima mahar dari Ali bin Thalib berupa baju besi, karena ia begitu ikhlas dan tahu kemampuan Ali bin Thalib dalam hal materi. Atau seorang pemuda lain yang memberikan mahar pada seorang perempuan berupa beberapa hafalan surah Al Qur’an yang ia miliki, maka pada saat itu Rasulullah menikahkan keduanya. Bukankah memberi mahar mesti disejajarkan dengan kemampuan si pemberi? Apalah arti sebuah mahar jika untuk mendapatkannya, pihak pria harus berhutang kesana kemari, menadahkan tangan dibawah meja-meja ketika sedang rapat, melihat wajah kepiluan teman-temannya yang menjadi tanda tanya baginya, atau melakukan puasa setiap hari, atau hatinya menjadi sedikit merinding akan kepribadian calonnya, jika saja mahar yang diminta menjadi ukuran harga dari seorang manusia, yang memang tak ada bernilai lebih daripada keimanannya. Dan mahar tidak bisa disandingkan dengan kredibilitas perempuan yang akan dilamar. Mahar pun tak mesti ‘seadanya’ kecuali keikhlasan dan ketenangan si pemberi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat para perempuan yang kerap menghabiskan sore dengan berbincang dengan sepiring pisang goreng, atau singkong, atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bala-bala&lt;/span&gt;, atau duduk bersejajar di bangku panjang pada sebuah lapangan volley, kembali mengingat kesederhanaan cara berpikir mereka walaupun itu untuk masalah paling &lt;span style="font-style:italic;"&gt;crusial&lt;/span&gt; sekalipun. Kembali mengingat, mereka perempuan yang datang dari keluarga cukup berada, yang banyak menghabiskan waktu di kota besar sekelas metropolitan, meskipun harus menyelesaikan sebagian umur mereka untuk bekerja di tempat terpencil jauh dari jangkauan yang bernama ‘kecanggihan’, tetaplah mereka memiliki hati yang tak mampu memandang sesuatu dari kulit luarnya saja. Terlebih itu menyangkut mahar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pernikahan itu mesti diawali dengan mahar. Mahar yang tidak memberatkan, yang tidak neko-neko, kami percayai sebagai awal kehidupan pernikahan yang kelak tak akan berat apalagi neko-neko. Walaupun kita tetaplah manusia biasa yang akan menjalani segala takdir. Dan bukankah Rasulullah mengatakan; Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Duh Gusti, kalian mau kan menjadi wanita-wanita penuh barokah dan mendapat anugerah Allah?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya rindu dan bahagia pernah berada diantara mereka dan diantara perbincangan sore, tentang mahar, belasan tahun silam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3043259547469772726?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3043259547469772726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3043259547469772726&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3043259547469772726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3043259547469772726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2011/04/mahar.html' title='Mahar'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-275253050720032982</id><published>2011-01-02T08:43:00.004+08:00</published><updated>2011-01-02T09:00:21.917+08:00</updated><title type='text'>Mencari Awanmu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/TR_NTKBuL_I/AAAAAAAAAVo/M2fiCoW1deY/s1600/awan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 5px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px; height: 85px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/TR_NTKBuL_I/AAAAAAAAAVo/M2fiCoW1deY/s320/awan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557386194191265778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kembali membuka-buka album lama. Album kenangan…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba rindu bertumpuk-tumpuk, berlipat-lipat. Jika bisa dan boleh kutanyakan, apakah kau melihatku? Apakah kau tahu hatiku sedang melayang padamu? Apakah kau rasa sesakku mengingatmu? Sedang apa kamu disana? Menungguku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kerap melihat awan putih berarak, melayang perlahan. Jika mataku tak mendapatkan apa yang kucari, maka pikiranku akan mengambil posisinya. Ia terbang, menyibak awan itu, membuka setiap helainya, kembali mencari apa yang pernah kau titipkan. Sayangnya, ia kembali terkulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu lupa? Aku yakin tidak. Hanya pesanmu tak pernah datang lagi. Siluetmu telah lama tak melintas. Bukan karenamu, tapi karena aku semakin tahu diri dan memeluk jiwa sendiri. Aku yang tak mampu meredam hati ketika harus menghadirkan bayangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin bukan karena kamu telah lupakan semua. Hanya saja, waktu dan ruang semakin berjarak. Kamu pun tak ingin membuatku selalu terpaku pada duniamu. Walau salah satu duniamu pernah kumiliki, tapi sekarang, duniamu yang lain belum lagi dapat kau bagi.&lt;br /&gt;Aku sedih, mengingat jarak…mengingat waktu…mengingat awanmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak…aku tak ingin melihatmu kecewa. Katakanlah, aku bahagia, maka kutitip awan ini kembali padamu. Dimana pun kau berada, aku bahagia. Bahagia pernah menjadi bagianmu, pernah terburai oleh tawamu, pernah mencair menangisimu, pernah tergugu dengan diammu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu…dan terisak mencari awanmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Inong, 6 bulan lagi, maka 5 tahun lamanya kita telah berpisah)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-275253050720032982?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/275253050720032982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=275253050720032982&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/275253050720032982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/275253050720032982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2011/01/mencari-awanmu.html' title='Mencari Awanmu...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/TR_NTKBuL_I/AAAAAAAAAVo/M2fiCoW1deY/s72-c/awan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5406954659487918486</id><published>2010-09-08T00:47:00.001+08:00</published><updated>2010-09-08T00:49:18.561+08:00</updated><title type='text'>Melembutkan Hati</title><content type='html'>Sebulan yang lalu, lelaki itu mungkin tidak akan pernah menyangka, hari-harinya akan begitu pilu. Ia mungkin tidak pernah mengira, ketika ramadhan tiba, kehangatan yang selalu ada, akan terenggut. Ia mungkin tak pernah membayangkan, kelak, selesai tarawih, jama’ah mulai meninggalkan tempat satu persatu, bahkan telah hampir kosong, tapi ia, lelaki itu, hanya dapat memandangi putri bungsunya, tertidur lelap di lantai masjid yang dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lalu, ia, lelaki itu, baru saja kehilangan istrinya. Istri yang selama ini begitu dicintainya. Ibu dari ketiga anaknya, yang sangat ia percaya mampu mendidik mereka, walau sang istri masih bisa berkarir diluar rumah. Istri yang sangat sabar menghadapi tingkah polah ketiga anaknya. Hanya diam dan tersenyum, ketika rengekan anak-anaknya kerap terdengar diantara warga yang menghadiri pengajian. Ibunya tetap memberi keleluasaan pada anak-anaknya, walau kadang dirasa berlebihan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir bertemu, sekitar bulan Februari. Ketika itu ada pengajian rutin yang diadakan oleh warga komplek. Seperti biasa, ia, lelaki itu datang, bersama istri dan ketiga anaknya. Agak terlambat, hingga istrinya duduk di barisan belakang. Tidak banyak bicara, dan sesekali berbisik, mencoba menegur salah satu anaknya yang aktif kesana kemari. Diantara para ibu-ibu, sang istri pun hanya tersenyum, dan menjawab teguran dengan kalimat-kalimat pendek. Pemalu atau pendiam, saya tidak tahu persis. Karena sang istri jarang terlihat, karena kesibukkannya sebagai karyawan perusahaan. Tapi hanya satu yang saya dengar dan lihat, sang istri sabar sekali menghadapi anak-anaknya. Bagi saya, luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga menjelang ramadhan, kabar itu datang, di sela-sela suka cita menyambut bulan suci itu. Kabar pedih bagi lelaki itu. Juga bagi para teman dan tetangga yang mengenalnya dengan baik, ataupun sekedarnya. Sang istri tak pernah menampakkan sakit yang parah. Ia, sang istri, hanya mengeluh pusing. Lalu beberapa saat kemudian koma, dan pergi beberapa hari kemudian. Sungguh, kala itu yang terpikir pada masing-masing kami yang mendengar, adalah tak mengira sang istri pergi begitu cepat tanpa sebab yang terlihat oleh kasat mata. Terlihat baik-baik saja, tanpa gejala yang mengkhawatirkan. Tapi siapa nyana? Bukankah ini salah satu rahasia yang tak pernah mampu kita perkirakan? Kapan pun itu, bukankah kita harus siap? Yang ditinggal maupun yang ditinggalkan harus siap? Kemudian semua menjadi terhenyak dan merasakan perih sembilu milik lelaki beserta ketiga anak-anaknya itu. Betapa dekatnya sebuah hubungan, tetap saja akan ada batas yang menjauhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka selalu terlintas dalam benak, ketika melewati rumahnya yang memang sepi, lalu membayangkan, kesepian itu semakin sempurna dengan tidak adanya istri bagi lelaki itu, dan ibu bagi ketiga buah hati mereka. Melihat ketiga bocah itu bermain di pekarangan, namun tak ada senyum manis yang menyambut dan menemani mereka. Tak ada kesibukkannya mempersiapkan berbuka puasa, karena kepergiannya justru merupakan saat dimana kebersamaan sangat begitu bisa dirasakan. Saat-saat yang pastinya selalu dinanti, selalu akan dikenang. Dan, ia, perempuan itu, memang telah memberi kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh lelaki dan ketiga buah hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang dan selama ramadhan kali ini, pikiran saya sibuk melanglang, termenung, membayangkan seperti apa rasanya jika posisi lelaki itu terjadi pada salah satu diantara kami. Atau mungkin posisi perempuan itu yang akhirnya menuntaskan segalanya. Pikiran saya mencari-cari, harus seperti apakah menghadapinya? Harus seperti apakah menampilkan diri setelah ditinggal oleh seseorang yang setia mendampingi selama ini? Atau, apakah yang tengah dialami seseorang yang telah pergi itu? Harus seperti apakah makhluk yang telah menemukan jalan akhirnya? Apa yang ia alami, di dimensi yang lain? Atau, sungguh, betapa tak kuasanya manusia berpaling dari ajal, walau bulan penuh cinta ini telah tampak untuk disongsong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran yang mengganggu. Namun mau tak mau, menuntun jiwa ke dalam sebuah ruangan yang kosong. Hingga terus berpikir, apa saja yang akan menjadi isi dari ruangan itu, agar penghuninya dapat tinggal nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga menjelang berakhirnya ramadhan, terasalah, mengapa tidak hanya lelaki itu yang merasakan kehilangan. Mungkin –bahkan pasti ada lelaki-lelaki lain, atau perempuan-perempuan lain, dengan usia dan bentuk kehilangan yang beragam. Menjelang berakhirnya ramadhan, segala kegelisahan terjawab. Menghadapkan kita pada kematian,  adalah cara Tuhan untuk membuat hati kita yang telah keras dan berkarat, menjadi lembut. Hati yang dengan mudahnya bisa Ia bolak-balik. Hati yang banyak kita lalaikan untuk dijaga. Hati yang semakin hari semakin berkurang kadar sensitivitasnya. Hati yang kita abaikan walau hanya untuk merasakan, bahwa ada takdir di setiap tarikan nafas yang telah diberikan-Nya. Hati yang tidak kita sematkan pada ruangan penuh kasih, pada hal-hal yang menjadi bekal kita kelak ketika kematian itu bukan kita dengar lagi, tapi justru kita alami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan, benarlah! Cara Tuhan untuk melembutkan hati hamba-Nya, jika bukan sebagai peringatan, tentunya sebagai cinta kasih-Nya yang masih mau kita datangi, walau kuantitas serta kualitasnya bukan sebagai hamba yang taat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan… Wahai Sang Pemilik hatiku&lt;br /&gt;Jika saja, Kau tak berkenan untuk selalu memberikan cara padaku&lt;br /&gt;Bagaimana merawat dan memperlakukan milik-Mu ini&lt;br /&gt;Maka, hancurlah diri yang fana ini sejak dulu&lt;br /&gt;Dan… wahai Sang Pemilik hatiku&lt;br /&gt;Jika saja, Kau tak berkenan untuk selalu kutemui&lt;br /&gt;Menyebut nama-Mu di setiap keindahan pada pelupuk mataku&lt;br /&gt;Maka, sungguh… siapa lagi yang akan kutemui kelak?&lt;br /&gt;Dan… wahai Pemilik hatiku,&lt;br /&gt;Maka, sungguh…aku tak tahu jalan pulang&lt;br /&gt;Selain pada diriMu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5406954659487918486?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5406954659487918486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5406954659487918486&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5406954659487918486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5406954659487918486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2010/09/melembutkan-hati.html' title='Melembutkan Hati'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1391405024671664690</id><published>2010-07-21T09:52:00.002+08:00</published><updated>2010-07-21T09:56:54.133+08:00</updated><title type='text'>Maka, Terima dan Ikhlaslah</title><content type='html'>Siang itu saya agak terlambat menjemput bungsu saya, Ziyad. Sengaja sebenarnya, ada beberapa hal yang harus saya selesaikan, hingga mengharuskan untuk terlambat. Dan saya tahu, Ziyad tidak akan kemana-mana, selama saya belum memunculkan wajah saya. Paling jauh dia akan bermain di belakang masjid, di area kantor salah satu orang tua murid. Selain alasan ada pekerjaan menyebabkan saya terlambat, ada sedikit penasaran saja, bagaimana reaksi guru barunya, jika saya belum nampak juga. Ziyad sekarang sudah TK besar, dan gurunya pun baru. Dalam hal ini, guru ke-2 yang baru, sedang wali kelasnya, telah saya kenal cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika selesai memarkir kendaraan dan menyelesaikan administrasi si sulung, saya bertemu dengan wali kelas Ziyad sewaktu TK kecil, spontan saya bertanya pada beliau, karena sedari tadi Ziyad tidak terlihat sama sekali. Dan spontan pula beliau melempar tanya dengan salah satu guru (sebut saja guru B), yang tengah duduk di teras masjid, tertawa-tawa, yang notabenenya sekarang memegang Ziyad selama TK besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda, Ziyad dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah nggak tahu, bun! Dimana ya?” guru B sambil tetap duduk tak berdiri sedikit pun ketika melihat saya –ibunda anak muridnya- yang sedang mencari Ziyad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum. “Saya sepertinya tahu dimana Ziyad. Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ups,&lt;/span&gt; saya cuma nge-tes! Karena saya tahu dimana anak itu biasa berada. Lebih baik saya berlalu, mencari ke tempat biasa (guru kelas A, malah lebih dulu berinisiatif pergi, mencari Ziyad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira apa yang dipikiran saya? Atau Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalunya saya berpikir dan kilas balik ketika pertama kali saya mengenal bentuk sosialisasi seperti Play Group (PG), Taman Kanak-Kanak (TK), sewaktu anak saya yang sulung mulai menginginkannya. Itu sekitar tujuh tahun yang lalu. Dan percayalah, PG dan TK yang saya kenal itu tak pernah hilang kesan ‘keunggulannya’ hingga sekarang. Walau saya tak mungkin memasukkan anak saya disitu, karena PG dan TK awal itu berada di kota yang berbeda dengan kota, lokasi tempat tinggal kami 5 tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya pernah mengatakan bahwa, jangan disamakan bagaimana perlakuan antara PG dan TK satu dengan yang lain, terlebih di kota A dengan yang ada di kota B. Akan sulit! Dari sisi keuangan, guru-guru di TK A itu dibayar mahal, berpendidikan, dan diberi pelatihan dengan baik. Di kota B? semua masih standar. Berapa sih gaji guru TK kota B sekarang? Belum kurangnya pelatihan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Huff…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang akhirnya saya bantah. Saya kenal baik dengan seluruh guru PG dan TK di kota A. mereka rata-rata lulusan SMU dan D3 saja, dibayar hanya lima ratus ribu rupiah, dan mereka hanya diberikan pelatihan secara mandiri oleh pendiri yayasan.Yang di kota B, saya tahu jelas berapa gaji mereka, bagaimana mereka dimenej, dan berapa rajinnya pelatihan yang membombardir. Lalu teman saya itu berkelit, “Nah,... pendiri yayasannya berarti hebat! Bisa memenej mereka dengan baik.” Inilah tepatnya! Pendiri yayasan yang dikota A adalah 4 orangtua murid yang sangat peduli dengan kemajuan pendidikan anak usia dini (PAUD), tidak hanya dari sisi ilmu, tapi juga akhlak dan empatinya. Maka dengan modal seadanya serta manajerial yang masih ‘culun’ mereka mendirikannya. Hasilnya? Kesan saya terhadap yayasan itu sangat membekas manis dalam ingatan saya. Anak saya tidak pernah tidak disambut dengan super ramah oleh guru-gurunya, ketika baru memasuki pintu gerbang. Ketika pulang sekolah, anak saya tidak pernah keluar pagar sekolah dengan kemudian berkeliaran entah kemana, dan ketika melihat saya datang, gurunya langsung menghampiri, menjabat erat tangan saya, lalu mengucapkan salam perpisahan dengan anak saya. Itu setiap hari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mau bagaimana lagi, satu-satunya sekolah yang pas ya masih ‘ini’, akhirnya teman saya menyerah, mengiyakan kegelisahan saya. Tapi kembali saya mengingatkannya, bahwa ketika pertama kali kami pindah dan sulung saya diterima di TK kota B, saya justru menemukan hal yang patut dikatakan ‘manis’. Komunikasi yang terbangun antara orang tua dan guru, sangat leluasa. Belum lagi setiap pekan, saya selalu bisa disempatkan untuk bertemu dengan wali kelasnya, hanya untuk berdiskusi tentang perkembangan si sulung. Responnya pun sangat baik. Jika pada kenyataannya semakin kesini, semakin jauh api dari panggang, saya, atau bahkan banyak orang tua yang berpikir, kenapa generasi guru setelah dulu itu semakin anjlok ya? Tidak puas? Pasti ada. Khawatir? Tentu juga ada. Saya yakin dan pasti, ketika mental guru-guru kebanyakan seperti ini, akan ada banyak hal yang bisa terlewat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, gaung sumbang terdengar juga, ‘Sudahlah! Sekolah paling bagus itu ya yang ‘ini’. Masih the best, di antara sekolah lain, yang penanaman akhlaq serta pendidikan agamanya tidak klasik seperti sekolah lain; 2 jam per pekan.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ketidakpuasan, atau pun lebih tepatnya, hal-hal kecil yang membuat ketidaknyamanan ini semakin tersulut, yang paling besar untuk digelembungkan adalah ikhlas. Ikhlas menerima, karena tidak semua kepentingan kita menjadi ideal di mata orang lain, pun sebaliknya. Ikhlas saja. Baik dari saya (belajar untuk selalu ikhlas) selaku orang tua dan para guru yang telah mengajar sejak dulu maupun yang baru, memompa keikhlasannya sebagai pengantar kekuatan dalam melakukan banyak hal, menuju keidealan itu, untuk mencapai tingkat yang diinginkan. Tentunya, dengan cara mencapainya sesuai kekhasan masing-masing pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ummi, ada liat anak murid saya? Namanya ***. Tadi disekitar sini. Kok sekarang nggak ada, ya?” salah satu guru TK kota B, siang itu bertanya pada saya dengan wajah panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah, bagaimana bisa hilang, bun?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1391405024671664690?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1391405024671664690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1391405024671664690&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1391405024671664690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1391405024671664690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2010/07/maka-terima-dan-ikhlaslah.html' title='Maka, Terima dan Ikhlaslah'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5706456610091416703</id><published>2010-04-15T21:02:00.001+08:00</published><updated>2010-04-15T21:04:54.324+08:00</updated><title type='text'>Menyemai Harapan dalam Usia</title><content type='html'>Pada akhir januari yang lalu, bungsu saya mengatakan sesuatu yang membuat saya tersenyum geli, sambil memeluknya, “Mengapa tidak ada faiz, noval atau teman yang lain kerumah kita? Mereka tahu nggak sih, hari ini aku ulang tahun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ungkapkan padanya, bahwa tidak mesti semua orang tahu hari ini, tanggal itu, kamu dilahirkan ke dunia, memasuki alam yang akan membawamu pada berbagai macam warna, dimana adakalanya kamu akan menemukan warna yang satu ini. Warna ketika semua bertepuk tangan, bersorak sorai, berdendang, sambil meniupkan lilin, memotong kue dan mendapatkan banyak benda dibungkus kertas cerah menggoda. Setelah itu, apa yang akan kamu rasakan? Kelelahan, kekenyangan, lupa mengingat telah melakukan apa selama 365 hari dalam hidupmu, terlanjur dibuai mimpi berselimut hadiah semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia baru berumur 5 tahun waktu itu. Jika dikatakan kecil untuk sebuah penjelasan moral, bertele-tele dan terlalu jauh untuk menyentuh sisi jiwanya, saya tak pernah berkecil hati. Dia bukan orang pertama, bukan anak kecil pertama yang pernah menerima penjelasan seperti ini. Ada sulung yang telah mengalaminya, dan dia mulai mengerti sebatas area pikiran seorang bocah beranjak remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan masalah egois atau pelit. Walau tak dipungkiri, ada kaitannya dengan uang yang akan terhambur tanpa arti. Ketika ia berusia 1 thn, kami merayakannya dengan seharian saya berkutat dengan adonan cake, dengan wajahnya yang terpampang di permukaan. Menyiapkan tumpeng dan tetek bengek lainnya. Kemudian kami pun berdoa bersama keluarga besar, ada kakek neneknya, sepupunya, juga anak-anak yang tidak mampu, juga cacat fisik dan mental. Khidmat, walau saya yakin, ia pun tak mengerti untuk apa segala kemeriahan pada waktu itu. Hanya sekali, ketika tiap-tiap mereka berusia 1thn. Selebihnya, saya sendiri berkutat dengan adonan kue, membuat makan malam, menyiapkan bingkisan sederhana –barang yang sangat mereka perlukan-, lalu duduk berempat, berdoa, dan mengurai kalimat-kalimat sederhana mengenai makna kelahirannya. Menyenangkan bukan berarti harus berfoya-foya, makan-makan, berlimpahan hadiah dan lain sebagainya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memang, memahamkan sesuatu yang mereka pandang adalah satu kesenangan. Tapi cukuplah lega ketika sejauh ini, mereka masih tidak terlalu ambil pusing dengan bentuk perayaan tersebut. Ketika suatu hari anak saya pulang membawa satu kotak kue dan bingkisan dari temannya yang berulang tahun, kami pun tetap menerimanya dengan mendengar ocehannya. Ketika mereka mendapat ucapan selamat dari kakek neneknya, dan kami, mereka pun tidak terlalu menghiraukan akan pentingnya ucapan itu selain tersenyum dan bertanya, “Hari ini umurku bertambah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang saya rasakan ketika seusia mereka. Bedanya,  tidak pernah ada permintaan untuk bisa dimeriahkan, namun orang tua selalu ingin melakukannya. Dalam hidup selama 35 thn ini, telah dua kali orang tua berhasil melaksanakannya. Berhasil membujuk saya, berhasil mengumpulkan para kerabat, tetangga, teman sepermainan –sepermainan saya dan sepermainan orang tua-. Semua begitu menikmati, dan saya pun menikmati, meski dalam kebingungan. Bingung, mengapa harus dirayakan? Mengapa ada kado-kado yang rata-rata sama jenisnya? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah&lt;/span&gt;, ternyata biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runyamnya, seiring sejarah perjalanan hidup,  malah membuat saya semakin tak tenang menjelang tanggal kelahiran. Terlalu membayangkan kejadian aneh atau apalah yang mengisyaratkan semakin berkurangnya usia. Namun ada hal yang patut disyukuri,  saya terbiasa menerima ucapan dari segelintir orang, yang saya yakin, mereka memang hapal dan mengingatnya. Itu saja dan itu lebih baik. Jujur, saya pun tak begitu menghiraukan. Semakin sedikit, semakin tenang dan bahagia rasanya. Hingga, setahun lalu, saya lupa tanggal lahir sendiri, ketika ada yang mengucapkan, saya pun terperangah, padahal waktu itu tengah menyiapkan kue ulang tahun salah satu teman baik. Bahkan beberapa hari yang lalu terkekeh, ketika mereka, ketiga lelaki itu, mendatangi saya yang dan membisikkan doa di telinga.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ups&lt;/span&gt;, bukankah menyenangkan ketika tidak mengingatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sampai dimana perjalanan hidup ini harus dilakoni. Usia hanya angka, menandakan sekian tahunlah kita telah diberi waktu untuk selalu mencoba menjadi yang terbaik diantara sekian yang terbaik. Angka dimana, tak mampu mengubah seseorang untuk bisa menjadi lebih baik, jika pada hakikatnya ia tak dapat mengerti bagaimana meraih hal-hal baik tersebut. Angka tak bisa menjamin kebahagiaan yang mungkin saja dicari, namun masih mengawang, menembus arakan mendung dalam hati, jika manusia begitu mandul memahami arti kebahagiaan itu sendiri. Angka hanya angka, tak melebihi atau mengurangi nilai kita dimata Sang Penilai Hati, jika itu semua tidak kita komulatifkan dengan muatan amal baik yang seharusnya menjadi pembesar, sebesar atau melebihi angka usia yang dimiliki. Lalu, tetap saja, apalah artinya sebuah angka, jika tak sedikit pun kita pandai memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, mari menyemai bibit harapan paling indah, mulai menghitung mundur, memupuk dengan  empati, menyiramnya dengan menilik dan merenungi segala yang telah diperbuat. Menggemburkan serta menyesuaikan takaran yang belum terselesaikan. Harapannya, prilaku tak berkenan, hati yang terkadang tak mudah ikhlas, jiwa yang kadang kala terombang-ambing,  mampu dipangkas, dienyahkan, tak akan terulang lagi. Semoga dalam 365 hari kedepan, kita siap menuai tunas-tunas berisi kebaikan, serta hal positif jadi mengganda. Semoga, kelak tak ada lagi pertanyaan, sudah sejauh mana umur ini digunakan untuk bisa berarti? Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note: terima kasih pada kedua Pangeranku, yang dengan lahap menyantap suguhan yang Raja persembahkan pada Ratu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5706456610091416703?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5706456610091416703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5706456610091416703&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5706456610091416703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5706456610091416703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2010/04/menyemai-harapan-dalam-usia.html' title='Menyemai Harapan dalam Usia'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1711801508063861847</id><published>2010-03-02T21:32:00.005+08:00</published><updated>2010-03-03T19:07:54.107+08:00</updated><title type='text'>Memaknai Perpisahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Segumpal rindu melayang pada awan putih&lt;br /&gt;Berarak menjauh&lt;br /&gt;Membawa segaris senyum dihembus angin&lt;br /&gt;Membentuk siluet asa terentang dihadapan&lt;br /&gt;Menembus relung jiwa&lt;br /&gt;Membisikkan kalimat...betapa kita telah berjarak,&lt;br /&gt;…tapi tidak dengan hati...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang teman, berkali-kali mengeluh, rindunya ia pada sosok yang berperan penting untuk jiwanya, begitu mendesak, bahkan tak jarang bisa ia tumpahkan dengan tangis. Sosok sahabat yang setelah sekian lama bersama, harus pergi diam-diam, dengan alasan yang mungkin tak dapat ia terima. Ini yang menyakitkan, sungguh tidak ada alasan yang masuk akal? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang perpisahan, saya pun mengingat perpisahan dengan sejumlah kawan. Berbagai macam bentuk mengapa harus berpisah, dan karena kepindahan, itu paling sering dialami. Ketika rindu, kami kerap mengirim pesan singkat ataupun menelpon, menanyakan kabar, menanyakan segala kegiatan kami sejak berpisah. Saling memberi masukan ataupun ide, yang terkadang konyol, melenceng dari yang diharapkan, tapi sangat menyenangkan, untuk kemudian mengurai tawa, bersama-sama membayangkan masa lalu pada saat masih dalam satu ruang dan waktu.  Setidaknya kami sadar, jarak kami tak mungkin bisa ditempuh dengan singkat, namun bisa begitu nyata dengan teknologi yang semakin sangat membantu. Apalagi jika hanya sekedar untuk mengungkap rindu,  pun tak segan lagi. Karena memang saling merindukan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika perpisahan terjadi disebabkan oleh kematian? Ah, jangan ditanya seperti apa rasanya. Saya pun beberapa kali mengalaminya. Pertama kali rasanya sakit luar biasa. Mendengar kabarnya saja, perasaan berkecamuk, berpikir bahwa dunia sepertinya tak ingin memberi kesempatan pada kami untuk bisa saling mencintai lebih jauh. Hingga melemparkan masing-masing kami pada ruang dan dimensi yang berbeda. Saya selalu terkenang akan kebersamaan tanpa bisa meluapkannya dalam bentuk nyata. Walau pada akhirnya menyadari, hal ini bisa terjadi pada siapa saja, apalagi jika baru pertama kali, wajar sakitnya begitu terasa. Lalu ketika berulang untuk kedua kalinya, saya pikir akan berkurang kadarnya, paling tidak saya telah tahu bagaimana rasanya. Ternyata tidak. Sakitnya pun masih diluar batas biasa. Hingga ketiga kali dan entah telah berapa kali, tetap berulang, walau pada kenyataannya saya selalu ‘sok gagah’ bisa menguasainya. Begitulah, berbilang tahun kepergian orang-orang yang dekat dan pernah mewarnai hidup saya, seperti  tetap saja  ada yang mengganjal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan betapa, dalam hidup, ada peran seseorang yang bisa sangat berarti setelah kebersamaan tak dapat dengan mudah bisa terwujud. Semakin membilur, membekas, setelah seseorang itu, sama sekali tak dapat kita temui, bahkan untuk dijangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan, bagaimana pun bentuknya tetaplah akan menggoreskan rasa nyeri, yang kadarnya tidak bisa disamakan. Kadang seseorang menjadi sangat tidak terkontrol bahkan terus mengenang jika perpisahan itu tidak bisa dimengerti dengan nalar maupun jiwa. Terkadang mampu menembus alam bawah sadar, merasa bahwa sebenarnya pemeran utama dalam perpisahan itu adalah, diri sendiri. Alangkah menderitanya, alangkah tidak adilnya. Begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan berpikir bahwa ini tidak adil untukmu, justru untuk manusia lain, inilah keadilan itu. Kalimat ini terlontar ketika saya dan salah seorang sahabat saling mengingat bentuk-bentuk perpisahan yang pernah dialami. Belajar memaknai sebuah perpisahan itu lebih menyenangkan, ketimbang menggerutu, mempertanyakan mengapa tidak adil dengan jarak yang terbentang. Bukankah adil atau tidak, bukan merupakan hak sepenuhnya dari sisi pribadi kita untuk menilainya?  Bukankah masih banyak ketidak-adilan orang lain yang justru kita syukuri sebagai bentuk keadilan untuk kita. Sebaliknya bahkan, mungkin saja itu membuat manusia lain merasakan bahagia. Mungkin saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah ke belakang. Apa yang telah kita perbuat pastilah menghasilkan sesuatu sesuai keinginan kita atau sebaliknya. Itu lumrah. Lihatlah apa yang telah kita upayakan, semua berpulang pada kehendak dari segala pemilik kehendak. Lihatlah ke depan.  Jalani saja. Jika menemukan betapa luas bentuk kebahagiaan itu, sisiri perlahan-lahan. Ketika semakin lapang menelusurinya, semakin banyak perasaan bersyukur yang akan dilontarkan. Bahkan untuk sebuah perpisahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1711801508063861847?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1711801508063861847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1711801508063861847&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1711801508063861847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1711801508063861847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2010/03/memaknai-perpisahan.html' title='Memaknai Perpisahan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6970681156835688415</id><published>2009-09-19T09:15:00.001+08:00</published><updated>2009-09-19T09:17:47.307+08:00</updated><title type='text'>Menemukan Tuhan dalam Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Pernah saya menangis tersedu, mendapati diri harus terpisah bentangan jarak, yang tidak hanya sekedar berbeda waktu, tapi juga suasana dan ramainya, ketika harus berada di tempat sunyi pada saat Ramadhan. Keinginan saya selalu mengakhiri hari demi hari, dengan menyibukkan diri, mengelus mushab dengan sapuan mata, menempelkan dahi serta mencium harum wangi pada lusuhnya sejadah di tiap waktu berharga, tetap saja memagar saya untuk selalu merindukan suasana lain. Betapa sunyinya ditempat saya kini.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Perempuan itu tetap mengingat bagaimana perjalanan spritualnya. Berada di tengah hutan, menjalani suasana membosankan dari hari ke hari, berujung pada kepasrahannya ketika pilihan di tempat sunyi itu harus ia ambil kala pikuknya ramadhan membahana. Memang ia tak mampu dan tak berkuasa untuk memilih, seperti yang pernah ia akui.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lalu, benarkah di dunia ini, manusia tidak diberi keleluasaan dalam memilih? Disebut apa namanya, jika ada mudah, setengah sulit dan sulit? Oleh Emha Ainun Nadjib, dari buku “Dari Pojok Sejarah”, dikatakannya, Manusia hidup dari hatinya. Manusia bertempat tinggal dihatinya. Hati adalah sebuah perjalanan panjang. Manusia menyusurinya, menuju kepuasannya, kesejahteraannya, kebahagiannya, &amp;amp; Tuhannya. Berbagai makhluk menghalanginya, terkadang, atau sering kali, dirinya sendirilah yang merintanginya.* Maka tak ayal, hatilah berperan banyak dalam menggerakkan manusia untuk bisa memilih. Menggunakan sinyal dari hati itu sendiri, menuju alam pikiran, lalu berkuasa untuk menentukannya. Lalu cukupkah hati? Kalau memang urusan hati memang susah untuk dielakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kali ini hati memang tak pernah ingkar pada apa yang disiratkan olehnya. Selalu saja semburat kerinduan justru menjadi salah satu ujung penantian, ketika Ramadhan mulai beranjak, untuk pergi, dan tak pernah berani berjanji untuk bisa datang menemui kita lagi. Hati menjadi pilu, tatkala mendapati diri ternyata tak pernah merasa menjalankan apa yang hati itu sendiri inginkan. Menjadi tak puas dan lalu tak menemukan jalan pulang, ketika begitu banyak pengingkaran dan memudahkan apa yang menjadikan beban, padahal tidak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak rela saya ditinggalkan oleh Ramadhan, tutur perempuan itu lagi. Ia mengakui, keadaan yang memaksanya untuk berada di tempat jauh dari keramaian justru membuatnya begitu mudah membuat lubang pada hatinya, membiarkan Ramadhan menembusnya, beriak-riak masuk dalam aliran darahnya, hingga Ramadhan itu hidup dalam hatinya. Ia bersikukuh, pada Ramadhan ia temukan Tuhan, dan buru-buru ia leburkan diri pada-Nya, walaupun harus terseok-seok. Ia begitu suka cita menunggu kedatangan Ramadhan, sebaliknya, hari-hari menjelang berlalunya Ramadhan ia tangisi, karena merasa masih saja ada yang kurang. Dengan segala ketakberdayaannya, seperti seorang kekasih yang akan ditinggalkan, ia umbar janjinya, akan menunggu hingga kapan pun jua, walau rintangan menghadang, ia bersikeras untuk tetap setia di ujung bumi Tuhan yang terpencil itu. Ia begitu yakin,  kecuali ajal yang tak bisa ia singkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Ramadhan, Tuhan begitu dekat. Indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Taqaballalahu Minna Wa Minkum&lt;br /&gt;Mina Wa Minkum Taqabbal Ya Karim&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6970681156835688415?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6970681156835688415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6970681156835688415&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6970681156835688415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6970681156835688415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2009/09/menemukan-tuhan-dalam-ramadhan.html' title='Menemukan Tuhan dalam Ramadhan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-778729081602391133</id><published>2009-09-01T23:13:00.004+08:00</published><updated>2009-09-01T23:32:22.969+08:00</updated><title type='text'>Malaikat tak Bersayap</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Apa kabar Ramadhanmu kali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, pagi itu udara sangat nyaman, semilir, bahkan matahari masih malu-malu menyembulkan pesona emasnya. Pagi itu, bersama seorang teman, seorang istri yang masih belum dikarunia anak, saya menyempatkan waktu diantara hiruknya pekerjaan rumah, untuk pergi ke Sengata Seberang. Tugas kami belum selesai untuk memegang ratusan siswi smp, untuk jadwal pesantren kilat yang terakhir kalinya. Siswi yang jumlahnya ratusan, dan itu berarti ratusan pula tingkah laku mereka, dan runyamnya hanya kami berdua yang bisa datang pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada lagi yang bisa dikirim ke seberang?” pagi itu saya menegur salah satu penanggung jawab pesantren kilat ini lewat telepon. Dia hanya meminta maaf, karena beberapa mentor sengaja di taruh di sekolah terdekat, mengingat, hanya kami berdua yang biasanya mau untuk pergi ke pelosok seperti Sengata Seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu ya? Kami harus memegang ratusan anak itu hanya berdua? Padahal kamu tahu bagaimana mereka, kelakuan mereka yang belum kondusif kan?” saya tidak puas. Suara saya mulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak apa-apa, kita akan menanganinya, Mbak, hibur teman seperjalanan. Ya, apapun itu kita hadapi saja. Apapun itu, ini sudah janji. Dan bukan janji asal janji. Ini menyangkut kecintaan, tanpa harus memilih harus ditempat seperti apa kami ditempatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua mesti ada resiko. Semestinya ada satu hal yang harus terjadi, hingga apa yang kita yakini, menjadi kuat dan kokoh. Ban mobil saya tiba-tiba melindas sesuatu ditengah jalan. Sebuah paku besar menancap ajeg dan saya melongo melihatnya. Tempat kami masih jauh dari peradaban bengkel. Telpon genggam kami, langsung mati karena memang baterenya sekarat sejak berangkat. Kami pun berusaha menguatkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, jalan aja pelan-pelan. InsyaAllah akan sampai pada bengkel pertama dijalan besar.” Lagi-lagi teman saya itu menghibur. Tapi wajahnya tidak bisa berbohong. Ia cemas, seperti juga halnya saya. Tapi harus ada keputusan, dan saya mengendarai mobil dengan pelan. Sambil bercerita dan berdiskusi bagaimana hidup kami maknai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingat sekali dengan ucapan suami, jika aku mengeluh dengan segala sesuatu yang saya nggak bisa lakukan. Suami saya selalu bilang, kamu nggak percaya Dia ada? Kamu nggak yakin jika Dia mau, maka apapun kebaikan yang kita inginkan, insyaAllah akan terwujud jika kita berusaha mencapainya. Mbak tahu 'kan, kita memang menyayangi anak-anak disini yang rata-rata jauh dari kesan ramah dan lamban menyerap apa yang kita beri. Kerinduan untuk berada ditengah mereka, terus ada ketika semakin kuatnya kita berusaha memalingkan hati. Kita jaruh cinta, mbak!” terpekur saya mendengarnya. Hingga sebuah bengkel terlihat dari kejauhan, dan kondisi ban mobil sudah tak bisa diselamatkan untuk perjalanan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menajamkan hati. Otak saya berputar balik pada kejadian beberapa jam lalu sebelum kami berangkat ke tempat jauh ini. Mungkin ada yang tersakiti akan keluhan kami, ada yang hatinya teriris akibat komunikasi yang sedikit melenceng. Mungkin…ya mungkin, teman yang tengah menemani saya, menempuh perjalanan mencari bengkel terdekat, yang sedari tadi menemani duduk bersimpuh dalam mesjid besar yang letaknya di pemukiman penduduk yang padat, adalah seorang malaikat. Dia tidak bersayap, tapi mampu merangkul hati yang mulai basah ketakutan. Dia tidak mempunyai retorika yang teratur namun sanggup membius, menuntun langkah kepercayaan akan satu hal pasti, dimana urutan setelah itu adalah balasan yang setimpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai ikhlas sungguh bukan hal yang mudah untuk bisa dilaksanakan. Terkadang, perlu waktu untuk memahami, mengapa kita harus ikhlas, mengapa kita harus terus memupuknya, memeliharanya, bahkan menjaganya agar tidak tumbang, tetap kokoh, walau apapun yang terjadi. Namun, dari sepagi hingga siang diatas kepala, seorang dapat menjelma menjadi malaikat, meniupkan sepoi makna ikhlas pada relung hati yang mungkin hampir berkarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa kabar Ramadhanmu kali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan malaikat tak bersayap, yang dari bibirnya mengeluarkan mutiara yang sungguh berharga. Dan, ternyata Dia memang ada untuk mencintai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-778729081602391133?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/778729081602391133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=778729081602391133&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/778729081602391133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/778729081602391133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2009/09/malaikat-tak-bersayap.html' title='Malaikat tak Bersayap'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3217426651470721886</id><published>2009-08-25T16:30:00.006+08:00</published><updated>2009-08-25T16:59:28.881+08:00</updated><title type='text'>Pijar Cahaya Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Apa kabar Ramadhanmu kali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelang Ramadhan, hujan turun seperti ratusan jarum pagi itu. Sedari subuh, tanah sudah basah dan mengeluarkan bau khas. Walau rasanya memang tak menyangka, mendekati Ramadhan, hujan justru tumpah ruah. Padahal sebelumnya, panas hingga mencekik kering tenggorokan kadang menjadi keluhan di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini anugerah. Ini keajaiban. Sementara harus menyingsing beberapa rapat sebelum pergi, sempat terpikir mengapa kali ini sedikit resah ketika bulan mulia ini mulai dijelang. Sebenarnya bukan karena resah akan kehadirannya, yang sejak berakhir setahun lalu justru selalu dirindukan. Namun resah karena kali ini mengenai persiapan untuk mengisinya, memcoba memberinya arti tak ternilai, tidak begitu maksimal seperti tahun-tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah ini faktor semakin kurangnya kita menghayatinya, ataukah memang ini ujian bagi kita yang merasa selalu gagah ketika bertemu Ramadhan, hingga Tuhan sedikit memberikan sentilan pada kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya benar. Maka berangkatlah saya meninggalkan Sengata yang biasanya hiruk pikuk menjelang Ramadhan telah dirasa sebulan sebelumnya, namun tidak kali ini. Segelintir agenda penting, malah harus tumpang tindih, berubah jadwal ataupun batal sama sekali, karena tidak terjalinnya koordinasi yang mumpuni. Mungkin inilah keputusan dari sebagian diri saya yang ingin memerdekakan diri dari ketidakpuasan dalam menyikapi, pergi ke satu tempat penting lainnya, dan meninggalkan sedikit semburat bilur yang entah apa namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampailah pada perjalanan yang melelahkan, menguras tenaga karena harus menghadapi sidang bermalam-malam, beradu argumentasi, yang justru mampu memberikan nuansa lain. Kegiatan rapat yang baik esensi, juga peserta sangat berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, memberikan satu warna tersendiri, yang dominan sama-sama dirasakan oleh peserta yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sedang mengajak bercanda, Panas berbulan-bulan, dapat Ia teduhkan dengan derai hujan yang jatuh dari pori-pori langit. Gersangnya perasaan karena merasa tidak mendapatkan keteduhan seperti biasanya, bisa Ia payungi dengan kesempatan mengalami hal-hal diluar batas perkiraan manusia. Jika jauh di ujung timur peta Kalimantan, rutukan serta gerutuan tak jelas ada, namun tidak ditempat lain, yang nun jauh pula. Cahaya itu jelas pada nafas lelah serta gantungan hitam yang menggelayut di mata, akibat tidur yang selalu berakhir malam, hingga tawa kami serta tangisan ketika harus berpisah, semakin terasa. Awal hari-hari menjelang Ramadhan, kami dipertemukan dalam perburuan buku, perburuan di pasar tradisional, perburuan waktu disesela tea break, perburuan dengan peserta lain untuk mendapatkan dukungan, perburuan menggali ilmu dari para senior ditingkahi keragaman tingkah polah, karena asal kedatangan peserta satu dengan yang lainnya berbeda. Uniknya walau kami tak pernah bertemu sebelumnya dengan beberapa peserta dalam satu tim, tapi kebersamaan itu sangat mengikat kuat. Dan.. sekali lagi, benarlah, Tuhan sedang bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini realita. Dimana kita merasa akan kemunduran satu hal, yang pernah sangat begitu dinamis, lalu kemudian jika secuil kecewa ada, sangatlah wajar. Apalagi banyak harapan yang digantungkan pada langit-langit menjelang Ramadhan. Dan disinilah, skenario lain pun dirancang Tuhan. Lalu menjadi pentinglah kepergian ini. Menjadi satu kenyataan, bahwa ada rasa lain di tempat yang berbeda. Menjadi sadar bahwa, tak seharusnya kita selalu berada di area nyaman, dimana selalu mendapatkan kemudahan. Menjadi ingat bahwa dimana pun itu, selama masih di bumi-Nya, pijar-pijar cahaya-Nya dapat dengan mudah diraih, digenggam dan kembali di pendarkan memenuhi relung hati dengan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar Ramadhanmu kali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdu, penuh dengan luapan rasa dan hanya Dia yang tahu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3217426651470721886?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3217426651470721886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3217426651470721886&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3217426651470721886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3217426651470721886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2009/08/pijar-cahaya-ramadhan.html' title='Pijar Cahaya Ramadhan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3739196306890750050</id><published>2009-04-04T15:43:00.003+08:00</published><updated>2009-04-04T20:34:54.012+08:00</updated><title type='text'>Memeluk Bahagia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya menegur salah seorang teman yang tengah online beberapa hari yang lalu. Seorang perempuan yang saya kenal dua tahun yang lalu. Bertemu dengannya pun baru sekali. Sosoknya ramah dan mudah bergaul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sore itu saya menanyakan kabarnya, kesehatannya, juga tentang pekerjaannya. Obrolan mengalir begitu saja. Hingga menyangkut masalah jodoh. Ada salah seorang teman kami, desas desusnya memutuskan berpisah dari suaminya. Ia telah mempunyai dua orang anak, dan tanpa pekerjaan pula. Ini memang mengejutkan saya. Karena baru dua bulan yang lalu teman saya yang ingin berpisah ini melahirkan. Pukulan ini pastilah berat baginya. Terlebih, keputusan ini ia ambil ketika anak-anaknya sangat memerlukan perhatian kedua orangtuanya, dan ditengah-tengah usahanya mempertahankan biduk pernikahan mereka. Sempat setahun lalu ia mengeluh ingin segera bercerai, tapi urung, entah apa sebabnya, saya pun tak mempunyai hak untuk bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setidaknya aku bisa bercermin pada kehidupan dia, Mbak! Aku jadi banyak memikirkan pernikahan seperti apa, agar ini hanya cukup sekali,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu terlontar, ketika panjang lebar ia–tanpa saya minta- mengatakan, telah berpisah dengan tunangannya. Padahal rencana pernikahan mereka tinggal tiga minggu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terhenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang saya ajak chatting ini memang telah lama menjalin hubungan dengan seorang pria yang tengah bermukim di luar negeri. Dari kisah-kisahnya selama ini, hubungan mereka sangat baik, walau jarak membentang sangat jauh. Komunikasi mereka bangun, karena pada dasarnya dari masing-masing pihak, menginginkan tidak hanya sekedar hubungan tanpa arah. Hingga saya yang mendengar kala itu pun berpikir, mereka pasti bisa mengarunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan bukan satu hal yang gampang. Perlu pemikiran dan tapak kokoh dalam menjalaninya. Konon menyatukan perbedaan itulah yang selalu dijadikan alasan hingga mengakhiri masa lajang selalu terhambat. Kerap seorang perempuan terjegal masalah ketidaknyamanannya membuat segala pola pikirnya selama ini harus dibagi dan terbagi. Belum memikirkan betapa susahnya harus menjajagi pribadi masing-masing, jika prosesnya memang tak seperti kebanyakan. Hanya perkenalan lewat seseorang, mengetahui masing-masing misi dan visi, istikharah, dan memutuskan, lanjut atau tidak. Jadi jangan terlalu berharap dengan gaya harus pacaran atau tunangan. Ini malah akan membuat beban, terlebih bagi saya dan teman-teman di sekeliling saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal misi dan visi, ketika memutuskan melangkah lebih jauh, saya hanya punya pandangan dasar, lelaki, yang akan mendampingi saya haruslah seiman dan mengerti bagaimana menyolehkan keluarganya nanti. Ia haruslah patuh pada segala aturan Pemiliknya, seperti halnya saya belajar untuk mengalirkannya dalam setiap helaan nafas. Mudah? Tentu tidak! Soal patuh pada aturan ternyata juga banyak benturannya. Kerap ini malah menambah ritme langkah selanjutnya. Hingga kerap harus bertanya-tanya bentuk bahagia seperti apa yang ingin diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia dalam pernikahan itu terpulang pada masing-masing yang menjalaninya. Karena bahagia itu memang dapat dibentuk sedemikian rupa. Masalah tidak seiring sejalan pun tinggal bagaimana kita selalu mau memberikan separuh hati untuk bisa selebar mungkin memuat kata maaf. Rasanya mustahil, jika dua kepala dan dua pribadi harus selalu sama dalam memandang satu masalah. Untuk itulah ikatan suci ini ada, menyatukannya tanpa harus menggeser menjadi pribadi yang diinginkan masing-masing pihak, namun mampu menerima, melengkapi kekurangan dan mengimbangi segala kelebihan. Bagai rembulan dan mentari, mustahil akan menjadi satu dalam penyempurnaan. Namun lihatlah betapa ia dapat menggantikan fungsi satu dengan yang lain. Mengerti pada masing-masing posisi, dimana setiap kita pun akan demikian. Seiring dengan hal ini, kedewasaan akan berkembang, dan bahagia hakiki bisa tercapai. Hingga tak perlu ada perpisahan jika ikatan ini disandarkan dengan kalimat ‘tak cinta lagi’ atau ’telah berbeda dalam penyelarasan pandangan hidup’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memeluk bahagia pun terus diupayakan oleh seorang perempuan. Tak ingin dia menyerah, ribuan langkah pun tak akan ia undurkan untuk menjadi satu bait kekalahan. Karena ia pun sadar, ada Tuhan yang terlibat antara ia dan suaminya. Ia mencintai apa yang Dia pilihkan. Ia berpaling pada apa yang Dia elakkan. Jika sampai detik ini denyut pernikahan berdentang semakin membahana, ia yakin itu hanya sebagian nikmat dari sekian ujian yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;untuk kekasih hati, Akang Indro, terima kasih mau memeluk bahagia selama 1 dasawarsa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3739196306890750050?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3739196306890750050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3739196306890750050&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3739196306890750050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3739196306890750050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2009/04/memeluk-bahagia.html' title='Memeluk Bahagia'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5012561361535892034</id><published>2009-04-01T11:11:00.004+08:00</published><updated>2009-04-01T11:20:01.751+08:00</updated><title type='text'>Peluncuran Buku Bersama; Behind the Scene</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya, launching novel Vita, Desau Angin Maastricht juga relaunching buku antologi &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/SdLbvpxXMwI/AAAAAAAAAVI/nfA_6ZRl2n8/s1600-h/DESAU-ANGIN-MAASTRICHT.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319555721591206658" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 75px; CURSOR: hand; HEIGHT: 112px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/SdLbvpxXMwI/AAAAAAAAAVI/nfA_6ZRl2n8/s320/DESAU-ANGIN-MAASTRICHT.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;FLP Sengata, Sangatta, Sangat Banyak Cerita, sukses digelar hari minggu 29 Maret 2009, di hotel mesfa mulia, Sengata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, kami sempat terkena phobia akan beberapa masalah yang terjadi pada peluncuran pertama di gedung SD 3 YPPSB. Makanya event organizer Arif (Kadiv Humas) diberdayakan, mengingat beberapa orang pengurus cukup sibuk karena dibetot oleh kegiatan yang menggunung selain acara ini. Tapi, phobia tetaplah phobia. Kalau di lain pribadi, phobia biasanya disikapi dengan menarik diri, enggan melakukan sesuatu, atau malah membuat respon yang kurang baik, alhamdulillah itu tidak terjadi pada pengurus FLP Sengata. Bukankah semua ada masanya? Jadi lebih baik bersikap agresif untuk mensukseskan acara ini, ketimbang diam dalam kephobiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal phobia, ada yang menggelitik ketika acara ini dilaksanakan. Peserta yang hampir memenuhi ruangan yang berkapasitas 100 orang itu, masih ada yang meningkahinya dengan pertanyaan yang &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/SdLdFs2aI6I/AAAAAAAAAVQ/G0rwBWgXqmA/s1600-h/book+cover.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319557199886427042" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 90px; CURSOR: hand; HEIGHT: 114px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/SdLdFs2aI6I/AAAAAAAAAVQ/G0rwBWgXqmA/s320/book+cover.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;cukup membuat kami, pembicara merasa memang inilah keunikan Sengata ketika menggelar moment seperti ini. Saya, DH Devita, Narima (anggota juga salah penulis antologi FLP Sengata), juga bu Ani Jayadi (KepSek SD 3 YPPSB), patutnya bersyukur, karena hal-hal seperti ini memang jarang terjadi atau kami temui jika menjadi pembicara di tempat lain, selain Sengata. Diantara peserta, ada saja yang bertanya mengapa desau dijadikan judul, atau mengapa tidak menuliskan kehidupan pribadi dalam novel, atau…mengapa ada tulisan berbau takhyul dalam buku antologi FLP Sengata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertanyaan mengapa ada bau takhyul dalam buku antologi FLP Sengata, sebenarnya telah kami pantau dari terbitnya buku antologi secara independent. Waktu itu saya berpikir, lebih baik membiarkan pemikiran tersebut terlibat langsung dalam FLP sendiri. Karena saya yakin, ketika telah terlibat, pikiran tersebut pelan-pelan akan tersaput bersama kedekatannya bersama kami, baik dalam pelatihan maupun interaksi dalam kepengurusan. Bahkan seorang teman yang disentil telah menuliskan artikel takhyul itu, mengatakan ia tak merasa ini cercaan. Ia menanggapi dengan santai, bahwa seorang yang pandai, perlu belajar mencerna dan membutuhkan jiwa yang bersih, serta pikiran yang distel sedemikian rupa agar bisa cepat tanggap dalam menerima hal apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bicara proses, buku antologi ini sempat membuat saya terengah-engah, berlari terus mengejar deadline waktu pelantikan juga peluncuran, yang sempat mundur hingga beberapa bulan. Saat memutuskan indie pun, para pengurus pun tahu inilah konsekuensinya. Ada beberapa artikel yang harus dirombak, walau tidak secara keseluruhan. Otomatis ini memerlukan dasar pemikiran si penulis, mau kemana artikelnya akan dibawa, atau ending seperti apa yang diharapakan. Satu penulis pun bisa memberikan hingga 6 artikel, yang dalam perjalanannya harus disingkirkan hanya menjadi 3 artikel, karena lagi-lagi butuh waktu untuk sekedar mengeditnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku antologi ini berisi cinta, itu saja. Pertama kali memandangnya, saya yakin semua penulisnya merasakan betapa perasaan diaduk-aduk, karena bahagia. Hasil kerja keras kami selama 3 bulan, bisa terwujud walau sederhana. Bahkan kami pun tetap tersenyum, jika masih saja ada orang merasa tidak memilikinya, hingga menghamburkan kalimat, yang mungkin saja membuat diantara kami merasa terlukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, biarlah saja. Setiap aksi pastilah ada reaksi. Dan biarkan saja reaksi kami bisa tetap santun. Bisa tetap menghormati siapa saja yang ingin mengeluarkan pendapatnya. Toh, kami memang merasa, masih banyak kekurangan dalam penggarapan buku antologi tersebut. Sebagai pecinta dunia tulis dan baca, kami merasa harus tetap berdiri, mencoba memperbaiki, agar kedepannya, kami tetap tersenyum penuh maaf.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Selamat untuk terbitnya Novel, Vita. Dan untuk penulis-penulis buku antologi FLP Sengata. Jalan kita masih panjang dan penuh hal yang menakjubkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5012561361535892034?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5012561361535892034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5012561361535892034&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5012561361535892034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5012561361535892034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2009/04/peluncuran-buku-bersama-behind-scene.html' title='Peluncuran Buku Bersama; Behind the Scene'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/SdLbvpxXMwI/AAAAAAAAAVI/nfA_6ZRl2n8/s72-c/DESAU-ANGIN-MAASTRICHT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-4638458606981923768</id><published>2009-02-17T15:52:00.001+08:00</published><updated>2009-02-17T15:54:49.065+08:00</updated><title type='text'>Unik itu Seni</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;"Banyak hal-hal yang tidak terduga dari orang-orang yang saya kenal belakangan ini"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Itu kata salah seorang sahabat saya, ketika siang itu saya dan dia ngobrol membahas beberapa hal. Entah, mungkin karena saya dan dia punya hobi dan kesenangan yang sama, lalu itu semua bisa berlanjut pada pemikiran yang juga hampir mirip. Saya pun belakangan ini berpikir hal demikian. Hm...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kalau hal yang tidak terduga, mungkin terlampau banyak yang telah kami alami, hanya saja, tekanan kalimat itu baru tercetus akhir-akhir ini. Jika kegelisahan ini baru keluar, lebih mengacu kepada situasi yang ternyata tidak terjadi pada satu atau dua orang saja. Justru sepertinya semua orang-orang di sekeliling menjadi kelihatan belang aslinya. Ataukah saya saja yang baru merasa bahwa ini merupakan buah dari segala lingkup pergaulan yang telah dilakoni selama di kota kecil ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Salah seorang teman saya malah mentasbihkan dirinya, sebagai orang yang sangat harus dikasihani, memprihatinkan, karena angan-angannya untuk bisa segera keluar kota, demi sebuah ilmu, terhambat, atau malah harus dikubur oleh jabatannya dalam satu keorganisasian. Memang posisinya cukup penting. Namun dampaknya malah saya tak pernah berpikir bahwa kemudian ia berlaku dengan hal-hal yang tak terduga, dengan gayanya yang selama ini santai saja, terlihat jaim dan sedikit jutek. Stres kali ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ini merupakan rangkaian. Rentetan dari jaim dan juteknya berimbas pada teman-teman yang lain, yang menimpali dengan kejutekan dan kejaiman pula. Ada yang sengaja mendiamkan, ada sengaja ikut-ikut saja, ada yang malah tidak merasa sama sekali, saking cueknya. Runyamnya, masing-masing posisi menyalahkan, saling mencoba bikin tameng lalu membesarkannya dengan cara sendiri-sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keunikan, itulah yang mungkin bisa dibaca dari gejala seperti ini. bagaimana pun manusia diciptakan dengan pola berpikir yang berbeda. Walau sama-sama mempunyai rambut hitam. Setiap orang pasti punya masing-masing tingkat pemahaman, kalau tidak boleh dibilang perbedaan itu terletak pada tingkat cepat atau tidaknya menangkap satu pesan. Seharusnya memang tidak perlu dirutuki, tapi apa bisa? Kita manusia. Mau menyangkal apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keunikan lain, bagi saya –yang pernah merasa dipaksa untuk menyetir sebuah kendaraan organisasi di jalan yang banyak lubang-, ini merupakan angin segar. Betapa tidak? Posisi ini tentunya sebagai ganti ilmu yang ingin ia kejar di luar sana. Sebuah ilmu yang memerlukan waktu dua atau tiga tahun untuk dipelajari, biaya yang tidak sedikit, dan mungkin akan ada ketidakmampuan menggandakan waktu sambil mengurus hal lain. Tapi untuk posisi yang ia terpaksa ambil? Hm, dalam waktu sebulan saja, ia dituntut untuk tanggap, cepat berkoordinasi, teman-teman mendukung penokohannya dengan menaruhnya didepan barisan, serta tak perlu keluar biaya tinggi. Dan,...bayaran untuk dia tidak dapat dihitung. Kasih sayang Tuhannya yang memberikan kesempatan ini, tentunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hal yang tak terduga itu ternyata unik. Keunikan itu perlu dalam berbagai kesempatan, terlebih dalam sebuah organisasi. Walau reaksi untuk keunikan itu, saya harus tergelak hingga megap-megap, karena harus terlebih dahulu memaksakan hati untuk lebih rasional, tapi itulah seninya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ya, unik itu seni, bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-4638458606981923768?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/4638458606981923768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=4638458606981923768&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4638458606981923768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4638458606981923768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2009/02/unik-itu-seni.html' title='Unik itu Seni'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-9140828968023104067</id><published>2008-12-08T21:42:00.001+08:00</published><updated>2008-12-09T20:37:53.495+08:00</updated><title type='text'>Berkurban</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tidak gampang, mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita sukai, untuk dipersembahkan, dimiliki oleh orang lain. Perlu ketegaran serta hati besar untuk bisa ditunaikan dengan baik. Tidak mudah! Bahkan untuk arti ini, seorang anak kecil pun perlu dididik awal atasnya. Karena jika ia telah dewasa, kerap tak mudah meluruskan pemikiran tanpa ternoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pun jelas terlihat, hari-hari begitu menyita waktu, menjelang hari-hari perayaan kurban. Beberapa perempuan dan lelaki, meluangkan waktunya seharian, duduk dalam sebuah forum, dari cerah hingga lesu menjelang malam. Ini pengorbanan. Karena diantara mereka ada yang datang setelah selingan penganan kue-kue kecil tersaji, atau diantara mereka telah beredar sebelum palu diketuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain pun demikian. Berderet mobil, berkilo-kilo berakhir pada satu titik pun terlihat akhir-akhir ini. Titik kecil yang kerap diributkan menjelang Desember, karena isunya akan mengalami penuruan harga. Tempat penyimpanan dan pendistribusian BBM. Mereka berkorban keukeuh antri, dengan pergerakan yang tidak signifikan, karena memang tempat itu belum ada pasokan bensin yang telah dijanjikan akan datang sebentar lagi. Dari pagi hingga jelang senja, masih sama. Pasokan itu belum nampak. Ini pun pengorbanan bagi oknum lain. Demi melihat harga yang sedikit turun, pikiran nakal serta kesempatan yang terbuka lebar, membuat perlakuan bernama manipulasi. Membuatnya aman melimpah ditempat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang seringkali tidak dapat mengambil hikmah dari segala macam kisah yang pernah terjadi. Seringnya dijadikan dongeng pengantar tidur, sampai tertimbun selimut dan bantal di pagi harinya. Kisah-kisah itu hanya menjadi hiasan di bibir tanpa merasuk ke hati. Terlebih kisah dan hikmah itu seharusnya menyergap kita setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah seorang kekasih Allah, nabi Ibrahim as., rela serta ikhlas menjalankan segala perintah Sang Nyata. Ia dambakan seorang buah hati bertahun-tahun dalam masa penantian. Ketika tiba dan selesai masa penantiannya, sang buah hati pun diminta dengan cara disembelih. Andai kita hidup pada waktu itu, apa yang akan kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kisah ibu teladan, Siti Hajar. Air zam-zam yang mengalir dari telapak kaki sang buah hati, menandakan kekonsistenan serta ketajaman berpikir jernih seorang hamba. Ia begitu sadar serta yakin, apapun itu, pastilah berasal dari Sang Nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman kita memang telah berubah. Segala ucapan pengorbanan pun tak ayal selalu menyertai segala permasalahan di diri kita. Namun benarkah demikian? Pada kenyataannya, manusia seringnya tak mau kalah pada keadaan, dengan alasan, Allah tak akan merubah nasib seseorang jika manusia itu sendiri tak mau mengubahnya. Manusia pun gemar menghitung-hitung, sudah banyak yang dilakukan, dan tetap merasa aneh, jika masih saja disalahkan. Kita terlampau menganggap remeh arti pengorbanan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masa duka menyelimuti, adakah pengorbanan menekan segala perih hati dalam bentuk kesabaran? Ketika masa suka menggelayuti, adakah pengorbanan membuang rasa angkuh, menepuk dada serta lantang bersuara; ’inilah aku’, bisa dilakukan? Lupa, khilaf dan wajar jika ada reaksi, itu selalu kita jadikan tameng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disayatnya leher hewan kurban, semoga, beriringan dengan tersayatnya rasa angkuh, sombong, takabur serta menaburkan derita menjadi sebuah cerita untuk minta dikasihani. Dikulitinya pun, dengan menggunakan mata pisau yang paling tajam, setajam kepercayaan kita pada yang menciptakan hewan itu. Percaya, begitu tanpa noda kasih yang diulurkan selama ini. Dan sungguh bukanlah hewan itu yang akan sampai padaNya, ia hanya sebagai alat keikhlasan kita dalam menjalani apa yang dinamakan berkurban. Dan sungguh, ketaqwaan serta nilai spiritual berlebih di dalam berkurban itu yang akan menghampiri tahtaNya paling mulia. Karena apapun itu, berkurban perlu dihayati demikian indah, hingga sampai masa pertemuan dengan-Nya nanti.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-9140828968023104067?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/9140828968023104067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=9140828968023104067&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/9140828968023104067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/9140828968023104067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/12/berkurban.html' title='Berkurban'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-24107011975232960</id><published>2008-11-25T19:39:00.001+08:00</published><updated>2008-11-25T19:46:09.328+08:00</updated><title type='text'>Pribadimu Malam Itu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Malam itu saya batalkan beberapa janji, karena dia hanya ingin bertemu saya. Cukup lama dia menunggu saat untuk bisa bertemu langsung dengan saya. Bukan GR. Namun demikianlah yang dikatakan oleh salah seorang teman baik saya. Saya tak ambil pusing. Karena memang tidak mudah GR, lagipula ini kesempatan saya membuktikan apa yang banyak orang gunjingkan tentang dia. Setidaknya tak perlu saya menelan semua omongan orang, selain hanya melihatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu biasa berkeluh dengan saya, baik chatting maupun telpon. Keluhan seorang perempuan yang memang sedang ingin memandang hidup ini lebih indah, tanpa banyak awan mendung yang menggelayut. Setiap waktu sepertinya gerimis datang. Bahkan sesekali diselingi halilintar. Dia merasa tak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selaku pendengar mencoba mencernanya. Merasakan kepedihannya. Mencoba mencarikan sedikit obat penghilang rasa sakitnya. Ampuh sebentar. Dan dalam beberapa waktu dia akan kembali bersama rinai atau petir-petir kecil. Saya kembali mencernanya. Begitu setiap kali. Hingga saya tak lagi memberinya obat penghilang rasa sakit yang hanya bekerja sebentar. Kali ini saya beri ia pecut, cambuk kecil. Dengan perlahan saya sarankan ia untuk menggunakannya, setiap kali ia merasa hidup tak adil, tak pernah ada bahagia. Pecut yang sekedar mengingatkannya, sebenarnya apa yang ingin ia raih. Pecut yang akan meninggalkan bekas sedikit, namun terasa sampai kesekian kali derita itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama, dia pelan-pelan membentangkan jarak keluhannya pada saya. Waktu saya pun semakin padat, jadi setiap kali ia ingin topangan, saya hanya bisa dihubungi lewat SMS, itu pun dibalas beberapa jam kemudian. Karena saya tak mungkin membalasnya, kala pikiran dan hati saya sedang di pekerjaan lain. Memang tak enak, hati saya sedikit gundah. Bisakah dia menggunakan pecut yang saya pernah sarankan? Bukan obat pereda sakit, yang hanya membuatnya hilang rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu pun saya dan dia bertemu. Berpapasan di lobi, dia hanya melirik sekilas. Saya pun menegurnya. Mengenggam tangannya erat. Memeluknya hangat. Badannya ringkih, jika saja tidak ada gundukan kecil amanah dari Allah, yang sedikit membuat tubuhnya melebar. Wajahnya sedikit pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu meja, kami duduk berhadapan. Dia lebih banyak diam dan tersenyum kecut. Saya selalu menggodanya. Mencoba membuat suasana cair seperti halnya chatting. Dia mulai memberikan reaksi. Namun tetap pelan. Hanya ketika saya korek, dia mau mengeluarkan apa yang ingin ia utarakan. Selebihnya, dia hanya terdiam tak jelas. Saya pun enggan mengorek lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru merasakan. Betapa memang tidak gampang menumpahkan segala keluh kesah langsung pada orang yang ingin kita bagi. Tidak mudah untuk mengenyampingkan perasaan takut, sungkan, walaupun orang yang biasa kita ajak bicara tidak merasa keberatan sama sekali. Ya, karena memang kita manusia biasa. Cela dan cacat tak akan pernah dapat kita hindari. Meskipun untuk urusan sombong, kita tetap saja tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami hanya bertemu sebentar. Saya dan dia berpisah di lobi lagi. Saya melambaikan tangan pada sebuah taksi. Membuka pintunya dan mengucapkan salam padanya. Dia hanya tersenyum. Selebihnya tidak saya perhatikan reaksi apa lagi yang ada padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya tak menemukan dirimu yang suka mengeluh malam itu.&lt;br /&gt;Saya tak menemukan celotehanmu yang kerap saya tegur, karena biasanya terlalu tak enak untuk didengar.&lt;br /&gt;Saya berharap pecut yang pernah saya berikan, lebih bisa membuatmu semakin tahu dan mengerti bagaimana menyikapi gelombang kehidupan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-24107011975232960?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/24107011975232960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=24107011975232960&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/24107011975232960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/24107011975232960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/11/pribadimu-malam-itu.html' title='Pribadimu Malam Itu'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-7808270466165824720</id><published>2008-10-23T20:39:00.003+08:00</published><updated>2008-10-23T20:57:57.896+08:00</updated><title type='text'>Hidup itu Menakjubkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Hidup itu menakjubkan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan, selama beberapa minggu kembali mengambil jatah cuti, pada libur Raya kemaren. Pulang dan sungkem pada kedua orangtua, serta berkumpul lagi dengan kedua adik perempuannya. Menyenangkan, menyedihkan, menggemaskan serta banyak rasa yang ia rasakan. Menyenangkan bisa berkumpul setelah sekian tahun tak pernah selengkap ini. Menyedihkan karena ketika bisa berkumpul, ada musibah lain yang justru menggemaskan. Ketika takbir bergema, rumah dinas orang tuanya dibobol pencuri, ketika rumah itu mereka tinggalkan untuk berlebaran ke rumah ’asli’ milik orang tuanya. Beberapa barang berharga disikat. Tanpa ampun! Orang tuanya syok. Karena memang tak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. Setiap tahun beliau berdua memang mengkhususkan untuk ’hijrah’ ke rumah mereka (bukan dinas), merasakan sebentar lalu kembali ke rumah dinas, karena tempat kerja tinggal melangkah dari rumah dinas itu. Dan peristiwa kebobolan itu sedikit menyedihkan bagi salah satu adik perempuan itu. Dia yang baru tahun ini bisa berkumpul, merasa terabaikan. Kehadirannya tak membuat syok orang tua mereka terobati. Setidaknya itulah perasaannya. Dan bagi perempuan itu sangat menggemaskan. Gemas karena tak jelas harus berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup bukan? Apalagi, memang sang penggoda tak akan senang jika kita telah berhasil keluar dari pesantren bernama ramadhan, suci serta bersih dari syak wasangka. Mereka terus bergiat membuat kita lengah, bahkan berpaling dengan memberikan sedikit centilan, hingga kita lupa pada makna serta hikmah yang bisa kita dapatkan. Contoh? Bayangkan ketika kita mengalami serta menghayati hari-hari khusyuk dalam bulan ramadhan. Begitu indah serta segala kegiatan kita benilai ibadah. Rasa lapar serta haus tak pernah dapat menyiksa. Marah, ghibah, mencaci juga membuat orang lain terluka, sedapat mungkin kita hindari. Karena itulah pencapaian yang menjadi mimpi diakhir ramadhan. Hingga di hari suci bernama idul fitri, kita bisa tetap meluruskan apa yang telah kita pupuk selama ramadhan. Namun kenyataan memang tak seindah harapan. Terkadang kita malah mengumbar hawa nafsu. Menyediakan banyak makanan. Berlimpah segala tetek bengek menjelang idul fitri sepertinya pamali jika dilewatkan. Serasa tak akan ada lebaran atau idul fitri jika segala rupa tak tersaji. Atau hal lain, seperti hal ini. Dalam sekejap, segala jerih payah yang orang tua mereka kumpulkan ludes tak bersisa, kesyukuran itu tak lengkap ibu mereka rasakan. Ditambah bertubi-tubi ujian datang. Ibunya seperti tak mempan menerima ucapan pelipur lara dari anak-anaknya. Semua sirna, kebahagiaan lain tak dapat dipandang, pun oleh sebelah mata. Termasuk kebahagiaan dapat berkumpul dengan orang-orang terkasih; diberikan kesehatan; disampaikan pada terakhir ramadhan; serta banyak hal yang kadang tak pernah kita pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup, impian yang ternyata tak permah terlintas, bahkan untuk menjadi angan-angan lain dalam benak perempuan itu, juga kedua adiknya. Pastinya, juga tak pernah terpatri dalam pikiran kedua orang tua mereka. Kehilangan benda juga kehangatan dalam suasana suka cita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Menggemaskan. Karena perempuan itu pun tak bisa berbuat apa-apa, selain membuat ibunya tertawa dengan segala cerita ataupun tingkah konyol, akibat bias rasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dengan kekonyolan ini, saya bertanya, ”Masih bisa kamu tertawa, bahkan seperti tak ingin merasakan ketidak-nyamanan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukan,” jawabnya lirih, ”Bukan karena saya tak punya rasa empati. Cukuplah saya nelangsa sebentar. Merasakan kesedihan mereka sekejap, lalu segera beranjak untuk tak terlalu terlena pada kesedihan mendalam. Mereka butuh seorang penghibur, dan...hidup terlalu indah untuk diwarnai dengan lara, bukan? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, hidup itu menakjubkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Teruntuk saudara perempuan tercintaku&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-7808270466165824720?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/7808270466165824720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=7808270466165824720&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7808270466165824720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7808270466165824720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/10/hidup-itu-menakjubkan.html' title='Hidup itu Menakjubkan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8048357020586686115</id><published>2008-09-17T09:11:00.004+08:00</published><updated>2008-09-17T09:29:13.456+08:00</updated><title type='text'>Malu, Tak Pandai Bersyukur</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Kemaren, di beranda seorang tetangga -yang sudah seperti saudara bagi saya-, kami berbincang pada keadaan cuaca di Sengata yang akhir-akhir ini semakin garang saja. Iya, garang. Karena cuaca panas ini telah kami rasakan sejak minggu kedua ramadhan. Dikatakan garang, karena sebelumnya, sejak awal ramadhan, hari-hari diliputi dengan cuaca yang begitu bersahabat, mendung, serta rintik hujan yang semakin deras. Alhasil pada minggu pertama, suasana berpuasa terasa melegakan, bahkan jalanan licin serta berlumpur ke arah luar kota Sengata, yang pagi-pagi telah saya tempuh untuk kegiatan pesantren kilat, tidak mengganggu sama sekali. Semua terasa menyenangkan. Setidaknya bagi sebagian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, tidak semuanya merasakan hal yang sama. Ketika saya berbicara dengan salah satu kerabat saya di kota lain. Dia mengeluh hujan selalu turun setiap harinya ketika masuk bulan ramadhan. Segala aktivitasnya terganggu, jemuran tidak kering, serta enggan meninggalkan rumah, jika selalu khawatir akan keadaan yang selalu basah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Susah deh kita! Mau keluar aja, selalu mikir akan hujan atau tidak, ya?”&lt;br /&gt;”Kamu terlalu berlebih-lebihan...”&lt;br /&gt;”Bukan. Jemuran pada belum kering, menumpuk! Belum rasa malas lain?”&lt;br /&gt;”Apa tuh?”&lt;br /&gt;”Jadi malas buat ngapa-ngapain.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tertegun. Satu sisi, selalu saja ada keluhan akan cuaca panas, membuat gerah untuk beraktivitas, apalagi jika sedang dalam keadaan berpuasa seperti ini. Segala kegiatan sepertinya akan memeras keringat serta memerlukan energi lebih. Namun di sisi lain, cuaca mendung serta hujan justru juga mampu membuat hal yang sama. Keengganan tetap menjadi bagian dari aktivitas dan masih saja menghasilkan rentetan keluhan lain. Pertanyaannya, kalau begitu pada bagian mana yang baik bagi kita? Ketika harusnya hujan turun atau panas menyengat? Apakah kita tahu? Apakah kita berhak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, saya terpana. Langit begitu mendung. Angin bertiup sedikit kencang dari biasanya. Suara desau kibasan ranting mulai terdengar sejak adzan subuh bergema. Dan, hujan pun mulai turun semakin deras, disertai guntur yang menggelegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu telpon saya berdering;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Assalamu’alaikum, Mbak Rien,” suara disebrang menyapa saya.&lt;br /&gt;”alaikumussalam, apa kabar?”&lt;br /&gt;”Alhamdulillah, tapi kok hujan gini, ya?”&lt;br /&gt;”Hujan salah, panas salah, yang bener mana ya, mbak?”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kami pun tertawa malu. Sebagai manusia biasa, kami malu. Malu pada keadaan kami yang selalu menggerutu. Keadaan kami yang tak pandai belajar mensyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu nikmat-Ku yang mana ingin kau ingkari&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8048357020586686115?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8048357020586686115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8048357020586686115&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8048357020586686115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8048357020586686115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/09/malu-tak-pandai-bersyukur.html' title='Malu, Tak Pandai Bersyukur'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6990370903975977827</id><published>2008-08-30T19:35:00.002+08:00</published><updated>2008-08-30T19:39:07.544+08:00</updated><title type='text'>Doa Selalu Sama Menjelang Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#cc0000;"&gt;B&lt;/span&gt;anyak hal yang ingin saya ceritakan menjelang ramadhan ini. Banyaknya sama dengan jumlah pemandangan akhir-akhir ini yang saya lihat dan terpampang, pada saat-saat mendekati bulan suci ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;S&lt;/span&gt;ebenarnya hanya dua hal yang membuat saya tertarik untuk saya bagi pada anda. Satu adalah ketika saya menonton siaran berita di televisi. Begitu banyak orang lesehan pada sebuah tempat, dengan atap yang menjulang, tas dan penat yang menggelantung pada wajah mereka, disertai tatapan lelah. Mereka bahkan telah melakukan aktivitas lesehan itu sejak jam 5 subuh. Pada saat adzan bergema, mereka tafakur dalam diam, merunduk mencium kedua lutut mereka. Bukan dengan khidmat mendengarkan adzan lalu melakukan sholat fajar setelah itu. Karena memang tempat mereka lesehan itu bukan di rumah Allah, melainkan pada sebuah stasiun alat transportasi. Stasiun kereta api Gambir. Mereka sambut ramadhan dengan antri pada loket tiket keberangkatan. Alasannya tentu tak ingin kehabisan jika harus antri seminggu menjelang idul fitri. Bahkan pihak terkait tidak bisa menjamin, apakah tiket masih tersedia menjelang lebaran. Maka, mereka harus melakukannya, jika tidak ingin berlebaran jauh dari kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#cc0000;"&gt;H&lt;/span&gt;al kedua adalah gemuruh di satu mesjid, kawasan Sengata Baru, sekitar jam 8 pagi. Cuaca waktu itu tak bersahabat. Sedari subuh, rinai tak hentinya turun. Namun, aktivitas gemuruh itu tak terganggu sedikit pun. Ratusan anak dan orang tua berkumpul. Sebuah panggung kecil ditengah mesjid telah dipersiapkan. Kemudian anak-anak itu dengan tertib masuk, duduk sesuai dengan tanda yang harus mereka sepakati, agar anak yang lain dapat menempati posisi mereka secara teratur pula. Sedang para ibu-ibu mengatur beberapa barang, diteras mesjid. Menatanya sedemikian rapi, hingga sangat nyaman dipandang. Lalu tiba-tiba, MC mulai bersuara, &lt;em&gt;“Anak-anak, takbir!”&lt;/em&gt; maka gemuruh jelas menggema dari mulut-mulut kecil itu, &lt;em&gt;“Allahu Akbar!”.&lt;/em&gt; Tempat itu serempak riuh, dengan kegiatan mendongeng kisah ramadhan dari seorang ustad pendongeng yang sengaja didatangkan dari Yogyakarta. Kegiatan ini disebut Tarhib Ramadhan atau menyambut ramadhan yang diselenggarakan Yayasan Pembina Mesjid Daarussalaam Sengata, yang isinya adalah sekolah islam terpadu, dari TK hingga SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#990000;"&gt;M&lt;/span&gt;enarik. Itu yang ingin saya ungkap. Betapa ragam aktivitas bisa manusia tampilkan dalam satu kesempatan. Entah itu aktivitas menyenangkan, menggelikan, menyusahkan bahkan menyesatkan. Lebih geli lagi, manusia rela untuk melakukannya, demi rutinitas yang memang telah terbentuk sejak mereka kenal dengan hal ini. Mau tidak mau, mereka pun menjadi terbiasa, bahkan sebagian beranggap, akan aneh jika tidak melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#990000;"&gt;S&lt;/span&gt;aya teringat, seorang teman mengatakan; ia tidak akan pulang selama ramadhan hingga masa i’tikaf selesai. Selain ia terbiasa akan mengisi ruhiyah tiap ramadhan, karena begitu banyak ustad yang akan ke Sengata, juga ia selalu beranggap ramadhan ini adalah ramadhan terakhirnya. Jelas, itu berarti ia sekali lagi akan menghabiskannya jauh dari keluarga besarnya di rantau. Alasannya masuk akal. Ia tak ingin ramadhannya kali ini akan sia-sia jika harus ia habiskan di perjalanan, sampai di kampung, bertemu dengan sanak saudara, lalu lupa akan indahnya bulan suci ini, jika hanya dilewatkan dengan ngobrol tentang segala hal selama ia tak berada di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#990000;"&gt;S&lt;/span&gt;eorang teman lain, berpikiran hampir sama; apa yang akan ia lakukan di kampung selama ramadhan? Ia terbiasa sibuk mengurus rumah, anak-anak, dan tarawih pada malam harinya. Jika pulang, tinggal di tempat orang tua, tentunya kesibukkan akan menurun. Bingung, karena apa-apa yang ia perlukan serba tersedia di rumah orang tuanya. Ada assisten, yang siap membantu, dari memasak, mencuci, hingga membenahi halaman rumah. Tidak ada aktivitas yang berarti, kilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#990000;"&gt;M&lt;/span&gt;enjelang ramadhan, betapa banyak ragam peristiwa dari sebuah aktivitas yang disuguhkan pada kita. Ada yang berdesir pilu, miris juga pedih. Namun tak sedikit ada warna cerah, berbunga-bunga serta harum. Inilah kebesaran milik-&lt;em&gt;Nya&lt;/em&gt;. Banyaknya hal yang disajikan, menjadi pertanda, &lt;em&gt;DIA&lt;/em&gt; begitu mencintai kita. &lt;em&gt;DIA&lt;/em&gt; masih memberikan kesempatan serta kemampuan pada kita dalam memilah segala hal dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#cc0000;"&gt;A&lt;/span&gt;papun itu, saya yakin, doa saya maupun anda, selalu memiliki kesamaan; berusaha menjadikan ramadhan kali ini sebagai pembelajaran dalam hidup, mengokohkan kesantunan seorang muslim dalam berprilaku, serta meraih setinggi-tingginya ridho milik Allah SWT. Banyak doa yang terlantun, semoga diiringi dengan banyaknya pula usaha dalam menggapai cinta-&lt;em&gt;Nya.&lt;/em&gt; Wallahu a’lam bishowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Marhaban ya Ramadhan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1429H&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6990370903975977827?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6990370903975977827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6990370903975977827&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6990370903975977827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6990370903975977827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/08/doa-selalu-sama-menjelang-ramadhan.html' title='Doa Selalu Sama Menjelang Ramadhan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3973869909836855311</id><published>2008-08-22T09:27:00.003+08:00</published><updated>2008-08-22T14:35:00.752+08:00</updated><title type='text'>Merdeka Pada Seorang Anak SMP</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anak-anak itu begitu rapi, duduk di tempat yang telah dipersiapkan oleh panitia, pada sebuah ruangan sederhana yang mereka beri nama kelas. &lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;Pakaian mereka biasa saja, bahkan ada diantaranya masih mengenakan seragam, karena memang baru saja melaksanakan upacara peringatan 17 agustus di sekolah mereka. Namun rona kegembiraan tak bisa mereka sembunyikan. Menyambut kami dengan senyum, mengingat sekolah mereka yang harus ditempuh sejauh 13 kilometer dari kabupaten, jalanan yang berkerikil, laju kendaraan harus merayap pelan, hingga jarang yang mau berkunjung ke sekolah itu. Jadi, layak saja antusias ingin tahu jelas terpancar, walau hanya diwakili oleh 17 raut wajah milik mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pagi itu, setelah sesi pengenalan FLP serta permainan kreatif selesai, acara inti dilanjutkan dengan membedah karya mereka yang telah dipersiapkan. Saya pun mengambil jatah ini, dengan memilih 3 karya dari mereka untuk dikoreksi. Sungguh, membuat saya kagum, diantara mereka telah ada yang mempunyai keunikan, kepolosan dalam menuangkan pikiran pada tulisan, walau terbalut pemikiran klasik pada temanya; apa arti kemerdekaan bagimu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Secara keseluruhan, tulisan mereka masih khas tulisan anak-anak dimana kemerdekaan mereka pandang sebagai bentuk hasil pengorbanan dari para pejuang selama 350 tahun, gegap gempita berjuang hingga titik darah penghabisan agar negara bernama Indonesia ini merdeka. Tidak dapat dipungkiri, mereka masih begitu terkotak pada menghargai kemerdekaan itu dengan menghadiri upacara, mendengarkan teks proklamasi dikumandangkan, serta kibaran bendera dengan hikmat diberi penghormatan, ketika dinaikkan perlahan-lahan diiringi alunan lagu Indonesia Raya. Pemikiran yang kemudian begitu diperjelas pada salah satu mata pelajaran di tiap jenjang sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hingga ketika saya dengan tegas bertanya, &lt;em&gt;”Apa sih arti kemerdekaan yang sebenarnya bagi kalian?”,&lt;/em&gt; mereka hanya diam sambil mesem-mesem. Lalu saya kembali mempermudah bahasa saya, dengan melontarkan kalimat, &lt;em&gt;”Kalian sudah merdeka sekarang ini?”,&lt;/em&gt; ada yang berbisik-bisik tak jelas, hingga saya hampiri salah satu dari mereka. Saya sorongkan pengeras suara pada salah seorang anak laki-laki, berusia sekitar 14 tahun, dan dengan lirih dia menjawab, &lt;em&gt;’Belum, mbak”.&lt;/em&gt; Ketika kembali saya memberondongnya dengan,&lt;em&gt; ’Belum merdeka pada hal apa?’.&lt;/em&gt; Dengan suara tertahan, dia kembali menjawab, &lt;em&gt;”Biaya hidup semakin tinggi. Buku pelajaran semakin mahal. Orang tua saya gak mampu, mbak”.&lt;/em&gt; Suasana hening. Saya mencoba tersenyum, dengan embun yang pelan merembeti hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Benar, bangsa Indonesia telah merdeka 63 tahun yang lalu. Para pejuang telah mewariskannya pada kita. Benar, kita telah terbebas dari penjajahan, kerja rodi ataupun romusha. Kita bisa mengembangkan segala kemampuan kita dalam berkarya untuk mewarnai kemerdekaan ini. Benar, kita telah terbiasa serta leluasa dengan mengeluarkan pendapat, baik itu pujian ataupun umpatan keji. Tapi, benarkah kita telah mewarisi sifat para pejuang? Benarkah kita mampu mengembangkan kemampuan kita untuk membantu memupuk kemampuan orang lain? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kenyataanya, prilaku kita tak jauh dari sifat penjajah. Tanpa sadar kita telah membelenggu saudara kita sendiri. Terjebak pada rutinitas mengais rejeki tanpa sesekali berpikir apakah kita tanpa sadar mengambil ladang rejeki orang lain. Cara kita mengais pun, tak pelak harus sikut sana sikut sini. Berani melakukan tindakan tak bermoral, mengambil penghidupan orang lain. &lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;Tanpa terbersit pun rasa takut, jika sifat ceroboh ini, mengental di darah dan akan mengalir deras pada keturunan kita nanti. Atau... benarkah ini merupakan warisan dari penjajahan dulu, yang telah diberikan pada kita? Mengusir, namun tak mampu mengelak didikan serta tempaan mental seorang penjajah pada pribadi kita sendiri. &lt;em&gt;Naudzubillah....&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seorang anak SMP kelas 8, telah membuat perenungan pada batin dan diri saya yang telah merasa merdeka. Kembali bertanya, merdekakah diri ini, ketika kita masih bisa tersenyum pada tangisan serta perut mereka yang berbunyi minta diisi? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seorang anak SMP kelas 8, mengingatkan kembali pada rasa peduli kita yang terlampau transparan. Terlampau gemar pada bilik kesenangan pribadi. Setidaknya, ia mencoba mengingatkan untuk peduli dan berani mengungkapkan sesuatu yang sebelumnya bukan menjadi kesadaran kita, karena belum menjadi ’trend’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagi kita, merdeka sudah menjadi bagian dari kehidupan. Merdeka dengan segala bentuk kebebasan tanpa syarat. Bagi anak SMP kelas 8 itu, merdeka belum sepenuhnya ia dan keluarganya dapat raih, jika diukur pada kemerdekaan orang-orang mampu disekelilingnya. Merdeka masih harus ia perjuangkan. Dibalik sekolah sederhana jauh dari kawasan keramaian kota. Merdeka harus ia terus dengungkan, beriringan dengan kebutuhan sekolahnya yang juga semakin memberi dengung nyaring, tanda semakin meningkatnya biaya demi meraih itu semua. Merdeka masih harus ia deritkan di antara kibaran merah putih, diantara gegap gempitanya perayaan, diantara teriakan kemenangan. Semoga, darah serta mental para pejuang ada pada dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3973869909836855311?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3973869909836855311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3973869909836855311&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3973869909836855311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3973869909836855311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/08/merdeka-pada-seorang-anak-smp.html' title='Merdeka Pada Seorang Anak SMP'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1359904713254582889</id><published>2008-08-06T09:09:00.002+08:00</published><updated>2008-08-06T09:13:53.912+08:00</updated><title type='text'>Silnas: Perjalanan Ilmu dan Persaudaraan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Postingan yang mengendap cukup lama :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Jumat, 11 Juli 2008. Udara sangat bersahabat, tidak terlalu panas atau sebaliknya, walau keramaian telah menyeruak sepanjang jalan ke arah Srengseng, kawasan Lenteng Agung, dimana acara besar, Silaturahim Nasional Forum Lingkar Pena akan digelar. Sebagian pengurus FLP cabang Sengata, terdiri dari Rien Hanafiah (Ketua), Nurika Nugraheni (Kaderisasi), Yunny Touresia (PimRed) dan Arif Wibowo (Humas), stand by di lokasi sekitar pukul 7.30 waktu setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan sudah ramai. Wajah-wajah berseri walau lelah, dikarenakan perjalanan yang sangat menyita waktu, tidak memudarkan rasa gembira bisa bertemu langsung dengan FLP’ers, karena selama ini kami hanya dapat menyapa lewat milis atau sms. Rombongan yang pertama kali menyambut hangat, tentunya panitia pada bagian registrasi. Memberikan name tag, serta mengatur ‘bagasi’ yang akan disalurkan pada masing-masing kamar nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kedua, menegur kami dengan sumringah dan pelukan hangat adalah teman-teman dari FLP Jawa Tengah. Bertemu kembali dengan Afifah Afra, mengembalikan memori ketika ia berada di Sengata setahun yang lalu. Kemudian sapaan mbak Izzatul Jannah, penulis senior yang juga merupakan salah satu ‘warga’ Majelis Penulis pada struktur FLP Pusat, semakin membuat kami begitu melupakan keletihan perjalanan menuju tempat acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beres dengan masalah registrasi dan sarapan (tentunya!), langkah kami kayuh ke arah aula utama, dimana pembukaan acara akan berlangsung. Selama kurang lebih 3 jam, acara dimulai dengan sambutan dari M. Irfan Hidayatullah (biasa kami sapa Kang Irfan), ketua FLP Pusat. Beliau sangat tergugah dengan semangat teman-teman FLP seluruh Indonesia, juga dari Hongkong, Jepang, Cairo, dan Amerika Serikat, yang menyempatkan diri hadir. Sangat takjub, karena dulu, silaturahim nasional pertama hanya dihadiri kurang lebih 50 orang. Jumlah yang sangat signifikan dengan tahun 2008 ini, yaitu hampir mencapai 300 peserta. Kemudian acara dilanjutkan dengan presentasi Dr Prihardi Kahar. Seorang peneliti lingkungan hidup, yang bekerja pada ACER Biomass Research Group, Meisei Universitas Jepang. Disini kita baru melek, ternyata banyak kesalahan diperbuat manusia, dan sangat mempunyai dampak negatif bagi lingkungan. Dan untuk kesalahan ini, justru kita tidak sadar bahkan tidak peduli. Tunggu saja pengupasannya pada edisi depan ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai dengan presentasi Dr Prihardi Kahar, sesi selanjutnya diserahkan pada Boim Lebon selaku moderator, dengan dua pembicara, Putut Widjanarko (Penerbit Mizan) dan Aris Nugraha (Penulis skenario Bajaj Bajuri, Pendiri ANP Production). Talk Show dengan tema Kreatif dan Kaya tanpa Merusak Lingkungan ini sangat santai, karena dibawakan dengan kocak oleh Boim. Disini banyak dibahas proses kreatif menulis skenario serta cara-cara menembus penerbit. Agak bergeser dari tema, tapi tetap patut disyukuri, karena bertebaran ilmu dari talk show ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aura kehangatan bertemu sesama FLP’ers kembali memenuhi aula itu, kala bertemu dengan Rahmadiyanti. Ia salah satu pengurus pusat yang –lagi-lagi- biasanya hanya menyapa di milis. Senyum merekah dan berbicara sejenak dengannya, sedikit dapat melonggarkan kepenatan selama 3 jam duduk pada acara pembukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, seperti jadwal yang telah disepakati, kami berbagi tugas untuk mengikuti 2 acara yang dilaksanakan pada waktu bersamaan. Ada Fiksi Gila: Pelatihan Penulisan Fiksi, dipandu Nanik Susanti, dengan menghadirkan Afifah Afra (Penulis, CEO Indiva Media Kreasi, Solo) dan Sofie Dewayani (Penulis FLP Amerika). Sofie yang sangat tulus memberikan materi, serta Afra sangat atraktif mengajak peserta mengikuti arahannya. Antusias pun terlihat, walau sedikit terhalangi dengan waktu yang sangat terbatas. Namun –lagi-lagi-, tetap ilmu mengalir memenuhi ruang otak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu acara lagi adalah Pelatihan Optimalisasi Perpustakaan Sekolah dan Taman Baca untuk Lingkungan Sekitar. Hadir Yessy Gusman, Wien Muldian dimotori Lusiana M. Novita. Suasana begitu menyenangkan. Pembawaan luwes dari moderator serta pembicara yang ringan, dapat mengobati keingin-tahuan kami dalam mengembangkan taman baca nantinya. InsyaAllah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari menjelang maghrib, mulailah internal meeting. Berbagai utusan dibagi pada 3 kelompok diskusi. Ada yang membahas Organisai, Kaderisasi dan Perluasan Jaringan. Sempat dipotong dengan kegiatan ishoma (Istirahat Sholat Makan), sesi inilah yang paling menguras tenaga dan pikiran. Setiap orang mengemukakan ide serta usulan demi kemajuan dari FLP secara menyeluruh. Hingga waktu bergulir sangat cepat. Dengan wajah sangat tak berdaya, kami akhirnya bisa kembali istirahat pada pukul 11.00 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keesokkan harinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pagi, kami telah disibukkan dengan riuh rendahnya para FLP’ers yang berlalu lalang dalam asrama. Ber’say’ hello, mengajak sarapan, atau hanya bercanda mengingat kelucuan-kelucuan sewaktu malam pertama dilewati. Hal-hal kecil seperti ada yang tidak tahan dengan AC atau sebaliknya. Wajar saja, apalagi, teman sekamar bukanlah teman yang sehari-harinya biasa dihadapi di daerah. Dalam satu kamar, ada 3 utusan FLP dari berbagai cabang di Indonesia. Inilah salah satu hal yang membuat kami begitu melewati hari tanpa terasa. Terlalu asyik dengan bulir-bulir persaudaraan yang begitu bening dan jernih. Ada saja yang kami korek dari cerita-cerita mereka di tiap daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang acaranya? Jangan ditanya tentang kelelahan dan kaki yang serasa hendak copot, kami tetap semangat diantara teriknya udara jakarta, khususnya depok, yang menyengat menembus kulit. Kegiatan menyita waktu kami diantara alunan bait-bait cinta padaNYA setiap malam. Seluruh pikiran kami tercurah sempurna, agar tempat bernaung kami bernama FLP, bisa tetap harum, merekah, merona sepanjang kami tetap konsisten memperjuangkannya. Cinta kami tetap berseri mengiringi hari-hari dalam suasana yang menggembirakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, 3 hari kami lewati dalam suasana linu di segenap otak, disekujur tubuh, juga linu pada hati yang teriris, mengingat betapa singkatnya pertemuan kami yang hanya 3 hari, namun meninggalkan banyak cerita manis dalam rangkaian. Rasanya persaudaraan ini tak mungkin ditebus dengan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kegiatan FLP kesekian, yang dapat membekali kami dengan berton-ton ilmu dan persaudaraan teramat erat dan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi semakin yakin, dengan oleh-oleh seperti ini, kami akan bisa menebar ilmu dan cinta, dimana pun berada. InsyaAllah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;dimuat di bulletin FLP Sengata, edisi Agustus 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;poto-poto bisa dilihat di &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://rhandry.multiply.com/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;rumah kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1359904713254582889?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1359904713254582889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1359904713254582889&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1359904713254582889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1359904713254582889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/08/silnas-perjalanan-ilmu-dan-persaudaraan.html' title='Silnas: Perjalanan Ilmu dan Persaudaraan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-549538215257651118</id><published>2008-06-14T08:29:00.005+08:00</published><updated>2008-06-15T19:15:43.078+08:00</updated><title type='text'>Curhat si Penulis</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Hey Now, Hey Now&lt;br /&gt;Don’t dream its over&lt;br /&gt;Hey now, Hey now&lt;br /&gt;With the world comes in&lt;br /&gt;They come, they come&lt;br /&gt;To build a wall between us&lt;br /&gt;We know, they won’t win&lt;br /&gt;(Don’t’ dream its over by crowded house)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perputaran waktu sungguh tak terduga. Kembali mengingat setahun lalu saya harus istirahat sejenak dari rutinitas di tempat terpencil, sekarang, saya pun bersiap, sedikit ingin menyandarkan punggung sejenak, menghalau penat yang tiba-tiba saja mendera. Kelelahan yang terkadang diluar batas kendali emosi saya sebagai manusia biasa, membuat orang-orang di sekeliling saya merasa sedikit ‘teraniaya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yup&lt;/em&gt;, saya memang akan mengambil jatah ‘cuti’, untuk sekedar istirahat di kota kelahiran. Berkumpul dengan ibu yang –sering- saya layangkan hati penuh rindu padanya. Berkumpul sejenak sebelum saya bergegas lagi untuk menyiapkan segala sesuatu di kota lain (Kutai Kertanegara) dalam rangka RakorWil FLP. Berkelanjutan dengan keberangkatan ke acara SilNas FLP di Jakarta. &lt;em&gt;Piuh&lt;/em&gt;, tetap saja saya ditumpuk tugas.Tapi, no problemo, cinta memang mengalahkan segalanya, inilah tanggung jawab saya sebagai seorang dari pucuk pohon yang sedang mencoba berkembang, menebar daun dan membuat wangi kelopak-kelopak bunganya. &lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt;, bahasa aneh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaren, saya sempat menerima SMS dari seorang teman, yang saya kenal setahun lalu dari acara kopdar di Jakarta, &lt;em&gt;“Asslkm, Mbak Rien, lagi dijakarta ya? Ketemuan yuk! Wass.”&lt;/em&gt; Jadi senyum-senyum sendiri, jadi &lt;em&gt;pengen&lt;/em&gt; senyum selebar mungkin. Ternyata saya masih punya teman yang –juga- rindu akan hadirnya saya. atau terbiasa kopdar jadi siapa aja diajak kopdar? Hehehe,…jangan marah ya &lt;a href="http://shellamawardi.blogspot.com/"&gt;neng&lt;/a&gt;! Lalu my dear &lt;a href="http://cinta-bunda.blogspot.com/"&gt;Uwie&lt;/a&gt;, &lt;em&gt;udah&lt;/em&gt; nelpon (walau sekali tidak bisa saya angkat karena saya sedang &lt;em&gt;syuro&lt;/em&gt; –rapat), menanyakan,"Kamu dimana Rien?" saya yang kebingungan dengan tanpa dosa menjawab, “Di Sangatta!” dan kami pun tertawa lirih, karena kesalahan informasi, yang ia kira saya sudah dijakarta sejak tanggal 10 juni lalu. Hm…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang akan berangkat, itupun dalam rangka ‘kerja dinas singkat’ yang harus saya tunaikan. Tanpa pasangan romantis, seperti setahun yang lalu. Karena, kami punya masing-masing tugas pada masa liburan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hh...postingan kali ini, sekedar mencoba melepas beban di segala penjuru tulang belulang yang saya miliki. Biarlah ia menguap, membekas menjadi tanda, bahwa banyak cinta dalam mengukir peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teman,&lt;br /&gt;Maaf jika banyak hal dan tugas yang ku pacu untuk gerak kita&lt;br /&gt;Maaf jika kuabaikan segala resah serta gelisahmu dalam ruang lain&lt;br /&gt;Teman&lt;br /&gt;Seperti halnya nafas yang ku persembahkan demi Maha Pemilik Cinta&lt;br /&gt;Langkah kita pun sengaja ku arahkan pada tujuan yang sama&lt;br /&gt;Yakinlah,&lt;br /&gt;Banyak cinta dalam setiap tegur sapaku&lt;br /&gt;Banyak cinta dalam setiap tatapanku&lt;br /&gt;Banyak cinta di setiap lekuk ukiran yang kita pahat&lt;br /&gt;Percayalah,&lt;br /&gt;Aku pun masih berjalan di garis ‘belajar’&lt;br /&gt;‘Belajar’ untuk membangkitkan cinta dalam pergerakan kita&lt;br /&gt;Dan…&lt;br /&gt;Maafkan diri yang fana ini&lt;br /&gt;Jika kalimat cinta belum tersampaikan seluruhnya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;teruntuk sahabat seperjuangan di FLP Sangatta, tersenyumlah walau onak duri masih ada di jalan yang kita lalui&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-549538215257651118?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/549538215257651118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=549538215257651118&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/549538215257651118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/549538215257651118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/06/curhat-si-penulis.html' title='Curhat si Penulis'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6633107294283940546</id><published>2008-06-02T16:07:00.002+08:00</published><updated>2008-06-02T16:23:09.977+08:00</updated><title type='text'>Colour of My Sons</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tahun ajaran baru kali ini, selain kegembiraan untuk 2 buah hati saya, juga kesedihan &lt;em&gt;(nggak penting)&lt;/em&gt; buat saya. Bisa berlibur, bertemu keluarga besar di luar kota Sengata, sekaligus meregangkan otot yang telah –hampir- kaku selama kurang lebih 6 bulan bergelut dengan kehiruk-pikukan kota sengata, pastinya ditunggu. Namun perasaan lain ada, ketika mengingat tahun ajaran baru besok adalah semakin sorenya si sulung, Jihad, bisa pulang kerumah. Sudah menjadi konsekuensi. Dari taman kanak-kanak, kami memilih menyekolahkannya di sekolah islam terpadu, yang jam belajarnya selesai pada pukul 14.00 atau jam 2 siang. Hingga kelas 2 ini, Jihad sangat menikmati untuk tetap berada di sekolah hingga jam 2. Bahkan beberapa hari ini, dia sangat susah untuk tidur siang. Staminanya seakan berada pada tingkat ‘habis di-charge’, semakin ada saja energinya untuk menolak istirahat siang. Walaupun, rutinitasnya setelah di rumah dia lakukan, namun yang satu ini, seperti ia kondisikan untuk kelas 3 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kelas 3 nanti, Jihad akan berada disekolah hingga jam 4 sore. Otomatis, kebersamaan kami harus lebih terletak pada kualitas. Ditambah kesibukkan sebagai aktivis pun telah menyita saya selama hampir setahun ini. Kadang di akhir pekan pun, saya habiskan sedikit waktu untuk berinteraksi dengan kegiatan yang seakan mudah menggunung. Serta merta, saya pun telah siap dengan jadwal untuk bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan kesedihan &lt;em&gt;(paragraf sebelumnya bukan kesedihan)&lt;/em&gt;, saya sebenarnya telah berlaku egois pada bungsu saya, Kareem. Sejak akhir tahun lalu &lt;em&gt;(awal tahun ini),&lt;/em&gt; Kareem sibuk merengek ingin sekolah. Segala pernik sudah sering ia kumpulkan. Tas pun siap dengan isinya setiap pagi, mengawali kesibukan saya selain mempersiapkan yang lain. Dimana egoisnya? Saya masih menahannya untuk bisa menemani saya selama dirumah. Segala cara saya kerahkan agar kareem melupakan keinginan sekolahnya untuk sementara waktu. Setiap ia mulai dengan rengekannya, saya mulai berdendang dan berlaku seolah-olah menjadi guru yang menyambanginya dirumah. Kareem kadang terkecoh, namun banyak tidaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Jihad ingin sekolah, usianya 2,10thn. Saya dan suami, dengan suka cita menyekolahkannya di sebuah Play Group Islam pada tahun 2003. Kemajuannya memang pesat. Dari seorang guru yang berpredikat ’ummi, dia telah ’mengantongi’ beberapa hal sebelum mulai masuk sekolah. Jihad sudah mengenal huruf &lt;em&gt;(latin maupun hijaiyah),&lt;/em&gt; mengenal bilangan angka, serta do’a-do’a pendek. Alhamdulillah. Lalu bagaimana dengan Kareem? Kemampuannya kurang lebih sama dengan Jihad, sedikit ’cepat’ dengan melihat contoh yang diberikan kakaknya. Usia hampir 3.5thn, dia dengan PD’nya mengetik namanya pada tuts komputer. Seorang yang mandiri, karena sejak usia 2 tahun dia telah memaksa saya melepas diapersnya, 2.5thn terbiasa buang air kecil pada tempatnya. Mandi dan berpakaian sendiri. Akan sangat tidak suka jika kita –yang sudah besar ini- mencoba membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada akhirnya egois saya tidak bisa dipertahankan, saya pun harus rela melepasnya untuk segera &lt;em&gt;(pertengahan juli)&lt;/em&gt; memasuki masa sosialisasi, dunia disiplin, dan wawasan luas, di sebuah PG Islam. Dia pun sumringah. Ketika iseng saya dan dia ngobrol, tetap saja saya bisa melihat kemandiriannya;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Ade nanti sekolah ya? Mau ditungguin sama Mi?”&lt;br /&gt;”Anter aja. Ummi pulang aja lagi, nanti kalau sudah waktunya pulang baru jemput ade ya?”&lt;br /&gt;Ups&lt;/em&gt;,...belum dewasa saja, saya sudah memikirkan &lt;em&gt;”apakah kamu masih memerlukan ummi, Nak?”&lt;/em&gt; Konyol ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat bisa merasakan, setiap anak mempunyai ciri dan ke’khas’an mereka masing-masing. Setiap anak mempunyai daya pikir dan nalar sendiri. Setiap anak berbeda. Namun kita yang dipanggil orang tua, kadang selalu terjebak pada status kita sebagai ‘orang tua’. Penempatan orang tua yang semestinya semakin bertambah umur akan berubah menjadi ‘teman’ bagi mereka. Kadang terjebak pada kasih sayang yang begitu meluap. Menjadi enggan membiarkan mereka bermain pada dunia yang akan mereka miliki, dan lupa melihat fungsi kita, menyelamatkan dunia mereka baik kini maupun nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;For sons of mine&lt;br /&gt;I do love you&lt;br /&gt;I do really want to share my colour with you&lt;br /&gt;Much colour in yours&lt;br /&gt;Colour of Love&lt;br /&gt;Love from the Creator&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6633107294283940546?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6633107294283940546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6633107294283940546&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6633107294283940546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6633107294283940546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/06/colour-of-my-sons.html' title='Colour of My Sons'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-7205607522049323201</id><published>2008-05-12T23:12:00.002+08:00</published><updated>2008-05-12T23:20:26.309+08:00</updated><title type='text'>Mereka pun Ingin Bersandar</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ketika menonton berita-berita di televisi, saya kerap merasakan haru biru didalam dada. Mereka, rakyat kecil, antri berjejer pada sebuah penjualan minyak, atau malah saling dorong pada satu kesempatan dimana mereka bisa mendapatkannya gratis. Tidak jarang, isak tangis anak balita yang ibu-ibu bawa menambah lengkap penderitaan mereka menghadapi zaman yang serba canggih dan modern namun tidak mampu memodernkan kehidupan mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ketika beberapa minggu terakhir ini, saya harus masuk ke dalam gang-gang becek, melihat deretan rumah padat nan rapat, haru biru itu bukan saya rasakan lagi, tapi, sesak dan merasa kecil serta lemah tanpa daya. Setiap ibu, bapak atau bahkan nenek-nenek yang kami ajak berdialog, selalu mempunyai topik sama. Kapan kita bisa merdeka sebenarnya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Begini nih mbak, setiap harinya kami cuma bisa ngeluh. Sepertinya juga yang &lt;em&gt;denger capek&lt;/em&gt;. Air disini &lt;em&gt;senen kemis&lt;/em&gt;, jalanan amburadul, semua jadi serba &lt;em&gt;ngga&lt;/em&gt; enak.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Yah, mbak, namanya juga orang kecil, siapa yang mau &lt;em&gt;denger&lt;/em&gt; kami. Makanya ketika ada yang datang door to door seperti ini, kami merasa terperhatikan, merasa kami masih dianggap.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Sama aja mbak! Mau diperintah oleh pemimpin mana pun, kita tetap aja seperti ini, melarat, nggak punya arti. Suara kita ya &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; pernah didengar, percuma!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Mereka putus asa… &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Kehidupan di Sengata, khususnya di daerah perumahan perusahaan tempat saya tinggal, jauh dari kemalangan-kemalangan yang demikian. Pernah, sekitar akhir 2006 hingga memasuki tahun 2007, kira-kira kurang lebih 6 bulan, pemadaman listrik terjadi terus menerus. Jatah listrik menyala full seharian dalam seminggu hanya kami dapatkan selama dua hari saja, selebihnya bergantian. Kadang listrik padam dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Esoknya, akan berubah, padam dari jam 5 sore hingga jam 10 malam. Melelahkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dulunya memang, aliran listrik ditanggung perusahaan, tapi dengan berbagai kebijakan, diambil oleh perusahaan milik negara. Tentunya dengan asumsi, pelayanan haruslah menyamai seperti yang disediakan perusahaan. Bisa dibayangkan, dengan keadaan &lt;em&gt;byar pet&lt;/em&gt; saat itu, banyak yang mengeluh, banyak yang mencaci maki dalam keadaan panas, apalagi setelah tahu, perusahaan sebenarnya telah menyumbang genset besar untuk mengatasi hal ini, apalagi yang salah? Hingga diputuskan, harus turun kejalan untuk demo. Waktu itu, demo belum berlangsung, pihak perusahaan listrik milik negara ini sudah kocar-kacir mencari cara agar demo tidak berlangsung, disusul dengan menjanjikan tidak adanya pemadaman lagi, ditambah perusahaan kembali menyediakan genset berkekuatan besar &lt;em&gt;(lagi)&lt;/em&gt; untuk menopang ini semua. Semua pun dapat bernafas lega. Semua warga di perumahan merasa lepas dari penderitaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ternyata, tidaklah berlaku bagi warga diluar komplek. Kalau hal listrik mereka sudah tidak mengeluh serta menyadari asupan dari perusahaan dapat membantu satu dari sekian kebutuhan mereka yang selama ini terabaikan, namun masalah yang dulu belum pun teratasi dan tetap melelahkan. Hal-hal vital malah semakin tidak menentu. Ditambah membengkaknya segala kebutuhan hidup, biaya sekolah semakin mencekik &lt;em&gt;(terutama dalam pengadaan buku),&lt;/em&gt; belum lagi rencana kenaikan BBM yang pastinya akan berimbas pada kebutuhan pokok lainnya. Malah ada beberapa ibu dengan lugunya mengatakan, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;“saya bisa apa mbak? Walaupun katanya PDAM udah masuk, tetap saja kami tidak pernah merasakannya. Setiap bulan kami membayar kewajiban tanpa adanya pemenuhan hak atas kami. Setitik pun air PDAM itu tidak mengalir. Malah pernah saking lamanya menunggak, tagihan air mencapai 2juta, padahal saya tetap make air sumur.”&lt;/span&gt; Masya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pedih! Namun, dibalik ini, ternyata ada yang lebih pedih. Banyak kalimat yang saya dapatkan dari orang-orang mampu berbagi, namun tetap mengabaikannya; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Kita bisa apa? Semua yang &lt;em&gt;ngatur&lt;/em&gt; kan pemerintah? Capek-capek saja berkeliling sampai masuk ke pelosok, toh mereka tidak hanya ingin didengarkan, tapi harus ada realisasinya &lt;em&gt;dong&lt;/em&gt;. Lagi pula nih, saya &lt;em&gt;ngga &lt;/em&gt;bakat deh ngomong &lt;em&gt;kayaq&lt;/em&gt; ginian, masih banyak yang harus saya urus, anak-anak saya masih harus diurus, masak, mesti &lt;em&gt;ngurus&lt;/em&gt; orang lain? Yang benar aja!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya hanya bisa menyalurkan semangat. Meyakini, apa yang kami lakukan, pasti ada hasilnya. Aspirasi mereka tidak kami diamkan, namun akan berusaha kami suarakan, bagaimana pun usahanya. Rasa lelah, keringat, kaki mau &lt;em&gt;copot&lt;/em&gt; menyusuri jalan menuju tempat mereka, rasanya tidaklah seberapa dibanding beban mereka selama ini. Didengarkan merupakan terapi buat mereka, bukankah dikala beban menghimpit, kita pun kerap ingin curhat? Rasa &lt;em&gt;plong&lt;/em&gt; akan dirasa jika kita bisa menyisihkan waktu istirahat kita sekedar duduk diberanda sederhana milik mereka. Memandang dalam mata mereka dan memberikan senyum yang tulus, merupakan hadiah indah tak ternilai bagi mereka yang merasa kecil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Yah, betapa kita masih lebih beruntung dari mereka. Masalah kita bukanlah apa-apa. Maka lebih beruntunglah yang bisa berbuat banyak, tidak sekedar menyisihkan sedikit rejeki, tapi juga rela mewakafkan sebagian waktu, tenaga, kenyamanan tidur pada waktu sore, berleha-leha diruang berAC, untuk mau berbagi sebagian waktu bersama mereka, mendengarkan serta mencoba memahami masalah mereka. Karena, mereka pun butuh tempat untuk bersandar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya dan teman-teman sangat yakin, semua akan mendapat ganti dengan yang lebih dahsyat, dengan keindahan yang luar biasa, dengan kesempurnaan tiada kata, jika kita menghadapinya dengan kesabaran. Semoga kami tetap istiqomah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-7205607522049323201?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/7205607522049323201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=7205607522049323201&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7205607522049323201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7205607522049323201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/05/mereka-pun-ingin-bersandar.html' title='Mereka pun Ingin Bersandar'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8335969218362753381</id><published>2008-04-30T08:31:00.007+08:00</published><updated>2008-04-30T08:53:16.902+08:00</updated><title type='text'>Berjilbab karena Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya lebih suka menyebutkan kerudung. Karena jika masih berada pada kata &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘jilbab’,&lt;/span&gt; sudah menyeluruh dari atas kepala hingga ujung kaki. Tapi, baiklah, karena &lt;em&gt;(lagi)&lt;/em&gt; di Indonesia lebih dikenal dengan jilbab, mari kita membahasakannya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak SMU, keinginan terbesar saya adalah memakai jilbab. Namun, semakin besar, semakin banyak pula alasan yang tercipta dari ketidak mampuan diri membendung nafsu lahiriah. Walaupun pribadi saya yang bukan pesolek, tidak suka &lt;em&gt;shopping&lt;/em&gt;, tidak pernah rutin berganti model dan &lt;em&gt;merk&lt;/em&gt; pakaian, &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt;, tetap saja &lt;em&gt;seabreg&lt;/em&gt; pengalihan pendapat menggunung. Seperti, apakah saya harus mengenakan jilbab ketika lari ditengah pertandingan softball, dengan pakaian –yang tahu sendiri- kebangsaan olahraga itu mengharuskan &lt;em&gt;press&lt;/em&gt; pada bagian pinggul ke bawah. Atau, haruskah saya jingkrak-jingkrak menggiring bola basket, lalu meliuk-liukkan badan menghindari lawan? &lt;em&gt;Duh&lt;/em&gt;, nggak mutu &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt; kalau diingat stok alasan saya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, kobaran keinginan untuk segera mengenakan tidak padam. Penyalurannya, saya kerap ada pada berbagai hari besar islam dengan segala pernik muslimah. Buku-buku yang saya baca pun tidak pernah lepas dari hal-hal yang berkaitan islam. Saya pikir kala itu, cukuplah saya menjejali diri dengan menghadirkan ruh untuk segera menggapai hidayah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada saat saya bisa dengan leluasa berkeliaran di hutan kalimantan. Hidup dengan rute yang itu-itu saja. Hanya asrama, kantor, tempat makan, kantor lalu asrama lagi. Tidak ada &lt;em&gt;stick, gluf&lt;/em&gt;, atau pun pertandingan-pertandingan yang selalu saya ikuti bersama tim. Tidak ada sibuk mempersiapkan dengan latihan setiap hari, tidak ada kesibukkan dimana harus memacu adrenalin untuk bisa tetap PD ditengah lapangan. Justru…adrenalin saya terpacu pada hal lain. Saya harus segera mewujudkan untuk segera berjilbab. Kapan lagi?!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan saya punya andil besar dalam mendukung saya untuk segera mengenakannya. Teman-teman se&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;’gank’ &lt;/span&gt;pun telah duluan ambil &lt;em&gt;start &lt;/em&gt;berjilbab dibanding saya. Walaupun kami sama-sama tidak lepas dari kegiatan IRMA &lt;em&gt;(Ikatan Remaja Masjid),&lt;/em&gt; namun justru saya yang –ngakunya- anak ibu, masih saja takut akan ketidak-nyamanan akan pendapat orang tua kelak jika mereka melihat perubahan saya. Apa kata dunia?!? Wah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat, teman sekamar saya, waktu itu minta tolong untuk membelikan beberapa jilbab melalui ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“Teh, tolong titip ibu ya buat beliin jilbab. Warnanya ini, ini dan itu.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Saya pun segera mengontak ibu agar membelikan pesanan teman saya itu. Kalimat ibu pun tidak saya duga,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“Kamu mau pake jilbab, Rien? Udah siap belum?? Kalau belum siap, ntar aja, takutnya udah pake, ehh dilepas.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Saya tidak mengiyakan ataupun menyanggah. Cukuplah si pemilik hati tahu bagaimana hati saya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, dengan berbekal satu buah jilbab &lt;em&gt;(nodong beli dari teman sekamar saya),&lt;/em&gt; bismillah saya kenakan. Lucu jika ingat kejadian itu. Pagi-pagi sekali, saya ngantor seperti biasa dengan memakai lengan panjang dan celana panjang, lengkap kaus kaki dan ransel. Sedari pagi hingga menjelang makan siang, saya gelisah dan bingung untuk menahan perasaan. Salah seorang teman, yang kerap menasihati, menegur seolah tahu kegundahan saya. Ketika saya jelaskan duduk persoalannya, dia mantap menyemangati, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“Rien, doaku selalu mengiringimu!”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Selesai makan siang, saya kembali ke kantor dengan telah memakai jilbab, seraya diiringi tatapan heran dari teman-teman kantor saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam metamorfosa berjilbab, mungkin saya tidak terlalu neko-neko &lt;em&gt;(baca: saya memang kuno dalam mode).&lt;/em&gt; Jilbab saya dari dulu haruslah menutup dada. Kalaupun masih bercelana panjang &lt;em&gt;ria&lt;/em&gt; ke kantor, lebih karena medan kantor saya yang berada di area pabrik mengharuskan demikian. Setelah kembali beraktifitas di asrama atau pun di mesjid, saya pun dengan bebas mamakai gamis/abaya, lengkap jilbab panjang. Dan alhamdulillah, itu berlangsung hingga sekarang. Pernah iseng saya kenakan dengan gaya &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘ngatung’&lt;/span&gt;, dan … &lt;em&gt;ups!&lt;/em&gt; saya diprotes orang-orang disekitar saya, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“Gaul amat Rien! Nggak syar’e banget ah!’.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Saya tersipu. Ini namanya menghindari atau mengabaikan nurani sendiri, karena pada saat itu pun hati saya protes, rasanya saya terlalu &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘gaul’&lt;/span&gt; dan &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; mencirikan bagaimana berjilbab sebenarnya. Namanya juga proses. Semua akan berjalan sunatullah. Tergantung kita sebagai manusia pandai-pandai untuk memilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang, ketika berkumpul bersama binaan saya, mereka bertanya, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;“Mbak, kalau pengen make jilbab lalu gimana kalau gini, kalau gitu?”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Yah, manusia kan paling pandai memberikan alasan. Tidak terkecuali saya. Tapi justru karena alasan itulah kita semakin tidak berarti, semakin tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Kapanpun ingin dimulai, mulailah hanya ingin mengharap cinta-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt;, bukan karena &lt;em&gt;trend&lt;/em&gt;, mode atau apapun itu. Saya yakin, ketika kita memulai segala sesuatu hanya berdasarkan karena &lt;span style="color:#009900;"&gt;Sang Pemilik Kehidupan&lt;/span&gt;, apapun yang dimiliki-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt; akan menghapus segala kendala pada diri kita. &lt;em&gt;Toh&lt;/em&gt;, dengan berjilbab kita tetap bisa melakukan banyak hal, bahkan lebih banyak hal lagi, yang bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya sekali lagi, kenapa saya berjilbab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya manusia biasa, seorang hamba yang ingin mentaati serta menjalankan segala perintah dari &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Sang Pemilik Kehidupan&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; Dan, karena cinta saya, saya ingin selalu melakukan apa yang diperintahkan-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt;. Karena, cinta saya, hanya &lt;em&gt;DIA&lt;/em&gt; yang menggenggamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;ps: &lt;a href="http://ninamulhadi.wordpress.com/"&gt;ukhti,&lt;/a&gt; syukron jazakillah dikasi tag, semoga manfaat. Uhibbuki fillah.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8335969218362753381?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8335969218362753381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8335969218362753381&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8335969218362753381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8335969218362753381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/04/berjilbab-karena-cinta.html' title='Berjilbab karena Cinta'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1392010038990298608</id><published>2008-04-17T09:38:00.004+08:00</published><updated>2008-04-17T09:58:11.257+08:00</updated><title type='text'>Mereka pergi, saya pun rindu...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Umurnya lewat dari angka 60 tahun. Dengan wajah yang mempunyai garis keras, beliau disegani diantara saudara-saudaranya. Dan juga dengan senyumnya, saudara-saudaranya pun menyayanginya. Terlebih, pada anak-anaknya yang berjumlah 7 orang, lelaki yang dipanggil &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘Abah’&lt;/span&gt; ini sangat disiplin. Segala tindak tanduk mereka tak lepas dari perhatiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Hidup dengan seorang ibu, abah mulai belajar berdagang. Dari usaha kecil, hingga mampu mempunyai toko besar disalah satu pedalaman kalimantan, sebagian hasil dari tekunnya abah. Sosoknya kerap dianggap angker oleh sebagian masyarakat didaerahnya. Yah, mungkin tempaan beban hidup sejak kecil membuatnya kesulitan bersikap ramah, walaupun dari pribadinya, sifat itu memang ada. Kalimat yang keluar biasanya hanya sepotong atau dua potong kata kerap jadi alasan para pelanggan tokonya menyingkir, begitu melihat beliau di depan toko. Namun, justru, tokonya tidak pernah sepi pengunjung. Ada saja orang yang berbelanja, dari barang kecil hingga besar. Selain murah, istrinya adalah penyeimbang sosok Abah. Murah senyum dan selalu berbicara lembut serta ramah pada siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abah, sosok yang selalu di’&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;tua’&lt;/span&gt;kan diantara saudara-saudaranya. Nasehat beliau selalu bisa menjadi rujukan bagi setiap masalah. Selain itu abah punya pengetahuan islam yang baik. Mengerti al qur’an, serta banyak ilmu &lt;em&gt;fiqih&lt;/em&gt; menjadi tabungan ilmu yang suka abah hibahkan bagi siapa yang mau belajar.&lt;br /&gt;Dibalik sosok abah, ada seorang ibu yang mengayomi beliau, sejak bapaknya abah memilih menikah lagi. Yah, abah anak tunggal, dan saudara-saudaranya adalah saudara satu bapak, saudara tiri. Menakjubkan, abah tumbuh dan besar satu kampung dengan bapak yang meninggalkan ibunya, tapi tidak ada secuil pun dendam dihati abah serta ibunya. Abah tetap menyambangi bapak dan keluarga barunya. Apalagi, bapaknya abah pun orang yang sarat ilmu agama. Saya yakin, abah menjadi pribadi berilmu, keras namun lembut hati merupakan warisan dari sifat bapak abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bapak abah meninggal, abah tak sedikit pun lengah dalam mengurusi jenasahnya. Dari memandikan hingga menguburkan, abahlah orang pertama yang sigap. Cinta abah tak pernah berkurang pada sosok yang telah memberinya cinta dan ilmu. Kejadian serupa pun terjadi ketika ibu abah serta ibu tiri abah meninggal, abah tetap berlaku sama. Abah pontang-panting mempersiapkan segala sesuatunya. Dari perjalanan dari samarinda ke tanah hulu, abah iringi hingga ke liang kubur. Tidak ada bedanya, apakah ibu kandung atau ibu tiri, abah tetap berbakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika usaha abah habis dimakan kobaran api, abah sempat terpukul. Abah merasa, apa yang ia lakukan sia-sia. Abah merasa telah melakukan salah besar. Abah merasa tidak ada gunanya lagi. Memang, abah sempat down, namun semakin beliau menjauh, semakin mendekatlah istri serta anak-anaknya. Abah tidak dibiarkan terlalu lama bermuram durja. Mereka tetap merangkul abah, memberi semangat, bahwa abah masih punya mereka dan Allah lah pemilik semua kepunyaan abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu abah jadi sosok yang lebih lunak. Senyumnya terus tersungging. Abah lebih &lt;em&gt;tawadhu&lt;/em&gt;. Abah lebih pasti menatap hari. Pelan-pelan dibangunnya lagi kehidupannya. Pelan-pelan dibangunnya lagi rumahnya yang dulunya rata dengan tanah. Abah mulai menata hidupnya menjadi lebih baik. Orang-orang disekitarnya –yang dulu menganggap abah sinis- semakin percaya, abah memang berhati lembut, juga tidak pendendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, 6 bulan yang lalu, saya melihat abah tersenyum demikian terkembang, menyaksikan pernikahan anaknya yang ke 5. Seperti biasa, abah pun tetap tidak mau tinggal diam. Selalu sigap dalam setiap kesempatan. Pada saat itu, beliau banyak tersenyum dan mengajak suami saya berbincang. Memang, sejak kami menikah, abah sangat gembira ketika bertemu kami. Selain tempat tinggal kami yang jauh, karena abah juga sangat menyayangi suami saya, dengan selalu mengajaknya berbincang. Walau saya tidak tahu pasti apa suami saya mengerti dengan bahasa kutai abah yang kental. Namun, pandangan abah yang saya lihat adalah pandangan sayang pada kami. Terlebih pada anak-anak saya, abah selalu mencoba merangkul dan menaruh mereka pada pangkuannya. Sambil mengajak berbicara, sesekali abah tertawa akan tingkah laku cucu-cucunya. Abah yang selalu tersenyum dan meminta anak sulung saya untuk mengaji di depannya, lalu dia akan mengucapkan, &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;‘Subhanallah! Cucu kai haji pinter!’.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bapak abah meninggal, saya sosok yang terpukul. Bapaknya abah, yang saya panggil dengan &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘kai bongkok’&lt;/span&gt;, selalu punya waktu untuk berdiskusi tentang islam dengan saya. Dan setiap kali kami berpisah, kai bongkok selalu menatap saya, dan berkata, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;’Neng, jangan tinggalkan sholat!’.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Hingga tak jarang cucu-cucunya yang lain mengatakan, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;‘Riny itu kesayangan kai!’,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; karena memang beliau banyak mengajarkan banyak hal pada saya. Memberikan banyak pelajaran hidup, dan bisa memaklumi, dengan permintaan beliau untuk tidak memberi kabar pada saya ketika beliau sakit, dikabulkan oleh anak-anaknya, mengingat saya jauh di dalam hutan, juga tidak ingin saya melepasnya dengan kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kai bongkok meninggal setelah sholat jumat dilaksanakan. Rampung menyelesaikannya, beliau mengatakan akan pergi. Begitu pun dengan abah. Jumat pagi hari setelah datang dari bepergian, abah diminta membimbing seseorang dikampungnya yang sakratul maut &lt;em&gt;(mentalqinkan),&lt;/em&gt; kemudian beliau menunaikan jumat siang itu, istirahat sejenak sebelum membersihkan kebun belakang. Menjelang senja abah naik ke rumah, berkata kelelahan, dan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tahun kai bongkok pergi, saya masih suka menangis pelan dalam diam. Sekarang, seminggu setelah abah pergi, mata saya kerap berkabut. Hati saya kehilangan. Kai bongkok adalah bapak abah, juga bapak papap saya, sedangkan abah tidak lain adalah uwa' saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangis dalam diam, bukan tidak menerima kenyataan. Saya hanya rindu pada sosok mereka yang banyak memberikan ilmu. Saya takjub, dengan cara &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;Sang Pemilik&lt;/span&gt; memanggil mereka. Dalam keadaan telah menyelesaikan urusan umat, dalam keadaan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangis dalam diam, karena rindu dan ingin pertemuan indah seperti mereka, dapat menjelang di akhir perjalanan saya nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;O My Lord, you have my soul in your hand.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya menangis dalam diam…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1392010038990298608?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1392010038990298608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1392010038990298608&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1392010038990298608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1392010038990298608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/04/mereka-pergi-saya-pun-rindu.html' title='Mereka pergi, saya pun rindu...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8618549652998050176</id><published>2008-04-07T08:50:00.004+08:00</published><updated>2008-04-07T09:05:05.527+08:00</updated><title type='text'>Ulang Tahun: Bertambah atau Berkurang?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;P&lt;/span&gt;ernah dilempar telur, tepung terigu dan juga air? Malahan airnya bukan air biasa, melainkan air comberan atau selokan? Atau jika tidak pernah merasakannya, apakah kamu pernah melihat kejadian itu? Saya pernah melihatnya. Siang hari, di dekat pasar, ditengah orang banyak, seorang gadis mengenakan seragam biru putih tak berdaya ‘dianiaya’ oleh teman-temannya –yang juga mengenakan seragam yang sama. Tapi, sebentar…sepertinya gadis itu malah menyeringai atau lebih tepatnya tersenyum bangga. Beberapa orang temannya yang lain -yang kebetulan lewat, namun tidak ikut melemparinya, berhenti, tertawa, kemudian meneriakkan; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;‘Ulang tahun ni yeee, selamat ya!”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Oh ternyata, hari itu merupakan hari ulang tahunnya, dan acara membubuhi beberapa jenis bahan untuk membuat kue itu pun menjadi kesan yang mungkin tak terlupakan baginya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ffff66;"&gt;Ul&lt;/span&gt;ang tahun bagi kebanyakan manusia adalah kesempatan untuk mendapatkan ucapan selamat, kado, tak urung juga simpati. Pada saat itu, perasaan senang akan bertambahnya umur biasanya akan di wujudkan dengan cara mentraktir teman terdekat (walau dengan cara sedikit memaksa orang tua untuk menyiapkan dananya), membuat syukuran kecil-kecilan, bahkan sampai menyelenggarakan pesta yang mewah. Potret sebagai manusia yang sukses pun menjadi tolok ukur besar atau tidaknya orang-orang yang diundang. Pada cara berpakaian mereka, hingga semakin kecilnya kado yang mereka persembahkan. Dilain pihak, kita pun tidak menutup mata, ketika masih ada segelintir orang menyambut ulang tahunnya dengan biasa saja. Melewati hari tanpa ada yang spesial. Mungkin pikir mereka, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;‘dirayakan atau tidak, toh, tanggal kelahiranku ini akan berlalu.’&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;S&lt;/span&gt;eperti apa sebenarnya hakikat ulang tahun tersebut? Jelas, setiap tahun berganti, maka tanggal dimana kita dilahirkan akan kita lewati juga. Otomatis usia kita beranjak satu langkah dari sebelumnya. Banyak harapan ketika hal itu terjadi, banyak doa yang teruntai demi mengiringi hari-hari yang bukannya bertambah ringan bagi manusia. Seperti halnya seorang anak bayi, ketika umurnya semakin bertambah, semakin meningkat pula kepandaian dan pengetahuannya dalam bergerak serta berpikir. Dari hanya bergulingan, akhirnya merangkak, berjalan dan berlari. Demikianlah hakikat sebenarnya. Semakin bertambah dalam hitungan angka, semakin bertambah pula kepandaian kita dalam menyikapi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;P&lt;/span&gt;ada kenyataannya, justru hal ini dianggap omong-omong saja. Hanya sebagai pengantar doa sebelum perayaan dimulai. Hanya kalimat-kalimat sakral, perlu di’amin’in lalu menguap bersama gelak tawa dalam pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#ff6666;"&gt;M&lt;/span&gt;ari kita lihat, setelah sehari, seminggu, sebulan, bahkan hampir setahun lagi melewati momen ulang tahun itu, apakah kita telah berbeda, menjadi lebih baik dari tahun kemaren? Apakah ada sesuatu yang berharga dan bermanfaat daripada melempar sebuah telur, sekantung terigu atau pesta? Sayangnya, perihal seperti inilah kerap kita lalaikan. Kerap kita anggap sepele. Sepertinya cocok saja kita selalu berada pada barisan paling depan sekelompok orang-orang yang merugi jika hanya ikut-ikutan merayakan, tanpa mau menilik lagi kebelakang, menjadikan bahan untuk selalu bisa mawas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;U&lt;/span&gt;lang tahun akan selalu berulang, itu sudah pasti! Angka pada deretan usia akan selalu bertambah satu, itu pun sudah jelas pasti. Langkah selanjutnya justru kita harus bisa memastikan bahwa kita tidak akan mau kalah dengan prilaku balita yang akan bertambah ‘bisa’ seiring bertambahnya usia. Tak perlu ada pesta, atau perayaan yang menghabiskan dana besar jika hanya sekedar membingkainya dalam kenangan, bukan? Merenung, bahwa hidup kita semakin dikurangin jatah untuk bernafas, menelaah segala perbuatan, bertekad tidak mengulangi yang tidak senonoh, memperbaiki kualitas hidup, itulah sebagian yang harus kita jalani. Siapa yang mampu menduga, ulang tahunmu kali ini, merupakan ulang tahun yang terakhir kalinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;B&lt;/span&gt;ukan hal aneh, jika usia itu tetap hanyalah angka, namun secara pasti belum bisa dijadikan sebuah acuan dewasa atau bermartabatkah kita. Masih banyak orang-orang yang berumur ‘banyak’, tapi bermental baik dengan ukuran ‘sedikit’. Menyedihkan bukan? Padahal ulang tahun selalu berulang, ia menyapa kita untuk bisa kita sikapi lebih seimbang. Ulang tahun selalu dinanti, tapi bukan sebagai kaca pembesar untuk melihat berapa banyak kesalahan maupun kebaikan yang telah kita lakukan. Ulang tahun sebenarnya penanda, pengingat, bahwa jalan yang kita tempuh semakin mendekati titk akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;color:#ff0000;"&gt;S&lt;/span&gt;aya, kamu, kita, setiap makhluk yang bernyawa akan berulang kali melewati ulang tahun, setiap tahun hingga akhir hayat. Bertambah usia apakah berarti bertambah matang, bertambah kebaikan atau malah berkurang? Dan mampukah kita melewatinya dengan baik? Itu yang sepatutnya harus kita usahakan. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dimuat di bulletin FLP, edisi April 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dipersembahkan untuk siapa saja, insan yang berulang tahun di bulan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selamat Milad utk FLP Sengata, juga met milad untuk beberapa pengurusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan cinta, mari bersama, bergegas mengukir peradaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8618549652998050176?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8618549652998050176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8618549652998050176&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8618549652998050176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8618549652998050176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/04/ulang-tahun-bertambah-atau-berkurang.html' title='Ulang Tahun: Bertambah atau Berkurang?'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3600330064206544025</id><published>2008-03-27T13:48:00.006+08:00</published><updated>2008-03-27T15:21:15.507+08:00</updated><title type='text'>Menulis di Bontang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;J&lt;/span&gt;alanan antara Sengata dan Bontang yang mengocok perut, bikin kepala &lt;em&gt;puyeng&lt;/em&gt;, rasa mau muntah, harus saya kalahkan demi permintaan ketua FLP Wilayah Kalimantan Timur, &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Muthi Masfu'ah&lt;/span&gt;, untuk bisa hadir memberikan sedikit &lt;em&gt;stimulasi&lt;/em&gt; dalam hal penulisan cerpen, hari sabtu, 22 Maret 2008. Pesertanya pun bukan anak ABG –yang biasa saya hadapi-, melainkan ibu-ibu dharma wanita PKT &lt;em&gt;(Pupuk Kalimantan Timur)&lt;/em&gt;, yang umurnya kebanyakan usianya seusia ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;J&lt;/span&gt;adilah, usai menyelesaikan beberapa tugas di SMP 1 Sengata Utara, saya, Ika &lt;em&gt;(she’s my special person in kaderisasi, heheh)&lt;/em&gt; bertolak ke Bontang, bersama temannya Mas Indro, yang juga -suami istri- tetangga kami yang baik hati. &lt;em&gt;Loh&lt;/em&gt;, kok bukan pergi sama Mas Indro? Yah, karena kebetulan, kami telah sepakat berbagi tugas, beliau menemani anak-anak pergi bersama komite sekolah dalam rangka kunjungan ke BPPUTK, sedang saya memenuhi amanah ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;S&lt;/span&gt;o&lt;/em&gt;, hujan rintik terus menderas mengawali perjalanan kami. Melirik jam, hm...jam 11.00 siang, kira-kira sejam setengah lagi kami akan tiba di Bontang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;P&lt;/span&gt;ukul 13.00, Setelah dhuhur di mesjid Baiturrahman milik PKT yang megah, kami menuju TKP &lt;em&gt;(Tempat Kejadian Pelatihan),&lt;/em&gt; disambut beberapa pengurus FLP Bontang minus mbak Muthi &lt;em&gt;(dia datang beberapa saat menjelang training dari kami dimulai)&lt;/em&gt;, dengan hidangan makan siang bersama. Selanjutnya saya langsung men’&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;setup’ &lt;/span&gt;laptop untuk bisa dihubungkan dengan LCD Proyektor. Sedikit masalah bisa teratasi, saya dan ika pun mulai &lt;em&gt;brain storming&lt;/em&gt; tentang konsep, sebelum memulai pelatihannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;M&lt;/span&gt;aka dimulailah pelatihan itu dengan semangat dari ibu-ibu yang mengikuti &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘pemanasan’&lt;/span&gt; dari tim FLP Bontang dengan sedikit yel-yel, yang mampu membuat mereka tergelak. Tiba prolog yang saya pandu &lt;em&gt;(ini sekitar jam 13.45 WITA),&lt;/em&gt; ibu-ibu makin semangat, bisa terlihat dari wajah mereka, walau dari pagi sudah ada ditempat untuk mengikuti training motivasi dan pelatihan singkat bagaimana menulis artikel/feature, mereka tetap memberikan respon positif. Beberapa pancingan berupa &lt;em&gt;game&lt;/em&gt; singkat sebelum memulai menulis cerpen, bisa sedikit menguak kesulitan mereka untuk bisa memulai cerita. Kesulitan itulah yang kemudian dipandu Ika pada sesi kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc66;"&gt;A&lt;/span&gt;da hal unik dan mengharukan ketika kami memandu untuk menulis &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘kesan pada sesuatu’&lt;/span&gt; dan pengalaman yang menyedihkan. Ada satu orang ibu, belum memulai menulis tentang sedihnya sesuatu yang pernah dialaminya, beliau sudah sesegukan. Ketika ditanya, tambah sesegukan. Begitu sedihnya ia, sampai-sampai kami terus menyemangatinya, memintanya tetap menulis, agar kesedihannya tertuangkan melalui cerita. &lt;em&gt;"Menulis yuk, bu!"&lt;/em&gt; Ia pun kemudian menulis walau tetap ber &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;’sut-sut’&lt;/span&gt; dengan hidungnya yang mulai &lt;em&gt;mampet&lt;/em&gt;. Kemudian, masih ada babak sedih selanjutnya, yaitu…ia tetap menangis, ketika kami memintanya membacakan cerita sedihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;B&lt;/span&gt;erhenti sampai disitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffffcc;"&gt;T&lt;/span&gt;ernyata tambah unik dan mengharu biru. Ketika mbak Muthi meminta para peserta membacakan artikel/feature yang telah terkumpul sejak pagi, seorang ibu bersedia membacakan. Baru mulai dengan kalimat pertama, suaranya sudah tersendat, kemudian semakin pilu. Dia menceritakan sebuah puisi yang ditulis oleh anaknya. Saya lupa isinya, kurang lebih, si anak ingin ibunya selalu bisa mendampinginya, dan memohon pada Allah untuk tidak cepat-cepat mengambil ibunya, karena ia sangat sayang padanya. Suasana begitu hening, diantara seguk sedan dari para peserta, juga panitia. Saya berusaha menahan tangis, sambil tetap mengulum senyum dibalik buku tebal non fiksi yang dibawa dari Sengata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc66;"&gt;R&lt;/span&gt;ata-rata mereka merasa dengan menulis, segala perasaan bisa tertumpah ruah. Tidak perlu dipendam ataupun menjadi bahan gosipan di antara mereka. Justru, dengan menjadikan segala hal yang kita pikirkan menjadi sebuah tulisan, tanpa sengaja kita telah menemukan obat bagi kebaikan kita sendiri. Dimana, duka nestapa, gembira ria, bisa disalurkan pada hal yang positif, membiarkan orang lain bisa memetik hikmah dibalik cerita, bukankah itu sudah perbuatan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;T&lt;/span&gt;idak ada kesulitan sebenarnya ketika kita ingin memulainya. Cukup, dengan banyak menyikapi sekeliling kita dengan lebih arif, rasanya ide untuk menulis bisa mengalir tanpa tersendat. Pun tidak perlu mengerutkan kening berusaha mencari &lt;em&gt;‘kalimat mana harus diletakkan pada awal paragrap?’&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;just do it! Just being your self.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc00;"&gt;W&lt;/span&gt;aktu menunjukkan pukul 16.30 sore, saat akan berpamitan, saya pun ditanya seorang ibu. Beliau merupakan perintis FLP Bontang, yang memprakarsai pelatihan ini juga. Dengan senyum terkembang, sambil menggenggam tangan saya, ia berkata;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;“Mbak nginep dimana?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“O, enggak bu, saya langsung kembali ke Sengata. Masih banyak tugas buat besok.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Walahhh… ta pikir mau nginep, kan cape?! Saya salut loh! Dari Sengata, langsung bisa cuap-cuap ngasi training depan orang banyak. Kalau saya? wahaha…udah mabok nggak karu-karuan, wong jalanannya nggak ngenakin perut kan?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;S&lt;/span&gt;aya &lt;em&gt;(masih)&lt;/em&gt; tersenyum. Senyum getir mengingat perjalanan kembali ke Sengata adalah sebuah perjuangan untuk tidak muntah. &lt;em&gt;Andai dia tahu&lt;/em&gt; &lt;em&gt;(berdendang dalam hati, pakai iramanya 'Andai dia Tahu'nya Kahitna)...*smile*&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;S&lt;/span&gt;ee you, we'll be back, another time!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3600330064206544025?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3600330064206544025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3600330064206544025&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3600330064206544025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3600330064206544025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/03/menulis-di-bontang.html' title='Menulis di Bontang'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6156907690376227749</id><published>2008-03-18T08:08:00.005+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:09.769+08:00</updated><title type='text'>Behind The Story</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color:#ffff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#ffff99;"&gt;A&lt;/span&gt;da sedikit cerita pada saat merampungkan tulisan saya yang dimuat pada kumpulan kisah nyata ‘Jangan Jadi Perempuan Cengeng’. Satu bulan, ide saya yang telah cair dan selesai menjadi satu jalinan cerita, ternyata harus dibantai lagi. Alasanya, karena naskah itu masih kental dengan nuansa non fiksi, maka jadilah pihak penerbit meminta saya guna memoles sedikit, agar menjadi kisah sejati. Waktu itu saya sempat bingung, bukan mengenai cara dan bagaimana memadu cerita yang sudah rapi, tapi lebih tentang menata hati milik saya. Karena pada saat itu, isi otak seperti membludak usai Muscab FLP Sengata, yang mendaulat saya untuk mengemban tugas pada tampuk pimpinan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;(stop! jadi curhat deh)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;S&lt;/span&gt;ingkat cerita, kisah yang telah ditulis untuk penerbit, saya tarik lagi, dan saya diberi kelonggaran waktu selama seminggu untuk memperbaiki, kemudian mengirim ulang. &lt;em&gt;Argghhhh&lt;/em&gt;…memolesnya dalam satu minggu, mungkin bisa. Tapi paniknya, ide saya yang lain malah bergelayut lagi, berpikir merombak semua kisah, dan mengganti subjek berikut isi naskahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;L&lt;/span&gt;alu siapa? Cerita yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;M&lt;/span&gt;enjadikan saya terkesan ‘menderita’ dan berusaha tidak cengeng akhir muscab, &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; asyik &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt;! Menelisik bahan hasil ‘keberanian’ teman-teman curhat pada saya, yang mana? Nah &lt;em&gt;lho&lt;/em&gt;! Memang segitu banyaknya ya? Sampai-sampai bingung cerita mana yang akan diambil? Hm, bukan! Saya hanya tidak ingin sembarang menaruh curhat mereka, tapi lebih fokus pada tujuan untuk mengurai kisah, agar kita jangan selalu merasa menjadi makhluk paling menderita sedunia. Caranya, dengan membaca paparan dongeng ketegaran perempuan lain selain kita. Memang, ada beberapa yang mau dengan suka rela menyemangati saya untuk menjadikan kisah mereka dibingkai dalam satu cerita, tapi ada saja kendalanya. Salah satunya, saya menemukan kesulitan untuk menghubungi ‘pemeran’ kisahnya. Alhasil, saya pun kembali berusaha mencoba mengutak-atik cerita sebelumnya, dengan harapan, hasil polesannya akan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;L&lt;/span&gt;agi-lagi, saya tetaplah saya, &lt;em&gt;ngotot &lt;/em&gt;untuk menggolkan ide, walau jelas waktu &lt;em&gt;mepet banget&lt;/em&gt;. Saya yakin, kalau niat yang tulus, pastilah tidak sulit untuk mencari nara sumber yang pas, untuk menggali hikmah dibalik ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;L&lt;/span&gt;alu, datanglah ‘dia’. Seorang wanita muda, kerap tanpa sungkan mau &lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R98WHEr6jVI/AAAAAAAAAPY/7Kd2o48VCEw/s1600-h/jjpc2.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178882407272189266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 146px; CURSOR: hand; HEIGHT: 123px" height="223" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R98WHEr6jVI/AAAAAAAAAPY/7Kd2o48VCEw/s320/jjpc2.jpg" width="214" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;menegur dan mengajak saya berbicara. Ia bercerita banyak hal tentang dunianya dan dunia orang-orang disekitarnya. Sampai kemudian dengan rela, ia memberikan saya inspirasi menulis salah satu dari sekian ceritanya. Dia bahkan sangat membantu, mudah untuk dihubungi, baik melalui sms, atau hanya dengan email saja. Dari sisi penulisan pun, saya sempat terbawa dalam alur ceritanya. Emosi dan penjiwaan saya tuangkan dalam bait-bait cerita miliknya. Dan jadilah, polesan yang memang diinginkan penerbit, kisah nyata yang diceritakan dengan tipe kisah sejati, dengan judul, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;'Walau Kemilaunya Semakin Pudar'&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;T&lt;/span&gt;erus terang, pada awalnya saya pun tidak menyangka ide saya untuk punya kisah lain jatuh padanya. Sosoknya yang baru mengenal saya, justru punya daya tarik tersendiri. Dari seorang yang periang, ternyata menyimpan duka yang dalam. Niat saya untuk tidak hanya sebagai &lt;em&gt;sparing&lt;/em&gt; curhatnya pun jelas saya lakoni. Banyak usul dan masukan yang akhirnya bisa membawa sedikit manis pada kehidupannya sekarang. Hingga setahu saya dia sekarang bisa menghilangkan luka boroknya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;L&lt;/span&gt;epas itu semua, apa saya tidak masuk dalam kategori tema ‘Jangan Jadi Perempuan Cengeng’ hingga harus menaruh ceritanya untuk dijadikan bahan rujukan bagi wanita lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff66;"&gt;S&lt;/span&gt;aya merasa -memang- belum pantas untuk dijadikan cerita di buku itu. Saya masih tergolong wanita biasa dengan kehidupan biasa. Bahkan bisa dibilang, kehidupan saya terlalu mudah dibanding wanita itu. Saya menjalani hari-hari biasa dengan rutinitas biasa. Jika sibuk -menjelajah sampai ke pelosok-, itu karena saya sudah memproklamirkan diri untuk menyibukkan diri semasa masih diberi waktu untuk itu. Jika sedih, itu karena memang gen saya adalah tanda lingkaran dengan tanda plus. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Yah, that’s me, just an ordinary woman with simple life.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9966;"&gt;B&lt;/span&gt;anyak hal yang bisa didapat dari kumpulan kisah nyata pada buku itu. Kita –khususnya saya- tidak perlu mendongak ke atas untuk melihat kemilau permata yang tidak dimiliki, yang bisa saja menitikkan noktah bernama iri bersemayam. Pun tidak perlu menunduk lesu, memberi kesan selalu minder dan terasingkan. Sebaliknya, kita semestinya harus lebih sering memasang senyum bahagia, bisa memberikan arti walau kecil pada sedikit cerita yang menghampiri. Lebih harus mampu berbagi, walau terkadang ada rasa tidak adil melihat mereka yang tertimpa perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan jadi perempuan cengeng, walau kemilaunya semakin pudar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Karena kebahagiaan memang harus kita ciptakan. Jika kita membiarkan hidup kita senantiasa diwarnai tragedi, maka selamanya air mata akan membasahi pipi. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Dan kita kehilangan sebuah kesempatan besar. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Mengecap warna-warni indahnya dunia ini...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;(Jangan Jadi Perempuan Cengeng, 2008)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6156907690376227749?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6156907690376227749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6156907690376227749&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6156907690376227749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6156907690376227749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/03/behind-story.html' title='Behind The Story'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R98WHEr6jVI/AAAAAAAAAPY/7Kd2o48VCEw/s72-c/jjpc2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-4791556875578918136</id><published>2008-02-27T21:59:00.000+08:00</published><updated>2008-02-28T08:23:33.855+08:00</updated><title type='text'>Ketakutan akan Tua</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya tidak mau tua!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Benarkah? Kesannya egois sekali. Padahal tua akan dilewati dengan pasti oleh setiap makhluk bernyawa. Lalu kenapa tidak mau tua? Jelas-jelas ketuaan adalah hal yang pastinya tidak akan kita dapat tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, banyak yang mengatakan, mereka &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(kaum perempuan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; takut akan ketuaan mendera nantinya. Ketuaan seperti momok mengerikan, hingga diciptakanlah berbagai macam produk, guna menyamarkan kerutan-kerutan wajah. Dari produk pemutih hingga penghilang flek. Dari produk menghaluskan kulit hingga mengencangkannya. Dari harga sekian hingga harga dua kian. Urusan wanita ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau tua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin perkataan seperti ini kemudian memacu beberapa pemikiran orang-orang dibalik penciptaan inovasi berbagai macam produk kecantikan. Dengan embel-embel wanita adalah keindahan tiada tara, maka patut diberi pelindung agar keindahan itu tetap terjaga dengan sempurna. Dengan embel-embel seperti itu maka lahirlah kata-kata &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘seni’&lt;/span&gt; jika saja wanita mau saja dieksploitasi dengan hanya selembar benang pada dirinya. Seni darimana? Naudzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau tua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah bisa tidak tua, jika enggan dan tidak terbiasa menyentuh produk-produk yang telah dipersiapkan sedemikian rupa. Apakah bisa tidak keriput, kalau bedak pun masih bedak &lt;em&gt;baby&lt;/em&gt;? Apakah bisa tetap mempesona, jika lipstick hanya sebagai pajangan –yang entah kemana sekarang- saja? &lt;em&gt;Ummm…&lt;/em&gt;mari saya berpikir sebentar. Oya ya…pernah tahu cerita saya kan? Yang akhirnya untuk pertama kalinya membawa saya pada &lt;a href="http://muhshodiq.wordpress.c0m/2007/04/02/inilah-indonesian-spiritual-tpo-posts-1"&gt;Top Post Indonesian Spiritual Blog&lt;/a&gt;? &lt;em&gt;*jadi malu-malu meong*…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tuh &lt;/em&gt;kan saya &lt;em&gt;nggak &lt;/em&gt;pernah berubah. Kalau pada akhirnya ada postingan ini, itu karena saya mengalami lagi kejadian memalukan, ketika sedang berbicara dihadapan siswi-siswi SMP. Waktu itu tanpa dinyana-nyana mereka menanyakan umur saya, ketika menemukan kalimat spontan saya,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Saya ini udah pernah menjalani usia seperti kalian, udah belasan tahun yang lalu”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;lalu salah seorang dari mereka nyeletuk, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Mbak ini umurnya berapa sih? &lt;em&gt;Kok pake&lt;/em&gt; kalimat belasan tahun ninggalin umur SMP?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya sebutkan sejumlah angka, yang spontan membelalakan mata mereka. &lt;em&gt;Ngga&lt;/em&gt; percaya? Kasian &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt; saya ya? &lt;em&gt;Udah&lt;/em&gt; jujur, malah disangka bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya takut tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan takut akan keriputnya, atau ciut nyali pada kendornya kulit-kulit yang dulu muda nan kencang, apalagi gentar dengan flek-flek hitam, menggurat keras pada wajah saya nantinya. Percaya deh, dari kecil saya sudah ditempa untuk tegar menghadapi segala sesuatunya. Terbiasa biasa saja menghadapi persoalan hidup, walau kadang melilit perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya memang takut tua. Dalam arti, saya takut ketika tua dan umur semakin banyak dalam angka, berkurang dalam hal waktu, tapi masih dalam keadaan tidak sadar. Tidak sadar akan umur, tidak sadar akan banyaknya nikmat yang sudah &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;DIA&lt;/span&gt; berikan, tidak sadar, tidak sadar …dan tidak sadar untuk selalu berusaha memperbaiki diri. Tidak sadar dengan terus saja melakukan hal yang merugikan, melakukan hal yang membuat orang lain kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya tidak mau tua jika nanti hanya membuat saya tidak sadar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anda? Takut tua dengan versi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-4791556875578918136?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/4791556875578918136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=4791556875578918136&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4791556875578918136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4791556875578918136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/02/ketakutan-akan-tua.html' title='Ketakutan akan Tua'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5766760303596176887</id><published>2008-02-12T09:06:00.000+08:00</published><updated>2008-02-12T09:20:47.050+08:00</updated><title type='text'>Keindahan dalam Bergerak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya sempat selalu mengurut dada, akibat pertanyaan saya pada seorang teman, selalu dijawab dengan hal yang tidak terpikirkan oleh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“gimana, hari ini jadi ketemu kan?”&lt;br /&gt;“Bentar ukhti, saya liat jadwal saya dulu?”&lt;br /&gt;“Jadwal apa’an sih?” saya bertanya penuh bingung&lt;br /&gt;“iya ukhti, saya liat dulu, takut ada jadwal yang harus saya selesaikan lebih dahuluu”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wah&lt;/em&gt;…&lt;em&gt;keren banget&lt;/em&gt;! Saya cuma &lt;em&gt;pengen&lt;/em&gt; ketemu dan &lt;em&gt;ngobrol&lt;/em&gt;, dan dia harus melihat jadwal acaranya, apakah &lt;em&gt;bentrok&lt;/em&gt; atau tidak dengan kegiatannya hari itu. Padahal teman saya itu seorang perempuan yang tidak terikat dengan peraturan baku, seperti harus pergi ke kantor pagi dan selalu pulang sore hari. Namun dia memang seorang aktivis, seorang guru pada salah satu lembaga pendidikan balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, pada saat itu saya sempat mengalami perasaan heran luar biasa. Sesibuk apa &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; dia, sampai harus mempunyai jadwal, bahkan untuk beberapa bulan kedepan pun, telah ada tanggal-tanggal dimana dipastikan dia akan tidak bisa ditemui. &lt;em&gt;Hm,&lt;/em&gt; seperti artis saja! Ya, selama ini, dalam pandangan –bak katak dalam tempurung- saya, hanya artis/orang terkenal yang akan mempunyai jadwal kegiatan untuk beberapa bulan kedepan. Ternyata, teman saya sendiri terkait hal ini. Jadi dapat dibayangkan, dia akan ada untuk rapat ini, rapat itu, training ini juga training itu. &lt;em&gt;Piuhh!!!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kesibukkan dia seperti itu pernah menghantui saya. Apa ya jadinya, ketika saya harus &lt;em&gt;wara-wiri&lt;/em&gt; memenuhi beberapa jadwal dalam sehari, namun keadaan saya ternyata tidak memungkinkan? Pikiran ini terbentuk, mungkin karena saya tidak sadar, bahwa segala hal pastilah mempunyai konsekuensinya masing-masing. Jika dulu saya harus bekerja di balik meja, terikat waktu, merasa terbelenggu, itu sebagian besar disebabkan rasa ketidak-nyamanan akan keterbatasan dalam mengapresiasikan diri. Hingga dengan mudahnya saya memilih untuk melepaskan pekerjaan, untuk memulai langkah awal baru yang lebih, dinamis, nyaman, serta memenuhi kisi jiwa yang sempat kosong. Lalu bagaimana dengan teman saya itu? Apakah dia tidak merasa terbelenggu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng, saya pernah menanyakannya langsung, dan dia hanya menjawab santun disertai senyum,&lt;br /&gt;“Ukhti, duniamu sebenarnya ada pada duniaku yang sekarang aku jalani, cuma dirimu belum sadar saja. Coba &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt; perhatikan sendiri, saya tidak merasa jenuh, bahkan hidup saya terasa berjalan begitu lincah, sampai-sampai otak saya dipenuhi oleh segala bentuk ide. Menyenangkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya? Tapi apakah harus sesibuk itu?&lt;br /&gt;“Ukhti, sibuk ini hanya kelihatan dari kulit luarnya saja. Perasaanmu akan tenang, karena sibukmu untuk kebaikan, jadi untuk apa kita santai namun dalam keburukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman lain juga pernah mengatakan,&lt;br /&gt;“Coba lihat aliran air. Kodratnya adalah harus terus bergerak, mengalir jauh, hingga memenuhi anak sungai, bahkan sampai mendesak ke permukaan laut. Begitu pun udara, akan terus berayun membuat sirkulasi baik, memberikan kenyamanan serta kehidupan. Seandainya, air tidak bergerak, tidak mengalir, yang ada adalah bintik-bintik bibit nyamuk, yang kemudian membawa dampak buruk bagi manusia, begitu pula udara, akan terasa pengap dan menyesakkan ketika kodratnya untuk bergerak tidak dapat ia lakukan. Sama halnya dengan manusia, fitrahnya adalah terus bergerak, selama ia masih diberi kesempatan untuk melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, ada sebuah pesan singkat yang masuk pada ponsel saya, isinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Mb Rien, ada drmh kpn?tlg mb sms ja k HP q,kpn,jm brp,mb bs q ajak ngbrol. Mumet niy! Lg pngn dskusi,tp mb ssah bgt bwt ktemu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum dan membalas pesan itu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sy ada drmh hr…jam…,atau sms aja sy,kpn kmu mo ktmu,sy ushakn u luangkn wkt,smile&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt;, ini namanya senjata makan tuan, atau memang kehidupan itu ibarat roda yang terus bergulir, jadi bisa diatas atau kadang ada dibawah. Namun kenyataanya, memang sesuatu yang bisa bergerak sesuai fungsinya, akhirnya mampu memandang hidup ini selaras dengan warna keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5766760303596176887?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5766760303596176887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5766760303596176887&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5766760303596176887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5766760303596176887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/02/keindahan-dalam-bergerak.html' title='Keindahan dalam Bergerak'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1819038795666077968</id><published>2008-01-23T15:20:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:10.065+08:00</updated><title type='text'>Good Bye, My Sister...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemaren, saya masih melihat senyumnya mengembang, sambil menggenggam &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R5cPpS4RN9I/AAAAAAAAAPA/aWwUVLej3gA/s1600-h/rip2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158609100293093330" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 78px; CURSOR: hand; HEIGHT: 62px" height="68" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R5cPpS4RN9I/AAAAAAAAAPA/aWwUVLej3gA/s320/rip2.jpg" width="85" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tangan saya dan menempelkan ke pipinya, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;“Assalamu’alaikum mbak!”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Seorang gadis belasan tahun, tingginya sebahu saya, kulitnya hitam, dan wajahnya manis. Matanya bulat, santun dengan kerudung putih yang selalu ia kenakan setiap kali saya mengunjungi sekolahnya untuk membimbing ia dan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama gadis itu mengingatkan saya pada nama seorang artis, yang beken pada saat ia dilahirkan, Sinta Bella. Lalu, ketika saya tanya dan ia sebutkan namanya, saya tersenyum dan dibalas senyum malu menyembul dari sudut bibirnya. Senyum malu seorang gadis yang berbeda 18 tahun dari umur saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tekun. Setiap kalimat yang keluar dari bibir saya, ia telaah dengan baik. Setiap saya tatap matanya ia serius menatap balik dalam mata saya. Hingga sesi diskusi bisa sukses saya pancing pertanyaan-pertanyaan, yang pada awalnya enggan ia bagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak minggu ketiga desember lalu, saya tidak bertemu dia lagi. Karena memang kami merencanakan untuk &lt;em&gt;off&lt;/em&gt; dulu sebelum ujian. Hingga pagi hari pada awal januari, sebuah kabar datang, ia terbaring lemah di sebuah rumah sakit. Kala itu, saya pun sedang terserang demam, tidak enak badan, apalagi cuaca memang tidak bersahabat. Dengan perasaan bersalah, saya hanya bisa meneleponnya. Menanyakan kabarnya, lalu menitip doa dan kangen saya buat dia dan teman-temannya. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;“Terima kasih, mbak. Udah mau nelpon saya.” &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Berlalu, sampai pertengahan januari, saya hanya mendapat kabar dari smsnya, bahwa dia tidak bisa mengikuti kegiatan kami seperti biasanya, karena kondisinya yang masih sangat lemah. Saya balas, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;“Iya de, Mbak ngerti. Cepet pulih ya! Setelah kelar rihlah, mbak dan teman-teman akan jenguk ya. Salam sayang dari mbak”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah…saya memang telah menjenguknya. Selesai tiga pekan berturut-turut saya harus berada dilapangan untuk menyegarkan keadaan binaan, saya memang bisa juga menembus rumahnya yang jauh dipelosok. Saya bersama-sama temannya, berkumpul dalam salah satu ruang sempit pada bagian rumah sederhana milik orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang menjenguknya. Namun, ia tidak bisa menghampiri saya sambil menggenggam tangan saya lalu menempelkan pada salah satu pipinya. Saya hanya bisa melihat senyumnya dalam kaku. Matanya yang basah oleh air mata perpisahan. Tubuhnya yang bersih mulai ditutup kain kafan. Ia membeku. Dan saya memang telah menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat &lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2007/08/sister-i-love-you-just-because-of-god.html"&gt;kamu&lt;/a&gt;. Karena dia pergi juga karena merasakan sesak yang teramat sakit. Dia tidak bisa bernafas. Keadaan ekonomi keluarga yang seadanya menyebabkan terlambatnya pertolongan yang diberikan. Karena, ternyata dia telah merasakan sakit ini sejak lama. Namun tetap hanya bisa dirasakan dan dipendam, mengingat ayahnya hanya bekerja di kebun dan ibu hanya ibu rumah tangga. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekarang hati saya memang tertaut pada sosok mungil ini, walau hanya 7 pertemuan kami melewatkan dengan berdiskusi, tapi ikatan hati saya padanya susah untuk digambarkan. Dalam limbung saya coba menyeka airmata dan melihatnya sekilas. Saya tidak kuasa. Saya tidak mau mengiringinya dengan sesegukan yang pastinya akan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, De’. Walau 7 pertemuan kita lalui, tapi banyak hal yang telah kita bagi. Senyum kecil dan kerlinganmu tetap ada dihati. Cukuplah, hati dan jiwamu melayang bersama indahnya kebersamaan kita. Cukuplah, saya menyertaimu walau sesaat. Titip rindu untukmu, serta sahabat yang masih menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Alangkah sunyinya syurga, jika kita hanya meminta keselamatan bagi kita sendiri. Alangkah sepinya sungai yang mengalir didalamnya, jika kita tidak berusaha mengajak mereka bermain dipinggiran kecilnya. Maka, ajaklah saudaramu yang lain, kelak kalian akan bercengkrama, bercanda dan berkasih-sayang didalamnya, selayaknya ketika kalian saling berkasih-sayang ketika masih berada didunia pinjaman ini.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;color:#ffcc00;"&gt;&lt;em&gt;mengenang almarhumah, gadis mungil yang telah pergi. Rindu akan sosoknya yang menanti dengan senyum di sudut bibirnya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#ffcc00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1819038795666077968?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1819038795666077968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1819038795666077968&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1819038795666077968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1819038795666077968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/01/good-bye-my-sister.html' title='Good Bye, My Sister...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R5cPpS4RN9I/AAAAAAAAAPA/aWwUVLej3gA/s72-c/rip2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3429568705484148049</id><published>2008-01-22T08:19:00.000+08:00</published><updated>2008-01-22T09:22:06.154+08:00</updated><title type='text'>Sebongkah Rindu pada Sebutir Pasir</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jemaah haji telah banyak yang berdatangan, kembali dari perjalanan yang sangat indah di tanah suci. Mereka layaknya bagaikan pengantin, didudukkan pada jejeran depan, dan kisah mereka ditunggu begitu khidmatnya. Namun mirisnya, terkadang khidmat tidak dirasa, yang ada malah &lt;em&gt;celetukan-celetukan&lt;/em&gt; konyol dilempar oleh yang mendengarkan. Atau bahkan banyak para tetangga dan tamu berdatangan, hanya ingin sedikit remeh temeh lalu mulai membungkus beberapa oleh-oleh berupa kurma, kismis ataupun tasbih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekian umur saya, telah terlalu sering saya menyaksikan pemandangan seperti itu. Sangat biasa dan yah…seperti itulah. Namun siapa yang bisa menebak, apa yang akan saya dapatkan pada sekian umur saya kali ini. Ternyata Allah masih berkenan memberikan waktu untuk saya, bisa mendengar cerita indah dari seorang lelaki, suami dari seorang istri, serta ayah bagi anak-anaknya. Dengan berkaca-kaca ia ceritakan bagaimana perasaannya ketika menjalani hari-harinya di tanah suci. Setumpuk haru seakan pecah pada setiap kalimat yang ia urai. Bahkan masih berlanjut ketika tangan saya menari diatas &lt;em&gt;tuts keyboard&lt;/em&gt; ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dia –hampir menangis-, mengungkapkan bahwa dia merasa bukan manusia yang bisa dikategorikan baik, berbudi luhur ataupun sederet prestasi yang pantas dijuluki &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘manusia alim’&lt;/span&gt;, tapi disitulah ia dapat merasakan bahwa janji Allah tidak akan pernah tidak terpenuhi. Keharuan menyelimuti kisahnya, dengan bertanya-tanya, ia jabarkan, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;“Apakah ini ujian ataukah nikmat bagi saya ya Allah? Karena saya tahu, nikmat dari-NYA pun merupakan cobaan bagi hamba-hamba yang nista”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Sambil bergetar, dia mengatakan betapa mudah, segala keinginannya dalam kebaikan, baik yang tersurat maupun tersirat, dapat begitu saja terkabul atas kehendak-NYA. Membuat dia merasa tak patut untuk memperolehnya, karena, sebagai penyandang predikat &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘hamba’&lt;/span&gt;, banyak hal yang masih ia belum ketahui dan amalkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suasana hening sesaat, yang mendengar kisahnya, masing-masing menatap lelaki itu. Seribu satu macam perasaan berbaur jadi satu. Saya dengan menahan tangis, terus mengalihkan agar air mata tidak tumpah pada saat itu. Mata lelaki itu berair, begitu pula istrinya. Lelaki itu sedang mengumpulkan keindahan yang begitu &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;MAHA INDAH&lt;/span&gt;, ia sadar tangisnya adalah kebahagiaan yang meluapkan hatinya, mendidihkan haru biru perasaan cintanya pada &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;SANG P&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;EMILIK&lt;/span&gt;. Saya bisa merasakan kerinduan mereka pada tanah suci yang menggelora, ingin tetap disana, tanpa kembali berkubang pada dunia silau nan penuh onak dusta. Ingin selalu beribadah, dan selalu bisa merasakan keindahan masa-masa kehidupan Rasulullah. Saya juga rindu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menyitir pada kisah kekasih, teladan kita, Rasulullah SAW, yang melaksanakan haji wada’. Saat-saat yang menggembirakan bagi Rasulullah SAW karena akan menunaikannya untuk pertama sekaligus terakhir kalinya. Namun situasi pada saat itu masih diliputi keraguan dari para sahabat, dengan tindakan beliau yang menanda-tangani perjanjian dengan kaum quraisy, yang ketika itu, dianggap sepertinya sangat merugikan kaum muslim. Tak ayal semua pun terbantahkan, atas janji Allah, pertolongan dari-&lt;em&gt;Nya&lt;/em&gt;, dengan bangkitnya umat islam pasca perjanjian itu. Sekaligus penanda, akan berakhirnya masa kerasulan, meninggalkan umat yang begitu Rasul kasihi, karena telah purna pun tugas sebagai pengemban risalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Perasaan para sahabat waktu itu pastilah sama dengan perasaan lelaki tadi. Bahwa pertolongan Allah, selalu ada jika hambanya selalu mengingat-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt;, bertaubat serta yakin akan jalan ini hanyalah sebagian kecil jalan yang berliku. Sehinanya manusia, &lt;em&gt;DIA&lt;/em&gt; tetap mau menolong, &lt;em&gt;DIA&lt;/em&gt; tidak akan melupakan kita, umat kekasih-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya, seperti anda, pastilah ingin menunaikan ibadah ini. Menyempurnakan pondasi yang telah kita sepakati sejak ruh ditiupkan pada jasad. Perasaan rindu itu pastilah mengelegak seiring pertemuan-pertemuan suci yang kadang kita abaikan. Itu akan selalu terngiang di setiap kesempatan, pada setiap helaan nafas. Kita tak akan pernah bisa menampiknya. Walau hanya sebutir pasir di padang arafah, pastilah akan bisa kita rasakan keindahan dari &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;SANG PEMILIK MAHA INDAH&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekarang, mampukah kita menjadi sadar dan menyiapkan diri menjadi pengenggam sebutir pasir keindahan itu? Mampukan kita tetap membuat rindu itu membara? Dapatkah kita menerimanya, seandainya kitalah manusia terpilih itu? Bersiaplah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Buat teman-teman yang baru kembali dari tanah suci, Ahlan wa Sahlan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3429568705484148049?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3429568705484148049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3429568705484148049&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3429568705484148049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3429568705484148049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/01/sebongkah-rindu-pada-sebutir-pasir.html' title='Sebongkah Rindu pada Sebutir Pasir'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5689615114083447055</id><published>2008-01-16T11:37:00.000+08:00</published><updated>2008-01-16T12:03:29.267+08:00</updated><title type='text'>Seorang Teman atau Sahabat....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Seperti apa teman bagimu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman bagi saya adalah penyemangat hidup yang bisa membakar bara kehidupan dalam diri saya. Terkadang bisa memompa keinginan saya yang sudah sekian lama dibenam pada rutinitas tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman bagi saya adalah suatu energi. Walau hanya berbicara dalam jendela jarak dan waktu berbeda, namun ajaibnya, terkadang tatapan kami tidak ada perbedaan sama sekali. Jika pun ada, kami seakan bisa menampiknya, dan bisa berpikir bahwa itu sifat lumrah, pasti dimiliki oleh setiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seperti apa sahabat bagimu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perbedaan teman dan sahabat? Kemampuan saya untuk membedakannya masih pada rank D, samar-samar dalam menguraikan perbedaannya. Ada yang mengatakan, teman adalah sebatas seorang yang bisa ber&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt; ‘say hello’&lt;/span&gt;, tanpa ada pembicaraan yang dalam. Kalau pun ada, hanya kulit luar tentang aktivitas masing-masing, dan mengenai perasaan, tidak akan begitu bermain. Lalu sahabat? Semakin dalam dan jauh dibanding dari arti seorang teman. Ada kerinduan ketika salah satu tidak mengirim kabar, ada keinginan berbagi, walau hanya canda dan celotehan tanpa arti, yang penting bisa menumpahkan curahan yang berasal dari hati. Kadar percakapan pun tidak main-main. Dari masalah kecil hingga masalah yang menyangkut kerahasiaan. Hanya pada sahabat itu bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu apakah bisa, dari seorang sahabat menjadi teman?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan status ini bisa disebabkan beberapa faktor. Ketidak-nyamanan, tidak bisa menyimpan rahasia salah satu dari mereka, atau semakin bertambahnya aktivitas diantara mereka, hingga semakin enggan untuk memberikan setumpuk isi hati. Namun, apakah bisa berpindah? Rasanya musykil. Mungkin yang bisa terjadi adalah naiknya predikat dari seorang teman menjadi sahabat. Tapi apa sih yang tidak mungkin didunia ini?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Seringkah seorang curhat padamu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembangkit &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘ghiroh’&lt;/span&gt; saya mengatakan, &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;“Mbak ini ember curhat!”.&lt;/span&gt; Jadi tidak usahlah saya katakan, sering atau tidaknya seorang mempercayakan saya sebagai tempatnya dalam berbagi. Semakin seorang mau dan tidak sungkan mengenal saya, kebanyakan dari mereka secara spontan, bisa dan rela membagi kisah mereka. Kerap hadir pada sebuah pesan singkat, mereka memerlukan saya untuk berbagi. Seperti pada postingan &lt;a href="http://ninamulhadi.wordpress.com/2008/01/07/mengatasi-masalah-dengan-masalah"&gt;ukhti terkasih&lt;/a&gt;, bahwa mengatasi masalah dengan masalah, itulah pointnya. Tau artinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu dengan siapa kamu akan curhat?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ada yang datang dan curhat pada saya, seketika permasalahan saya sirna. Bukan karena saya jadi lupa apa beban sedang saya tanggung, tapi karena saya merasa curhat mereka adalah jawaban gundah dalam hati saya. Sesederhana itukah? Ya, sangat sederhana. Sampai-sampai, ada yang mengatakan, &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;“apakah tidak ada gelisah dalam dirimu?”.&lt;/span&gt; Gelisah itu manusiawi. Karena tidak dapat menyelesaikan satu pekerjaan saja, bisa membuat saya gelisah. Lagi-lagi, gelisah itu manusiawi. Hanya bagaimana kita mengelolanya. Lalu, dengan siapa saya akan curhat? Memang ada seseorang yang bisa menampung cerita sentimentil saya, atau hanya menerima muntahan kata-kata ketidak PD-an saya. Lagi-lagi, kalau pun tidak bertemu dengannya, saya tidak akan kehilangan pegangan, karena cinta saya cuma milik-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jadi, kalau ada seseorang yang curhat, berarti dia tidak bisa curhat dengan DIA?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang? Manusia perlu manusia lain untuk berkomunikasi. Berbicara dengan melibatkan perasaan pun tidak ada ganjaran apapun. Karena itulah salah satu fungsi manusia diciptakan berbeda-beda, untuk saling berkasih sayang, ber’amar ma’ruf nahi munkar’ serta saling mengingatkan untuk tidak lepas dari segala sesuatu yang seharusnya memang harus kita jalani dengan baik. Seorang manusia haruslah bisa menjadi cermin bagi seorang manusia lain. Cermin yang bersih, dan memberikan pantulan yang jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan, bisakah kamu gambarkan, perasaanmu terhadap teman atau sahabatmu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya cinta. Tidak dapat diukir pada pasir, karena akan hilang tersapu ombak. Tidak mampu ditoreh pada batu, akan terkikis pada derai air yang membasahi. Tidak bisa ditulis dengan beribu liter tinta pada ribuan kertas, akan kusam dan termakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak peduli seseorang itu punya predikat teman atau sahabat pada sisi kehidupan saya. Bagi saya, mereka tetap energi yang kerap mencharge kemampuan saya dalam mengelola hati agar tetap mencerahkan dengan cinta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5689615114083447055?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5689615114083447055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5689615114083447055&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5689615114083447055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5689615114083447055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/01/seorang-teman-atau-sahabat.html' title='Seorang Teman atau Sahabat....'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-2950303624708424575</id><published>2008-01-02T09:19:00.000+08:00</published><updated>2008-01-02T19:12:20.642+08:00</updated><title type='text'>Momentum hari ini?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;At first we make habbit, at last habbit make you&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi buta, diawal tahun baru masehi kemaren, saya merasakan hal yang berbeda, di daerah tempat tinggal saya. Sunyi, sepi, tidak seperti hari sebelumnya. Biasanya, pagi-pagi sekali, selalu ada suara-suara menyenangkan dari berbagai aktivitas. Tapi kali ini bagaikan tak berpenghuni. Ya, bagaimana tidak? Semalaman, mereka &lt;em&gt;(orang-orang yang tempatnya tidak jauh dari rumah saya)&lt;/em&gt; ngobrol sambil &lt;em&gt;ketawa-ketiwi&lt;/em&gt;, malah sampai berteriak-teriak. Plus meneriakkan berbagai resolusi dengan diiringi petikan gitar. Entah, mungkin ingin melepas tahun baru yang heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heboh tapi konyol, itu tepatnya, ketika seseorang mulai berkoar-koar tentang beberapa resolusi yang harus ia capai untuk tahun mendatang. Ibarat seekor kerbau yang dicocok hidungnya, melangkah kemana pun ia digeret, mengikuti trend orang-orang yang mulai membidik moment ini dengan hingar-bingarnya, hanya untuk menyambut detik-detik pergantian tahun masehi ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Aku mau begini…aku mau begitu…pokoknya harus bisa. Semangat!”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan tarikan semangatnya &lt;em&gt;kendor&lt;/em&gt; ketika mulai menapaki hari-hari di tahun baru, kelelahan karena terpompa oleh perasaan gembira juga terlalu bersemangat dalam menyambut perayaan tahun baru, hingga harus menggantungkan warna hitam di kelopak mata akibat semalam suntuk tidak tidur sama sekali. Mulai melupakan ambisi. Ujung-ujungnya, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Yah sama aja ya, nggak ada bedanya dengan tahun kemaren, malah yang lebih gawat, aku stuck! Jalan ditempat!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bagaimana acara tahun barumu?”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah ditanya seperti ini, dan seringai selalu menjadi jawabannya. Saya memang tidak pernah &lt;em&gt;intens&lt;/em&gt; melewati malam tahun baru seperti yang pernah dilakukan para ABG jaman sekarang. Kalau pun pernah, itu hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu. Dengan berbekal ijin dari orang tua, saya kantongi sim &lt;em&gt;(surat ijin minjam)&lt;/em&gt; mobil mereka dan menodong supir untuk membawa saya dan beberapa teman, mengelilingi kota pada malam tahun baru. Ya, hanya ingin keliling kota, melihat suasana –yang katanya- meriah itu. Ternyata? &lt;em&gt;Ah &lt;/em&gt;apanya yang indah? Mana yang menyenangkan? Justru saya terkantuk-kantuk didalam mobil. Alhasil hanya pindah tempat untuk tidur saja. Sekali dalam seumur hidup saya pernah melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Positifnya, ada efek jera untuk mengulangi hal yang demikian lagi. Setiap akan datang pergantian tahun masehi, saya berhasil menganggap hal itu biasa saja. Tidak ada rasa penasaran, apakah kali ini berbeda suasana dibanding tahun lalu? Dirayakan atau tidak pun, tahun itu akan berganti. Meniup terompet atau tidak pun, tidak akan memperlambat waktu untuk semakin mendekati usia senja. Jadilah, sosok saya yang sangat biasa. Tetap biasa, apalagi ketika usia bukanlah muda lagi. Saya semakin &lt;em&gt;anteng&lt;/em&gt; saja dalam sikap, yang sebagian teman saya mengatakannya &lt;em&gt;ngga&lt;/em&gt;k gaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada masalah resolusi yang ingin dicapai pada pergantian tahun. Sangat lumrah dan tidak ada legitimasi pelarangan untuk seseorang bermimpi akan perjalanannya pada rentang setahun ke depan. Toh, walaupun harus &lt;em&gt;stuck&lt;/em&gt; dan malah mengalami kemunduran, itu pun tidak akan menjadi hukuman atas apa yang diniatkan. Tapi, mimpi adalah sesuatu awal dari sebuah kekuatan untuk bangkit yang harus dimiliki pada diri insan. Dari mimpi, seseorang akan berjuang untuk meraihnya tanpa diembeli kekonyolan dalam menyikapinya. Mulai mimpi, bukan berarti mengakhirinya dengan mimpi juga. Menuangkannya dalam sketsa, membuat perwujudannya, merupakan keberhasilan atas kerja otak kita dalam mengimplementasikan mimpi. Dan yang lebih berfungsi jika kita bisa muhasabah &lt;em&gt;(introspeksi diri),&lt;/em&gt; apakah yang telah dilakukan selama setahun kebelakang? Apakah sudah layak kita ini disebuat sebagai manusia? Kalau saja niat masih terkotori dengan satu debu dengki, iri bahkan dendam. Dan kalimat yang lebih tepat mengena, &lt;em&gt;“Apakah yang telah kita perbuat untuk orang lain?”&lt;/em&gt; atau, Pernahkah kita memikirkan beribu bahkan berjuta manusia lain, masih hidup dalam pertarungan hanya karena urusan perut? Masih harus bersembunyi di tumpukan puing-puing hasil gusuran rumah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Hwaduh…boro-boro untuk orang lain?! Untuk diri sendiri saja masih kelimpungan nggak tau juntrungannya!?”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Suatu pagi dihadapan para sahabatnya, Rasulullah SAW bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya.” “Siapakah diantara kalian yang pada pagi hari ini telah memberi makan orang miskin?” tanya Rasulullah. “Saya”, jawab Abu Bakar. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah diantara kalian yang pada pagi hari ini menjenguk orang yang sakit?” Abu Bakar kembali menjawab, “Saya.” Rasulullah bertanya, “siapakah di antara kalian yang hari ini telah mengantarkan jenazah?” (Lagi-lagi) Abu Bakar menjawab, “Saya.” Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;“Tidaklah amal-amal ini terkumpul dalam diri seseorang kecuali ia akan masuk syurga.” &lt;em&gt;(HR Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya kita dapat belajar dan mengambil hikmah dari kesigapan Abu Bakar ra. dalam menyikapi setiap kesempatan yang datang padanya, seyogyanya kita bisa mencontoh beliau. Sigap itulah yang harus terpatri pada diri insan. Sigap terhadap segala momentum yang tidak akan kembali menjadi kebaikan jika sedetik kita lengah karenanya. Moment penuh berkah selalu berawal dari pagi hari. Lha, kapan kita bisa menangkap suatu moment dengan baik, jika kita masih saja tidak sigap? Juga, bagaimana menggolkan resolusi, jika pagi di awal tahun baru kita mulai dengan mendengkur dengan sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selarasnya, jangan pernah puas akan potensi kita yang itu-itu saja. Jika insan sudah merasa puas pada pencapaian keimananannya, tidak akan ada proyek perbaikan diri menuju arah yang lebih lurus dan baik. Padahal, ibarat sebuah kurva, iman selalu mengalami fluktuasi, sebentar di bawah, sebentar di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selarasnya menautkan pemikiran bahwa menyambut tahun baru, tidaklah harus mengundang penyanyi terkenal, atau band yang &lt;em&gt;ngetop&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Ongkang-ongkang&lt;/em&gt; kaki di café, pub atau restorant bertarif selangit. Menyalakan kembang api dan menembakkan petasan. Meniup terompet sekencang-kencangnya serta memakai topi beraneka warna. Perayaan yang tentunya hanya akan membuang-buang energi dan biaya. Hanya akan mendapatkan mudharat dibalik kesenangan. Membuat lalai, terlena dan melemahkan syaraf kita untuk berpikir, “Apakah yang telah dan belum aku perbuat untuk menjadi orang yang bermanfaat?”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Bagaimana? sudah menangkap momentum hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Waktu kemaren, yang sudah bukan milik kita lagi. Esok h&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;ari, yang belum tentu kita punyai. Dan sekarang, yang ada ditangan kita” (Hasan Al Bashri)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-2950303624708424575?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/2950303624708424575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=2950303624708424575&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2950303624708424575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2950303624708424575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2008/01/momentum-hari-ini.html' title='Momentum hari ini?'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5290202982863614432</id><published>2007-12-21T21:22:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:10.323+08:00</updated><title type='text'>Syurga itu ada didirimu, Ibu</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2vKU17KDZI/AAAAAAAAAO4/M5loFCap4hQ/s1600-h/purple.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5146429458622320018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 110px; CURSOR: hand; HEIGHT: 94px" height="145" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2vKU17KDZI/AAAAAAAAAO4/M5loFCap4hQ/s320/purple.jpg" width="198" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Siang berganti malam, hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Banyak hal yang terjadi, banyak hal berubah kearah yang yg lebih baik adalah manfaat untuk umat. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah, bahwa saya dilahirkan oleh seorang ibu. Terima kasih ibu, telah menjadikan kami orang yang bermanfaat, itulah nanti yang akan menentramkan dunia akhiratmu kelak, amin. Terima kasih ibu…”(22 Desember 2006)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan singkat diatas adalah pesan singkat setahun yang lalu. Sebuah pesan singkat dari saya -setelah saya menikah- yang kerap menghampiri telepon genggam milik ibu. Sebuah pesan yang terburai dengan menguntai kalimat yang sebenarnya tidak pernah saya rekayasa sebelum hari-hari menjelang hari ibu. Untaian kalimat itu biasanya spontan keluar ketika saya mengingatnya. Ya, hanya dengan mengingat ibu. Dan pesan-pesan singkat itu selalu berubah setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya menikah, untuk setiap sms yang saya kirim, selalu beliau balas dengan sesegukan diseberang telepon. Tangisnya pun pecah, dan selalu mengatakan, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;‘Kamu tidak pernah berubah, sejak kecil hingga dewasa seperti sekarang, selalu menyejukkan ibu’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, kemudian telpon akan ditutup pelan. Tinggal saya yang kembali berurai mata. Saya takut membuat ia sedih. Takut akan kerinduannya tidak akan tertahan. &lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt; ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keping-keping kenangan bersamanya masih saya miliki. Sejak saya tahu dan merasakan, bahwa inilah orang yang melahirkan dan membesarkan saya. Seseorang yang merelakan kulit mulusnya lecet karena terjatuh dari motor akibat terlalu bersemangat mengantarkan saya, pada hari pertama masuk ke Taman Kanak-Kanak. Seseorang yang menyisakan tenaganya setelah seharian berkutat dengan berbagai perangai pasien-pasiennya demi memegang tangan saya untuk berlatih menulis indah. Hingga masih bersusah payah menemani saya ketika pernah &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘anjlok’&lt;/span&gt; pada masa krisis tidak bisa menerima akan ‘&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;kuat’&lt;/span&gt; kasih sayang-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt;. Keping-keping itu masih tersusun rapi pada album memori di otak saya. Keping-keping yang akan menghantarkan saya bahwa sepatutnya bersyukur bahwa masih diberi keindahan untuk bisa bergelayut manja dan menatap wajahnya. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa setelah menikah saya menjadi sentimentil dalam memperlakukan ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, kita kebanyakan lengah ketika masa muda tengah bergelora. Perpindahan atau masa transisi dari seorang anak yang ingin di’&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;aku&lt;/span&gt;’i bisa menimbulkan gejolak pada segumpal egoisme. Segumpal rasa yang terkadang banyak menorehkan luka pada batin seseorang. Seseorang yang mempunyai jalan panjang tanpa putus untuk selalu bisa mendekap kita dalam cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal telah saya pelajari ketika saya mulai mengenal dunia luar, selain dunia indah suguhan ibu. Warna-warninya bisa membentuk pola pikir saya yang terkadang dirasa tajam oleh beliau. Kemerincing iramanya bahkan mampu membuat gerakan saya tidaklah seperti ibu inginkan. Saya sadar itu. Bahkan sangat sadar! Tapi untuk mengelak dan membuang mimpi ibu, bukan jalan satu-satunya untuk membuktikan bahwa saya pun punya mimpi lain. Saya berusaha tidak pernah melalaikan keinginan ibu. Arahannya pun selalu saya ikuti, walau saya mesti mengubur gelisah diri untuk sementara waktu. Karena saya pun masih sadar, saya bukan apa-apa jika ibu tidak merestui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang langkah saya tidak searah dengan ibu, tapi saya yakin dan pasti, inilah hasil pembelajaran saya terhadap bagaimana ibu bersikap dan mencurahkan pengabdiannya pada keluarga. Saya yakin inilah pantulan ibu sebenarnya. Terlalu indah hingga kami tidak bisa melukiskannya pada segaris senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian langkah saya semakin jauh seperti apa yang ibu citakan. Jika kemudian saya mempersembahkan hasil dambaannya, lalu pergi untuk membuka liang kubur gelisah, bukan berarti ibu tidak bisa melihat hasil didikannya terhadap saya. Walaupun saya bukan menjadi wanita karir seperti dia, tapi gamblang saya katakan,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bu, saya punya impian yang tidak mudah untuk dinalar. Impian masa lalu yang kemudian saya korek lagi bukan karena saya tidak bisa membangun mimpi ibu. Tapi karena saya ingin kita bermimpi pada satu titik yang kelak kita sama-sama tuju. Satu titik yang akan membawa ibu dan saya pada keabadian. Disitulah saya sedang membangun mimpi untuk ibu.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sangat jelas, saya melihat binar bahagia di mata miliknya. Walaupun senyumnya tidaklah selebar seperti yang saya harapkan, karena harus menahan tangis. Tapi saya bisa menangkap aliran deras darahnya dengan cepat, tanda bahagianya yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahagiakan ibu, bukanlah terletak pada mampu atau tidaknya kita mewujudkan segala mimpinya. Bukanlah bisa atau tidaknya memberi berlembar-lembar mata uang untuk kebutuhannya. Namun lebih pada sanggup atau tidak kita menentramkan hati dan jiwanya. Mau mengerti setiap sudut pemikirannya. Dan bisa membuktikan bahwa kita adalah buah kasih dan cintanya yang rela menjadi penyejuk mata batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bunda, terbayang raut wajahmu, lelah menggelayut disana. Sekian puluh umurku, masih saja membasahi wajahmu dengan air mata. Sekian puluh umurku, masih saja memberikan penat pada tubuh rentamu. Seluas samudera tidak akan mampu mengganti kasihmu. Bulir kasih penuh cinta, penuh sayang, tidak akan pernah menyamai agungnya milikmu. Aku memang anak yang tidak bisa dibanggakan. Tapi, ketahuilah bunda, aku akan memelukmu erat dan menarikmu kencang, berlari ke arah syurga” (21 Desember 2007)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;teruntuk bunda tersayang...so happy to have you in this world&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5290202982863614432?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5290202982863614432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5290202982863614432&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5290202982863614432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5290202982863614432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/12/syurga-itu-ada-didirimu-ibu.html' title='Syurga itu ada didirimu, Ibu'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2vKU17KDZI/AAAAAAAAAO4/M5loFCap4hQ/s72-c/purple.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5770786531255687281</id><published>2007-12-13T19:02:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:10.543+08:00</updated><title type='text'>Until now, I'm so in love</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;First time I saw my son&lt;br /&gt;I knew I was in love&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2ETmUJGLoI/AAAAAAAAAOo/cf6tqfK0vuo/s1600-h/subardi+075.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2EXwkJGLpI/AAAAAAAAAOw/O8YixK7-4IU/s1600-h/subardi+075.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143418372536807058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 154px; CURSOR: hand; HEIGHT: 215px" height="293" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2EXwkJGLpI/AAAAAAAAAOw/O8YixK7-4IU/s320/subardi+075.jpg" width="175" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pernah dengar lirik itu? Iya, itu sedikit lirik jingle dari satu iklan, yang hanya sekilas saya denger. Saya suka dengan lirik itu. Mengingatkan masa-masa bayi dari kedua anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sekarang sudah bukan bayi lagi, beranjak menjadi seorang lelaki muda dan bisa jadi assisten saya. &lt;em&gt;Eits&lt;/em&gt;, bukan saya memanfaatkan, tapi naluri seorang anak ketika saya sedang sibuk, lalu ada dering telepon yang berbunyi, mereka dengan senang hati mengangkat dengan mengucap salam terlebih dahulu. Atau, ketika saya sedang kelelahan dan ketiduran, tiba-tiba saya pun merasa heran, &lt;em&gt;“kenapa begitu hening?”,&lt;/em&gt; ternyata si bungsu sedang asik menyapu dan mengepel bekas tumpahan bedak, sedang si sulung dengan gesitnya menumpuk-numpuk barang yang berserakan. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak butuh energi berlebih. Saya dulu sempat berdalih, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Berikan setumpuk pekerjaan dan saya sanggup mengerjakannya! Kalau masalah anak? Bisa nggak ya?”&lt;/span&gt; Ternyata memang keahlian ini lebih kepada naluri. Sekarang, Jihad sudah menginjak usia 7 th lebih 4 bulan. Tubuhnya bongsor, dengan kulit sawo kematangan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(mirip akung ya?).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Tipe dia adalah penurut sebenarnya, namun ada beberapa hal yang sekarang ini menganggu. Dia terlampau cuek. Pernah suatu ketika, saya jemput sekolah, teman perempuannya menghampiri saya, dan berkata,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Tante, tadi Jihad dicium sama ceweq, namanya Risma!”&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya melirik Jihad. Wajahnya biasa, tidak ada rona merah, yang ada dia tetap santai menjawab,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;“A’a udah laporin ke ustadzah. A’a juga udah bilang sama Risma, A’a nggak suka digituin!”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Atau laporan lain dari ustadzahnya, bahwa anak saya satu ini, selalu menarik perhatian para kakak kelasnya yang berjenis kelamin perempuan, datang menengok ke kelas, dan berteriak, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Jihad ada yang titip salam yaaaa.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ustadzahnya pun sewot, dan langsung menegaskan,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Tidak ada menerima ataupun memberi salam, ingat itu ya. Tidak boleh ya anak-anak. Bukan muhrim!”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dan Jihad tetap cuek, tanpa merasa bersalah tetap tidak peduli dengan salam itu. Ketika saya tanya,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“A’a dapet salam ya?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Salam apa? Nggak tahu tuh.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Atau yang paling membuat saya heran, Jihad selalu mendapat hadiah dari temannya, baik penghapus, rautan pensil atau penggaris.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“A’a nggak pernah minta Mi. teman-teman yang ngasi dengan sukarela.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ummm…. Baiklah, Nak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau si bungsu, Kareem, kulitnya masih putih, giginya mirip gigi kelinci. Sekarang sedang gemar-gemarnya menunjukkan ke’&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;pede’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;annya. Setiap tayangan yang dia tonton, selalu diiringi dengan pertanyaan,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Ini boleh Mi? nggak malu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika saya membolehkan, dia akan nurut. Jika saya bilang ‘&lt;em&gt;itu malu!”,&lt;/em&gt; dia pun akan merubah &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; tanpa terpaksa. Apa yang dimiliki oleh kakaknya, pastilah ingin dia miliki juga. Dan pembela nomor wahid! Ketika A’anya saya nasehatin ketika ada kesalahan yang dia perbuat, Kareem selalu membela,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Ummi nggak boleh marah atuh! Ummi nakal!”&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;"&lt;em&gt;Aih... nyundanya lumayan gape, ngangge atuh sagala euy..."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;"&lt;/em&gt;Ihh...Ummi nakal!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ummm… Baiklah, Nak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak adalah keahlian yang dimiliki oleh setiap wanita. Setiap wanita pun meyakini bahwa anak adalah ibarat sebuah gelas kosong, yang gampang diisi oleh apa saja. Dan saya, seorang wanita yang sedang belajar mengisi gelas kosong ini. Mereka saya isi dengan penuh kalimat Allah. Isian yang kelak dapat memantulkan rasa malu pada saya pribadi apabila saya lalai atau malah tidak bisa menjalankannya dengan baik. Saya membiasakan mereka untuk meminta maaf, saya pun harus mudah meminta maaf kepada mereka. Saya mengajari mereka untuk mengungkapkan kasih sayang, dan saya pun tidak pernah enggan dan malu memberi ungkapan sayang saya pada mereka. Saya ingin mereka memakaikan mahkota kepada saya kelak dengan pelan-pelan menjaga hapalan mereka, saya pun ingin memberi mahkota kepada ibu saya dengan istiqomah menjaga hapalan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah &lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2006/12/jundi-jundi-tersayang.html"&gt;jundi saya&lt;/a&gt;. Segala hidup mereka, telah tergaris dalam janji saya, kelak hanya dipersembahkan pada &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Sang Pemilik Kehidupan&lt;/span&gt;. Karena mereka adalah kesayangan sekaligus ujian buat saya, untuk itu mereka tidak akan pernah dijadikan &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;, ketika kemalasan untuk &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘berjuang’&lt;/span&gt; tiba-tiba mendera saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Was, until now&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;I'm so in love&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga mereka tetap mengingatkan saya akan &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Sang Pemilik&lt;/span&gt; yang memang memiliki mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5770786531255687281?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5770786531255687281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5770786531255687281&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5770786531255687281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5770786531255687281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/12/until-now-im-so-in-love.html' title='Until now, I&apos;m so in love'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R2EXwkJGLpI/AAAAAAAAAOw/O8YixK7-4IU/s72-c/subardi+075.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3564204904921816109</id><published>2007-12-02T23:27:00.000+08:00</published><updated>2007-12-02T23:53:24.160+08:00</updated><title type='text'>Karena Kau Perempuan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dalam satu minggu ini, saya sudah dengan lahapnya &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘memakan’&lt;/span&gt; 3 buku non fiksi. Lapar sekali? Bukan lapar, tapi memang saya manusia pencinta dunia ini. Maka dengan ringannya, buku-buku itu sudah berpindah makna dan hikmah kedalam otak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemaren malam, saya baru akan memulai satu buku non fiksi lagi, persembahan FLP Yogyakarta, oleh-oleh dari &lt;a href="mailto:nurika98@yahoo.com"&gt;Ika&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(jazakillah ya Ka! Ternyata oleh-oleh juga harus dibeli ya hehehe).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Seperti kebiasaan aneh yang telah saya jalani sejak kecil, saya pasti akan memulai membaca dari belakang buku ke arah depan. Jujur, dari situlah titik poin keputusan, dimana saya akan melanjutkan untuk terus atau meletakkannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada judul artikel &lt;em&gt;Baru Mandi&lt;/em&gt; yang ditulis Ika, saya seperti disentak. Seperti disengat. Lalu otak saya disesaki oleh bintang-bintang yang bertuliskan, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘Kamu telah lalai! Kamu tidak menyayangi saudaramu sesama muslimah!’ &lt;/span&gt;Duh&lt;/em&gt;, harus bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, ketika sedang bertandang pada salah satu blog milik sahabat saya. Ia seorang muslimah, seorang ibu, dan telah menjalankan kewajibannya sebagai seorang perempuan, yaitu mengenakan hijab atau kerudung &lt;em&gt;(so proud of you).&lt;/em&gt; Pada salah satu postingannya kala itu, ia mengingat kembali masa pertemuannya dengan sang suami, ayah dari anak-anaknya, yang ceritanya cukup unik. Hingga album mereka berdua dipajang jelas. Dan… sahabat saya memperlihatkan dirinya pada foto itu, dalam keadaan belum mengenakan kerudung. Waktu itu, saya pun berpikiran dan berinisiatif untuk menegurnya. Tapi apalah daya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(kelemahan seorang manusia)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; suara putih dan hitam terus mempengaruhi,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Beuu… sok baek luh! Biarin aja, toh nggak ngerugikan kamu!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tegur Ukh! Bukankah sesama muslim harus menegur jika salah satu dari mereka berlaku tidak ihsan (ihsan=baik)”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Udah lah! Entar kamu malah dianggap ikut campur lagi! Malah kehilangan teman kan?”&lt;br /&gt;“Kehilangan teman itu hanya sementara ukhti. Lebih baik takut pada siksa di hari akhir karena kita telah lalai”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dan…saya pun belum menegurnya! Sungguh saya menyesal! Perlakuan saya padanya jelas telah merugikan dia. Tidak seperti ketika saya menemukan beberapa foto adik saya di dalam telpon genggamnya kemudian menegurnya dengan &lt;em&gt;judes&lt;/em&gt;. Kenapa demikian? Dia telah berhijab, dan fotonya bisa saja dilihat oleh teman-temannya yang iseng ingin tahu bagaimana jika dia dalam keadaan tidak berkerudung. Adik saya pun waktu itu sedikit takut dan sedih. Tapi setelah saya jelaskan dia mau mengerti. Saya menyayanginya, untuk itulah saya mengingatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang perempuan telah mengerti dan mengenakan hijab sebagai wujud kepatuhannya pada &lt;span style="color:#66ff99;"&gt;Sang Pemilik&lt;/span&gt;, hal-hal lain pastilah akan mengikuti dengan sendirinya. Mempelajari bagian-bagian dari ilmu berlaku sebagai muslimah yang baik, serta menjalankannya secara maksimal membutuhkan dukungan serta sarana memadai. Salah satu hal sepele, namun terkadang bisa menelantarkan kita pada lantai dosa, kembali mempertontonkan aurat kita pada masa dulu tanpa merasa salah sedikit pun. Malah sama halnya, kembali membuka hijab di khalayak ramai, padahal jelas kita tahu batasan aurat seorang muslimah. Dalam kasus ini adalah masih memajang foto di jaman jahiliyah dengan tanpa perasaan malu dan dosa. Bukankah kita telah berhijab? Membiarkan orang lain yang bukan muhrim, membayangkan bagaimana bentuk rambut kita pun tidak diperbolehkan sama sekali, apalagi kemudian jelas-jelas kita masih mengedarkan helai demi helai bentuk dan rupa bagaimana kita pada masa dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt; itu kan dulu? Sekarang kan sudah memakai jilbab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin kalimat di atas akan ada jika saya paparkan masalah ini. Sebenarnya bukan dulu atau sekarang. Bukan itu &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;"foto dulu dan aslinya tidak demikian lagi".&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Namun, &lt;em&gt;aduhai &lt;/em&gt;perempuan, cukuplah dunia kelam kita yang masih tanpa malu memamerkan lekuk setiap tubuh, tertinggal semakin jauh. Cukuplah hanya suami dan orang-orang yang mempunyai &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘hak’&lt;/span&gt; bisa melihat kita apa adanya. Dan cukuplah kita terus melihat ke arah depan. Biarlah foto-foto &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘manis’&lt;/span&gt; jaman dulu hanya menghiasi album kenangan pada memori kita sendiri. Karena memang terlalu &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘manis’&lt;/span&gt; untuk kembali dikuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Karena kau perempuan&lt;br /&gt;Maka kau dikotakkan demikian rapi pada bingkai kristal&lt;br /&gt;Karena kau perempuan&lt;br /&gt;Maka hanya cinta suci milik-NYA bisa menyentuhmu&lt;br /&gt;Karena kau perempuan&lt;br /&gt;Maka aku datang membisikkan surat cinta ini&lt;br /&gt;paragraph demi paragraph berisi wasiat&lt;br /&gt;Karena aku dan kau perempuan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2007/08/sister-i-love-you-just-because-of-god.html"&gt;And I Love you just because of GOD&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3564204904921816109?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3564204904921816109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3564204904921816109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/12/karena-kau-perempuan.html' title='Karena Kau Perempuan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6528335628630838604</id><published>2007-11-29T07:23:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:10.857+08:00</updated><title type='text'>...just drop me a line</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Saya tidak berubah…&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R04GSHOWnVI/AAAAAAAAAOg/QPHrz6jLCMg/s1600-h/we"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138051133122977106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 108px; CURSOR: hand; HEIGHT: 125px" height="195" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R04GSHOWnVI/AAAAAAAAAOg/QPHrz6jLCMg/s320/we%27re+friend.jpg" width="168" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya masih seperti dulu…&lt;br /&gt;Masih suka menatap hujan…&lt;br /&gt;Masih suka tertidur pada tumpukan buku…&lt;br /&gt;Masih menyeruput kopi dengan mata terpejam…&lt;br /&gt;Iya,…&lt;br /&gt;Saya tidak berubah…&lt;br /&gt;Tatapan saya pun masih sama…&lt;br /&gt;Senyum saya masih sama…&lt;br /&gt;Kerlingan saya masih sama…&lt;br /&gt;Lalu,…&lt;br /&gt;Kenapa takut untuk berbagi?&lt;br /&gt;Kenapa mesti enggan bersandar?&lt;br /&gt;Kenapa harus terjegal oleh kesibukkan saya?&lt;br /&gt;Itu tidak akan selesai jika selalu diukur&lt;br /&gt;Tidak akan pernah bisa melegakanmu&lt;br /&gt;Karena,&lt;br /&gt;Saya masih sama&lt;br /&gt;Saya tidak berubah&lt;br /&gt;Saya masih disini&lt;br /&gt;Masih setia berbagi jika kau ingin&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu bertandang pada pintu-pintu sunyi milik sahabat saya. Saya &lt;em&gt;kangen&lt;/em&gt;! Sepadat dan secepat diri berlari untuk menyelesaikan tugas-tugas yang pernah saya abaikan waktu dulu, harus saya lakukan sekarang. Karena inilah berlarinya saya ke tujuan akhir. &lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt; susah banget untuk dicerna ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, beberapa teman dan sahabat saya menegur, baik lewat email dan sms, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;“Duhai kasih, dikau tenggelam seperti ditelan bumi, padahal aku tahu, pesan ini akan sampai kepadamu, dan akan kau balas walau dengan rentang waktu yang lama, tapi aku tahu, sayang dan cintamu, masih ada untukku.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;Lalu mereka pun dihinggapi rasa tidak enak untuk mengganggu, yang biasa mereka ciptakan pada hari-hari saya sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Padahal…&lt;em&gt;come on, just drop me a line...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Teruntuk sahabat-sahabat yang selalu datang pada kerlip kalimat sedih, mengapa ragu menyapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruntuk sahabat yang jauh dari pelupuk mata, jangan pupuk rindu untuk tidak mendongeng, karena saya pun masih ingin mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teruntuk sahabat yang sering melayangkan emailnya, bergelut dengan segala nestapa, saya tidak akan gentar oleh depakanmu, ketika kau katakan, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;“Aku ingin kamu melihatku bahagia, karena aku tidak layak ditangisi, aku ingin kamu memberiku bahagia, seperti aku berusaha memberimu bahagia dengan tidak mengeluh denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, itu tidak akan menyurutkan langkah saya untuk mendekapmu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6528335628630838604?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6528335628630838604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6528335628630838604&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6528335628630838604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6528335628630838604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/11/just-drop-me-line.html' title='...just drop me a line'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R04GSHOWnVI/AAAAAAAAAOg/QPHrz6jLCMg/s72-c/we%27re+friend.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-7830113210463307876</id><published>2007-11-24T18:12:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:11.072+08:00</updated><title type='text'>Arung Jeram ria</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Lagi nostalgia sama &lt;em&gt;seabreg&lt;/em&gt; poto-poto jaman &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R0f7MHOWnUI/AAAAAAAAAOY/0pZpO09qLXQ/s1600-h/Arus+Liar+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136350085555592514" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R0f7MHOWnUI/AAAAAAAAAOY/0pZpO09qLXQ/s320/Arus+Liar+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dahulu kala, &lt;em&gt;nemu&lt;/em&gt; satu yang belum jadul &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt;. Foto ini diambil sekitar pertengahan Juni 2007 kemaren. Pada waktu saya sekeluarga liburan ke parung kuda, menyalurkan adrenalin yang berlebih &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(bisa berlebih gitu?).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto ini diambil oleh orang yang professional &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(baca : udah biasa motret diatas batu gede ditengah arus liar).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Baru mau mulai, &lt;em&gt;udah&lt;/em&gt; disuruh pasang aksen. Hasilnya, ya bisa dilihat sendiri. Ada yang menunduk takut cakepnya ketahuan, ada yang senyum manis, karena emang disuruh senyum, dan para bocah pada &lt;em&gt;ceceungiran&lt;/em&gt; takut, karena it was for the first time for them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, inginnya &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; ambil rute yang 3 jam. Setelah ajak sana-ajak sini &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(sampe ngajak beberapa blogger yang dijakarta)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, yang bisa hanya si Richard, sepupu yang terakhir ketemu 7 yang lalu dan harus balik ke Munchen, ditambah Jihad dan Kiki &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(adiknya Richard)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; melengkapi acara arung jeram versi pemula. Hanya 1 jam lebih dikit, dengan perjalanan sepanjang 4km, cukuplah buat senang-senang dengan keluarga. Asyik! Dan ini bisa dikatakan &lt;em&gt;farewell party’nya&lt;/em&gt; Richard Gotz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau-maunya juga saya ambil resiko olahraga ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt; ini sebenarnya sedikit dari kegilaan saya yang masih tersisa &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(bangga banget kesannya yak?!?).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Sejak SMP hingga SMU dihabiskan untuk yang namanya meng &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;’olah-raga’&lt;/span&gt;. Mungkin karena saya adalah anak yang sangat disayangi oleh berbagai macam penyakit hingga harus lebih sering menggerakkan tubuh, supaya mereka bisa terpental jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman dulu, saya hobi banget &lt;em&gt;ngebasket&lt;/em&gt;. Setiap hari latihan. Pergi turnamen &lt;em&gt;hayo ajah&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Gak&lt;/em&gt; mati semangat deh. Masuk SMU mulai &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt; melirik Softball. Tambah asyik! Malah saya aktif luar biasa disini. Hingga bisa masuk pada jajaran atlet daerah. Diikut-sertakan untuk pada beberapa kejuaraan. Rasanya &lt;em&gt;emang&lt;/em&gt; masa muda yang menyenangkan. Jadi jangan heran ketika dikatakan jiwa saya sama seperti lagu &lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2007/11/cinta-itu-ada-yang-punya.html"&gt;celine dion&lt;/a&gt;, yah...ada benarnya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali memberikan kajian pada binaan yang masih SMP, saya selalu tekankan; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;‘Habisi masa mudamu dengan bisa lebih berprestasi. Jangan jadikan kota sempit dan pengap seperti Sengata menjadi halangan bagimu. Karena dengan begitu pikiran-pikiran kotor dan emang lumrah biasa terjadi bisa ditepis, dan bisa hilang bersama kesibukan yang lebih bermanfaat.’ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Betul &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt;? Karena emang &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; jarang, mereka selalu bertanya, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘boleh gak pacaran?’&lt;/span&gt; atau ‘&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;boleh ga dua-dua’an?’.&lt;/span&gt; Saya rasa demikianlah kita bisa menolak segala kegiatan buruk. Dengan banyak kegiatan dan menjadikan diri lebih bisa memandang hidup lebih indah dari hanya ber &lt;em&gt;'dua-dua'&lt;/em&gt; an, yang belum tentu akan ber &lt;em&gt;'dua' &lt;/em&gt;nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau ada yang bilang sengata &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; ada kegiatan yang bisa memompa semangat hidup? Siapa bilang? Saya yang sudah berbuntut 2 aja, mesti pinter-pinter membagi waktu untuk segala aktifitas diluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ngelantur ke binaan deh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, kalau saya nanti pulang liburan kejakarta lagi, dan ada yang saya ajak berarung jeram selama 3 jam, mau ya? Rugi loh nolak. Kapan lagi, melepas teriakan dengan sekencang-kencangnya dialam terbuka. &lt;em&gt;Heueheueheuheu…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-7830113210463307876?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/7830113210463307876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=7830113210463307876&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7830113210463307876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7830113210463307876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/11/arung-jeram-ria.html' title='Arung Jeram ria'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/R0f7MHOWnUI/AAAAAAAAAOY/0pZpO09qLXQ/s72-c/Arus+Liar+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5521452934300107039</id><published>2007-11-21T22:28:00.000+08:00</published><updated>2007-11-21T23:47:56.259+08:00</updated><title type='text'>Sekilas pada Acara Bedah Buku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;kemanakah dikau, hai sang pemilik blog?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff99;"&gt;T&lt;/span&gt;enang... saya masih disini. Masih tertimbun segala macam kejaran dan tumpukan tulisan yang harus segera diedit &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;Duh segitu sibukkah dirimu?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9966;"&gt;I&lt;/span&gt;nilah pilihan saya, yang kata salah seorang peserta bedah buku kemaren minggu, 18 November 2007, pilihan yang aneh dan langka. Pilihan dimana saya bisa saja menenggelamkan diri pada rutinitas kantor, ruangan berAC, dengan duduk manis dibelakang meja. Mengingat study saya yang bukan main-main &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;(emang saya kuliah gak main-main kok).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Mengingat pengalaman karir saya pun bukan pekerjaan gampang yang diraih. Tapi mengapa justru dengan rela berkasak-kusuk menekuni profesi penulis yang…yah berapa sih pendapatannya? &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;(ihhh belom tau ajah lagi…)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;B&lt;/span&gt;egitulah, acara bedah buku yang –dengan ikhlasnya- saya ketuai, berjalan dengan lancar dan menggembirakan. Jam 8.30 pagi peserta sudah antusias memenuhi stand bazaar, tempat dimana buku Sebab Cinta tak Kenal Waktu –serta buku-buku FLP lain- bisa didapatkan. Acara dimulai sekitar pukul 9.30 pagi &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;(biasa molor, kami kan orang Indonesia!!).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Beberapa acara dilalui dengan baik, hingga sampai pada sesi inti dari acara itu, yaitu membedah 2 buku sekaligus, Bercermin pada Hatimu serta Sebab Cinta tak Kenal Waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;P&lt;/span&gt;embedah memang khusus saya dan Vita pilih. Pertama adalah &lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;Pak Sony&lt;/span&gt;, General Manager ESD KPC, karena beliau adalah penulis non fiksi &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(ilmiah)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ketika masih di Freeport, juga yang memberikan endorsement pada bukunya Vita, serta &lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;Ustadz M. Lili Nur Aulia&lt;/span&gt;. Beliau adalah redaktur Majalah Tarbawi, pada kolom ruhaniyat. Pas &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt; dengan karya non fiksi kami yang memang berkisah tentang perjalanan ruh kami hingga bisa menghasilkan tulisan penuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;A&lt;/span&gt;da tukilan dari obrolan para pembedah pada waktu itu yang menarik. Buku Sebab Cinta... dikatakan adalah buku dimana isinya curhat yang bisa membiaskan sesuatu yang lain bagi si pembaca. Dimana curhat adalah obat yang paling manjur bagi orang stres. Dan jika bisa menuangkannya dalam tulisan, inilah salah satu terapi yang ampuh, dimana sang penulis bisa memberi terapi pada dirinya sendiri juga kepada orang lain. Boleh dikatakan, dengan menulis sama halnya memperbaiki emosi kita agar lebih terkendali dan ini salah satu kemampuan otak yang setiap orang memilikinya. Ketika itu tergali, itulah hasil dari cara kerja otak yang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;S&lt;/span&gt;alah satu pembedah pun mengatakan, ibaratkan sebuah cangkir, yang terus-terusan diisi oleh air, hingga pada akhirnya meluber keluar dari tempatnya, seperti itulah orang yang mau menulis. Isi dari cangkir adalah kegemaran dan keterlibatannya langsung pada media yang disebut buku. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pula isi kepala dari si pembaca, semakin sering pula ia mengimplementasikannya pada bentuk tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;L&lt;/span&gt;alu tulisan seperti apa sebaiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;T&lt;/span&gt;ergantung apa yang ia harapkan pada si pembaca. Ingin &lt;em&gt;fun&lt;/em&gt;, maka tulisan yang menggembirakan akan ada. Ingin berimajinasi, maka tulisan yang mempunyai daya khayal kuat akan tersampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;L&lt;/span&gt;epas dari itu semua, buku Sebab Cinta… adalah buku yang ringan. Orang tidak perlu berkerut-kerut untuk membacanya. Orang tidak perlu membuka kamus ketika menemukan kata-kata aneh. Orang tidak perlu menyimpannya ketika selesai dibaca. Orang tidak perlu membacanya dari awal hingga akhir secara runut. Tapi justru, ketika selesai membaca, buku ini akan kembali bisa dibaca sebulan, setahun atau sepuluh tahun lagi. Karena buku ini bukanlah kisah yang sedang marak sekarang ini. &lt;em&gt;So simple&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9966;"&gt;S&lt;/span&gt;edang memberi tanda tangan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;(asli saya gak nyangka akan diminta tanda tangan!!!),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; seorang bocah lelaki menyeruak diantara orang-orang, tingginya hampir sebahu saya, dengan senyum khasnya, dia berucap,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Mimi, Aa boleh beli buku Sebab Cinta, terus kasi tanda tangan ya!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ummi pun &lt;em&gt;ceuceungiran…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Teruntuk semua teman blogger, terimakasih masih mau berkunjung keblog yang sunyi senyap ini, semoga tali kasih kita tetap terjalin kuat&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;Poto-poto acara bisa diliat dirumah &lt;a href="http://rhandry.multiply.com/photos/album/5/Sebab_Cinta_tak_Kenal_Waktu_dan_Bercermin_pada_Hatimu"&gt;saya yang lain&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5521452934300107039?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5521452934300107039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5521452934300107039&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5521452934300107039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5521452934300107039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/11/sekilas-pada-acara-bedah-buku.html' title='Sekilas pada Acara Bedah Buku'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3104890328585110770</id><published>2007-11-12T07:27:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:11.320+08:00</updated><title type='text'>Sebab Cinta Tak Kenal Waktu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;A&lt;/span&gt;khirnya, salah satu sesi menjelang launching dan bedah buku saya dan Vita &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RzeQ9ff6j6I/AAAAAAAAAOQ/hpTJf0cjUJo/s1600-h/SEBAB+CINTA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131729686513749922" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RzeQ9ff6j6I/AAAAAAAAAOQ/hpTJf0cjUJo/s320/SEBAB+CINTA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;serta Ika &lt;em&gt;(FLP transfer dari Yogya)&lt;/em&gt; telah dilewati dengan baik kemaren pagi. Yup! On air disalah satu radio swasta dengan harapan FLP sengata bisa menggebrak &lt;em&gt;(eh jadi inget soto gebrak di Tebet?!)&lt;/em&gt; semangat para pengurus serta anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;O&lt;/span&gt;n air selama 2 jam, mengasyikkan juga. Biasanya kami bercerita dan merangkai kalimat diujung pena, tapi sekarang menghadapi pendengar yang tidak terlihat. Buat saya, ini bukan pengalaman pertama untuk berbicara di sebuah corong radio. Tapi kali ini sangat menyenangkan. Selain memperkenalkan FLP juga menceritakan sedikit dari isi buku juga berbagi pengalaman kenapa kami bertiga sangat gemar membaca bisa dimulai dari usia anak-anak. Dari kegemaran kami melahap buku hingga menghasilkan satu lagi pekerjaan yang tidak main-main, yaitu menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;A&lt;/span&gt;da satu kejadian yang menggelikan sehari sebelum on air. Ketika itu, saya dan teman-teman aktivis sedang dalam perjalanan ke Sengata Selatan dalam rangka silaturahim. Dalam perjalanan, terpantik cerita akan gencarnya mereka woro-woro ke adik-adik binaan mereka bahwa di sengata sebentar lagi akan ada bedah buku dan kedatangan penulis dari luar. Reaksi &lt;em&gt;hahahihi&lt;/em&gt; dan ledek-ledekan malah muncul ketika mereka tahu sayalah salah satu penulis yang mereka kira dari luar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;“Ya Allah Ukh, anti kah? Ga nyangka &lt;em&gt;euy&lt;/em&gt;, sekarang disetirin sama penulis”&lt;br /&gt;“Ayo ukh, mana buku gratisannya? Sama tanda tangannya sekalian ya?”&lt;br /&gt;“Eh ayo, sekarang puas-puasin &lt;em&gt;ngeledek&lt;/em&gt; Mbak Rien, besok-besok mana bisa kita bisa &lt;em&gt;kayaq&lt;/em&gt; gini. Hahahahhahaha”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff9966;"&gt;S&lt;/span&gt;aya yang terpojok, bukannya &lt;em&gt;GR,&lt;/em&gt; malah balik melancarkan serangan ;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;“Iya, ayo mumpung saya belom tenar banget. Mumpung kemana-mana masih bisa disetirin, mumpung masih bisa jadi PJ binaan, puasin deh foto bareng dan tanda tangannya. Entar-entar maaf deh, kayaqnya akan sibuk merilis buku lagi dan lebih sering on air dan masuk TV”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;semua pun serentak &lt;em&gt;ngakak&lt;/em&gt; &lt;em&gt;(ngakaknya cuman bisa dikalangan akhwat loh).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;K&lt;/span&gt;ami memang kompak. Dimulai sejak awal ramadhan sudah sibuk sekali membina. Hubungan kami bukan sekedar teman, lebih dari itu. Hubungan cinta dan kasih sayang yang sangat tulus karena kami berjuang untuk tetap lurus dalam dakwah. Hubungan cinta yang terus menggelora selalu mengingatkan bahwa haruslah ada peningkatan kebaikan dalam diri kami. Hubungan sayang yang hanya semata mengharap sayang dan cinta-&lt;em&gt;NYA&lt;/em&gt; bisa selalu mengiringi langkah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;D&lt;/span&gt;an buku ini perwujudan rasa sayang dan kasih yang telah hadir pada kehidupan saya. Rasa yang bukan hanya milik manusia yang berbeda kelamin. Bukan hanya milik antara laki-laki dan perempuan. Tapi lebih &lt;em&gt;universal&lt;/em&gt;. Karena setiap kejadian yang saya alami, cinta itu selalu menggelora memenuhi hati dan sanubari. Membuncah, meruah memadati jiwa… Karena memang, ...cinta tak kenal waktu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan rinduku untukmu&lt;br /&gt;selalu berderu&lt;br /&gt;dalam gairahku&lt;br /&gt;menuju cinta Rabb-ku,&lt;br /&gt;lewat lisanku,&lt;br /&gt;sampaikan doaku-&lt;br /&gt;dalam malamku-&lt;br /&gt;untukmu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Terimakasih pada seorang akhi (ya kamu! Ah lagi-lagi…) yang mau berbagi warna dalam hidupku bersama dua cinta. Allah telah memberi kesempatan-NYA melaluimu, dengan bisa memberiku banyak hal yang bisa kucurahkan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3104890328585110770?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3104890328585110770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3104890328585110770&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3104890328585110770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3104890328585110770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/11/sebab-cinta-tak-kenal-waktu.html' title='Sebab Cinta Tak Kenal Waktu'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RzeQ9ff6j6I/AAAAAAAAAOQ/hpTJf0cjUJo/s72-c/SEBAB+CINTA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-4214508643406390979</id><published>2007-11-06T11:38:00.000+08:00</published><updated>2007-11-06T15:58:25.103+08:00</updated><title type='text'>Cinta Itu Ada yang Punya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Jangan katakan engkau patah hati…&lt;br /&gt;Jika belum pernah mengenal cinta-NYA…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;T&lt;/span&gt;idak ingin sebenarnya membahas masalah cinta atau kepatahannya yang tidak berkesudahan, jika masalahnya ada pada diri kita sendiri. Rasanya bagi saya hanya akan menambah luka yang serasa terus diperciki buliran garam. Pedih! Tapi, jika terus dipendam, bukan tidak mungkin akan membuat hati yang patah menjadi putus asa, memendam rasa yang tak sampai, mengakibatkan kotornya hati yang memang harus selalu bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9900;"&gt;S&lt;/span&gt;aya pun pernah jatuh cinta. Walau yang kata eyang titiek puspa &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘berjuta rasanya’&lt;/span&gt; tidaklah selamanya bisa saya rasakan. Jatuh cinta bagi saya adalah suatu unsur ketertarikan seseorang yang sangat abstrak. Hingga, terkadang sangat abstraknya saya menganggapnya biasa saja. Jika demikian, bila saya bisa menganggapnya biasa, lalu pastinya sangat langka untuk menemukan saya patah hati, atau layu karena cinta tak terbalas? Yup! Memang langka. Seingat saya, hanya satu hari saya habiskan untuk menangis karena dilukai oleh sifat ke’playboy'an seorang cowoq pada masa SMU. Hanya satu hari, setelah satu hari itu, saya bisa melupakannya dan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;‘aku baik-baik sajaaa’ (pake irama RATU),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; kemudian membingkainya sebagai memori keterpurukan iman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#99ff99;"&gt;B&lt;/span&gt;egitu gampang? Susahnya untuk dilakukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;C&lt;/span&gt;inta memang begitu dahsyatnya hingga bisa membuat seorang gadis terus-terusan menangis setiap kali melihat pujaan hatinya berlalu begitu saja didepannya, setelah mengungkapkan kata putus. Atau merananya seorang lelaki yang ditinggal gadis pujaan hatinya, menikah dengan pria lain, pilihan hatinya. Atau membuat layu seluruh taman bunga yang ada dalam hati seorang perempuan. Begitu layunya, hingga selalu mencoba menyiramnya agar bisa mekar lagi. &lt;em&gt;Gak&lt;/em&gt; bisa terima kenyataan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff0000;"&gt;C&lt;/span&gt;inta memang menakjubkan, hingga tidak pernah mengenal satu golongan pun untuk disandari olehnya. Dikalangan ikhwah pun gak lepas dari terjangan kata &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘cinta’&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘patah hati’&lt;/span&gt;. Seorang gadis yang biasa mengenakan kerudung, memakai gamis, ikut tarbiyah, baru-baru ini mengeluhkan betapa hatinya serasa nyilu diiris sembilu. Bertemu dengan saya pun selalu dalam keadaan mata yang &lt;em&gt;beungeb&lt;/em&gt; &lt;em&gt;(lebam kata sunda teh!),&lt;/em&gt; wajah yang kuyu, senyumnya ketika dulu masih akrab dengan seorang lelaki &lt;em&gt;udah&lt;/em&gt; hilang bersama putusnya tali &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘ta’aruf’&lt;/span&gt; mereka. Gadis ini sangat memelihara rasa sakit hatinya, hingga walopun udah jelas ditinggal sang pujaan, tapi masih saja ngotot untuk terus mengenangnya. Maka setiap kali dia datang, selalu saya berikan senyuman yang paling mesra, sambil nyanyi;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;...Hatiku hancur mengenang dikau...&lt;br /&gt;...berkeping-keping jadinya…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Secepat kilat senyum dan tawanya merekah bak bunga matahari. Manis &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt;! Tapi gak lama mendung lagi, dan hujan deras menyiram basah kedua pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;eng&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;, setiap perjumpaan pastilah ada perpisahan. Setiap ada bahagia pastilah ada duka. Tapi bukan berarti hidupmu harus berhenti, harus &lt;em&gt;stuck&lt;/em&gt; tanpa ada prestasi. Kenapa justru untuk seorang lelaki yang tidak mampu menjaga hatimu, harus kamu tangisi? Jelas-jelas dia telah mengkhianatimu, memberikan janji palsu, merobek segala harga dirimu. Masih ingin ditangisi? Apa dia terlalu baik? Itu dulu. Tau &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt;? Kenapa dalam islam, tidak ada pacaran? Ya seperti ini akibatnya, &lt;em&gt;futur&lt;/em&gt; neng! Jangan khawatir deh! Jodohmu sudah tertulis jelas pada diary hidupmu yang sudah di&lt;em&gt;keep&lt;/em&gt; sama Allah. Kenapa masih ngotot ingin bersama lelaki yang telah berani menyelewengkan aqidah?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;U&lt;/span&gt;mm…masih inget sama lagunya Celine Dion yang judulnya &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;“My Heart will go on”?.&lt;/span&gt; Saya inget &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt;, semasa masih dalam status &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘sendiri’,&lt;/span&gt; seorang lelaki mengatakan, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;"perempuan kok gampang banget ya melupakan kisah manisnya sama pria? Coba deh dengerin lagunya celine, my heart will go on, ada baitnya yang bikin temenku pada marah loh, gini nih, …and you here in my heart and my heart will go on, tuh kan sadis banget."&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;Saya waktu itu senyum-senyum saja, dikatakan sebelas duabelas &lt;em&gt;(baca=sama)&lt;/em&gt; dengan lagu itu. Lalu apa yang salah dengan salah satu bait lagu itu?&lt;em&gt; Emang&lt;/em&gt; mesti &lt;em&gt;gitu&lt;/em&gt; kan? Orang yang &lt;em&gt;udah&lt;/em&gt; pergi, &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; perlu ditangisi sepanjang hayat. Orang yang sudah pergi dan &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; akan kembali, untuk apa dinanti? Apalagi secara nyata tidak memilih kita, nyata tidak ingin bersama kita. Buang waktu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;K&lt;/span&gt;etika cinta mulai terasa, seharusnya ada saling menguatkan akan kemurnian cinta itu sendiri. Kemurnian dari Dzat yang telah memilih kita untuk merasakannya. Cinta bukan berarti harus diumbar secara berlebihan. Cinta bukan berarti bisa menghalalkan segala cara untuk diraih. Cinta itu suci, hingga penempatannya pun tidak akan pernah salah. Namun, jika pada kenyataannya cinta diibaratkan sebuah kanker yang ganas dan bisa membuat mati pemiliknya, itu hanya karena terbatasnya kemampuan diri untuk menata letak, dimana seharusnya cinta berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cintaku hanya 3% untukmu…&lt;br /&gt;Sisanya adalah kesiapanku untuk menerima kodratku jika bukan takdirmu…&lt;br /&gt;Dan…aku pun tidak akan patah hati olehnya…&lt;br /&gt;Karena, masih ada cinta yang siap aku berikan seutuhnya…&lt;br /&gt;Kepada si Pemilik Cinta…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;Kamu (ya kamu!), si pemilik 3%, terima kasih telah bersedia mengarungi takdirku bersama kodratmu hingga detik ini...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#99ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;ps: para akhwat, laa tahzan...be strong!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;color:#99ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-4214508643406390979?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/4214508643406390979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=4214508643406390979&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4214508643406390979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4214508643406390979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/11/cinta-itu-ada-yang-punya.html' title='Cinta Itu Ada yang Punya'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5545566205626155640</id><published>2007-10-30T15:28:00.000+08:00</published><updated>2007-10-30T17:33:23.571+08:00</updated><title type='text'>Bahagia di Libur Raya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Cukup 2 minggu saya telah mengalami &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;‘kegemukan’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;. Wah apa ya? Pasti pada mikir-mikir, gemuk apanya? Cukup, 2 minggu memang saya mengalaminya, baik dari segi fisik maupun otak. Wah otak bisa gemuk juga ya?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cukup 2 minggu saya tinggalkan aktivitas rutin saya selama di Sengata. Mudik ke tempat orang tua saya tinggal. Bermanja-manja dengan mereka. Banyak bercanda dan menghibur ibu yang tetap saja menangis ketika melihat saya harus pergi kembali ke Sengata. Tapi, ternyata walau hanya 2 minggu, banyak hal yang bisa saya dapatkan. Banyak hal yang mampu membuat senyum saya mengembang, tertawa, bahkan menangis. Walau hanya 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libur Raya kemaren, saya sempat berkumpul dengan salah satu saudara sepupu saya yang baru &lt;em&gt;sweet seventeen&lt;/em&gt;. Seperti layaknya gadis muda –jaman sekarang- lainnya, pakaiannya seru &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt; buat saya. Hampir semua pakaian yang ia kenakan keliatannya -bagi saya- serba mengecil. Entah dia beli pada stand baju anak-anak, atau mengecil akibat seringnya masuk mesin cuci. Pokoknya &lt;em&gt;ngepas aja&lt;/em&gt; di tubuhnya. Sebenarnya saya hampir sakit mata juga, dengan ada pemandangan gadis si pemakai baju kekecilan itu yang selalu wara-wiri didalam rumah. Lalu bisa ditebak, dari awal, saya sindir-sindir mesra dan halus. Sangat halus, sutra mungkin lewat &lt;em&gt;deh saking&lt;/em&gt; halusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama dia hanya &lt;em&gt;cengar-cengir&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;mesem-mesem&lt;/em&gt; kuda. Kedua dia mulai bereaksi dengan bertanya-tanya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(mungkin telinganya mulai meradang juga nih?!).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Ketiga dia minta waktu pada saya untuk berbicara.&lt;br /&gt;“Selama ini, aku memang takjub melihat kakak begitu rapi dan tertutupnya. Sampe-sampe gak ada celah yang bisa terlihat dari balik kerudung kakak. Sebenernya aku iri, banget! Kenapa kakak bisa, tapi aku tidak bisa?”&lt;br /&gt;Deg,…dia tidak boleh saya abaikan. Seseorang kadangkala memerlukan penyemangat dan dorongan yang kuat untuk berbuat maksimal dalam hidupnya. &lt;em&gt;Right?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya dan dia diskusi kecil, di dalam dapur bersih milik ibu. Pagi hari sambil ngopi &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(ngopi? saya banget!).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Banyak hal yang ingin dia tahu dan korek dari saya. Saya pun memberi kelonggaran-kelonggaran baginya untuk bisa meng&lt;em&gt;eksplore&lt;/em&gt; segala keinginannya. Apalagi dia tinggal di daerah hulu pinggiran sungai Mahakam, yang jaman dulu harus ditempuh satu hari satu malam dengan sebuah kapal. Tapi jangan tanya soal budaya. Para ABG’nya dengan cepat akan menyerap segala&lt;em&gt; trend&lt;/em&gt; dan asyik-masyuknya metro yang bisa-bisa tanpa mereka saring. Pergaulan bebas dan barang-barang menggiurkan serta memabukkan bisa dengan mudah didapat, karena akses para turis asing yang sering keluar masuk. Dia pun sebenarnya berusaha kuat menghindari, dengan ingin segera memakai hijab pada dirinya juga hatinya. Inti dari segala permasalahan, keinginannya untuk segera mengenakan kerudung terhalang karena ketakutannya akan lingkungan tempat ia tinggal, takut pada orang tuanya, takut akan dijauhi oleh teman-temannya, &lt;em&gt;etcetera&lt;/em&gt;, buntut dari ketidak PD-annya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran bagi saya, bahwa terkadang, manusia sering banget banyak mikir jika ingin berbuat kebaikan. Banyak &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt; yang lama-lama akan menjebak diri sendiri dalam memubazirkan waktu. Lebih condong kepada hal yang popular dan lebih digemari, takut dijauhi dan dianggap aneh. Manusia sering &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt; menyepelekan apa yang sudah dijanjikan oleh-Nya, demi sesuatu dengan mengkambing hitamkan kalimat, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;‘belum dapat hidayah’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;, atau, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;‘entar aja kalu dah tua!’.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Terus, gimana kalau belum dapat hidayah sampai ajal, atau belum keburu tua udah keburu meninggal? &lt;em&gt;Who knows&lt;/em&gt;? Bahkan ada ucapan yang menusuk,&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;’hari gini masih mau koar-koar memperbaiki masalah orang lain? Please deh!’.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Nusuk kan? Banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, dengan mau mengerti masalah orang lain, mau menerima segala jenis curhat, dengan senang hati menerima sms malam-malam, lebih kepada perbaikan diri sendiri. Menjadikannya cermin bagi saya, bahwa masih banyak diluar sana yang ingin berbagi cerita. Menjadikannya pantulan, bahwa kita masih beruntung dengan tetap bisa tegar menjalani hidup dengan layak. Masih sangat beruntung &lt;em&gt;banget!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@@@&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, beberapa hari lewat, setelah diskusi kecil kami, saudara sepupu saya ini harus kembali ke kampung halamannya. Pagi-pagi buta, saya lihat dia sudah berbenah. Mengenakan baju lengan panjang, celana jeans, dan…memasang kerudung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumnya sumringah...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahagianya…&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5545566205626155640?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5545566205626155640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5545566205626155640&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5545566205626155640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5545566205626155640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/10/bahagia-di-libur-raya.html' title='Bahagia di Libur Raya'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-2908413257479118430</id><published>2007-10-09T19:37:00.000+08:00</published><updated>2007-10-10T05:24:15.692+08:00</updated><title type='text'>Eid Mubarak from my soul...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Heart : Ramadhan hampir berakhir…merasa kehilangan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Human : Iya, tentu! Rasanya nggak bisa dilukiskan oleh seorang masterpiece pun…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Heart : Sudah lengkapkah ramadhanmu kali ini?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Human : Bicara soal lengkap, bisa menyangkut masalah puas nih! Dan manusia memang gudangnya ketidak-puasan. Saya merasa masih ada yang kurang saja. Bukan dimana-mana, tapi pada menjalani ramadhan kali ini.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Heart : Lakukan saja semampunya, bukankah Dia seperti prasangka kita juga. Disini tuh pembelajaran dimulai.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Human : Bener! Tapi mengapa kita selalu bertanya, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘sudah cukupkah kita memanfaatkan bulan ramadhan sebaik mungkin?’&lt;/span&gt;. Apalagi, akhir-akhir ini, saya malah merasa tidak tahu diri. Dihari akhir-akhir ramadhan saya malah dibalut kecewa oleh rasa sakit yang mengakibatkan tidak &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘merdeka’nya&lt;/span&gt; saya dalam beribadah. Saya mesti mengernyitkan wajah saya menahan rasa sakit, banyak melakukan aktivitas hanya sambil duduk saja, karena untuk berjalan pun saya hanya bisa memberi waktu beberapa menit, kemudian satu kaki saya akan berteriak, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘aku tidak mampu, jangan kau paksa!’&lt;/span&gt;. Duh, sungguh egoisnya!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Heart : Bersyukurlah kamu seharusnya, karena dengan sakit itu kamu jadi &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;ngeh&lt;/span&gt; betapa sayangnya Dia padamu, masih mau menegurmu yang terlampau bersemangat dalam beraktivitas. Masih mau menyisakan waktu bagimu untuk beristirahat, dan inilah kesempatan untuk menghapus dosa-dosamu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Human : Iya, tapi tetaplah seorang egois masih selalu mempertanyakannya.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Heart : Allah Maha berkehendak. Hanya Dia yang tahu tepat atau baiknya buat kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Human : Saya banyak dosa, mungkin kurang silaturahimnya, sering tidak sempat untuk menulis diblog, waktu yang makin mepet untuk BW, sering tidak mampu meluangkan waktu untuk satu blog teman yang loadnya lama sekali, jarang menyapa walo hanya diSB &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;(wah ini masalah ‘dunia maya’ yak?!?),&lt;/span&gt; saya sering tenggelam pada setumpuk pekerjaan menulis, membimbing adik-adik disekolah, rapat yang hampir tiap hari, belum buku baca’an yang pengennya dilirik mulu…tuh kan, sudah kurang silaturahim, mengakibatkan menumpuknya banyak dosa ya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan…&lt;br /&gt;Kau hampir melangkah&lt;br /&gt;Tapi debar rindu telah mendera disetiap pembuluh darahku&lt;br /&gt;Kegugupan akan jauhnya perjalanan mulai menyeretku&lt;br /&gt;Hingga, tersimpuh memohon&lt;br /&gt;Siramilah rindu agar selalu bersemi dan merebak&lt;br /&gt;Hingga tiba saatnya, “Dia” berkenan mengijinkan kita untuk bertemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minal Aidin Wal Faidzin&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir dan Batin&lt;br /&gt;Taqabballallahu Minna WaMinkum&lt;br /&gt;Taqbbal Ya Karim&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ila Liqo Fii Amanillah&lt;br /&gt;Salam Ukhuwah dan Cinta selalu dari Ummi Rien, Abi Indro, Aa Jihad dan Ade Kareem&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-2908413257479118430?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/2908413257479118430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=2908413257479118430&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2908413257479118430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2908413257479118430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/10/eid-mubarak-from-my-soul.html' title='Eid Mubarak from my soul...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5749113981427115521</id><published>2007-10-08T00:20:00.000+08:00</published><updated>2007-10-08T00:31:51.767+08:00</updated><title type='text'>Ibu, Rinduku di Akhir Ramadhan...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Seperti tersihir, kita sudah berada pada hari-hari menjelang berakhirnya ramadhan. Shaf-shaf didalam mesjid mulai kelihatan longgar, tidak sepenuh ketika awal ramadhan, kajian-kajian islam pun hanya dihadiri oleh segelintir orang. Seakan-akan banyak duri tajam yang tersebar sepanjang jalan kemesjid, sedangkan karpet merah nan lembut ketika dipijak membentang sepanjang arah pusat perbelanjaan. Miris!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada satu suasana lain ketika memasuki masa-masa berakhirnya ramadhan dengan dijelangnya hari nan bersih, penuh kemenangan bagi mereka yang lulus dalam ramadhan, yaitu Idul Fitri. Suasana hati mulai merindu, padahal ramadhan belum berlalu, berat hati melepaskan dan begitu ingin direngkuh selamanya. Seperti halnya suasana rindu serta membayangkan segala keindahan pada waktu ketika masih kanak-kanak. Rindu pada satu sosok yang selalu setia menemani, memberikan sentuhan sayang, penuh kasih menuntun. Sosok yang selalu tidak bisa lepas dari segala bayangan keindahan mana pun, menyeruak membayangi pelupuk mata. Ibu. Ya, sosok seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kecil, saya masih mempunyai rekaman, betapa ibu bagaikan seorang yang tiada lelah. Mempersiapkan rumah, menyajikan segala hidangan, menyisihkan sedikit uangnya untuk membelikan pakaian layak pakai pada hari Idul Fitri. Tergopoh-gopoh melayani kerabat dekat maupun yang jauh, yang berdatangan pada hari itu. Dan senyum selalu mengembang disudut bibirnya, walaupun jelas kelelahan tampak diwajahnya. Indah, mengenang ibu seperti mengenang taman surga yang pernah kita miliki sewaktu kecil. Surga yang ia ciptakan memang penuh pesona. Ibu, tidak hanya berarti bagi kita pada masa kecil, tapi tetap agung, walaupun kita bukanlah lagi anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang sedang membayangkan sosok ibu. Sosok yang sekarang jauh dari tempat keberadaan saya. Sosok yang semakin menua, semakin mengguratkan rasa letih. Saya dan ibu memang semakin dekat ketika masa-masa saya mulai melepaskan diri dari keluarga. Jauh dari ibu dimulai ketika saya mengambil pekerjaan ditempat yang jauh, menikah hingga mempunyai anak pun saya tetap jauh dari keberadaan ibu. Hingga jika lebaran tiba, saya selalu mengusahakan untuk bisa berada disampingnya. Melebur segala kerinduan kami, melebur segala kisah manis dan indah, hasil kenangan saya dan ibu pada masa kami masih tinggal bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilain pihak, saya pun mengenang seorang teman yang juga seorang ibu. Ia telah pergi setahun yang lalu. Ia yang saya kenal sangat energik, penuh kasih pada anak-anaknya, selalu mencurahkan segala perhatiannya untuk keluarganya. Hingga masa-masa terakhirnya, ia masih bisa habiskan bersama orang-orang yang ia kasihi. &lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt;, di hari lebaran nanti, pastilah rindu kehadirannya yang hangat akan dirasakan oleh anak-anak juga suaminya. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan menyambangi makamnya, menuturkan kerinduan, memberikan doa agar selalu lapang &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘tempat tinggalnya’&lt;/span&gt; sejak setahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya pun membayangkan banyak sosok anak-anak yang kini berada di panti-panti asuhan. Mata mereka kian basah ketika memasuki akhir ramadhan dan menjelang datangnya Idul Fitri. Dekapan dan ciuman dari ibu yang telah melahirkan mereka, tidak dapat mereka rasakan. Meluapnya kegembiraan sebagian orang dalam menyambut hari kemenangan itu, hanya bisa membuat mereka menerawang, merindukan ibu, yang kedua telapak tangannya tidak dapat mereka cium mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari-hari terakhir ramadhan ini, banyak hal yang ingin kita tarik ulang. Tetap bisa bertemu pada bulan suci ini, menjadi orang yang istiqomah, bertaqwa dengan selalu berbakti kepada orang tua, terutama pada sosok seorang ibu. Pada setiap akhir ramadhan, banyak hal yang harus bisa kita jadikan hikmah dan pembelajaran, dengan semakin bisa membuat kita menjadi umat yang ikhlas. Ikhlas dalam menjalani hidup, ikhlas menjadi seorang ibu, ikhlas menyayangi ibu, ikhlas dalam mengayomi ibu yang semakin tua, ikhlas pada kepergian sosok ibu jika kelak tiba masanya, juga ikhlas untuk menjadi ibu bagi mereka yang merindukan sosok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, kita bisa menjadikan akhir-akhir ramadhan ini sebuah prestasi yang kelak akan dapat mengangkat derajat kita di mata Sang Pemilik Kehidupan. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ibu,…&lt;br /&gt;Pada akhir-akhir ramadhan&lt;br /&gt;Rindu membuncah akan indahnya bulan ini&lt;br /&gt;ingin selalu khidmat didalamnya&lt;br /&gt;Seperti rindu pada dirimu&lt;br /&gt;Ingin selalu dekat disampingmu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://eramuslim.com/"&gt;http://eramuslim.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5749113981427115521?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5749113981427115521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5749113981427115521&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5749113981427115521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5749113981427115521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/10/ibu-rinduku-di-akhir-ramadhan.html' title='Ibu, Rinduku di Akhir Ramadhan...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-4383173452281474868</id><published>2007-10-01T15:53:00.000+08:00</published><updated>2007-10-01T16:07:28.611+08:00</updated><title type='text'>Anak Berpuasa? Perkenalkan dan Biasakan!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Postingan ini bukan didasari niat untuk riya atau membanggakan sesuatu yang mutlak milik Sang Pemilik Kehidupan, tapi lebih kepada penyemangat para ummi, bunda, mommy, ibu serta panggilan lain yang mewakili kita sebagai ummahat.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sulung saya, Jihad, ramadhan ini sangat menikmati puasanya. Bahkan terlihat &lt;em&gt;enjoy&lt;/em&gt; dengan aktivitasnya yang biasa dilakukan anak-anak umumnya. Bermain, lari kesana kemari, bahkan tidak tidur dari subuh. Sempat, terpikir rasa khawatir akan susahnya mengajak dia untuk menunaikan rukun islam yang ke 3 ini, yang saya mulai ketika usianya mulai menginjak 4thn. Malahan, waktu itu orang tua saya menegur, ‘Apa nggak terlalu dini ngajarin Jihad puasa? Nanti kan dia akan tahu kewajibannya ini kalau dewasa nanti.” &lt;em&gt;Umm..&lt;/em&gt;mungkin saja dia akan mengerti atau malah sebaliknya? Justru hal sebaliknya ini yang sebisa mungkin saya tekan agar tidak memperburuk akhlaqnya nanti. Wallahu alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau saya putar ulang memori saya dan Jihad alami, mengenalkan kata puasa sudah saya lakukan ketika dia masih bayi. Waktu itu saya selalu katakan, &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;em&gt;‘Jihad buka puasa ya?’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; ketika dia mulai merengek minta susu pada saya. Pada saat itu saya yakin, suatu saat kelak, kata-kata puasa akan menempel pada ingatannya. Bukankah, masih didalam perut pun kita selalu mengajak bayi kita berbicara? Apalagi jika sang bayi sudah bisa menangkap komunikasi kita, berbicara apa saja dalam hal positif saya yakini akan mempengaruhi bagaimana mereka berpikir nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika usianya 4thn, usia TK A, saya sudah mulai kenalkan dengan berbuka dan sahur. Tidak mempersilakan dia makan pada siang hari, kecuali dia minta. Dan seperti waktu ia bayi, saya masih selalu katakan, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;‘Aa buka puasa ya?&lt;/span&gt;.&lt;/em&gt; Sepele ya kedengarannya? Tapi dampak psikologinya yang akan berperan bagus. Alhamdulillah, kemaren menjelang ramadhan, saya sempat dikejutkan oleh keinginan Jihad untuk saum sunnah senin kamis, &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;em&gt;‘biar terlatih Mi, bentar lagi kan puasa 1 bulan’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;. Subhanallah. Percaya atau tidak, tapi inilah yang menggembirakan saya. Walau terselip rasa khawatir, apa nantinya bisa dengan senang dan nikmat dia lewati puasanya? Jangan-jangan bisa banyak bolongnya? Biasa deh, namanya seorang ibu, banyak ragam kekhawatiran dalam menghadapi buah hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suatu hari, &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;em&gt;“Tips-tips dong Mi, biar anak saya bisa diajak puasa!”,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; seorang ibu memintanya diselingi keluhan akan anaknya yang susah sekali puasa sedangkan usianya lebih tua dari Jihad. &lt;em&gt;Ehem…ehem&lt;/em&gt;, tidak ada tips khusus sebenarnya, karena saya yakin anak memiliki karakter mereka masing-masing. Dan setiap karakter yang mereka miliki hanya seorang ibu yang lebih mampu memahami mereka dengan baik. Usaha-usaha saya yang sudah saya urai diatas juga bisa dijadikan percobaan, karena usaha demikian sudah umum bagi ibu-ibu. Mungkin lebih pada &lt;em&gt;keep try don’t be bored&lt;/em&gt; yang mesti diingat. Karena jika kita sudah mulai menyerah dan mengatakan, &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;‘Ah nanti juga setelah dewasa dia akan bisa memahaminya sendiri’&lt;/span&gt;, akan berdampak tidak baik dan mengakibatkan kerugian bagi orang tua terlebih pada si anak. Siapa yang bisa menjaminnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya bisa mengatakan demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal seorang anak yang tidak bisa dikatakan anak-anak lagi, tapi sudah pada masa peralihan dari remaja ke usia dewasa. Dia pun masih tidak bisa mengekang keinginan-keinginannya pada ramadhan kali ini, bahkan pada ramadhan-ramadhan yang telah berlalu. Dia selalu saja mengeluh tidak dapat menahan rasa haus dan laparnya, padahal telah diberikan kesempatan untuk tidak berpuasa baginya ketika ia mendapat haid. Saya pun mencoba memahami dengan mengorek sedikit masa kecilnya, dan ternyata memang dari dulu, orang tuanya sangat bisa memaklumi dan melonggarkan peraturan dan tidak mengingatkan kewajiban berpuasa pada bulan ramadhan. Dampaknya tentu saja mengakibatkan ibunya merasa tidak berhasil serta bingung bagaimana anaknya ini bisa dilatih kembali, bahkan beliau bisa merentangkan kedua tangannya dan berucap, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;‘rasanya aku bingung harus gimana lagi, nyerah kale!’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Masya Allah, kasian ya? Lebih kasian kalau kita hanya diam saja. Maka sebisanya saya mencoba memberi sedikit masukan pada si ibu, bahkan saya mengatakan, ‘&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;&lt;em&gt;doa ibu itu tidak ada hijabnya loh. Hayo, berdoalah yang terbaik untuk anak-anak kita.’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; (syukron jazakallah seorang ustadz pernah mengatakannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ya Ummi, anak kita ibarat sebuah gelas kosong, yang isinya telah diserahkan sepenuhnya kepada kita sebagai pemegang amanah. Tentunya isi yang terbaik dan yang menjadikan mereka menjadi anak soleh dan soleha’lah yang selalu kita impikan. Jika demikian, jangan pernah surut langkah dalam hal memperkenalkan dan memperteguh keimanan anak kita. Tidak ada dalam kamusnya kebaikan kalimat &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘terlalu dini’&lt;/span&gt;, tapi yang ada mulailah &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘sedini’&lt;/span&gt; mungkin yang pernah saya tahu dan buktikan sendiri. Dan yang paling penting, perkenalkan, membiasakan, lalu akan timbul rasa rindu dan mencintai. Seperti pepatah  jawa &lt;em&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;'witing trisno jalaran ....&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, tidak kenal maka tak sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungsu saya, Kareem, juga pelan-pelan saya ajarkan hal-hal yang harus kita tingkatkan dalam bulan ramadhan. Terlalu dini? Tentu tidak! buktinya, dia akan dengan senang hati merebut segala benda yang saya baca, dan komat-kamit membacanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-4383173452281474868?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/4383173452281474868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=4383173452281474868&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4383173452281474868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4383173452281474868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/10/anak-berpuasa-perkenalkan-dan-biasakan.html' title='Anak Berpuasa? Perkenalkan dan Biasakan!'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8669911250937929916</id><published>2007-09-28T11:45:00.000+08:00</published><updated>2007-09-28T12:40:26.605+08:00</updated><title type='text'>Keajaiban Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Sibuk itu indah, maka berbahagialah orang yang disibukkan pada hal-hal yang bermanfaat”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya selalu berpikir-pikir, betapa sibuknya saya akhir-akhir ini, hingga ramadhan terasa cepat berlalu dengan segala aktivitas yang memerlukan stamina lebih fit. Dari awal ramadhan saya sudah mulai menjadi mentor pesantren kilat pada sekolah menengah pertama. Siap dengan segala materi yang bisa saja berubah menjadi sebuah &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; ketika menemukan &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘segmen’&lt;/span&gt; dakwah yang kadang-kadang diluar kendali kita. Melelahkan? Jelas iya. Saya dituntut lebih bisa membagi waktu yang seperti kurang saja. Mulai membuka-buka buku materi, bahkan kadang saya &lt;em&gt;nyeleneh&lt;/em&gt; membaca majalah ataupun buku-buku oase yang menumpuk didekat saya. &lt;em&gt;Piuhh!&lt;/em&gt; Dilain pihak, saya harus lebih bisa mampu membagi kasih sayang, kesibukan dirumah, dengan selalu mendampingi si sulung yang sudah mulai menikmati &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘nikmatnya’&lt;/span&gt; berpuasa, atau si bungsu yang harus selalu digiring-giring ke tempat-tempat yang jauh untuk sebuah kajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jangan ditanya, mengenai rasa &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘keajaiban’&lt;/span&gt; dan kekaguman saya pada bulan yang mulia ini. Banyak hal yang indah manakala saya mulai menapaki dengan langkah kecil. Baru dengan langkah kecil, belumlah bisa saya berlari-lari meraihnya. Namun, bahagia saya meluap tanpa bisa dibendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal sebelum ramadhan, saya diminta oleh murobbi untuk mengikuti pelatihan menjadi mentor atau dalam bahasa sehari-harinya pembimbing agama islam bagi siswa sekolah atau kampus. Jujur, saya merasa agak kikuk. Bukan apa-apa, tapi lebih pada usia saya yang &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; bisa dibilang muda lagi, apakah mampu membaur dengan siswi sekolah, menjadi aktivis dan membimbing mereka mengenal juga mengarahkan mereka untuk lebih tahu islam sebenarnya? Ragu-ragu, maju mundur, takut tidak mampu sempat saya rasakan. Wajar kan? Saya juga manusia. Tapi, sangat tidak wajar jika perasaan itu dipupuk hingga tumbuh subur, karena saya yakin ragu-ragu adalah tipu daya setan. Jadi jangan ragu! Murobbi saya mengatakan, &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;“Saya memilih anti, karena lebih pas, pas = untuk wawasan (yang suka nge-net biasanya wawasannya luas), untuk gaya bicara dan pergaulan, aktivitas”.&lt;/span&gt; Suka nge-netnya yang membuat saya tersenyum-senyum simpul. Dan mulailah, di otak saya terbayang tingkah polah siswi-siswi yang akan saya pegang. Pastilah mereka sangat aktif dengan keingin-tahuan mereka, dan biasanya tidak akan puas dengan hanya satu jawaban. Bukankah seperti itu kita dulu ketika masih dalam predikat siswi sekolah menengah pertama sampai atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dirasakan untuk pertama kali memulainya di kalangan pelajar? Kikuk? Gugup? Subhanallah, kikuk dan gugup pasti ada. Tapi begitu memasuki kelas, dan melihat wajah siswi yang jumlahnya hampir 30 orang, saya malah merasa tenang, dan memulai sesi 1 jam pertama dengan benar. Maksudnya dengan benar adalah saya berusaha memposisikan pribadi layaknya teman berbagi dengan mereka. Menyentuh nurani mereka dengan kalimat-kalimat yang halus dan cair, mampu menyedot respon baik dari mereka. Mencoba menyikapi &lt;em&gt;seabreg&lt;/em&gt; pertanyaan mereka dengan berbagai pendekatan. Memang tidak gampang, tapi saya berusaha tetap memegang filosofi, &lt;span style="color:#99ff99;"&gt;‘memberikan bukan karena pandai, bukan karena lebih bisa, tapi lebih ingin berbagi, sama-sama memperbaiki, sama-sama mengingatkan, memberi nasehat, karena seharusnyalah seperti itu seorang muslimah jika hanya ingin ridho dari Allah’.&lt;/span&gt; Subhanallah. Saya malah merasa 90 menit setiap sesinya serasa kurang, perasaan dekat dan sayang pada mereka hanya karena Allah mulai terasa. Lalu benarlah, tebar pesona pastilah akan meninggalkan bekas yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, saya yang pada dasarnya selalu ingin mencoba dulu, dan tidak akan menyerah sebelum memulai, bismillah mengambil profesi ini, yang bagi saya memang tidak mudah. Profesi ini mempunyai tanggung jawab besar, berhubungan langsung dengan Sang Pemilik Kehidupan. Sebuah profesi yang tak mampu dinilai dengan mata uang dari negara mana pun. Namun, bagi saya, inilah pembelajaran untuk mencapai kesempurnaan memegang amanah sebagai hamba-Nya. Sepatutnya saya bersyukur, karena masih bisa merasakan salah satu dari sekian &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;'keajaiban'&lt;/span&gt; di bulan penuh barokah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bertambah yakin apa yang pernah saya dengar, bahwa jangan merasa tidak mampu jika kita belum pernah mencobanya. Jangan pernah menilai kekurangan pada diri sendiri. Jangan pernah mundur untuk suatu hal yang baik, tapi dengan mengasah dan menempatkan pada porsinya itulah sebaiknya yang harus kita jalani dengan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(teruntuk adik-adik mentis di SMP 1 Negeri Sengata, really miss all of our conversation)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8669911250937929916?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8669911250937929916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8669911250937929916&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8669911250937929916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8669911250937929916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/09/keajaiban-ramadhan.html' title='Keajaiban Ramadhan'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8275113567479216821</id><published>2007-09-07T08:28:00.000+08:00</published><updated>2007-09-07T14:50:57.685+08:00</updated><title type='text'>Ramadhan adalah Pesantren</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, selalu ada sesuatu yang mengharu biru bermain pada kisi kecil dalam jiwa saya. Sesuatu yang selalu membuat saya rindu, dan ingin terus berada dalam suasana khidmatnya bulan penuh maghfirah itu. Sesuatu yang mampu menghantarkan saya pada syahdunya &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘pertemuan’&lt;/span&gt; yang selalu dinanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pemandangan yang baru lagi, kalau bulan ramadhan hampir menjelang, dikota-kota besar, segerombolan orang-orang dengan niat kuat mulai mengumpulkan bahan makanan pokok, berbelanja ini itu, mengeluh dengan melonjaknya kenaikan harga, berkerut-kerut memikirkan menu-menu apa yang akan dihidangkan selama satu bulan ramadhan nanti. Bahkan itu tetap saya temukan hingga saat ini. Di beberapa milis kuliner, bahkan sudah ada promosi kue kering dan katering selama ramadhan. &lt;em&gt;Duh&lt;/em&gt;, belum juga ramadhan mulai, sudah pada promosi kue kering segala? Please deh ah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal begini, tak pelak pernah saya alami juga, ketika masih tinggal dengan kedua orangtua. Mulai berbelanja kebutuhan, dan &lt;em&gt;ngider&lt;/em&gt; ke toko-toko yang mulai disesaki manusia. Layaknya anak kecil, saya merasa senang saja pada waktu itu. Kue-kue kering sudah saya &lt;em&gt;ancer-ancer&lt;/em&gt; yang mana saja. Makanan dan minuman yang enak sudah bermain-main dimata saya. Lalu tanpa sadar cap &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘beginilah ramadhan’&lt;/span&gt; mulai nempel pada otak saya. Walaupun dalam sebulan nantinya, saya dan keluarga berusaha untuk tidak absent taraweh dan tadarus, tapi tetap ada ruang kosong. Hikmah dari ramadhan rasanya kok susah &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt; didapatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tidak berlebihan, kalau saya katakan, khidmat dan hikmah bulan ramadhan bisa benar-benar saya rasakan ketika saya telah berusia 21 tahun. Ketika itu saya dengan beraninya terbang dan hidup ketengah hutan Kalimantan demi sebuah idealisme. Jauh dari peradaban kota, dengan relanya dikelilingi oleh bau asap pabrik, setumpuk kertas, sederet data dan kehidupan monoton serta banyak bergaul dengan kaum adam. Lalu, dimana letak penjelasan pada kalimat &lt;em&gt;‘khidmat dan hikmah ramadhan bisa benar-benar dirasakan ketika telah berusia 21 tahun’?&lt;/em&gt; Coba deh bayangkan! Ditengah hutan yang minim fasilitas, &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; mungkin ada pasar ramadhan, apalagi mau belanja ini itu, lebih baik tidak pernah punya harapan seperti itu deh. Yang ada, malam menjelang ramadhan, di asrama, tempat tinggal saya dan beberapa karyawan wanita, kami mulai berkumpul, saling menangis, saling menguatkan, saling meyakinkan. Menangis karena jauh dari orangtua dan sanak saudara, menangis karena tidak pernah menyangka akan melewatkan ramadhan ditengah hutan. Saling menguatkan dan meyakinkan karena datangnya ramadhan tidak akan membuat kita merugi setitik pun, justru sebaliknya, akan bertaburan pahala dan keberkahan bagi umat manusia yang bertaqwa, gemar bersyukur dan mencintai sesama. Akhirnya kami pun sadar dan melalui malam-malam selanjutnya dengan tadarus bersama. &lt;em&gt;Subhanallah indahnya&lt;/em&gt;! Kegiatan setelah itu &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; kalah indah. Setiap subuh, selesai sahur bersama, saya dan beberapa teman wanita akan bergegas ke masjid yang jaraknya sekitar 2km, melewati aliran sungai kecil, melewati rimbunnya pohon besar, melawan rasa kantuk, hanya ingin bisa berjamaah subuh. Lalu ketika masuk saat berbuka puasa, walau hanya dengan secangkir teh hangat, semangkuk mie rebus/goreng, rasanya tetap sama, &lt;em&gt;indah banget&lt;/em&gt;. Berlomba ke masjid untuk taraweh pun &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; kalah seru, kami bahkan selalu dinanti oleh sebuah bis besar –yang kasian melihat kami, para wanita jalan di jalanan berdebu- dengan setianya mengantar kami kemesjid. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;(really miss that moment)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir, dimana letak nikmat dan indahnya, jika seperti itu saja cerita yang saya panjang lebarkan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Mari saya tuntun untuk meraba dan merasakan dimana letaknya. Ketika memasuki bulan ramadhan, kita kerap lupa untuk apa kita masih dipertemukan dengan bulan suci ini. Kita kerap lengah, akan agung dan banyaknya kemudahan yang Sang Pemilik Kehidupan berikan pada kita. Untuk sampai pada bulan ini pun, kita terkadang alpa bahwa ini sudah merupakan awal kebaikan yang DIA berikan. Siapa yang bisa menjamin kita akan dipertemukan pada bulan penuh rahmat ini untuk tahun depan? Adakah yang bisa mencium bau umur akan berhenti dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan suci ini, kita harus bisa lebih mempersiapkan diri, baik jasmani, mengisi ruh agar bisa lebih bersabar dan ikhlas dalam menjalankannya. Memperbanyak istigfhar dan berupaya lebih mesra berdekatan dengan-Nya. Tidak ada larangan untuk berbelanja ataupun mempersiapkan menu-menu selama satu bulan, tidak ada halangan untuk mengais rejeki dengan mulai mempromosikan usaha, karena saya pun yakin itu untuk kebaikan juga, dan bulan ini memang bulan yang terbaik dari segala bulan. Namun tidak berlebih-lebihan, itu yang lebih penting. Lebih bisa menahan nafsu yang bisa menelan kita hidup-hidup. Lebih mampu menjadikan bulan ramadhan sebagai pesantren, sebagai tempat pembelajaran kita, agar bisa lebih bisa menempa ilmu hidup akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, kita masih diberi kenikmatan untuk merasakan indahnya ramadhan sampai saat ini. Dengan kemurahan-Nya, menjangkau dan meraih, mengingatkan bahwa kita masih memiliki amanah untuk selalu menyebar ilmu kebaikan. Insya Allah kelak akan dibagikan menjadi wasiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#99ff99;"&gt;"Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lainnya. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat." (HR. Muttafaq 'Alaih)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Marhaban ya Ramadhan…&lt;br /&gt;Selamat menunaikan ibadah shaum ramadhan 1428 H&lt;br /&gt;Minal aidin wal faidzin&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8275113567479216821?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8275113567479216821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8275113567479216821&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8275113567479216821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8275113567479216821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/09/ramadhan-adalah-pesantren.html' title='Ramadhan adalah Pesantren'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-4818343293435311071</id><published>2007-08-22T07:49:00.000+08:00</published><updated>2007-08-22T09:20:08.255+08:00</updated><title type='text'>Sister, I love you just because of GOD</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Beberapa waktu yang lalu saya mendapat sebuah pesan singkat, dari seorang ukhti yang dekat banget dengan kehidupan saya, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“I knocked heavens door last night. GOD asked: what can I do for you?, I said please love, protect and bless one who is reading this message. GOD smiled and replied…guaranteed”&lt;/span&gt;. Saya bengong! Dia tidak seperti biasanya menulis seperti ini kepada saya. Saya pun tidak langsung membalas apa yang dia kirim. Sebenarnya, saya bingung mau balas apa? Akhirnya, sedikit sore, dan sebelum berangkat liqo saya sempatkan membalas, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Syukron, anti tumben nulis beginian? Ada apa?”&lt;/span&gt; Lalu ia membalas, hanya sebagai penyemangat jalinan sayang antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya phobia sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, bukan phobia yang saya rasakan, tapi saya tidak ingin kejadian setahun lalu terulang. Sepinya sebuah persahabatan, dengan hanya sekali-sekali berkirim kabar, dan hanya tercetus &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Kangen euy, cerita-cerita dong! Tapi ntar ya, aku mau packing-packing dulu”.&lt;/span&gt; Almarhum dan saya selalu membalas setiap pesan singkat ataupun email dengan singkat. Padahal ketika salah satu memerlukan sesuatu, yang lain akan sigap bergerak. Ketika salah satu dari kami sakit, secara nggak sadar, menanyakan kabar lewat pesan singkat. Sepinya persahabatan hingga sebulan setelah ber &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;’say hai’&lt;/span&gt; lewat email, dia pergi. Lalu bagimana dengan sahabat saya yang mengirim pesan singkat ini? Saya dan dia mulai pada tingkat kesibukan yang lumayan menguras waktu dan tenaga. Dia salah satu murrobiyah dan aktif dalam dewan. Saya juga mulai kasak-kusuk nulis dan kegiatan diluar. Jadi bisa dipastikan quantitas percakapan kami tidak sesering dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar seperti menyesal akan kehilangan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang perlu disesali. Setiap detik sebenarnya kita telah kehilangan banyak, termasuk sisa umur yang semakin sedikit, menyempit dan mengecil. Apa yang bisa dan sudah kita lakukan untuk membawa bekal kepergian nantinya. Sadar atau tidak, kita sudah berada pada jalur antrian yang pasti. Tiket keberangkatan pun sudah di approve! Dan nggak mungkin ada tiket untuk kembali lagi. &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Seandainya Tuhan memberitahu dimanakah ujung dunia ini berakhir, pastilah segala bekal akan dipersiapkan. Namun terkadang, begitu pemurahnya DIA hingga kita tidak pernah sadar akan tanda-tanda yang diberikanNYA”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah Kitab Irsyadul ‘bad lil Isti’dad li Yaumil Ma’ad karya Abdul Azis Muhammad Salman, Nabi Yaqub as. meminta kepada malaikat maut agar berkenan memberi tanda ketika ajalnya telah dekat, dan malaikat maut pun menyanggupi, berjanji akan mengutus dua atau tiga utusan. Hal ini tetap membuat Nabi Yaqub as gugup ketika malaikat maut datang lagi setelah beberapa waktu, sedang ia belum melihat satu pun utusannya. Beliau protes karena malaikat maut itu datang untuk mengunjunginya sekaligus mencabut ruhnya. Hingga dijawab oleh malaikat maut itu:&lt;br /&gt;“Apakah kau tidak sadar, aku telah mengutus padamu tiga perkara dan engkau merasakan dan melihat dengan mata kepala sendiri akan perubahan yang terjadi pada dirimu? Bukankah rambutmu sebelumnya berwarna hitam, kemudian berubah menjadi beruban? Bukankah sebelumnya badanmu kuat dan kokoh, hingga akhirnya sekarang menjadi lemah dan loyo? Bukankah sebelumnya tulang tubuhmu lurus, kemudian berubah menjadi bungkuk? Maka ketahuilah, mereka adalah utusanku pada setiap anak Adam sebelum ajal menjemput.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Rasulullah bersabda, "Tidak beriman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." Untuk itu, saya katakan pada semua teman serta sahabat terkasih, jangan ada satu pun keraguan di hati, untuk mengungkapkan perasaan kasih dan sayang kita pada sahabat kita, sekecil apapun itu. Dan, jika tidak ada yang tersampaikan, jadikanlah sebagai pelajaran untuk tidak ada lagi kata sesal, sekecil apapun itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;My sister,&lt;br /&gt;Jangan kelu untuk sebuah salam&lt;br /&gt;Jangan kelu untuk sebuah kabar&lt;br /&gt;Jangan kelu untuk sebuah tanya&lt;br /&gt;Jangan pernah kelu untuk sebuah ikatan kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My sister,&lt;br /&gt;Punggungku membawa keluhmu&lt;br /&gt;Tanganku mengusap airmatamu&lt;br /&gt;Senyumku menghapus perihmu&lt;br /&gt;Hatiku terbuka untuk setiap lukamu&lt;br /&gt;…terlebih pada bahagiamu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejauh apapun langkahmu dariku&lt;br /&gt;just believe in your heart&lt;br /&gt;that I always try to stay closed besides you&lt;br /&gt;I always hold your hand&lt;br /&gt;I always wipe your tears&lt;br /&gt;I always try to feel for what yours&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You should know that I care and love you just because of GOD&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;in memoriam, jelang setahun teman, sahabat, saudara, &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://zidansyifa.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Anna Siti Herdiyanti&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;. Uhibbuki fillah ya ukhti.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-4818343293435311071?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/4818343293435311071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=4818343293435311071&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4818343293435311071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4818343293435311071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/08/sister-i-love-you-just-because-of-god.html' title='Sister, I love you just because of GOD'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3121199414687168568</id><published>2007-08-14T07:12:00.000+08:00</published><updated>2007-08-14T10:04:38.810+08:00</updated><title type='text'>Tidak Naif, Tidak Konyol dan...Real</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Sepertinya, abang berbicara dan bertanya dengan abu nawas nih!”,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; lalu icon tertawa terbahak-bahak muncul pada id YM’nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang ikhwan, dan menyebut dirinya abang pada saya. Bertemu pada ruang chatting pun tidak sering. Kerap, dialah yang memulai percakapan. Seperti siang menjelang sore itu, karena saya online, mulailah dia menegur dan bertanya, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Sedang apa?”&lt;/span&gt; Saya katakan, saya sedang dalam conference room bersama kajian muslimah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kembali saya asyik berbicara dengan seorang teman pada kajian muslimah, lalu dia kembali dengan pertanyaan, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Menurutmu berapa persen di Indonesia ini yang bisa disebut wanita sholehah?”.&lt;/span&gt; Muncullah kebiasaan saya, membalik pertanyaannya, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Menurutmu seperti apa wanita sholehah itu?”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Wanita sholehah adalah wanita yang beriman.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Sang ikhwan menjawab.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Seperti apa wanita yang beriman itu?”,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; saya &lt;em&gt;keukeuh&lt;/em&gt; balik lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka keluarlah pernyataan pada paragraph awal. Dia mengatakan semua persepsi tentang beriman itu sama saja pada setiap kepala individu. Pada kenyataannya, ketika saya beri pandangan tentang beriman dan bertaqwa -saya ketahui dari membaca dan murrobiyah- itu seperti kata sahabat Umar &lt;em&gt;(semoga Allah memberi rahmat),&lt;/em&gt; &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Bagaikan berjalan pada sebuah jalanan penuh kerikil, hingga sangat berhati-hati agar tidak menginjak kerikil-kerikil itu.”&lt;/span&gt; Lalu ikhwan ini kembali dengan, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Jadi kamu ingin bilang seperti itu beriman?”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Nah, bukankah dari sini sudah jelas, dua orang individu beda dalam melihat apa itu ‘beriman’?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Trik (ia katakan saya memakai trik ini) saya membalik-balik pertanyaannya sungguh tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya ingin tahu dengan jelas bagaimana pemikiran lawan bicara saya, terlebih menyangkut &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘keyakinan’&lt;/span&gt;. Saya juga hanya ingin menjaga apa yang keluar dari mulut saya bisa dipertanggung-jawabkan. Tidak mudah! Ini masalah nggak main-main.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Banyak wanita yang mengaku beriman tapi masih tidak mau tunduk walau sekedar untuk mengenakan kerudung. Wanita mengaku sholat tapi masih memakai pakaian yang kekurangan bahan. Wanita berucap mencintai Pemiliknya, tapi tidak bersedia mengerjakan sebagian perintah-Nya. Beriman dan sholehah tidak bisa dipersenkan, kadar itu sudah menyangkut hubungan kita dengan Sang Pemilik Kehidupan. Tidak akan bisa kita mengkalkulasikannya, sedang &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘hati’&lt;/span&gt; itu ada pemiliknya, sang pemilik kehidupan. Kita tidak patut dan tidak berhak untuk berlagak pandai mempersenkannya.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Demikian jawaban saya. Di katakan oleh ikhwan ini, &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Ia sudah bagus dan…Naif!”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Alasanya, saya hanya menjawab garis besar dan tidak sesuai dengan realitas. Saya malah senyum. Berdoa agar hati saya tidak menjadi &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘marah’&lt;/span&gt; dan merasa &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘terancam’&lt;/span&gt;. Saya juga manusia biasa. Saya harus mempunyai bukti kuat, agar kaum saya dan pergerakannya tidak dianggap sekedar memenuhi ruangan diskusi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Akhi yang disayang Allah. Sesungguhnya Allah Maha tahu apa yang kami lakukan. Salah satu contohnya, saya melihat serta bisa merasakan sendiri, teman-teman saya pergi untuk mengisi halaqoh, jauh kepelosok, menembus jalan yang &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; ngenakin perut, masuk ke tempat lokalisasi, memberikan materi pada pelacur-pelacur juga mucikarinya, terpencil dan bisa membuat bulu roma merinding, ditatap dengan mata yang pernuh tanya, kami berusaha untuk tetap khusnuzhon. Teman-teman saya pun rela demi sebuah penghargaan dan cintanya pada &lt;span style="color:#66ff99;"&gt;Sang Pemilik Kehidupan&lt;/span&gt;, walau harus membawa dan menggendong anaknya yang usianya masih bulanan. Kalaupun ini disebut konyol, kami rela, asal tidak konyol dimata Dia. Asal tidak membuang waktu kami konyol begitu saja. Asal kami tidak terpuruk karena telah dicecar sebagai muslimah yang hanya bisa duduk manis di ruang diskusi tanpa usaha memperbaiki muslimah lain. Dan jika masih dikatakan konyol, Dia memberikan kemudahan kepada beberapa &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘PSK’&lt;/span&gt; nya untuk berniat kuat agar stop dari pekerjaannya karena sadar telah salah tempuh selama ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati paling dalam, saya sebenarnya sangat bersyukur, lewat seseorang yang mengatakan jawaban saya naif, konyol, tidak sesuai realitas, saya telah &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘ditegur’&lt;/span&gt; dan diingatkan untuk tetap berkubang lebih dalam, memberikan manfaat pada sisa hidup saya yang saya sendiri tidak tahu selesainya. Supaya waktu saya bisa digunakan maksimal. Agar tidak terjerumus dalam kebanggaan diri yang jelas sangat fana. Walaupun manusiawi, perasaan seperti itu, tapi bukankah hanya menyia-nyiakan waktu yang tersisa semakin sedikit? Saya pun hanya bisa berlindung pada Sang Pemilik Kehidupan, apa-apa yang saya paparkan pada ikhwan ini, semoga bukan diterima sebagai keinginan untuk mengumbar-ngumbar. Semoga bisa diterima, sebagai bahan agar kami tidak dikatakan hanya boneka yang siap dipajang, dan kami hanya ingin fitnah tidak berkepanjangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bisakah antum terima?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan perempuan pun &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; bisa dikaitkan dengan harus secara nyata turun langsung untuk membantu muslimah lain. Menjadi ibu rumah tangga, memberikan sisi nilai baik pada kehidupan, membimbing anak-anaknya, dan kegiatan yang tak terhitung pada sekali 24 jam, bisa memacu muslimah lain bisa sadar dan &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘melek’&lt;/span&gt;, bahwa seorang ibu rumah tangga itu pun bisa kebanggaan tersendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bisakah antum terima?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih jika antum mengerti bahwa begitu berkahnya hidup kami sebagai wanita yang ditaruh pada sudut terpencil seperti ini. Karena, hidup kami bisa sangat keras, bertarung dengan &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘misi-misi’&lt;/span&gt; lain, dalam membenahi kehidupan kami sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang konyol dalam hidup jika kita mengusahakannya hanya untuk meraih cinta-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadi teringat apa yang ditulis oleh Abu Fauzan, pada edumuslim.com:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Sudah berapa banyak, riya’ merusak aktivitas ibadah, dan amaliyah dakwah kita. Ingatlah, dimana ada keikhlashan, disitu ada riya’… yang selalu membayangi, mengancam, dan mengotori niat. Riya’ itu, ibarat semut hitam, diatas batu hitam, di malam yang gelap. Sangat tidak tampak!” (Abu Fauzan)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3121199414687168568?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3121199414687168568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3121199414687168568&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3121199414687168568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3121199414687168568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/08/tidak-naif-tidak-konyol-danreal.html' title='Tidak Naif, Tidak Konyol dan...Real'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-3343859498462425430</id><published>2007-08-07T20:39:00.000+08:00</published><updated>2007-08-07T20:46:46.640+08:00</updated><title type='text'>Just a little note...of my soul</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Just one click, dan titlenya pun telah berubah…jika kemaren masih &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘welcome to my sweet home’&lt;/span&gt;, setelah saya renungi, lebih tepat dengan &lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;‘Just a little note…of my soul’&lt;/span&gt;. Ya, seperti itulah yang saya ingin berikan dan pendarkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Postingan saya kebanyakan berkisar bagaimana jiwa saya memberikan cermin pada diri saya sendiri. Semampunya, saya mencoba berbagi, karena saya pun tidak tahu dimana ujung dari dunia ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika, ada yang hanya melengos dan matanya hanya berkelebat menikmati pemandangan dari isi dari blog ini, bisa dimaklumi. Saya tidak akan protes. Seperti itulah fitrahnya. Masing-masing individu berusaha mencari cerita seperti apa yang mereka ingini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika, melihat isi blog ini, masih belum menemukan postingan yang baru, itu bukan kesalahan pada keinginan individu yang dengan baik hatinya mampir kesini. Lebih karena penulis sedang dalam proses merapikan &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘sesuatu’&lt;/span&gt;. Menjalani sebuah profesi yang telah dipilihnya. Berlari-lari dengan deadline, yang hampir membuatnya &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘dead’&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;*smile*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, just a little note of my soul.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-3343859498462425430?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/3343859498462425430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=3343859498462425430&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3343859498462425430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/3343859498462425430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/08/just-little-noteof-my-soul.html' title='Just a little note...of my soul'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-2175119225656116467</id><published>2007-07-26T06:34:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:11.776+08:00</updated><title type='text'>some stories...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Gambar ini saya ambil sekitar jam 9 malam, daerah gunung sahari, Jakarta. Apa &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RqfvBoglLFI/AAAAAAAAAN4/O2xOPSYaDRI/s1600-h/pedagang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091300715098614866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 155px; CURSOR: hand; HEIGHT: 201px" height="226" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RqfvBoglLFI/AAAAAAAAAN4/O2xOPSYaDRI/s320/pedagang.jpg" width="192" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yang menarik? Saya sudah memperhatikan lelaki penjual ini sejak kendaraan saya berhenti karena macet, dan dia lewat, berjalan ditrotoar busway sambil menghitung rupiah yang ada ditangannya. Lalu apa yang menarik? Tidak ada yang menarik! Saya hanya prihatin, pastilah berat kehidupannya. Udara yang dingin bercampur dengan polusi, dia sanggup berjalan sambil menjajakan dagangannya yang saya pikir sangat sulit menarik minat pembeli &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(who knows?).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbanding terbalik pada suatu senja. Saya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(lagi-lagi)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; terjebak macet didaerah kemang. Padahal jalan yang diambil sudah bisa dibilang jalan tikus. Masih saja terdengar &lt;em&gt;tet tet&lt;/em&gt; klakson kendaraan. Pada beberapa café yang saya lewati, malah duduk beberapa eksekutif muda, baik itu wanita dan pria, berkelakar sambil memegang gelas minuman. Pemandangan yang biasa mungkin. Tapi bagi saya pribadi, miris! Saya tidak tahu apakah mereka mendengar suara adzan atau tidak, apakah mereka bisa membaca jam dipergelangan tangan mereka, yang jelas-jelas mengisyaratkan waktu panggilan &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;“KEKASIH”&lt;/span&gt; menggema membelah cakrawala. Mereka terlihat santai dan &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; rikuh. Apa yang menarik? Saya melihatnya dan sadar, dimana sebenarnya kita masih hidup dijaman jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pahit dan beratnya hidup dikota metropolitan sekelas Jakarta. Kehidupan jalanan yang tidak bisa dikatakan makmur. &lt;em&gt;Gepeng&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(gembel dan pengemis)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dengan mudah kita temui. Menghiba sambil memasang wajah memelas. Ibu-ibu yang membawa-bawa anak balitanya, bahkan yang masih merah, turun kejalan hanya sereceh dua receh penyambung hidup. Masih mampu kita tidak bersyukur dengan kehidupan kita sekarang? Ada satu pemandangan yang ketika itu bisa membuat saya menangis. Pada sebuah pengambilan tiket security di sebuah hypermarket, seorang anak menghampiri kendaraan saya dan berniat menjual sebuah korannya. Abi mengeluarkan *&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;dam’&lt;/span&gt;nya karena pada hari itu tidak bisa melakukan sesuatu yang sudah beliau sepakati dalam &lt;em&gt;liqo&lt;/em&gt;, memberikannya pada si bocah sembari mengambil korannya, dan berucap, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;“Untuk kamu semua”.&lt;/span&gt; Reaksi si bocah diluar dugaan saya, dengan terbelalak dia memandangi uang itu dan setengah berteriak, &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;“Makasih oom!! Makasihhh!! Heiii aku dapet seginiiiii!!!”&lt;/span&gt; pada temannya. Subhanallah, uang itu mungkin bernilai milyaran bagi dia. Dan saya merasa paling miskin di dunia, dengan –sering- tidak sadar menghitung-hitung titipan’NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang temen pernah bertanya pada saya, “Seperti apa kehidupan disangatta? Ngapain aja? Nggak ada mall dong ya?”. Kehidupan di Sangatta tidak secepat cahaya, dan tidak selamban keong. Sangat wajar. Bagi pribadi saya, ini ‘&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;dunia sunyi’&lt;/span&gt; saya. Saya bisa mendengar bunyi jangkrik dan burung pada pagi hari. Bahkan dibelakang rumah saya, seekor orang utan malu-malu mau menampakkan dirinya. Di Sangatta saya tidak pernah menemukan &lt;em&gt;gepeng&lt;/em&gt; pada setiap perhentian rambu. Udaranya bersih jauh dari polusi. Dan yang pasti saya merasa tenang bisa berdekatan mesra dengan &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;. &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;“Lalu nikmat-KU yang mana yang ingin engkau ingkari?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimana pun kita &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘terlempar’&lt;/span&gt;, dibelahan bumi mana pun, tidak seinci pun yang bukan kepunyaan &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;. Lebih bisa dan mampu menggenggam dunia pada tempatnya dan lebih merunduk pada waktu yang semakin menua, adalah sikap bijaksana yang seharusnya kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ps: Jazakumullah khoiron katsiro dihaturkan kepada teman-teman yang sudah mau bertemu dan melepas kangen ketika saya di Jakarta &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;&lt;a href="http://shazma.blogspot.com/"&gt;(Rini/bunda Shazma&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://shellamawardi.blogspot.com/"&gt;Shella&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://re-y.blogspot.com/"&gt;Rey&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://bintangkecilalya.blogspot.com/"&gt;Luky&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://cinta-bunda.blogspot.com/"&gt;Uwie/Bunda Key&lt;/a&gt;),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; menyempatkan diri dalam kemacetan dan hujan deras. Juga teteh-teteh nu aya dibandung, akhirnya bisa berjumpa setelah 9 tahun terpisahkan, hatur nuhun pisan. Dan satu neng geulis di Balikpapan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://fernandonitafamily.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(Nita).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian dan mempertemukan kita pada kesempatan lain. Maaf saya tidak memberi liputannya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(remember, I’m not the clever one who can tell some details)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; , karena sudah ada yang dengan baik hatinya memposting met and greet’nya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(Ukhty Luky, Shella, dan Neng Nita)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;*Dam: denda berupa uang/barang karena melalaikan satu kesepakatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-2175119225656116467?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/2175119225656116467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=2175119225656116467&amp;isPopup=true' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2175119225656116467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2175119225656116467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/07/some-stories.html' title='some stories...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RqfvBoglLFI/AAAAAAAAAN4/O2xOPSYaDRI/s72-c/pedagang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1639387254273690395</id><published>2007-06-04T13:48:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:11.922+08:00</updated><title type='text'>Romantic in my Mind</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Ukhty, aku ingin tau seperti apa romantisnya anti dengan abi. Seperti apa ini bisa dirasakan oleh pasangan yang sudah 8thn kenal pribadi? Bisakah anti memberikan masukkan buatku? Aku begitu ingin pasangan romantis seumur hidupku. Kira-kira mungkin ngga ukh?”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Anti punya bayangan seperti apa romantis itu?” &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Wanita ini kemudian mengernyit. Pasti sibuk dengan bayangan sifat romantis yang ada dikepalanya. Saya jadi mencoba meraba-raba juga, hmmm…seperti apa ya romantis ini? Seperi mawar indah merekah nan merah? Seperti manis dan kinclongnya hadiah yang terbungkus ketat oleh kertas kado? Seperti untaian kalimat yang menggelitik telinga membuat dada bergemuruh?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Mungkin dengan kejutan-kejutan manis ketika pasangan kita memberi kita kado ukh? Atau kata-kata indahnya yang merayu? Dengan setangkai mawar merah, berbisik puitis ‘wajahmu bagaikan rembulan yang membuat darahku berkelebat hilir mudik dalam denyut yang tak terarah’?”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Bisa saja. Sah dan wajar jika romantis itu dikaitkan dengan hal duniawi seperti ini ukh. Jika demikian, sebaiknya bersiap-siaplah untuk tersentak bahwa Allah itu MAHA PECEMBURU, ketika gelora menyapu dada dan perasaan, sekejap akan sirna oleh kelengahan diri yang lemah. Susah ya ukh, bahasa saya?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Anti terlalu puitis dan sedemikian rumitnya memberikan romantis yang anti simpan. Huh! Ayolah ukh, aku tahu, didalam pribadi diammu, pasti ada romantis yang anti ukirkan” memaksa dan menyenandungkan rayuan yang membuat saya tersenyum. Tapi bagaimana romantis itu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wujud romantis adalah hal-hal diatas yang pernah bersarang di pemikiran saya pada satu masa dimana segalanya dipandang hanya untuk dunia indah ini. Tidak peduli seperti apa makna romantis itu sebenarnya. Padahal saya sendiri sangat tidak bisa menikmati romantis yang umum terjadi. Ketika seorang pria datang membawa bunga, saya malah sibuk berpikir &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Gimana biar bunga ini tidak layu? Tanganku tidak dingin untuk dapat membuatnya terus hidup dan mekar”&lt;/span&gt; atau jika seorang teman datang membawa sekotak coklat, saya malah sibuk makan dengan secangkir capucino. Atau jika bingkisan kecil datang, dengan kartu bertulisan &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“You’re my light, you’re my sunshine, you’re my destiny”&lt;/span&gt; saya malah sibuk mencari kata-kata ini pada sebuah lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak romantis! &lt;em&gt;(menulis tentang romantis ini pun harus diiringi only hopenya switchfoot, sambil &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RmO0oGvF0GI/AAAAAAAAANw/DrijFm0eqIU/s1600-h/rien-in-roman02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5072096206445203554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RmO0oGvF0GI/AAAAAAAAANw/DrijFm0eqIU/s200/rien-in-roman02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ngopi, biar sisi romantisnya keluar).&lt;/em&gt; Tapi saya seorang pengingat yang –cukup- baik (Alhamdulillah). beberapa detil yang terjadi pada kehidupan, bisa dipastikan terekam dengan baik. Walaupun kadang terdengar &lt;em&gt;soak&lt;/em&gt; jika diibaratkan sebuah kaset usang. Saya malah tersenyum geli ketika ada surat melayang dengan kata-kata pujian dan sanjungan. Tidak nyata! Pernah ada sebuah tulisan seperti ini “bahagiakanlah dirimu, akan kutunggu kau digerbang &lt;em&gt;–nama perusahaan-&lt;/em&gt; dengan sebongkah hati yang merindu”. Tebak apa yang terjadi? Saya &lt;em&gt;celingak-celinguk&lt;/em&gt; mencari si penulis ketika saya mulai memasuki gerbang yang dikatakannya sehabis pulang dari cuti. Tidak nyata sama sekali kan? Padahal jika sekarang terjadi, akan maklum dan berpikir, inilah sebuah prosa pengungkapan hati jika berkata dalam bahasa pujangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang tidak romantis akan mendapatkan pasangan yang tidak romantis atau sebaliknya? Mana yang lebih nyaman? Bisa dibilang soulmate?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romantis yang ada dalam persepsi saya adalah kesamaan misi dan visi, dan dengan segala kerendahan mau menghormati segala pemikiran dan hijab. Tidak peduli dia dari kalangan mana, dari suku mana, setinggi dan setebal apapun perbedaan yang ada. Saya justru percaya bahwa dari perbedaan itulah romantis tercipta. Memperbaiki sifat yang kurang baik pada pasangan kita juga adalah romantisme yang dibangun atas dasar ingin menerima. Menerima, tapi tidak dengan mata hati yang buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya akhirnya mendapatkan romantisme itu sendiri? Ketika saya akhirnya &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;‘pacaran’&lt;/span&gt; setelah menikah. Bisa makan berdua, pulang larut, membeli buku, semua dilakukan setelah akad ijab kabul dilaksanakan. Disinilah sisi romantis pada awal pernikahan terjadi. Perasaan asing dan mulai belajar mengenal masing-masing karakter, justru menambah getaran bumbu dari romantis itu. Tahun-tahun dilalui dengan semakin banyak belajar dan menerima, disertai memahami dan bisa mengubah kearah yang lebih baik. Hal-hal ini juga saya temukan pada postingan si &lt;a href="http://muhshodiq.wordpress.com"&gt;penulis&lt;/a&gt; - saya banyak belajar dari beliau- tentang &lt;a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/02/07/ciri-khas-sifat-romantis/#more-23"&gt;romantis&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kalimat yang biasanya juga ingin didengar oleh seorang wanita? Apakah didapatkan pada masa 8thn itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya &lt;em&gt;pengen&lt;/em&gt; menjadi pacarmu, tapi kita harus menikah dulu”; “Ngga yakin saya menyayangimu? Tidak perlu dijawab, kita belum boleh untuk itu” ; “Saya sedang resah, saya tidak bisa curhat dalam denganmu, sebelum menikahimu” ; ”Saya dan kamu tidak perlu menunggu pendidikan saya selesai, mencintai Rasul adalah menunaikan sunahnya” ; ”Saya belum mengenalmu, baik dalam dan luar pribadimu, jadi tolong ijinkan saya mengetahuinya setelah menikah”. Romantis? Silakan menilai sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, inilah sedikit ceritanya yang mungkin bisa dikatakan romantis. Ada seorang pria yang dari kecilnya sudah berkecimpung dalam IT World, memberikan beberapa lagu dalam bentuk mp3 pada pasangan wanitanya, berharap sisi romantisnya bisa terkoyak dan tumbuh dengan alami. Meremote lagu-lagu itu langsung pada stasiun kerja teman wanitanya. Bisa memberikan pekikan kecil yang kadang hanya dalam hati wanita. Si wanita pun berpikir, mungkin inilah yang bisa dikatakan romantis. Padahal, pria ini selalu bergumam &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Thanks to technology, that I can make your opinion about romantic side in me”&lt;/span&gt;. Karena dia sadar dia tidak romantis sama sekali. Lain pihak, si wanita juga pernah terkaget-kaget, ada sebuah benda segiempat terbungkus kertas bendera merah putih, dan catatan kecil dari pemberinya &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“selamat hari kemerdekaan”.&lt;/span&gt; Akhirnya didapati bungkusan itu berisi coklat, dan merdekalah wanita itu dengan mengunyah coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 8thn kenal pribadi masing-masing? Sisi romantis yang paling dahsyat adalah &lt;em&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;‘aku mencintaimu karena pecipta dan pemilikmu”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan dinafikan bahwa wanita juga masih ingin romantis yang tidak gombal sama sekali, bukan hanya ingin menyenangkan saja, tapi lebih pada bisa menguatkan dan memberikan ghirah &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(semangat)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; pada pribadi masing-masing. Juga mencoba ngga munafik, wanita &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(saya wanita loh)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; masih ingin mendengar &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘aku sayang kamu’&lt;/span&gt;, bukan hanya diucapkan ketika sedang berdua’an, tapi juga ketika menemukan kesenangan bahkan kepedihan pada diri pasangan kita. Dan bukankah getaran juga bisa didapatkan ketika pasangan kita bisa berubah kearah yang lebih baik, positif dan manfaat. Misal yang biasa terjadi, ketika pasangan kita mulai bisa mengurangi kebiasaan membludaknya emosi, kita harus bisa asih memberinya penghargaan romantisme dengan mengatakan &lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;"aku bangga dan menyayangimu&lt;/span&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ukhty, bisakah aku seperti dirimu?”&lt;br /&gt;“Anti berhak atas apa-apa yang diridhoi oleh Allah. Anti juga berhak menentukan romantis seperti apa yang anti ingin dapat dan ciptakan. Jadikan perjalanan hidupmu menyenangkan juga membuatmu nyaman. Insya Allah. May Allah bless u and yours”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ffcccc;"&gt;&lt;em&gt;Saya sedang bersiap-siap ke kota tempat kami bisa menikmati romantis pertama kali. Pulang kampung sekaligus recharge.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1639387254273690395?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1639387254273690395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1639387254273690395&amp;isPopup=true' title='29 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1639387254273690395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1639387254273690395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/06/romantic-in-my-mind.html' title='Romantic in my Mind'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RmO0oGvF0GI/AAAAAAAAANw/DrijFm0eqIU/s72-c/rien-in-roman02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-255073297041801986</id><published>2007-05-30T23:24:00.000+08:00</published><updated>2007-05-30T23:55:50.498+08:00</updated><title type='text'>Ngaret bukan Budaya!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Eh, inget loh, besok kita ketemuan jam setengah sembilan, jangan ngaret!”&lt;br /&gt;“Okey, insya Allah saya usahakan nggak ngaret”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pagi itu saya sudah rapi jali duduk mematung didepan ruang pertemuan, sedikit kesal dan bertanya-tanya &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“kemaren kayaqnya saya deh yang diingatkan supaya nggak ngaret, tapi kok, malah saya yang kepagian?”.&lt;/span&gt; Coba aja gimana ngga kesal, saya sudah &lt;em&gt;nangkring&lt;/em&gt; sejak pukul 08.10 menit, sampai jam tangan saya udah menunjukkan hampir jam sembilan, orang yang mewanti-wanti saya supaya ngga ngaret belum kelihatan batang hidungnya. Apa saya yang salah ya? &lt;em&gt;Saking &lt;/em&gt;bingungnya, saya bolak-balik kertas edaran pertemuan hari itu -yang saya buat sehari sebelumnya-. Bener kok! Pertemuan dimulai jam 08.30 waktu indonesia Tengah. Masya Allah! ngaret amat &lt;em&gt;yak&lt;/em&gt;! Jadi inget salah satu postingan, my dear &lt;a href="http://khriy.blogspot.com"&gt;Ria&lt;/a&gt;, tentang budaya ngaret ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran ya, orang suka sekali membuat janji dan membuat molor waktunya. Kalau dipikir, untung dari budaya ngaret ini apa &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt;? Dan budaya ini sangat-sangat melekat pada pribadi orang indonesia. Sampai ada yang bilang &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“kalau sampai nggak ngaret, bukan orang indonesia”&lt;/span&gt; Aneh kan? Kasian ya, orang-orang kita dikaitkan dengan budaya yang jelas-jelas tidak sehat dan merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah disiplin waktu seperti ini, saya pernah punya pengalaman yang susah buat dilupain. Waktu itu saya masih SMU, salah satu teman ingin bertemu saya, di salah satu tempat, dekat dengan asramanya. Kebetulan dia adalah salah satu atlit daerah &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(pada cabang bulutangkis).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Janjian jam empat sore pun disepakati. Ngga disangka-sangka, karena ada aral melintang, dan saya tidak bisa memberi kabar padanya, saya &lt;em&gt;molor&lt;/em&gt; datang pas banget jam 04.30. Sampai ditempat, bisa dibayangkan si teman cemberut, sambil &lt;em&gt;gedeg&lt;/em&gt; mungkin ya? Setelah saya hampiri, kulit yang membungkus tangan saya dicubit sekeras-kerasnya. Dia mulai &lt;em&gt;mencerocos&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(hiya bahasanya!!),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; sambil bumbu-membumbui &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Kamu tuh, dateng jam segini! Kesorean lagi! Katanya atlit softball? Mana jiwa disiplinnya?!?”.&lt;/span&gt; Masya Allah, tangan masih kerasa pedes, tampang &lt;em&gt;perangas-peringis&lt;/em&gt; saya pun kena semprot. Tapi ampuh loh! Sejak saat itu saya berusaha untuk disiplin waktu, dalam artian, saya berusaha menjadi orang yang menunggu, daripada ditunggu. Walaupun menunggu sungguh menjemukan, tapi seperti kata mutiara jaman SD, lebih baik menunggu daripada ditunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya ini hal yang sepele ya? Kenapa dipermasalahkan? Bukan masalah jam atau karetnya juga. Saya tergelitik akan halnya waktu yang bisa kita &lt;em&gt;korting&lt;/em&gt; semau kita, padahal satu detik itu sangat berharga. Time is money. Bukan pula waktu dipersamakan dengan uang. Jika ditarik garis lurus, disamakan dengan uang, karena manusia lebih memilih pepatah ini. Mana ada manusia yang menyiakan waktu jika sudah menyangkut uang? Tapi, secara logika, saya menyamakan hal ini dengan nilai. Waktu adalah nilai. Yang jika kita komulatifkan akan sangat bisa memberatkan kita pada hal kebaikan. Dimana ya sangkut pautnya? Jika tepat waktu, kita sudah berbuat kebaikan pada orang lain yang bisa saja sebel menunggu kita, atau jika tepat waktu datang pada satu pertemuan, bukankah waktu yang biasanya dibuang untuk menunggu dapat digunakan untuk memperpanjang silaturahim dengan menambah materi pada pertemuan, tanpa harus melihat jam melulu karena sudah terikat dengan janji lain &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(ngaku! Saya tuh suka lirik-lirik jam, karena bentur-benturan dengan pertemuan setelah acara ngaret)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Atau paling mudahnya, dengan tepat waktu, kita bisa mengurangi bahkan menghilangkan resah yang kadang terbelenggu di hati kita, yang dapat mengakibatkan otak tidak bekerja dengan baik. Seperti yang terjadi, kemaren saya celingak-celinguk, karena dari waktu yang ditentukan, ngga ada satupun anggota yang diharapakan hadir tepat waktu, sampai saya berpikir “Apa saya salah tempat ya?”. Akhirnya, saya bolak-balik ketempat yang satu dan ketempat yang lain. Hingga merasa dungu. Resah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disurat cinta &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;, kita bahkan diingatkan, &lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;“Demi Masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian”&lt;/span&gt;. Jelas, bahwa masa atau waktu adalah hal yang sangat berharga, yang jika dilewatkan akan merugikan kita baik materi maupun immateri. Tidak berguna jika diabaikan dan tidak akan kembali dalam keadaan sebaik-baiknya. Ngaret bukan hal yang bisa disebut budaya. Karena budaya sama dengan seni. Seni sama dengan keindahan. Keindahan bisa terletak pada bagaimana seorang manusia bersikap dan berperilaku. Jadi komplek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang terburuk pada perkembangannya, saya pun harus mengikuti arus ngaret, khususnya di tempat kecil yang bernama Sangatta ini. Karena berpikir tidak akan menemukan kemacetan di jalan, hingga ngaret sah-sah saja. Sekarang, saya akan dengan sadar datang 5 menit bahkan 10 menit dari waktu yang ditentukan. Itu pun masih yang paling awal. Jadi kalau &lt;em&gt;bikin&lt;/em&gt; waktu pertemuan jam 08.30, maka datanglah pada jam 09.00, &lt;em&gt;molor&lt;/em&gt; 30 menit. Atau seperti yang baru-baru terjadi, waktu pertemuannya adalah jam 08.00, saya hampir telat hingga datang 09.00 &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(bener deh, ini karena ada proyek yang mesti diselesaikan, dan saya sudah memberi kabar pada penyelenggara).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Sampai di tempat, dengan &lt;em&gt;ngos-ngosan&lt;/em&gt;, ternyata….pertemuan masih &lt;em&gt;adem ayem&lt;/em&gt;, alias belum dimulai. Kecele deh!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Loh, jadi tidak mengintimidasi yang lain untuk bisa tepat waktu? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sudah! Kalau kasarnya sih udah sampai &lt;em&gt;bengak-bengok&lt;/em&gt; lagi, tapi kenyataan tidaklah manis seperti yang diinginkan. Tapi, usaha intimidasi Insya Allah jalan terus. Hidup Intimidasi!!! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;*smile*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-255073297041801986?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/255073297041801986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=255073297041801986&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/255073297041801986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/255073297041801986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/05/ngaret-bukan-budaya.html' title='Ngaret bukan Budaya!'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5380080789543366533</id><published>2007-05-21T08:31:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:12.064+08:00</updated><title type='text'>Anak 2 thn masih nempel? Wajar lagi...</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya ingin berbagi pemikiran, kenapa ya anak saya usia dua (2) tahun masih lengket sama bundanya?&lt;br /&gt;Ehem…ehem, bener loh, saya serasa pakar aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umm, jadi begini,…bukan melangkahi para pakar &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(permisiiii…),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; mari kita buka wawasan kita sebagai ibu dalam menyikapi berbagai problema anak. Khususnya untuk ibu yang berkarir eight to five di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RlDuZGvF0EI/AAAAAAAAANg/qlvTvqUwFDQ/s1600-h/jundiku+018.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RlDvN2vF0FI/AAAAAAAAANo/aSjZxYyXRYY/s1600-h/jundiku+018.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5066812602102173778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RlDvN2vF0FI/AAAAAAAAANo/aSjZxYyXRYY/s200/jundiku+018.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hmmm…kenapa anak kita sudah usia 2 tahun masih lengket sama kita, khususnya ibu? Menurut buku-buku yang pernah saya baca. Usia 0-2 tahun adalah masa pembentukan &lt;em&gt;bounding&lt;/em&gt; atau ikatan kasih sayang antara anak dan ibu. Dan akan semakin kuat apabila ibu bisa terus memberikan asi full hingga 2 thn, serta bisa membaca dan mengerti pola tingkah anaknya. Okey, saya percaya dan yakin akan ikatan bounding semakin erat karena ada kontak langsung. Terbukti dengan anak saya pertama, Jihad, walaupun menyusui hanya mampu selama 12 bulan, tapi ikatan saya dan dia kuat banget. Begitu juga halnya dengan anak kedua saya, Kareem. Walopun saya tidak bisa memberikan kemampuan saya untuk menyusui secara ekslusif &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(hanya bisa selama satu bulan),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; tapi saya berusaha menciptakan kedekatan kami, saya bangun ikatan bounding dengan selalu siap disampingnya ketika harus menyusuinya dengan menggunakan botol. Selalu mengajaknya ngobrol dan mengajaknya berdoa setiap minum susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana, lengketkah anak-anak saya ketika berusia 2 tahun? Jawabannya, YA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad, ketika kecilnya nggak akan tidur siang kecuali ada saya disampingnya. Nggak akan mau makan kalau bukan saya yang menyuapinya. Agak repot, tapi saya nikmati saja. Bagaimana Kareem? Ini dia super duper lengket. Diusianya yang sudah dua tahun tiga bulan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(27 bulan),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dia ngga akan minum susu yang sudah siap dalam botolnya yang teronggok manis disampingnya, kecuali saya yang membuka tutupnya dan memasukkannya kedalam mulut kecilnya, walau setelah itu bisa ditinggal karena dia sudah bisa pegang sendiri. Kareem ngga akan bisa tidur kalau saya tinggal. Mau seharian saya tinggal pun, dia bakal terus melek, keukeuh &lt;em&gt;nungguin &lt;/em&gt;saya datang. &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;“Mau bobo sama Ummi”&lt;/span&gt; pasti itu yang dia jawab. Bagaimana? Repot kan kalau tergantung seperti ini. Segala urusan komite, tarbiyah, kumpul untuk kegiatan menulis pun harus saya selesaikan dengan memberinya pengertian terlebih dahulu. Lebih ampuh, ketika dia sudah tidur lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya mikir, gimana kalau saya kerja? Tambah repot bin &lt;em&gt;riweuh&lt;/em&gt; kali ya? Harus ditempelin dan di&lt;em&gt;gandoli &lt;/em&gt;oleh anak bungsu ini. Tapi mungkin keadaan tidak akan sama seperti yang saya bayangkan. Karena teori-teori yang saya baca hanya mendukung. Selebihnya, pandai-pandai kita menerapkan dalam prakteknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi menurut saya, ketika anak usia 2 thn sangat lengket sama ibu atau ayahnya, hal yang patut kita syukuri dan berbahagialah kita. Karena dengan cara itu, si anak mengungkapkan rasa aman dan tenangnya dia disamping kita. Sangat wajar! Apalagi tanpa kita sadari, kita sebenarnya sudah menciptakan bounding sejak ia dilahirkan. Itu sudah naluri kita sebagai ibu dan ketentuan dari &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt; yang digariskan pada kita. Juga hal yang sangat wajar, ketika seorang ibu khawatir bahkan cenderung ketakutan jika anaknya kelak tidak bisa mandiri, atau tidak seperti anak lain yang seusianya sudah bisa mandiri. Persoalannya sekarang, apakah kita sadar bahwa inilah anugerah yang mungkin nggak akan didapat 3 atau 4 tahun lagi? Karena dengan beranjaknya usia anak memasuki dunia sekolah, kemandiriannya akan segera terbentuk juga. Seperti anak sulung saya. Sekarang ini, dia sangat malu-malu ketika saya peluk-peluk, atau dia mulai enggan jika saya ajak pada satu kegiatan, &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;"Mau main sama temen aja"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; , dan hal ini mulai nampak pada saat usianya masuk empat tahun. Bisa dibayangkan, bagaimana sekarang ia diusia hampir 7 tahun? Bisa mandiri! Dan akan lengket kalau ada maunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, still thinking to refuse some act that your child give to stop all of your activities?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, nikmati aja deh! Karena dengan cara demikian anak-anak menunjukkan sayangnya pada kita. Tinggal kita orang tua yang mengaku lebih dulu mengecap asam garam kehidupan, lebih dulu bisa menulis dan membaca dibanding anak-anak kecil ini, coba menyikapi lebih bijaksana. Memberi pengertian dengan bahasa sederhana akan lebih kena di pola pikir anak-anak itu. Walaupun anak-anak diusia 2 thn sudah bisa diperkenalkan pada &lt;em&gt;reward&lt;/em&gt; dan sangsi. Tapi pelan-pelan. Seiring waktu, mereka akan paham apa yang mesti lakukan dan tidak perlu mereka lakukan. Buktikan deh! Saya berani bilang karena sudah saya buktikan sendiri. Karena setiap saya mulai merasa naik darah, Kareem, bungsu saya pasti akan bilang &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Ummi ini, emang!”.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Nah loh, omongan saya ditiru kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia anak itu indah! Saya suka takjub ketika memasuki dunia ini. Serumit apapun masalah yang kita hadapi, akan sedikit terobati dengan mau memahami bahwa hal-hal seperti ini adalah rangkaian medali yang kita sandang sebagai seorang ibu. Saya malah selalu ingin bermain di dunia mereka. Jadi nggak heran, saya dan anak-anak bisa ketawa cekikikan atau terbahak-bahak, hanya dengan cerita-cerita lucu dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dari paragraf atas hingga spasi di akhir garis ini hanya sedikit pemikiran dan sikap saya. Silahkan ambil hikmahnya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;(mudah-mudahan ada)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dan singkirkan ketika tersirat hal yang tidak pantas. Saya tidak bermaksud menggurui atau merasa paling bisa dan benar. Saya hanya berbagi, sedikit dari sekian yang saya ketahui. Karena ini juga menjadi cermin pola dan tingkah laku kita dalam menghadapi anak-anak sebagai amanah tak ternilai. Dan anak-anak juga bisa menjadi ujian bagi iman kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umm….saya jadi ingat, suatu sore diberanda masjid, ibu-ibu yang sedang liqo, terlihat bangga ketika anak-anaknya lengket dan gembira berdekatan mereka. Terbukti dengan ucapan salah satu dari mereka; &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“Aku bisa marah dan heran deh kalau ternyata anakku bisa deketnya sama pembantu. Lha aku ibunya kok, seneng dong digandoli”&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt; Atau seorang temen saya yang juga bekerja diluar rumah berkata; &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;&lt;em&gt;“saya mulai kesepian nih! Anak-anak saya udah pada gede, jadi nggak mau ngebuntutin saya. Kayaqnya saya harus punya baby lagi deh!”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; *smile*&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5380080789543366533?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5380080789543366533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5380080789543366533&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5380080789543366533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5380080789543366533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/05/anak-2-thn-masih-nempel-wajar-lagi.html' title='Anak 2 thn masih nempel? Wajar lagi...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RlDvN2vF0FI/AAAAAAAAANo/aSjZxYyXRYY/s72-c/jundiku+018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6938660656638624268</id><published>2007-05-13T17:07:00.000+08:00</published><updated>2007-05-13T18:20:07.031+08:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan Blogger</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ini blog pribadi! Mau diapakan juga adalah hak priority si pemilik. Duh, semoga tidak menyinggung siapa pun. *&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Smile&lt;/span&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar! Tidak ada satu pun perundang-undangan yang mengatur bahwa blogger harus begini atau harus begitu. Untuk terus &lt;em&gt;up date&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;hiatus&lt;/em&gt; pun adalah sah-sah saja. Mau dilewati ataupun dikomentari puluhan bahkan ratusan orang pun tidak akan menjadi perkara yang –sekiranya- meresahkan. Demikianlah blog dan pemiliknya berlaku menurut pemikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki dunia blog, bukan tanpa alasan yang tidak jelas. Merasa diri &lt;em&gt;khalifah&lt;/em&gt; dan kewajiban menyampaikan kebajikan walo hanya satu ayat, yang menjadi alasan idealis bagi saya. dan inilah satu hal yang tidak bisa dinilai dengan mata uang bahkan komentar yang membumbung. Menulis bagi sebagian orang adalah kegiatan dimana mereka menuangkan segala bentuk aktifitas didalam kehidupannya. Demi memperluas tali silaturahim, mengenalkan dunia mereka, dan lain sebagainya yang mendukung terciptanya sebuah ‘rumah maya’ yang disebut blog. Akhirnya ngarainya bermuara pada blog tidak lepas pada kegiatan penulis dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu postingan mailing list FLP, yang membuat saya sadar dan seperti inilah yang ingin saya sampaikan &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“darimana kita mengenal dunia sunyi tulis menulis ini….! Menulis bisa kita asumsikan dengan "kencing" karena kita sudah banyak "minum" artinya menulis adalah kerja lanjutan dari membaca. Orang banyak menulis sudah pasti dia banyak membaca”.&lt;/span&gt; Lalu menuilis untuk siapa Tetapi apabila menulis adalah sebuah kegiatan dakwah tentunya akan berbeda pula cara niat dan metode. Apalagi, apabila kegiatan menulis dijadikan seseorang menjadi rangkaian panjang aktivitas revolusi tentunya menulis merupakan kegiatan tanpa pamrih berharap pada uang belaka. Menulis akan menjadi ruh dan nafas dimana dia menyerukan kebenaran yang diyakini, bersifat ideologis dan tidak hanya bersifat trend seperti menulis artikel untuk media massa. Menulis dalam tujuan ini berbeda pula dengan menulis diary. &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(jazakallah buat akhi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;a href="sholihin@gmx.net"&gt;sholihin_nur&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan dari seorang penulis lepas &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(blogger)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah ketika adanya penghargaan dijeniskan pada kriteria tertentu dari seorang penulis yang mempunyai banyak buku &lt;em&gt;(terlebih pada buku spiritual),&lt;/em&gt; mempunyai misi dan visi disetiap penulisannya, mau bertandang dan mengajak saya untuk belajar lebih banyak. &lt;a href="http://muhshodiq.wordpress.com"&gt;Penulis buku spiritual &lt;/a&gt;ini berkenan memberikan komentarnya pada &lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2007/05/jenuh.html"&gt;tulisan&lt;/a&gt; saya ini, berikut : &lt;a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/11/penulis-yang-tidak-membodohi-pembaca/"&gt;Penulis yang tidak membodohi pembaca memang seperti &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;“tukang sihir”&lt;/span&gt;.&lt;/a&gt; Nyaris seperti kapas yang ringan, melesat dan melayang. Subhanallah. Tersanjung. Saya jadi malu dan &lt;em&gt;GeeR&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang tidak membodohi pembaca, itulah yang ingin saya ungkap. Menulis dan penulis adalah kaitan yang tidak bisa dilepaskan &lt;em&gt;(jelas saja).&lt;/em&gt; Tapi penulis suka dikaitkan pada dunia khayalan. Bagi pribadi saya, tidaklah demikian. Menulis adalah ungkapan yang harus keluar seperti nafas, pelan dan pasti. Jujur tentu. Hal yang tetap bisa diajukan sebagai acuan adalah apapun yang kita lakukan adalah ibadah, pasti akan diminta pertanggung-jawabannya kelak. Lalu bagaimana jika apapun yang kita lakukan dalam hal ini adalah menulis diawali hingga dilanjutkan untuk tidak jujur, lalu ‘penulis membodohi pembaca’? siap bertanggung-jawab nantinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga masih seperti anak pitik dalam menulis, masih bau kencur dalam perblog-an &lt;em&gt;(hingga SB diperlukan sebagai jendela, karena ketidak-familiaran blogger tidak seperti w********, atau …net), &lt;/em&gt;masih terseok-seok untuk BW &lt;em&gt;(maafff).&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Maka mari kita sama-sama belajar, untuk lebih bisa bertanggung-jawab pada apa yang kita lakukan. dan semoga kita bukanlah penulis yang membodohi pembaca.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6938660656638624268?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6938660656638624268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6938660656638624268&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6938660656638624268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6938660656638624268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/05/kebahagiaan-seorang-blogger.html' title='Kebahagiaan Blogger'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6428666515076602048</id><published>2007-05-07T16:27:00.000+08:00</published><updated>2007-05-07T17:09:48.723+08:00</updated><title type='text'>Jenuh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;If you go back in time&lt;br /&gt;To the place in your mind&lt;br /&gt;To the one who knew&lt;br /&gt;A part of you&lt;br /&gt;That you just couldn’t find…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David foster – when she dance&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;type&lt;/em&gt; yang suka dengan mengenang hal yang indah dan mengesankan ketika kejenuhan tiba-tiba &lt;em&gt;nomprok&lt;/em&gt;. Saya kan juga manusia, yang jenuh pasti ada. Walaupun bisa dikatakan kegiatan saya berputar pada dunia yang saya ciptakan dengan kebahagiaan yang –selalu- saya usahakan selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saya sedang berbincang-bincang dengan salah satu teman yang sejak awal kami ngobrol, &lt;em&gt;insting&lt;/em&gt; saya mengatakan, dia menyembunyikan sesuatu. Sebut saja dia U. Dia adalah teman yang bisa saya ajak berdialog mengenai dunia penulisan yang kami sama-sama miliki. Kami bisa sama-sama memberi masukkan, dan juga bisa sama-sama mengkritik. Satu hal lagi, kami sama-sama menjaga tidak adanya interaksi mengenai bagaimana keluarganya, atau bla…bla…karena sudah disepakati tidak ada urusan &lt;em&gt;privacy&lt;/em&gt; yang bisa dicolek dari kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga, satu waktu, ditengah perbincangan kami, dia berbicara &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“mbak, bisa memberikan tausiyah buat saya? saya sedang jenuh!”&lt;/span&gt;. Dan &lt;em&gt;tada&lt;/em&gt;! Seolah-olah saya langsung bisa melihat bagaimana dia selama ini dan apa yang membuatnya jenuh. Saya langsung menebak, dimana titik jenuhnya. Dia akhirnya jujur, bahwa selama ini dia harus berbohong pada semua orang, termasuk saya, karena dia jenuh pada status dan keadaannya sekarang. Mengalir lagi cerita darinya, bahwa ini dorongan karena teman-temannya terus mendesak, mengintimidasi, dan lain sebagainya. Dan tentunya aliran pernyataan ini diiringi permintaan maaf dia. Karena akhirnya dia mengaku dia seperti tersihir pada setiap kalimat saya, hingga dia bersikeras ingin jujur pada saya &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(saya seperti tukang sihir yak?).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya hargai kemauan U untuk berterus terang. Karena saya sadar bukan hal gampang buat dia untuk mengakui semuanya. Tapi &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(ada tapinya),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; saya kurang &lt;em&gt;sreg&lt;/em&gt; bahkan cenderung tidak suka adalah U tidak jujur karena jenuh. Alasan yang sangat tidak bisa saya terima adalah, tidak jujurnya. Kenapa sih jenuh lalu berbohong? Bukankah ada riwayat, Ada seorang wanita yang datang pada Aisyah. Aisyah memuji wanita itu sebagai ahli ibadah yang luar biasa, karena saking tekunnya ia menyediakan tongkat untuk berpegangan jika ia sudah tidak kuat berdiri ketika sholat. Ketika hal itu disampaikan pada Nabi saw. Nabi bersabda &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;: Jangan berlebihan, Allah itu tidak akan jenuh hingga engkau jenuh.&lt;/span&gt; Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa Allah seperti prasangka hambanya &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(itu kenapa diharuskan untuk positive thinking)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;, dan tidak menyukai hal yang berlebihan, makanya untuk apa berbohong jika merasa demikian? Sangat berlebihan jika harus tidak jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak-sregan saya bertambah ketika U mengatakan kebohongannya juga agar perbincangan dengannya lebih seru saja. Darimana U bisa melihat serunya? Saya ungkapkan dengan tanpa dibuat manis, bahwa kesia-siaan yang akan dia peroleh jika menganggap dosa kecil ini adalah bumbu dalam perbincangan/dialog/whatever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana saya jika sedang jenuh? Saya akan sedikit berpaling dari hal yang membuat saya jenuh. Sedikit membenahi dan siap untuk kembali lagi. Atau bisa sedikit membuat tantangan yang sekiranya dapat membuat saya lebih bergairah untuk melakukannya. So simple? Yup, so simple!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenuh bukan alasan untuk kita memupuk kesia-siaan bukan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6428666515076602048?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6428666515076602048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6428666515076602048&amp;isPopup=true' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6428666515076602048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6428666515076602048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/05/jenuh.html' title='Jenuh'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8359653544562071001</id><published>2007-05-02T09:15:00.000+08:00</published><updated>2007-05-02T12:26:36.710+08:00</updated><title type='text'>Pahlawan (benar-benar) tanpa tanda jasa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Terpujilah…&lt;br /&gt;Wahai engkau…&lt;br /&gt;Ibu bapak guru…&lt;br /&gt;Namamu akan selalu hidup …&lt;br /&gt;Dalam sanubariku…&lt;br /&gt;…la…la…teruskan sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hymne Guru, diciptakan Sartono.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hari ini di Indonesia adalah hari pendidikan. Saya ingat sekali, hari ini pada waktu puluhan tahun, ketika masih duduk dibangku sekolah. Dimana-mana sejak jauh-jauh hari, sudah dipersiapkan berbagai macam kegiatan untuk menyambut hari ini. Biasanya yang paling &lt;em&gt;ngga&lt;/em&gt; ditinggal adalah upacara peringatannya, dengan lengkap menyanyikan hymne guru ini. Syahduuu banget. Dan lagu ini adalah salah satu lagu yang saya sukai. Entah kenapa, ada perasaan sendu mendengar atau menyanyikan lagu itu. Dan cepet hapal aja dengan &lt;em&gt;lyric&lt;/em&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang dan sangat menyukai lagunya, ternyata bukan hal yang bisa membuat dada &lt;em&gt;plong&lt;/em&gt;, ketika tadi pagi, pada salah satu televisi swasta, ditayangkan profil pencipta lagu ini. &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;Pak Sartono&lt;/span&gt;. Beliau adalah seorang guru &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(juga)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; SMP yang telah mengabdikan separuh umurnya untuk pendidikan, tidak pernah sedikit pun mendapat &lt;em&gt;royalty&lt;/em&gt; atau apalah yang bisa menghargai lagu hasil karyanya ini. Walaupun ada satu hal yang sangat menghibur dirinya, adalah pemberian sepeda motor yang dihadiahkan kepadanya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(saya lupa oleh menteri atau siapa)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; pada masa pensiun ini. Dari gambaran ini, yang bikin saya tambah pengen nangis &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(cengeng amat yak!?)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah beliau telah menjalani masa mengajar dan tidak bisa dikatakan pensiun. Kenapa coba? Karena kita semua tahu pensiun berarti tidak bekerja atau habisnya masa produktif seseorang dalam suatu instansi atau lembaga dengan diberikannya tunjangan selama hidupnya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(itu yang saya tahu).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Tapi ini tidak berlaku bagi pak Sartono. Karena selama beliau mengajar tidak pernah diangkat menjadi guru tetap atau pun PNS, alias guru tidak tetap -atau honor namanya pada jaman sekarang. Jadi tidak mungkin uang pensiun akan mengalir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah dunia pendidikan dipandang sebelah mata. Orang-orang yang berkecimpung didalamnya pun hanya dapat berteriak dan menjerit dalam hati. Lalu pasti ada yang bergumam &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;“kenapa juga mau aja dengan honor dan jabatan yang tidak tetapi masih aja ngajar? Kan udah tahu rugi?”.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sempit!&lt;/span&gt; Sesempitnya dunia yang memuat orang-orang untuk berpikir seperti ini. Bagi saya, ilmu itu tetap harus mengalir selama kita masih diberi kepercayaan untuk mendekap ruh kita. Dimana pun itu! Ketika seorang Sartono tetap &lt;em&gt;ngeyel&lt;/em&gt; mengajar tanpa diangkat menjadi pegawai tetap atau PNS, dapat dibayangkan apa yang ada dihatinya. Beliau mengajar demi ilmu yang harus ia berikan pada anak didiknya, agar kelak bisa membuka mata dunia akan hal-hal sepele seperti ini. &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Lalu kenapa juga sekarang membongkar hal seperti ini? Kenapa tidak ikhlas saja dengan keadaan ini?&lt;/span&gt; Kalau tidak terangkat ke permukaan, mana bisa Indonesia maju pesat diatas landasan yang dulu pernah disiapkan pada jaman orde baru! Dan ikhlas bukan berarti membiarkan hal sewenang-wenang ini terjadi lagi pada generasi guru-guru baru yang akan terus bergulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru juga termasuk buruh yang teraniaya oleh ketidak-adilan system perundang-undangan yang diatur oleh yang berwenang. Ketidak-seimbangan apa-apa yang harus mereka dapatkan dari pengorbanan waktu dan tenaga mereka untuk memajukan pikiran dan otak generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okey…okey…lalu bagaimana dengan guru-guru yang banyak kita ketahui dari media telah melakukan hal-hal yang tidak senonoh kepada anak muridnya? Guru yang kasar, bisa menampar, memukul, menendang anak muridnya. Bahkan bisa berlaku lebih sadis! Inilah yang dibilang ketidak-seimbangan yang dapat mengakibatkan ketidak-mampuan ruh mengikat nafsu kufur. Bahasa sulit! Okey, mudahnya, jenis guru seperti ini cukup diberi bintang tanda jasa didalam penjara deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita sebagai generasi yang mau dianggap berhati nurani haruslah bisa menyikapi hal ini lebih arif. Paling tidak dalam lingkungan kecil sekitar kita dulu. Misalnya kepada guru anak kita yang walaupun sekarang masih ada di &lt;em&gt;play group&lt;/em&gt;. Memberikan sedikit rasa asih kita pada mereka, dalam bentuk apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eumm…Bisa ngomong gini &lt;em&gt;emang&lt;/em&gt; sudah melaksanakannya? Alhamdulillah, saya mencoba berusaha untuk bertanggung-jawab pada apa yang saya tulis. Dan ngga mau lah saya dikatakan omdo. Its mean Omong Doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormatilah mereka yang mempunyai pekerjaan sebagai guru, mau itu guru lukis, guru masak, guru menari, &lt;em&gt;whatever&lt;/em&gt;. Karena ilmu yang ktita dapatkan melalui perantara mereka. Ga bisa dipungkiri apapun yang akan dipaparkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga guru. Bagi anak-anak saya dan orang yang mau berguru dengan sedikit ilmu cetek saya. &lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;*smile*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih guru, semoga hidayah dan rahmat Allah selalu tercurah padamu, guru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8359653544562071001?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8359653544562071001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8359653544562071001&amp;isPopup=true' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8359653544562071001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8359653544562071001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/05/pahlawan-benar-benar-tanpa-tanda-jasa.html' title='Pahlawan (benar-benar) tanpa tanda jasa'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-8528462032342201826</id><published>2007-04-27T06:46:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:12.235+08:00</updated><title type='text'>suatu siang di pom bensin...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Suatu siang, terik ngga, ujan juga ngga. Saya lagi berburu bensin, karena emang &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RjEtObQn7DI/AAAAAAAAANQ/2jMUNmGmwzw/s1600-h/bensin.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057873582372678706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RjEtObQn7DI/AAAAAAAAANQ/2jMUNmGmwzw/s200/bensin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;jatahnya harus diisi nih. Dengan mengangkut dua orang bocil ini, saya meluncur deh ketempat pom bensin yang lumayan jauh, letaknya pas arah mau ke luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sampe di tempat bensin, lumayan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(lagi-lagi)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; antriannya. Karena dari kemaren-kemaren susah banget mau beli. Jauh-jauh kesana, tau-tau udah ada sign &lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;“BENSIN HABIS”.&lt;/span&gt; Maka kali ini pake mental baja &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(saya males antrian yg beginian),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; saya antri dengan sabar. Hmm…kira-kira ada enam mobil lagi, baru menjelang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okey…mata saya yang emang lagi ngantuk, &lt;em&gt;ngider&lt;/em&gt; deh. Disebelah saya pas banget ada mobil tangki yang lagi ngisi bensin ke tempat di bagian bawah jalan arah antrian saya. Ooo… begini ya, kalau ngisi bbm ke pusatnya yang mengalirkan keselang-selangnya nanti. Terus mata saya ngider lagi ke arah mas-mas sopir &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(sepertinya mobil travel)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang juga sedang ngisi bensin. Nah, ada yang lucu buat saya. Dari dulu nih, saya suka heran bin ajaib, liat orang kalu ngisi bensin suka goyang-goyangin mobilnya, seperti….pernah liat iklan layanan pertamina? Nah seperti itu tuh. Bagi saya aneh lah! Coba pikir deh, bensin itu bentuknya seperti apa sih? Cair atau padat? Emang kalu digoyang-goyangin seperti itu akan memenuhi seluruh ruang bahan bakar itu tanpa ada satu pun yang lowong? Tanpa digoyang juga tetap terisi penuh kan? Bensin kan bukan pasir, yang kalu dibuat kedalam tempat harus di-&lt;em&gt;egol-egolin&lt;/em&gt; biar terisi rata. Kadang saya suka pengen bilang &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Mas/Pak, ga usah digoyang juga akan penuh, ga pernah belajar fisika ya?”&lt;/span&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(hahahahah…)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang lebih ngga enak dipandang, tertumpu pada si mobil tangki yang lagi ngisi/menuhin tempat persediaan bensin untuk beberapa hari. Ada laki-laki &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(nggak tahu ini karyawan, sopir atau apa)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dengan santainya, &lt;em&gt;nyiduk&lt;/em&gt; bensin yang udah ada dalam tempat penampungan itu dengan belahan gayung, terus nuangin ke beberapa tempat &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(derigen apa yak?).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Tanpa dosa! Bukannya itu udah jatah yang harus masuk ke tempat penampungan. Herannya lagi, para pegawai yang tugasnya ngisi bensin cuman cengar-cengir aja. Arghhhh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa lah! &lt;em&gt;Lha&lt;/em&gt; itu udah nggak bisa dipungkiri. Dan mungkin ini udah termasuk pungli kelas teri &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(bagi saya sih udah kelas kakap).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Seudzonnya&lt;/em&gt; saya nih, pasti deh dijual ke eceran yang dengan setia dan nggak sadar malakin orang-orang seperti ini. Tapi nggak bisa juga disebut malakin, &lt;em&gt;lha&lt;/em&gt; yang dipalakin seneng kok! Dapat duit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini namanya rakyat kecil jajah diri sendiri. Dan yang lebih &lt;em&gt;nyebelin&lt;/em&gt;, saya cuman bisa mandangin sambil melototin biar orang itu rada malu. Berhasil? Nggak tuh! Dia mah tetep aja cuek. Wakkss…kenapa sih saya pake ngga turun, terus negur? Hmmm…takut? Dikira pahlawan kesiangan? Yang ada juga maling kesiangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…arrgghhh…kenapa juga saya pake lupa bawa camdig?!?!?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-8528462032342201826?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/8528462032342201826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=8528462032342201826&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8528462032342201826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/8528462032342201826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/suatu-siang-di-pom-bensin.html' title='suatu siang di pom bensin...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RjEtObQn7DI/AAAAAAAAANQ/2jMUNmGmwzw/s72-c/bensin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1675750538642771617</id><published>2007-04-23T10:37:00.000+08:00</published><updated>2007-04-23T13:35:46.714+08:00</updated><title type='text'>Perempuan...riwayatmu kini...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Banyak perkataan atau kalimat yang pada intinya saya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; ngerti sama sekali. Seperti : &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;‘Kita harus memperjuangkan kesetaraan antara pria dan wanita, jangan mau dianggap remeh oleh kaum pria, kita harus bisa seimbang dalam kehidupan’&lt;/span&gt;. Tapi, kalau dibalik lagi, kita lontarkan kalimat yang lebih kepada pertanyaan : &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;’kesetaraan yang seperti apa? Seimbang dalam kehidupan yang seperti apa?’&lt;/span&gt; Pasti pada bingung. Wah asal &lt;em&gt;koar&lt;/em&gt; deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah saya tahu, &lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;RA. Kartini&lt;/span&gt; begitu dikungkung dengan segala yang ada pada sangkar emasnya, Kemudian dia perih melihat penderitaan kaumnya –yang pada waktu itu- sangatlah jauh di bawah standard. Hingga beliau dengan gigih memperjuangkannya. Dengan gigih membangun sekolah untuk para wanita, dan terus mengobarkan semangat agar wanita bisa mendapat hak-haknya sesuai pada porsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mundur lagi pada ribuan tahun sebelum Masehi. Saya terkenang dengan &lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;Fathimah ra.&lt;/span&gt; Putri terkasih dari seorang yang terkasih Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang sangat bersahaja, penuh pengabdian dan berotak cemerlang. Kepatuhan dan ketaatannya pada Rasulullah SAW serta kecintaannya pada keluarga mungkin belum bisa disandingkan dengan wanita manapun pada jaman sekarang. Membanting tulang dengan bekerja keras, hingga suatu ketika ia mengeluh akan kecapaian yang amat sangat. Satu masa, ia melihat ayahnya mempunyai tawanan yang bisa dia bawa pulang untuk menemaninya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(khadimat)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dalam menjalankan tugasnya dirumah, lalu meminta dengan penuh kasih. Rasulullah SAW menolak. Sedikit kecewa, fathimah pulang, yang kemudian disusul oleh ayahnya. Penuh kasih diutarakan maksud dari Rasulullah SAW menolak permintaannya adalah demi kebaikannya. Dan Fathimah pun cepat menyadari serta lebih bisa memandang dengan arif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita bisa meneladani kiprah &lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;Siti Khadijah&lt;/span&gt;, istri dari Rasulullah. Beliau adalah seorang saudagar perempuan pada masanya yang amat kaya. Berilmu dan mempunyai banyak hubungan parallel dengan berbagai pihak yang tentu saja dapat memberi keuntungan pada bisnis beliau. Padahal pada masa itu, perempuan lebih teraniaya dengan segala bentuk jahiliyah. Perempuan dianggap hanya seperti barang mainan dan cuma layak sebagai pajangan. Kenapa beliau bisa &lt;em&gt;survive&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetaraan dan keseimbangan seperti apa yang sebenarnya harus kita perjuangkan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ilmu dan kesempatan untuk mendapatkannya. Dengan ilmu semua yang ada bisa diubah ke arah yang lebih maslahat. Dengan ilmu, wanita bisa mempunyai andil dalam segala hal untuk menyeimbangkan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika wanita tidak berilmu, bisakah ia mengatur keuangan rumah tangga sebaik-baiknya? Atau bisakah ia mengajarkan pada anak-anaknya segala hal kebaikan? Jelas saja semua haruslah ada ilmunya. Apa harus didapatkan pada bangku sekolah? Lalu bagaimana ibu-ibu kita yang duluuuu bisa sangat sabar dan tekun mengajari kita –anak-anaknya- dalam pelajaran sekolah, bisa mengatur kehidupan rumah tangga sebaik mungkin, padahal pendidikannya hanya sebatas Sekolah Dasar, &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; lulus lagi &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(misalnya loh).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Itu karena lebih kepada karena mereka punya ilmu yang mereka gali dari diri mereka sendiri, tidak mesti duduk manis dibangku sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pada sekarang, yang sebenarnya pasti akan membuat ibu RA Kartini menangis, terlebih Siti Khadijah, Fathimah ra, Aisyah ra dan wanita-wanita pejuang yang mulia. Bisa dengan mudah kita temui para perempuan, gadis, wanita yang dengan bangganya mengenakan atribut yang berbau western atau yang &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; layak untuk diperjuangkan. Pakaian tank top, pakaian yang terus aja kekurangan bahan, menor sana menor sini, cekakak sana cekikik sini, dan yang lebih parah mereka mau aja dijadikan mainan yang pantas &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(atau terpaksa dipatut-patutkan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; untuk dipajang. Jika demikian adanya, wanita selamanya tidak akan bisa maju jika hanya memandang segala sesuatunya dari luar. Tidak akan bisa tercapai kebahagiaan hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa sih yang ingin diperjuangkan para pendahulu kita? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Wanita lebih mempunyai martabat yang tinggi. Bisa memegang teguh prinsip dan hanya taat dan patuh pada ajaran &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;, pribadi yang bersahaja, bisa membaca situasi yang bisa saja akan jomplang pada bumi yang dipijaknya, atau lebih kepada mawas diri agar hal-hal yang &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘jahiliyah’&lt;/span&gt; tidak akan terulang lebih &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘jahiliyah’&lt;/span&gt; pada masa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap berjuang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1675750538642771617?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1675750538642771617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1675750538642771617&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1675750538642771617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1675750538642771617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/perempuanriwayatmu-kini.html' title='Perempuan...riwayatmu kini...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-7587495043835869701</id><published>2007-04-19T14:31:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:12.388+08:00</updated><title type='text'>Masa Orientasi = Balas Dendam?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;M&lt;/span&gt;elihat STPDN, atau IPDN sekarang, saya suka ingat &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(lebih tepatnya &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RicYPRix4kI/AAAAAAAAANI/GDSznkbvJQU/s1600-h/DSCN9799new.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055035757433053762" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 170px; CURSOR: hand; HEIGHT: 99px" height="82" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RicYPRix4kI/AAAAAAAAANI/GDSznkbvJQU/s200/DSCN9799new.jpg" width="170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;bernostalgia)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dengan jaman dimana saya juga mengalami masa orientasi yang penuh kedisiplinan. Dan saya adalah produk sebuah masa orientasi bergaya Resimen Mahasiswa. Angkatan ketujuh yang masih kental dapat perlakuan yang –waktu itu- saya mikirnya…duh kejamnya! Tapi &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; sama dengan IPDN yang udah ada ajang smack down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;O&lt;/span&gt;rientasi di kampus saya dulu, sebenarnya juga bertopeng pada menguji ketahanan, kedisiplinan mahasiswa baru, yang nantinya digembleng dengan mata kuliah yang padat dan &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; ada &lt;em&gt;leha-leha&lt;/em&gt; sekalipun. Tapi jelas sekali, terlihat rasa dan keinginan pada diri para senior yang ingin membalas dendam pada apa yang mereka terima sebelumnya dengan memberikan perlakuan sama dengan adik-adik tingkatnya, termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;M&lt;/span&gt;asa orientasi dimulai pada jam lima subuh, dan kendaraan yang mengantar harus berhenti lebih kurang satu kilo meter dari posisi mereka menerima kedatangan. Dan, berlari-larian &lt;em&gt;lah&lt;/em&gt; dengan ngos-ngosan, tepat di hadapan, salah seorang senior, siap dengan pasang tampang sangar, beringas, suara meledak, ditambah kepekatan hutan pada waktu subuh, menggelegar &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Kalian itu baru! Jangan sok deh mau jual tampang disini, ga bakal dikasihani! Lelet! Masih cepetan ayam kalau lari dibanding kalian, tau!!!!” (welehhh…masak manusia dibandingin sama ayam, yang bener aja!)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;K&lt;/span&gt;emudian, setelah dibagi perkelompok, masuk hutan, yang disetiap pojokan ada kakak senior yang tampangnya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; kalah menyeringai. Mereka menahan dan akan memberi hal instruksi yang harus dilakukan. Saya yang &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(emang sudah lahirnya)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; punya mata &lt;em&gt;belo&lt;/em&gt; malah dikira melototin &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Eh kamu! Kenapa pake melotot! Nantang? Coba rayu nih pohon, anggap ini pacar kamu!”&lt;/span&gt; Hah?!? Ga bisa nangis dong! Mana saya belom punya pacar &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(masak sih?)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; jujur bingung. Saya terpaksa, yang &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; punya bekal acting menjalani arahan &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘kakak sutradara’&lt;/span&gt; dengan seadanya. Lulus casting, disuruh jalan deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;S&lt;/span&gt;ampai pada lapangan kampus, pertunjukkan penyiksaan -bagi saya waktu itu- &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; berhenti gitu aja. Setelah diberi pengarahan, salah seorang senior dengan selang yang lumayan besar &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(sebangsa selang pemadam)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; siap menyemburkan air yang kekuatannya seperti kekuatan pemadam juga. Sebelum aksi basah ini mulai, sebuah instruksi &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Bagi mereka yang ada penyakit yang membahayakan, silahkan keluar dari lapangan, menjauhi arah air”&lt;/span&gt;. Saya selamat! Asma saya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; bakal mau kompromi, dari hutan sampai lapangan mau disiram air dingin, alih-alih saya bisa &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; sadarkan diri nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;P&lt;/span&gt;embalasan dendam terus berlangsung. Saya pun punya nama panggilan dari senior. &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;BISEK&lt;/span&gt;. Pertama kali dengar, saya kontan bilang &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Saya ga mau dipanggil itu, dan ga akan mengganti tanda pengenal saya dengan kata itu”&lt;/span&gt;. Salah satu senior perempuan langsung melotot &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Eh kamu berani ngelak! Mau dihukum? Harusnya bangga, itu nama ga sembarang dipilih sama mbak Eka untuk diberikan, tahu!".&lt;/span&gt; Senior perempuan yang bernama Eka, menghampiri saya, lalu &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“De, besok ganti ya, nama ini mbak yang turunin ke kamu, tahu bisek?”,&lt;/span&gt; suaranya sangat lembut dan pelan, bikin saya berani menggeleng, &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Bisek itu bibir seksi, ok?”.&lt;/span&gt; Hah?!? Saya tuh dari biologi, dan bisek adalah memiliki jenis kelainan ganda atau begitulah. Ga taunya,…ah malunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;D&lt;/span&gt;ua hari dua malam kita digembleng, pake naik-naik tiang basket, ngemut satu buah permen yang diemut oleh 480 mahasiswa baru, dan &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; boleh habis, harus tersisa sampai pada orang ke empat ratus delapan puluh. Dibangunkan di tengah malam buta, disuruh baris-berbaris dalam keadaan ngantuk dan terseok-seok mencari barisan, dan pemandangan yang paling menyedihkan ada yang masih pake sarungan atau bedak basah yang masih memutih diwajah lelah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;K&lt;/span&gt;emudian, semua itu dilanjutkan dengan dikirimnya mahasiswa baru mengikuti resimen selama dua minggu, Dan ini dipegang langsung para bapak-bapak angkatan TNI, yang sangat baik dan jauh dari kesan galak. Mereka benar-benar disiplin yang mendidik. Sayang waktu itu saya tidak bisa mengikuti pelatihan ini karena setelah masa orientasi, saya tumbang juga karena asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;D&lt;/span&gt;alam masa orientasi itu, tetap ada pengawas dari resimen mahasiswa langsung. Memantau gerak kakak senior takut melenceng dari scenario yang ada. Intinya, seperti yang biasa kita dengar dari hal-hal yang berbau kemiliteran, adalah agar mahasiswa baru yang diterima bisa tegar, tabah dan kuat menjalani masa perkuliahan yang sangat-sangat ketat dan memakan waktu sampe delapan jam setiap hari. Dan juga agar mahasiswa bisa menjadi contoh yang baik nantinya bila sudah terjun ke masyarakat. Seperti itu yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;T&lt;/span&gt;api banyak hasil dari yang mengikuti resimen mahasiswa, melenceng, nyeleneh, dan bahkan sampai &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; bisa menggunakan akal sehat mereka untuk meneruskan perkuliahan. Ada yang &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; tahan, ada yang merasa terlalu berat mata kuliahnya, ada yang &lt;em&gt;mabok&lt;/em&gt; mesti delapan jam setiap hari kuliah dan jarang-jarang ada dosen yang absent. Salah satu teman saya malah stress berat dan hampir gila. Akhirnya DO pada tingkat dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;S&lt;/span&gt;o, menjamin &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; kekerasan atau gaya kemiliteran diterapkan dikampus-kampus? Tidak! Jika memang dari sananya udah malas-malasan ya tetap aja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; malas-malasan. Sepengetahuan dan seingat saya, gaya militer atau resimen yang dijalankan oleh para mahasiswa senior hanya terpusat pada satu titik di kepala mereka, yaitu balas dendam. Segala yang berbau balas dendam mana ada yang bener kan?&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-7587495043835869701?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/7587495043835869701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=7587495043835869701&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7587495043835869701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7587495043835869701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/masa-orientasi-balas-dendam.html' title='Masa Orientasi = Balas Dendam?'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RicYPRix4kI/AAAAAAAAANI/GDSznkbvJQU/s72-c/DSCN9799new.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5649807450055420760</id><published>2007-04-16T08:06:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:12.714+08:00</updated><title type='text'>Perempuan itu...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;em&gt;beberapa tahun yang lalu…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Aku difitnah! Dia katakan aku telah melakukan hubungan terlarang itu berulang kali, &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RiK-8uKWedI/AAAAAAAAAM4/orp3DRZpkVw/s1600-h/ukhty.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053811682255993298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 97px; CURSOR: hand; HEIGHT: 99px" height="198" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RiK-8uKWedI/AAAAAAAAAM4/orp3DRZpkVw/s320/ukhty.jpg" width="146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dan kami tau sama tau! Apa salah dan dosaku? Keji sekali dia merusak hubunganku dengan cara demikian piciknya! Yang lebih keji lagi, tunanganku malah percaya saja, dan dengan entengnya ia mengatakan &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“Aku sudah memilihmu untuk ku pinang dan kelak melahirkan anak-anak kita. Biarlah cerita ini menjadi bagian dari masa lalumu. Bukankah laki-laki keji juga untuk wanita yang keji, begitu pula sebaliknya”.&lt;/span&gt; Bayangkan! Tunanganku itu percaya saja dengan perkataan orang lain yang dia belum kenal baik. Orang yang sudah memfitnah aku. Bahkan, tunanganku itu baru mau mengatakan kenapa ia begitu suram, termenung dan banyak berbengong ria ketika kembali dari kampung halamannya. Ternyata, dia banyak memikirkan nasibnya yang telah menerima kucing dalam karung. Coba! Kucing dalam karung itu pastilah aku. Lebih baik kuputuskan pertunangan ini, yang sebenarnya bukanlah pertunangan yang nyata. Lebih baik aku tidak bersuamikan dia, lelaki yang mudah begitu saja memakan omongan orang lain yang tidak diterimanya dengan akal sehat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercenung. Lebih tepatnya melongo. Perempuan yang berkata-kata itu kelihatan sangat tertekan tapi tetap manis dalam pakaian muslimah dan kerudungnya yang melebar menutupi dadanya. Kasian sekali dia. Dan lebih kasian lagi lelaki yang ia panggil dengan kata &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘tunangan’&lt;/span&gt; itu, yang dengan mudahnya menerima fitnah dari mulut orang lain tentang masa lalu calon istrinya yang sangat buruk. Justru masalah ini muncul, ketika mereka sudah saling sepakat untuk meneruskan hubungan mereka ke jenjang yang lebih mulia, yaitu sebuah&lt;span style="color:#ff6666;"&gt; ‘pernikahan’&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tanya &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“sudah kamu tanyakan pada tunanganmu, kenapa ia percaya dengan orang yang memfitnahmu?”,&lt;/span&gt; dia menjawab “orang yang memfitnahku adalah mantan teman dekatku semasa kuliah. Dia begitu terobesesi dengan hubungan kami. Bahkan ia sempat mencoba memotong…entahlah…mungkin salah satu urat dibagian tangannya, dan memberikan darahnya yang ia torehkan pada sehelai kertas. Dia katakan, ‘aku tidak bisa kehilanganmu, karena kita sudah berjanji akan bersama selamanya, dan aku akan lakukan apapun asal kamu kembali padaku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercenung lagi. Duh, pelik amat! Saya jadi berpikir &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;“apa sih yang sebenarnya terjadi ketika pada masa pertemanan antara perempuan dengan lelaki yang menyebar fitnah itu?”,&lt;/span&gt; tapi sebelum bertanya, perempuan itu dengan tetap dinginnya berucap…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami memang sangat dekat ketika berteman, bahkan gejolak cinta membuat kami berjanji untuk selamanya hingga ajal menjemput. Tapi ternyata aku semakin ketakutan jika disampingnya. Pemarahnya, pecemburunya, sampai aku harus melaporkan apa saja yang kulakukan selagi tidak bersamanya. Hidupku jadi sangat terbelenggu. Sepertinya dunia diperuntukkan bagi kami, tapi tidak dengan kebebasanku. Tapi, duh tega sekali dia menfitnahku seperti itu. Kejam! Jika itu terjadi pada mbak, gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru membuka mulut untuk menjawab, perempuan mulai menyambar lagi “Pasti sama denganku. Lebih baik tidak hidup dengan orang yang tidak percaya pada kita. Aku bahkan tidak akan mengakui dia tunanganku. Membuatku malu saja, tunangan kok malah menyudutkan aku seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum, dan berpikir, &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;‘apakah lebih baik dia membuktikan pada tunangannya bahwa dia masih perawan dengan segera menikah dengan tunangannya itu?’&lt;/span&gt;. Dan dia memang seperti mempunyai pikiran yang sangat pandai membaca apa yang ada diotak saya. Tanpa selontar kata pun dari mulut saya, dia kembali berkata…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa aku buktikan keperawananku? Toh dia tidak percaya dari awal. Biar saja dengan ucapan orang-orang disekelilingku yang akan mencibir bahwa aku ternyata mudah goyah dengan hanya jenis angin seperti ini. Tapi aku tetap pada pendirianku, mbak. Aku tidak bisa memulai semuanya dari sebuah ketidak-percayaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(lagi-lagi)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; tercenung. Mungkin saya akan seperti itu jika mengalami hal ini. Saya akan bertindak sesuai kata hati saya. Dan akan tetap mantap untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Sekarang…&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihatnya bahagia. Perempuan sama yang saya temui dulu, masih dengan pakaian tertutup dan kerudung manis yang menutupi hampir kearah pinggangnya. Manis dan bersahaja. Bersama seorang lelaki yang berjanggut tipis, berpakaian taqwa &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(pastilah suami pilihan&lt;/em&gt; &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt; &lt;em&gt;usai masa fitnah itu).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Dengan manjanya, mereka dikelilingi dua orang anak-anak, yang berceloteh menanggapi kejadian disekeliling mereka. Tertawa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, rasanya saya ingin sekali menghampirinya dan bertukar sapa lagi. Ternyata, perempuan itu masih sama beberapa tahun yang lalu. Dia melihat saya dan kemudian berbicara sebentar dengan lelaki disebelahnya. Sejurus kemudian melangkahkan kakinya kearah saya. Menjabat erat tangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ukhty, aku bahagia sekarang. Beliau suamiku yang telah memberiku kehidupan yang penuh islami dan anak-anak yang kami bimbing secara islami. Aku tidak pernah menyesal mengambil keputusan yang dulu ukh. Aku tinggalkan tunanganku, lalu mantan teman dekatku terus mengejarku setelah tahu dia berhasil dengan hasutannya memutuskan hubungan itu. Dia terus mengajakku nikah. Aku mengelak, aku katakan aku juga akan segera menikah. Padahal aku belum pasti siapa calon suamiku waktu itu. Alhamdulillah, aku bahagia lahir batin ukh. Aku mulai berdakwah, dan suamiku mendorong segala kegiatanku. Doakan aku tetap istiqomah ya ukh” dia akhiri uraiannya, berdiri, memeluk saya dan berbisik “Anti ukhty fillah bagiku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangis jika ingat kejadian itu. Perempuan itu berhasil keluar dari masalahnya. Dan tidak pernah gentar mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang sangat menyakiti banyak pihak waktu itu. Kedua orang tua tunangannya, sahabat-sahabatnya, juga pandangan miring dan negatif yang direngkuhnya. Dia sangat yakin dengan keputusannya. Dia sangat yakin akan bantuan Allah. Sangat yakin bahwa doa orang-orang yang teraniaya akan diijabah oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tetap istiqomah. Barakallahu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5649807450055420760?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5649807450055420760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5649807450055420760&amp;isPopup=true' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5649807450055420760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5649807450055420760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/perempuan-itu.html' title='Perempuan itu...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RiK-8uKWedI/AAAAAAAAAM4/orp3DRZpkVw/s72-c/ukhty.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6797950134737899263</id><published>2007-04-09T08:02:00.000+08:00</published><updated>2007-04-09T08:54:37.956+08:00</updated><title type='text'>Kangen yang dilarang!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tulisan ini masih ada sangkut pautnya dengan postingan mengenai &lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2007/03/beda-tpis-banget-ga-sih.html"&gt;kangen&lt;/a&gt;. Ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan rasa kangen yang ada pada yang berlawanan jenis &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(masih manusia dengan predikat ‘lelaki’)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;? Dalam hal ini sang &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘lelaki’&lt;/span&gt; adalah seseorang diluar suami yang menjadi sahabat/teman/tempat curhat bagi sang ‘wanita’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(mencoba)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; tidak munafik bahwa saya sebelum menikah dan memakai hijab, banyak mempunyai teman lelaki yang bisa diajak diskusi, &lt;em&gt;kongkow-kongkow&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;hahaha&lt;/em&gt; bersama, tapi tidak &lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt;! Kenapa tidak? Saya memang tidak membiasakan dan tidak mau memberi &lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt; saya kepada teman lelaki, walaupun sebaik dan sehebat apapun dia bisa memberi saya masukkan. Karena sama saja saya membuka lebar-lebar pintu aurat saya didepan mereka. Hal ini lebih-lebih ketika saya mulai &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘insyaf’&lt;/span&gt; dan hijrah. Pergaulan pun bisa dikatakan sangat manusiawi. Saya banyak menghabiskan diskusi dan bertukar pikiran dengan kaum akhwat. Tapi, karena ketika itu saya masih ‘&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;menjabat’&lt;/span&gt; wanita yang harus berbaur dengan kaum ikhwan, maka berbicara dan bertingkah harus selalu bisa &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(berusaha)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; saya kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sekarang, memasuki delapan tahun pernikahan, saya pun masih mempunyai teman ikhwan yang biasa saya panggil &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘akhi’&lt;/span&gt;, yang kadang kala -kalau ada waktu- suka &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘mengunjungi’&lt;/span&gt; saya lewat email dengan berbagai lemparan hal-hal yang bisa kami diskusikan. ‘Akhi’ ini juga bisa dikatakan mengerti saya &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(walaupun terkadang kami suka membuat kesimpulan yang salah)&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt; Pertemanan kami dimulai hampir sebelas (11) tahun yang lalu. Diantara kami malah banyak berinteraksi dalam hal memberi tausiyah yang akhirnya bisa menguatkan kami dalam memelihara ‘&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;hubungan’&lt;/span&gt; pertemanan lebih beradab dan &lt;em&gt;syar’e&lt;/em&gt;. Hal yang perlu digaris bawahi, kami tidak saling curhat dalam masalah berat, malah ketika mulai ada signal-signal kearah itu, spontan salah satu dari kami akan mengingatkan bahwa &lt;em&gt;curhat &lt;/em&gt;yang terbaik adalah pada &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;. Dan ini tentunya tetap sepengetahuan suami saya. Karena biar bagaimana pun, walau saya menjaga jarak dan berbicara lewat email dalam sebulan bisa dihitung dengan jari &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(tidak sampai lima kali dalam satu bulan),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; saya harus bisa menjaga perasaan suami saya. Begitu pula dengan teman saya itu, apapun yang kami diskusikan biasanya melibatkan pasangan masing-masing, walaupun hanya sebagai pendengar. Dan satu kalimat yang membuat saya yakin kami bisa mejaga hati masing-masing adalah &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;“Anti bukanlah wanita yang tepat untuk saya jadikan istri, kecuali hanya sebagai teman”.&lt;/span&gt; Bijaksana dan sangat tegas kami membentangkan garis merah pada pertemanan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika ada perasaan kangen? Karena kita sudah anggap dia sodara sendiri? Bolehkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan kangen bisa saya deskripsikan adalah perasaan dimana ada suatu kejadian atau hal-hal yang bisa membuat hati kita bergetar dan rasanya ingin berbicara ataupun berusaha untuk bertemu. Tidak dinafikan, mungkin kangen akan bagaimana dia memberi solusi pada masalah kita, mengerti bagaimana jalan pikiran kita, perkataannya yang membuat hati teduh, tentram dan damai. Dan hal ini sudah termasuk &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘zina hati’&lt;/span&gt;. Karena, sedekat apapun, sebaik apapun, senormal apapun, hubungan kita dengan seorang &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘lelaki’&lt;/span&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(yang kata salah seorang ‘ukhty’ sahabat saya, adalah ‘sohib)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah sesuatu yang tidak perlu kita lanjutkan sampai ada perasaan kangen. ‘lelaki’ yang kita anggap sohib ini sudah jelas bukanlah muhrim kita, jelas tidak boleh dan sangat dilarang. Ingat! Say no to &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;taqrabuzzina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sekeras itukah aturan islam menetapkannya? Bukankah perasaan &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;'kangen'&lt;/span&gt; seperti ini sangat manusiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak keras. Malah indah. Begitu indahnya, hingga seorang perempuan begitu dilindungi dari hal-hal yang akan membuatnya tidak &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘terdaftar’&lt;/span&gt; sebagai muslimah yang kaffah. Begitu disayangnya seorang makhluk yang disebut perempuan dengan begitu ketatnya berada dalam &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘lingkaran’&lt;/span&gt; suci dengan tetap terjaganya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana muslimah harus bertindak kepada ikhwan yang bisa dikatakan &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘sohib’, ‘mengerti’, ‘bersahabat’,&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘membuat rasa tenang’&lt;/span&gt; pada diri kita yang bukan muhrimnya? Jagalah jarak agar tidak terjadi kontak &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;‘hati’&lt;/span&gt; dalam berbagai masalah apapun. Tapi bukan berarti kita tidak diperbolehkan untuk bertukar pikiran, diskusi, ataupun berbagi pengalaman. Namun bukan dalam kontak membuka aib masing-masing, membuka aib keluarga ataupun menceritakan masalah-masalah, keresahan, perasaan tidak nyaman yang kita temui dalam lingkup pribadi kita. Walaupun dia sudah kita anggap sodara kita sendiri. Dan saya tidak pungkiri bahwa kita semua adalah sodara seiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya tidak mempunyai &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(sedikitpun)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; rasa kangen pada teman saya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, sampai tulisan ini beredar saya belum mempunyai rasa kangen padanya. Karena malu saya lebih besar pada &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt; dibandingkan dengan rasa kangen pada seseorang yang jelas-jelas bukan muhrim saya. Dan saya bukan orang suci, ga &lt;em&gt;pengen&lt;/em&gt; nambah-nambah masalah dengan hal yang taqrabuzzina &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(mendekati zina).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua kembali pada setiap hati yang mau menyikapi, bahwa islam diterapkan bukan hanya karena dalil ini, atau dalil itu, tapi lebih kepada sebagai rahmat, karunia, anugerah, nilai keindahan, sebagai hal yang menggambarkan betapa wanita adalah makhluk yang benar-benar dijaga karena kemilaunya, kehormatannya, dan keagungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf jika tulisan ini agak keras. Semoga ini bukanlah hal yang kontrovesial, menyudutkan satu golongan atau apalah namanya. Ini hanyalah tulisan yang setidaknya bisa membuka sedikit mata hati agar kita –saya khususnya- lebih bisa menerima nilai-nilai indah yang sudah &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt; atur dan tetapkan untuk kita jalani. Insha Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, berpikiran positif dan jauh kedepannya adalah hal yang sangat baik sebagai cermin agar kita berhati-hati dalam bertindak, apalagi jika memiliki rasa ‘&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;kangen’&lt;/span&gt; seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jika saya tanya, &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Siapkah ukhty, jika saja ada wanita lain yang ternyata memilki rasa ‘kangen’ pada ikhwan lain yang ternyata adalah suami ukhty? Wajarkah dan tidak terganggukah ukhty walaupun ‘kangen’ itu sebagai sodara sendiri, karena mereka intens melakukan tukar pikiran, atau curhat misalnya?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6797950134737899263?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6797950134737899263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6797950134737899263&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6797950134737899263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6797950134737899263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/kangen-yang-dilarang.html' title='Kangen yang dilarang!'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1524083384204799678</id><published>2007-04-04T15:17:00.000+08:00</published><updated>2007-04-04T16:11:34.346+08:00</updated><title type='text'>Kado milad!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Layak ga? Ga layak? Layak ga?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Okey deh…kirim aja! Terpilih atau ga, yang jelas saya pengen tahu apakah tulisan saya sudah layak untuk dinilai oleh beliau,…atau paling tidak, menjadi motivasi bagi saya untuk menulis lebih baik dengan tetap pada jalur GSB.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;GSB? GSB adalah gerakan spiritual blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan…the winner is…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah…salah satu kado milad saya bentar lagi nih…&lt;br /&gt;Tulisan saya bisa terpilih sebagai &lt;a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/04/02/inilah-top-indonesian-spiritual-posts-1"&gt;Top Indonesian Low-Profiled Post Jan-Feb 2007&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih yang tidak terhingga atas ide-ide yang Allah berikan pada saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo…berkarya lagi!&lt;br /&gt;Berkarya dengan jujur!&lt;br /&gt;Semangat lagi!&lt;br /&gt;Bermanfaat selama ruh masih bersanding pada jasad yang fana ini…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;"Jangan pikirkan apa yang akan kamu tulis, tapi tulislah apa yang kamu pikirkan" (Annis Matta)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1524083384204799678?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1524083384204799678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1524083384204799678&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1524083384204799678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1524083384204799678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/kado-milad.html' title='Kado milad!'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-4797186132349594257</id><published>2007-04-03T05:28:00.000+08:00</published><updated>2007-04-03T07:53:26.514+08:00</updated><title type='text'>dedicated for eight years of ours....</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;embed id="radioblog_player_1" src="http://stat.radioblogclub.com/radio.blog/skins/mini/player.swf" width="180" height="23" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" bgcolor="#E4E4E4" flashvars="id=1&amp;filepath=http%3A%2F%2Fwww.lisakovsk.ru%2Fradio%2Fradio.blog%2Fsounds%2F15%29%20Celine%20Dion%20-%20I%20Hate%20You%20Then%20I%20Love%20You%20%28Duet%20With%20Pavarotti%29.mp3.rbs&amp;amp;colors=body:#E4E4E4;border:#9966FF;button:#070707;player_text:#070707;playlist_text:#666666;new_tracks:#000000;"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Jaman dulu…&lt;br /&gt;“Kenapa kamu bisa suka ke saya?”&lt;br /&gt;“Hmmm…saya ingin keturunan saya pinter, salah satunya kamulah bibit kepinteran itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jaman dulu…&lt;br /&gt;“Kenapa kamu suka ke saya?”&lt;br /&gt;“Karena kamu easy going, &lt;em&gt;sante&lt;/em&gt; banget, sampe-sampe aku dicuekin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih juga jaman dulu…&lt;br /&gt;“Kenapa kamu suka ke saya?”&lt;br /&gt;“Kenapa ya? Kamu tuh orangnya enak diajak &lt;em&gt;ngobrol&lt;/em&gt;, nyambung, dan &lt;em&gt;sante&lt;/em&gt;!” &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(teuteubbb sante!)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mendekati delapan tahun yang lalu…&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;….(ga ada pertanyaan, tapi ada pernyataan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Saya juga ga tahu, kenapa saya sayang sama kamu. Ini sudah Allah tetapkan buat saya. Semoga kamu dan saya sama-sama ikhlas menerima apa adanya masing-masing”.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;….(terpana dan salah tingkah…padahal dia ngomongnya cuma lewat telpon)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu…&lt;br /&gt;“Teteh dan saya sama-sama sholat istikharah ya? Sama-sama mintanya hanya pada Allah, karena cuma Dia yang bisa membolak-balikkan hati kita berdua”.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;….(celingukkan takut ada yang ngeliat, ngambil tisu dan wipe the tears…)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa minggu kemudian, setelah sama-sama sepakat tidak ada komunikasi untuk sementara hanya berkomunikasi kepada &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;…masih lewat telepon&lt;br /&gt;“Teteh…kita nikah ajah ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun yang lalu…&lt;br /&gt;Dan…sebuah buku “Kupinang kau dengan hamdallah” sebagai kado milad saya ke 24 tahun, lima hari setelah akad. Semoga pernikahan dan janji yang telah diikat akad akan disatukan dalam kasih sayang dan keikhlasan tiada akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, tanpa saya tanya ‘kenapa kamu suka ke saya?”, lelaki yang saya panggil Abi, yang meminang saya delapan tahun itu, yang saya kenal langsung selama satu minggu, yang melamar saya lewat telepon, akan dengan santai dan yakin memberi pernyataan… &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Abi sayang Ummi, tidak bisa dilukiskan dengan kalimat apapun. Abi sayang Ummi hanya karena Allah SWT. Abi ingin Ummi menjadi istri Abi dunia dan akhirat. Maaf, banyak waktu abi habis untuk mencari ilmu untuk bekal kita membangun rumah diakhirat. Karena itulah, abi ingin ummi sayang ke abi hanya karena ummi mencintai Allah SWT, bukan karena abi kasep&lt;/span&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(cakep-sunda)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;dimata ummi ya”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, barakallahu…&lt;br /&gt;Jazakallah akhi’ku…&lt;br /&gt;Jazakallah untuk satu tahun pertemanan kita…&lt;br /&gt;Jazakallah untuk satu minggu mengenalmu secara nyata…&lt;br /&gt;Jazakallah untuk menyayangiku tanpa satu alasan apa pun…&lt;br /&gt;Jazakallah telah mencintaiku karena cintamu pada yang MEMILIKIMU…&lt;br /&gt;Jazakallah telah memilihku karena hijabku…&lt;br /&gt;Jazakallah untuk delapan tahun membimbingku menjadi ummi yang kuat bagi jundullah…&lt;br /&gt;Jazakallah untuk mau menjadi imamku di dunia…&lt;br /&gt;Jazakallah untuk memilihku sebagai istri dunia akhiratmu &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(InshaAllah)…&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jazakallah ya akhi…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Thank you my indro…you already hold my heart for the first time we meet, not with your hand but your heart. You already trust me before know how I am, already love me after I have wear my hijab, and love me just with your heart.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Thank God, for answering me&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;embed name="flashticker" align="middle" src="http://widget-82.slide.com/widgets/slideticker.swf" width="400" height="300" type="application/x-shockwave-flash" flashvars="cy=bl&amp;amp;il=1&amp;channel=144115188081736322&amp;amp;site=widget-82.slide.com" wmode="transparent" salign="l" scale="noscale" quality="high"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;div style="WIDTH: 400px; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;a href="http://www.slide.com/pivot?ad=0&amp;tt=11&amp;amp;sk=0&amp;amp;amp;cy=bl&amp;th=0&amp;amp;id=144115188081736322&amp;map=1" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.slide.com/pivot?ad=0&amp;amp;tt=11&amp;sk=0&amp;amp;amp;amp;cy=bl&amp;th=0&amp;amp;id=144115188081736322&amp;amp;map=2" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-4797186132349594257?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/4797186132349594257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=4797186132349594257&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4797186132349594257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/4797186132349594257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/dedicated-for-eight-years-of-ours.html' title='dedicated for eight years of ours....'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-2667570137655848936</id><published>2007-04-01T09:52:00.002+08:00</published><updated>2007-04-02T08:17:21.082+08:00</updated><title type='text'>Pada perayaan Maulid...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;P&lt;/span&gt;royek akhirat! Ya begitulah. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;S&lt;/span&gt;elama pindah, kegiatan saya justru membludak. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW baru aja selesai di SDIT tempat Aa sekolah. Saya yang &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(lagi-lagi)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; mendapat tugas di bagian kepanitiaan dokumentasi, harus bertempur dengan peralatan perang dari jumat malam sampai sabtu pagi hingga selesai siang. Dan…ternyata, kerja orang lapangan itu sangat dan sangat menguras tenaga ya? Wah, bagaimana kalau saya bener-bener seorang fotografer merangkap cameragirl? Hayahhh…ya seperti sabtu pagi itu. Dengan bawa-bawa tas handycam, tripod sampe camera digital, setia saya giring sana-sini, mencari lokasi dan &lt;em&gt;anggel&lt;/em&gt; pas dimana hasilnya bisa bagus, baik untuk warna dan cahayanya. Lebih-lebih, karena saya orangnya rada &lt;em&gt;ga PeDe&lt;/em&gt;, jadilah dengan didahului beberapa menit menghimpun keyakinan dan kepasrahan, akhirnya saya dengan tampang dibuat sangat biasa, melenggang ke tengah arena, yang sudah dikelilingi puluhan mata, menenteng tripod, pasang sana sini dan… okey, its my duty!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;D&lt;/span&gt;ari perjalanan tugas ini, paling berat adalah menghindari tatapan orang-orang disekelilingi saya yang mayoritas adalah penduduk asli Sangatta. Mereka mungkin heran, darimana SDIT bisa menghire cameragirl sekaligus fotografer perempuan? Ditambah anak-anak yang belum melek media ini. waduh…mereka loncat-loncat didepan handycam saya, sambil cengangas-cengingis, senyam-senyum, dan bilang &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;“Halo tante! Ada aku ga?”.&lt;/span&gt; Saya dengan mencoba tetap ramah, sebenarnya sangat antusias dengan kelakuan mereka. Maksudnya antusias mau jelasin, &lt;em&gt;ini loh yang disebut&lt;/em&gt;…&lt;em&gt;fungsinya&lt;/em&gt;… Tapi kan tugas terhampar didepan, jadilah tripod selalu diamankan jika ada yang iseng coba tengak-tengok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;D&lt;/span&gt;ari yang berkesan dari acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini adalah ketika tausiyah yang diberikan ustadz Muchlisin. Beliau mengingatkan kita bahwa kelahiran Kekasih Allah ini adalah hal yang patut dan harus kita teladani. Bagaimana beliau berprilaku, pemikiran dan ilmu, hidup sederhana dan sangat santun serta berkepribadian mulia yang tercermin pada diri belaiu. Tapi bagaimana orang tua pada abad sekarang bertindak untuk anak-anaknya, dengan gamblang beliau memaparkan bagaimana banyak orang tua yang sangat ketakutan dan resah ketika mendapati anak-anak mereka tidak pandai baca tulis, tidak pandai matematika, atau tidak pandai bahasa inggris. Dan kenyataan berbanding terbalik ketika mereka menemui anak-anak mereka tidak pandai mengaji, sholat, atau tidak mengerti cara berwudhu sama sekali. Berbanding terbaliknya adalah mereka menanggapi ketidak pandaian anak dalam hal akhlak dan agama, bukanlah hal yang mampu meresahkan mereka. Padahal setiap Maulid Nabi Muhammad SAW, seharusnya orang tua banyak merenung, apakah anak-anak sudah banyak mendapatkan pengetahuan agama, akhlak dan akhirat seperti yang sesuai dan harus kita bawa ketika menghadap &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt; nanti? Dan hal yang paling penting, adalah memberikan sikap tauladan bagi putra-putri kita. Memberikan contoh yang baik lebih sangat ampuh daripada memberikan bertrilyun-trilyun wejangan tanpa ada tindakan yang mengacu pada wejangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;S&lt;/span&gt;etuju ibu-ibu dan bapak-bapak??? &lt;span style="font-size:100%;"&gt;SETUJUUUUU…&lt;/span&gt;. &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(Koor serempak)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffcc99;"&gt;N&lt;/span&gt;elangsa ya. Duniawi masih bisa membuat rabun kita bahkan sampai kedasar otak kecil kita. Hingga tidak bisa meresap tujuan akhir hidup kita yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;J&lt;/span&gt;adi seperti apa yang saya dengarkan dan simpulkan. Jangan pernah takut ketika anak kita tidak bisa memeluk banyak gunung-gunung yang bermanfaat bagi kehidupannya didunia, tapi usahakanlah anak-anak kita bisa dan mampu memeluk satu gunung yang menjulang tinggi sekali, sarat ilmu dan bisa dipertanggung-jawabkan diakhirat kelak. Amin. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff0000;"&gt;B&lt;/span&gt;y the way, acara ini juga disandingkan dengan Bakti Sosial &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(BakSos)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; dan bazar. Moment yang sangat mengejutkan saya, ketika tausiyah dan doa masih berlangsung, ibu-ibu yang sedari tadi &lt;em&gt;ngebet&lt;/em&gt; banget pengen belanja &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(mumpung murah pisan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dengan tampang tanpa dosa, mulai menyeruak kebagian bazar dan stand BakSos. &lt;em&gt;Lho, katanya mau ngasi contoh yang bisa diteladani untuk putar-putrinya bu? Kok ya malah ngasi contoh yang tidak layak tayang&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;E&lt;/span&gt;uhhh…gemes deh ngeliatnya!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-2667570137655848936?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/2667570137655848936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=2667570137655848936&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2667570137655848936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/2667570137655848936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/04/pada-perayaan-maulid_9522.html' title='Pada perayaan Maulid...'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-6565302864559537725</id><published>2007-03-29T09:33:00.000+08:00</published><updated>2007-03-29T17:48:49.595+08:00</updated><title type='text'>welcome to our sweet home</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;embed id="radioblog_player_1" src="http://stat.radioblogclub.com/radio.blog/skins/mini/player.swf" width="180" height="23" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" bgcolor="#E6E6E6" flashvars="id=1&amp;filepath=http%3A%2F%2Fmcalger.free.fr%2Fradio.blog%2Fsounds%2FMichael%20Buble%20-%20Home.rbs&amp;amp;colors=body:#E6E6E6;border:#6633FF;button:#060606;player_text:#070707;playlist_text:#666666;new_tracks:#000000;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;N&lt;/span&gt;ope…Hiatus no more!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;K&lt;/span&gt;enapa sih bisa hiatus kemaren? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Malah banyak yang nyangka saya sakit? Apa karena ada kata-kata ‘get well soon’?&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; sakit &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(sakit deng tiap hari, dengan sinus akut…loh…curhattt).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; I’m doing well, friends. Get well soon? Kata-kata saya saja ketularan pujangga-pujangga jaman sekarang. Yang jelas memang harus hiatus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;M&lt;/span&gt;ana mungkin saya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; hiatus? Jaringan internet ini harus diputus dari rumah lama &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(kontrakan)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ke rumah baru kami &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(yang bukan kontrakan lagi).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Dan memasang kembali antena penangkap &lt;em&gt;signal &lt;/em&gt;kemudian memastikan internet akan bisa terpasang lagi, ternyata menjadi hal yang pesimis banget bagi penyedianya. Akhirnya saya juga pesimis bisa nulis lagi dalam waktu dekat. Ternyata, &lt;span style="font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt; memang menyayangi saya. Niat saya ngblog untuk apa dan banyak pekerjaan saya memerlukan internet, akhirnya diridhoi sama &lt;span style="font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;SANG PEMILIK&lt;/span&gt;, dengan terpasangnya dan tertangkapnya &lt;em&gt;signal &lt;/em&gt;dari rumah baru adalah &lt;em&gt;signal&lt;/em&gt; bahwa orang baik akan disayang Allah &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(Jangan protessss!!!).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;A&lt;/span&gt;nyway, here I came. No need much time to spend it behind the sign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcccc;"&gt;S&lt;/span&gt;eperti pernah saya tulis &lt;a href="http://rhandry.blogspot.com/2006/12/autumn-in-lembah.html"&gt;sebelumnya&lt;/a&gt;, bahwa kami sekeluarga akan menempati rumah baru di komplek panorama. Ya! Akhirnya, kata-kata settle bisa kita laksanakan juga. Setelah wara-wiri, dari satu hutan ke hutan lagi, dari satu kota ke kota lain. Then, this house is a gift from GOD &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(and abi as a courier)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; for eight years our anniversary &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(in several days more).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;span style="font-size:100%;color:#33cc00;"&gt;Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;H&lt;/span&gt;mmm…ternyata bener ya, mimpi itu ga dilarang kok! &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(asal mimpi yang positif).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Dulu nih, ketika masih tinggal di sitenya Mangkajang-Berau, saya suka betah melihat-lihat komplek manajemennya yang mempunyai arsitektur rumah yang saya anggap sederhana dan bagus. Terjadi lagi, ketika saya dan keluarga pindah ke site Sangatta ini. Komplek yang suka saya lewati adalah komplek Panorama ini. Mungkin karena struktur bangunannya mirip dengan rumah manajeman site mangkajang. Dari situ lagi, saya suka mimpi &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(berkhayal deh!)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; suatu hari jika ada rejeki dan umur panjang saya sekeluarga ingin bentuk rumah yang sering saya kitari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff9966;"&gt;A&lt;/span&gt;da mimpi ada ikhtiar, itu hukumnya! Ga mau dong, mimpi terus-terusan. Dari diskusi dan pemikiran panjang, ketidak-inginan ketemu macet-macet lagi, kalau harus kembali kejakarta, akhirnya…here it is, welcome to our sweet home!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ffcc99;"&gt;B&lt;/span&gt;eberapa hal keinginan yang bisa terwujud &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(alhamdulillah)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; di rumah ini adalah anak-anak yang sudah bisa tidur sendiri dengan adanya pintu penghubung antar kamar saya dan mereka. Tempat tidur saya dan anak-anak yang tetap tidak memakai kerangka, memang saya sengaja,…unik &lt;em&gt;aja&lt;/em&gt; tidur dengan suasana begini. Pemilihan paduan warna orange, putih tulang, dan hijau segar, agar suasana rumah cerah. Hmmm…gorden coklat juga karena coklat salah satu warna favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff6666;"&gt;M&lt;/span&gt;ana warna ungu? Ada deh…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed name="flashticker" align="middle" src="http://widget-2a.slide.com/widgets/slideticker.swf" width="400" height="300" type="application/x-shockwave-flash" flashvars="cy=bb&amp;amp;il=1&amp;channel=144115188081508394&amp;amp;site=widget-2a.slide.com" wmode="transparent" salign="l" scale="noscale" quality="high"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;div style="WIDTH: 400px; TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.slide.com/pivot?ad=0&amp;tt=11&amp;amp;sk=0&amp;amp;amp;cy=bb&amp;th=0&amp;amp;id=144115188081508394&amp;map=1" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.slide.com/pivot?ad=0&amp;amp;tt=11&amp;sk=0&amp;amp;amp;amp;cy=bb&amp;th=0&amp;amp;id=144115188081508394&amp;amp;map=2" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ps: terima kasih, buat teman-teman yang sudah kangen ‘bener-bener’ pada saya….postingan ini juga ga menceritakan detail kepindahan saya. Frankly, I’m not the clever one to tell u some detail about this case. *smile*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-6565302864559537725?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/6565302864559537725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=6565302864559537725&amp;isPopup=true' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6565302864559537725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/6565302864559537725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/03/welcome-to-our-home.html' title='welcome to our sweet home'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-5280040881782932683</id><published>2007-03-15T11:51:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:12.777+08:00</updated><title type='text'>just leaving</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;embed id="radioblog_player_0" src="http://stat.radioblogclub.com/radio.blog/skins/mini/player.swf" width="180" height="23" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" bgcolor="#F7F7F7" flashvars="id=0&amp;filepath=http%3A%2F%2Fcaralyon.free.fr%2Fblog%2Fradio.blog%2Fsounds%2FBilly%20Joel%20-%20I%20Love%20You%20Just%20The%20Way%20You%20Are.mp3.rbs&amp;amp;colors=body:#F7F7F7;border:#3366FF;button:#999999;player_text:#030303;playlist_text:#999999;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Can’t refuse…&lt;br /&gt;Can’t run far away…&lt;br /&gt;Cause,…&lt;br /&gt;It always try to after me&lt;br /&gt;Give some signs&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let me hold that virus…&lt;br /&gt;Enjoy with it…cause it’s a part of my world…&lt;br /&gt;“Just a little note” world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiatus!!!&lt;br /&gt;Get some medicine and books for recovery&lt;br /&gt;Get well soon…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have to finish for what I left behind…&lt;br /&gt;Just realised ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keep me in your heart&lt;br /&gt;Remember me while the sign is “HIATUS”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;yang jelas...saya pasti kangen 'bener-bener'...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RfjDd6xDrNI/AAAAAAAAAMs/7u5ctCiuBn4/s1600-h/hiatus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041994701599911122" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RfjDd6xDrNI/AAAAAAAAAMs/7u5ctCiuBn4/s400/hiatus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-5280040881782932683?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/5280040881782932683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=5280040881782932683&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5280040881782932683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/5280040881782932683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/03/just-leaving.html' title='just leaving'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RfjDd6xDrNI/AAAAAAAAAMs/7u5ctCiuBn4/s72-c/hiatus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-7881596159922016381</id><published>2007-03-13T23:01:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:12.942+08:00</updated><title type='text'>Beda tipis banget ga sih?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Buset No, lu bisa bikin kangen gue!” (No= Rino, red)&lt;br /&gt;“Elo tuh ya, tengil lu tuh ngangenin tau!”&lt;br /&gt;“Teh, kangennnn!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#33ff33;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/Rfa_m6xDrMI/AAAAAAAAAMk/WahVO-vRH_8/s1600-h/kangen.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5041427508218801346" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 181px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" height="177" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/Rfa_m6xDrMI/AAAAAAAAAMk/WahVO-vRH_8/s320/kangen.jpg" width="150" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;K&lt;/span&gt;ata-kata diatas sarat dengan kata ‘Kangen’ itu sering dikirim atau dilontarkan lewat SMS oleh teman-teman yang &lt;em&gt;udah&lt;/em&gt; sepuluh tahun &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; ngumpul. Yang dulunya susah seneng ditanggung bersama-sama, yang dulunya kenal baik pribadi masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Eitsss, ini temen cewek loh…jangan prasangka buruk dong! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tapi suka bikin sebel, ketika SMS itu di’send’, saya &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(yang di jidatnya tertempel tulisan “ORANG BAIK’- jangan protesss!!!)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; dengan senangnya membalas kangen mereka dengan bertubi-tubi pertanyaan keinginan-tahuan saya dengan kehidupan mereka. Sekali mereka jawab dan bertanya lagi. Saya pun dengan girang melancarkan jawaban dari pertanyaan mereka. Lalu saya balik tanya sana-sini. Mereka jawab lagi, kali ini pendek dan tanpa tanya ini-itu. Saya pancing dengan kalimat-kalimat dan pertanyaan lagi. Tetep pendek dan flat. Hehhh…katanya kangen, kok ga pengen lama bertukar kabar sih? Jadi kangen saya dengan apanya dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#ffcccc;"&gt;It&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;u temen-temen yang udah sepuluh tahun kenal saya, kadang bisa mandeg dengan bahan yang mau diobrolin. Gimana dengan teman yang baru &lt;em&gt;aja&lt;/em&gt; dikenal, belum tahu saya jelas, tapi sudah bisa bilang kangen? Apanya yang dikangenin hayo? Eitsss, ini temen cewek loh…jangan prasangka buruk dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ffffcc;"&gt;S&lt;/span&gt;ama kejadiannya, ketika ada yang teriak “Aku kangen kamu!” . Saya dengan senang hati &lt;em&gt;ngajak &lt;/em&gt;ngobrol dan haha-hihi tanpa memperhitungkan waktu saya sendiri. Karena saya selalu &lt;em&gt;pengen &lt;/em&gt;membuat teman saya yang sudah bilang seperti itu merasa tidak diabaikan. Tapi lagi-lagi, mereka suka &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;hang&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;, atau seperti &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; ada obrolan yang mau diobrolkan dengan saya. Sementara saya, seperti seorang tukang antar pizza yang dengan senyum menyeringai menunggu uang tips dari pelanggan &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(ah ini sih terinspirasi ‘&lt;a href="http://www.hanyawanita.com/_review/book/article.php?article_id=5869"&gt;being ing’nya ucu &lt;/a&gt;lagi…).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Maksudnya, cepet tanggap ketika obrolan berlanjut dari arah ‘kangen’ menyeruak. Atau lebih jelasnya, saya cepat menanggapi. Arrggghhhh …susah banget bahasanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#33ff33;"&gt;T&lt;/span&gt;api mungkin inilah yang dibilang “perbedaan antara kata kangen dan basa-basi itu sangat tipis”. Rumitnya! Begini &lt;em&gt;loh&lt;/em&gt;, ketika lama tidak bertemu atau ngobrol, kadang seseorang mengawali sebuah sapa dengan kata ‘kangen’, yang si pencetus kata ini masih bingung ‘bener ga sih kangen?’. Lalu kalau kangen, mau gimana? Apa mau yang diobrolin? Apa yang mau diungkap dari rasa kangen itu? Dan, karena kebetulan kangennya ke saya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(jujur deh, saya penyuka sifat jujur!),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ditanggapi dengan antusias, sumringah, bingah, riang gembira. Padahal, mungkin saja si pencetus kangen cuma basa-basi ya? Kalau begitu, siapa yang kasian? Saya dong! Hhahahahah… &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(Kasian deh lu, No!)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; . Mungkin persepsi saya akan kata ‘kangen’, harus di daur ulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#33ff33;"&gt;T&lt;/span&gt;erus, sama deh tipisnya "perbedaan pengen ngobrol dengan curhat". Ini juga banyak dari sekian pengalaman saya sebagai konseling lepas &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(lepas arah maksudnya…).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Curhat mereka terkadang bikin aduk-aduk nasi campur, tambah sambel pedes super duper, pake teh maha panas. Kok bisa begitu? Saya yang dicurhatin, jadi semangat &lt;em&gt;ngasi&lt;/em&gt; solusi plus tips-tipsnya &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(uhhh…terdengar sok pinter banget!).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dan, si pemberi curahan hati kebingungan dengan tanggapan saya, malah tambah beban. Jadi rasanya seperti makanan dan minuman tadi, &lt;em&gt;pake&lt;/em&gt; sehah..sehah segala &lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;em&gt;(hahahaha…).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; Atau pemikiran saya yang harus disetir ulang? Di otak saya, bahwa jika ada seseorang yang curhat, kita seharusnya memberikan saran dan jalan keluar, bukannya dengan begini saja &lt;span style="font-size:130%;"&gt;“iya ya”, ‘he-eh’, ‘turut sedih’&lt;/span&gt;. Basi banget &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; sih? Saya justru mau dengan curhat, orang jadi punya solusi dari sekedar curhat. Dari seringnya curhat yang mampir, biasanya terselesaikan dengan tawar-menawar solusi. Happy ending kan? &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(bukan non, bukan kamu!)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ffcccc;"&gt;A&lt;/span&gt;h, jadi ingat temen diskusi dan suka ngobrol di Yahoo! Messenger. Dia bisa meluangkan waktunya hanya untuk diskusi dan tukar pikiran tanpa menganggu aktivitas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ffff00;"&gt;A&lt;/span&gt;nyway, by the way, bus way, ini hanya sekedar terawangan buat teman-teman yang sering &lt;em&gt;ngucap&lt;/em&gt; kangen &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(nyindir banget yak?),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; bahwa saya orang yang tipe ‘bener-bener’. Kalau bilang kangen ya bener-bener kangen, kalau bilang sedang sibuk ya bener-bener sibuk, kalau bilang 'enggak lagi' ya bener-bener enggak, kalau bilang ‘tersinggung deh saya’ nah ini belum tentu, karena saya buka tipe dengan ‘hard feeling’ seperti ini. tapi, don’t worry sorry morry, saya tetap menerima kata kangen kok. Bagaimana pun celah yang ingin disampaikan oleh kata kangen itu sendiri. Masing-masing individu punya pandangan masing-masing juga kok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ffcc99;"&gt;E&lt;/span&gt;itsss, kangen untuk saya berasal temen cewek aja loh, jangan prasangka buruk gitu &lt;em&gt;ah&lt;/em&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-7881596159922016381?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/7881596159922016381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=7881596159922016381&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7881596159922016381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/7881596159922016381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/03/beda-tipis-banget-ga-sih.html' title='Beda tipis banget ga sih?'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/Rfa_m6xDrMI/AAAAAAAAAMk/WahVO-vRH_8/s72-c/kangen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-1511705925059173717</id><published>2007-03-12T08:33:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:13.126+08:00</updated><title type='text'>Home Schooling ala Ummi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Coba bahas tentang Homescholling, Rien!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bintangkecilalya.blogspot.com"&gt;My dear friend yang sehati &lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(karena apa yang saya ucapkan, dia anggukkan saja &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RfSnH6xDrLI/AAAAAAAAAMc/drAan9RlEOI/s1600-h/hs.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5040837637410368690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RfSnH6xDrLI/AAAAAAAAAMc/drAan9RlEOI/s320/hs.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tanda setuju, ck..ck..ck.. &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;*bighugs*&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; )&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; meminta ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sebentar! Mulai darimana ya? Saya bukan pakar &lt;em&gt;loh&lt;/em&gt;! Asal &lt;em&gt;nyablak&lt;/em&gt;! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Okey,…saya memang memakai kata homeschooling untuk pembelajaran anak-anak saya pra sekolah. Metodenya? Saya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; pakem dengan metode mana saya berkiblat. Otodidak mungkin lebih jelasnya. Satu lagi, adalah dikepala dan otak saya sudah tertanam chip kecil yang bertuliskan &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Ummi adalah madrasah bagi anak-anaknya”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua saya awali dengan penanaman nilai-nilai islam lebih dahulu. Mudah kah? Gamsul alias gampang-gampang sulit. Gampang kalau kita bikin gampang dan sulit kalau dibikin njelimet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata anak saya sudah bisa berbicara pada umur 1.5thn (18 bulan). Mulai &lt;em&gt;deh&lt;/em&gt; saya ajak mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Jangan anggap sepele! Ini awal gerbang dari pengukuhan jati diri sebagai seorang muslim. Dilanjutkan deengan berbagai macam doa dan ayat-ayat yang pendek dan dipakai setiap waktu, seperti/setelah makan, sebelum/setelah tidur, masuk/keluar kamar mandi, atau lafadz-lafadz bersyukur, mengagungkan asmaNYA. Segala hal harus dimulai dengan berdoa kan? Kemudian kita bisa lihat kepekaanya dengan lingkungan. Apakah mereka bisa empati atau cenderung ekspresif. Lebih gampang mengolah anak yang memang dari kecilnya empati. Kalau ekspresif, gampang juga, lakukan pendekatan psikolog, jangan buru-buru memvonis anak autis. &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;Don’t judge by a cover!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tahap-tahap seperti ilmu dimana anak suka mengexplore. Misalnya pada anak-anak berumur dua (2) tahun, memerlukan hanya dua (2) menit untuk menyimak apa yang kita berikan. Setelah itu jangan harap dia akan duduk manis memperhatikan. Dan waktu yang baik untuk merangsang mereka, waktu-waktu dimana otak mereka sangat bisa menerima dengan baik adalah pagi hari, setelah waktu ashar, dan menjelang tidur. Perhatikan, dimana dia sangat antusias. Biasanya ini dipengaruhi bagaimana orang tuanya berkegiatan juga. Misalnya, anak melihat ibu suka membaca, dengan senang hati dia akan berusaha membaca &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(baca:pura-pura) &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, atau yang ibunya suka &lt;em&gt;nginet&lt;/em&gt;, anak-anak biasanya juga tertarik yang berbau komputer. Satu hal lagi, dibacakan dongeng adalah hal yang anak-anak sukai. Buku-bukunya pun harus sesuai dengan daya tangkap mereka. Jangan berpikir mereka tidak menangkap apa yang kita baca atau ceritakan. Mereka akan menyimpan dalam memori yang nantinya akan keluar dengan penyampaian yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(paling kongkrit, bukannya so’ nampilin, tapi yang sudah saya lihat dan buktikan sendiri)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; anak-anak saya sudah bisa bermain cd interaktif AKAL diusia mereka rata-rata dua (2) tahun. Dari situ bisa belajar huruf, angka, warna bahkan bentuk-bentuk benda. Dikemas sedemikian rupa untuk menarik perhatian anak, dengan tidak meninggalkan sistem bermain. Oyah, baru-baru ini, anak saya terakhir, Kareem, adalah senjata makan tuan bagi saya. Mengajarkan Kareem menggunakan dan mengclick mouse dengan baik, mendrag gambar, hingga senangnya kami ketika ia bisa menggerakkan mouse sesuai perintah. Tapiiii,…sekarang, begitu saya mulai &lt;em&gt;mantengin&lt;/em&gt; komputer, dia langsung megang mouse, masukkan cd akal, klik sana klik sini, keluar permainannya, dan dia sangat &lt;em&gt;anteng&lt;/em&gt;! Tinggal saya terbengong-bengong, cengak cengok &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; jadi nulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari semua teori dari buku-buku bimbingan, hal penting untuk para orang tua adalah kemauan dan tekad para ibu/ayah untuk percaya bahwa kita pasti bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan? ##$%^#$%^&amp;$%&amp;amp;$&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;Bagaimana dengan saya yang selalu bekerja, Mi? hanya punya waktu satu sampai dua jam sebelum tidur bisa berinteraksi dengan anak?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mom, Bukankah ada sabtu dan minggu yang tidak dipakai kerja? Manfaatkan itu. Kalau pada waktu hari sabtu anak sekolah, cobalah menyisakan waktu untuk mengantar dan menjemput anak. Dalam suasana itu anak akan senang, karena sehari-harinya, ibu sangat sibuk dengan masalah kantor. Oya, jangan pancing anak dengan kata-kata seperti ini &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Gimana, bisa ga tadi belajarnya?”&lt;/span&gt; setelah ia pulang sekolah. Tapi pancing emosinya dengan &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Gimana disekolah tadi? Senang? Having fun sayang?”.&lt;/span&gt; Kalau anak menjawab &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Wah, saya tadi senang deh…bla…bla…”&lt;/span&gt; Selamat! Kita bisa memancing lebih banyak ceritanya tentang sekolah. Begitu juga, ketika si anak menanyakan suatu pertanyaan yang sangat susah dijangkau oleh nalar dan daya pikir kita, jangan pernah bilang &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Ibu tidak tahu”,&lt;/span&gt; tapi katakanlah &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Ibu belum tahu, nanti ibu cari jawabannya ya”.&lt;/span&gt; Si anak akan belajar menghargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling menonjol dari hasil penerapan HS ini adalah tingkat percaya diri si anak terasah dengan baik, bahkan teramat baik. &lt;em&gt;Ga&lt;/em&gt; percaya? Jihad sangat pede sekarang ini dalam hal apa &lt;em&gt;ajah&lt;/em&gt;. Apalagi dalam hal ngajak ngobrol sama orang lain, mau itu anak- anak atau orang dewasa. Sepert ini &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;“Oom, koq ga pernah Jihad liat oom ke mesjid untuk sholat, kan laki-laki harus sholat dimesjid”.&lt;/span&gt; Tinggal saya cengar cengir dan rebounding alis saya, karena keriting berkerut-kerut memberi tanda pada Jihad biar &lt;em&gt;ngerem&lt;/em&gt; kepede-annya ngobrol begitu. &lt;strong&gt;*LOL*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; punya patokan, atau metode mana yang saya pakai, tapi lebih banyak pada trial and error. Ingatkan untuk menanam chip seperti yang saya tulis diparagraf atas. Penting! Untuk mereview untuk apa kita melakukan ini semua. Karena anak adalah ladang pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;*sumber-sumber saya dapat dan terapkan berasal dari beberapa teman saya didunia pendidikan dan psikologi anak. Jazakumullah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3982691515491781793-1511705925059173717?l=rhandry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rhandry.blogspot.com/feeds/1511705925059173717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3982691515491781793&amp;postID=1511705925059173717&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1511705925059173717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3982691515491781793/posts/default/1511705925059173717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rhandry.blogspot.com/2007/03/home-schooling-ala-ummi.html' title='Home Schooling ala Ummi'/><author><name>Rien Hanafiah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12102538163049356260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_rFavoMmB5nc/RfSnH6xDrLI/AAAAAAAAAMc/drAan9RlEOI/s72-c/hs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3982691515491781793.post-7023358292139012611</id><published>2007-03-08T07:11:00.000+08:00</published><updated>2008-12-09T09:55:13.281+08:00</updated><title type='text'>Pesan Singkat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya baru saja menuntaskan buku ‘&lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;Ada seseorang dikepalaku yang bukan aku”&lt;/span&gt;nya &lt;a href="mailto:anb99@yahoo.com"&gt;Pak Akmal N.B.&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(beliau adalah salah satu moderator milist Apsas).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Kumpulan fiksi ini bagus, bahasanya yang sastra, settingnya yang bisa membawa imajinasi pembaca untuk bisa berada didalamnya, dan juga banyak misteri yang kadang susah ditebak. Saya menyukai tipe penulisan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fiksi yang ada dalam buku ini ada yang membuat saya tertawa dan menebak-nebak akhir ceritanya. Judulnya &lt;span style="font-size:100%;color:#33ff33;"&gt;“Lelaki Gagah”.&lt;/span&gt; Ceritanya tentang seorang lelaki yang sudah berkeluarga yang kemudian menghadiri reuni SMA. Hanya pada waktu itu, lelaki ini hadir tanpa membawa sang istri &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;(walaupun diwakilkan oleh anak semata wayangnya).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Bisa dibayangkan bagaimana suasa &lt;em&gt;rendezvous &lt;/em&gt;ketika hadir dalam reuni itu. Bisa bertemu dengan para emak-emak yang dulunya adalah gadis-gadis yang ranum yang bisa menggetarkannya. Konfliknya sendiri dimulai ketika lelaki ini, menerima sebuah pesan singkat yang sangat romantis dan seolah-olah membawanya kemasa lalu &lt;em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;(SMA),&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dengan sinyal bahwa ia adalah salah satu pengagum dari lelaki ini. dan panggilannya adalah &lt;span style="color:#33ff33;"&gt;‘lelaki gagah’&lt;/span&gt;. Lelaki ini tambah penasaran tapi jiwa kelelakiannya malah ingin memancing si pengirim itu dengan kata-kata yang &lt;em&gt;so sweet&lt;/em&gt; hingga mereka menetapkan janji untuk bertemu ditempat dan wa
